Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan | rumahfiqih.com

Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan

Ali Shodiqin, Lc Mon 7 September 2015 03:00 | 4827 views

Bagikan via

Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Perbedaan adalah bintang yang selalu menghiasi langit sejarah peradaban manusia. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang masalah perbedaan, maka itu akan menjadi tema pembicaraan yang tidak akan pernah habis untuk dibahas, karena perbedaan itu sudah ada sejak zaman dahulu kala dan merupakan sebuah keniscayaan.

Manusia Diciptakan Dengan Berbagai Perbedaan

Walaupun Allah SWT menciptakan manusia dari bapak yang sama yaitu Nabi Adam Alaihissalam tetapi Allah SWT memberikan keunikan kepada setiap manusia. Keunikan tersebut merupakan perbedaan yang Allah SWT berikan kepada seseorang dan tidak Dia berikan kepada yang lainnya. Dan perbedaan inilah yang merupakan suatu keindahan yang selalu mewarnai lembaran sejarah hidup manusia. Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran) Nya ialah menciptakan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan perbedaan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (QS. ar-Ruum : 22)

Secara fisik dan bahasa, Allah SWT telah memberikan perbedaan diantara manusia. Dan tidak hanya sebatas itu, Allah SWT juga memberikan perbedaan-perbedaan dalam hal yang lain. Allah SWT memberikan manusia akal yang berbeda, kecerdasan yang berbeda, pola pikir yang berbeda, cara pandang yang berbeda dan perbedaan-perbedaan yang lainnya.

Dari sekian banyak perbedaan yang dimiliki oleh manusia, maka tidak heran jika dari perbedaan-perbedaan tersebut akan melahirkan sesuatu yang berbeda pula. Tidak terkecuali perbedaan cara pandang di dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupan ini, khususnya masalah-masalah fiqih yang selalu menjadi tema hangat yang asyik untuk dibahas, baik itu oleh para pendahulu kita maupun oleh kita yang ada di zaman sekarang ini.

Terlebih lagi banyaknya permasalahan-permasalahan baru yang ada di zaman ini yang belum ada di zaman sebelumnya, maka didalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut pasti akan menghasilkan perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh banyak faktor, khususnya faktor perbedaan yang sudah ada pada diri manusia itu sendiri. Dan perbedaan pendapat itu merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa dihindari.

Malaikat Juga Berbeda Pendapat

Tidak mengherankan   jika manusia selalu berbeda   pendapat, karena   Allah SWT telah menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda-beda dan menambahkan hawa nafsu di dalam diri manusia.

Bahkan Malaikat yang tidak Allah SWT berikan hawa nafsu juga berbeda pendapat, padahal mereka adalah makhluk-makhluk Allah SWT yang selalu patuh dan tunduk kepada Allah SWT, serta mengisi waktu-waktu mereka dengan beribadah dan bertasbih kepada Allah SWT, toh mereka juga bisa berbeda pendapat.

Kisah perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan Malaikat dapat kita lihat dalam kisah yang sudah sangat masyhur yang diriwayatkan oleh dua pakar hadits terkemuka Imam al-Bukhari dan juga Imam Muslim. Kisah tentang seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan orang dan kemudian menggenapkannya menjadi seratus orang ketika dia juga membunuh rahib yang mengatakan kalau dirinya tidak mempunyai kesempatan untuk bertaubat.    

Kemudian dia meminta nasehat dari seorang ahli ilmu yang menyuruhnya untuk pergi ke suatu tempat jika dia benar-benar ingin bertaubat dari semua dosa-dosanya. Laki-laki tersebut menuruti nasehat sang ahli ilmu untuk pergi ke tempat yang sudah diberitahukan kepadanya. Belum sampai di tempat yang dituju, ternyata Allah SWT berkehendak lain. Laki-laki tersebut menemui ajalnya ketika dia berada di tengah perjalanannya.

Tidak lama setelah itu, turunlah dua Malaikat untuk membawa ruh laki-laki tersebut. Salah satu dari Malaikat tersebut adalah Malaikat rahmat, sedangkan yang satunya adalah Malaikat adzab. Disinilah perbedaan pendapat antara dua Malaikat terjadi.

Malaikat rahmat berpendapat bahwa laki-laki tadi berhak mendapatkan surga, karena dia sudah bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Di sisi lain, Malaikat adzab berpendapat bahwa laki-laki tadi termasuk penghuni neraka karena dia belum sampai ditempat yang ditujunya untuk bertaubat.

Perbedaan cara pandang tersebut menjadikan dua Malaikat tadi terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang benar pendapatnya di antara mereka berdua. Hingga akhirnya Allah SWT mengutus Malaikat lain sebagai penengah di antara pertikaian mereka berdua. Malaikat tadi memberikan solusi untuk menyelesaikan perbedaaan pendapat antara Malaikat rahmat dan Malaikat adzab dengan mengukur jarak yang sudah dilalui laki-laki tadi dengan tempat dia berangkat dan tempat yang dituju.

Jika jarak laki-laki tadi lebih dekat dengan tempat dia berangkat, maka dia berhak mendapatkan adzab. Dan jika jaraknya lebih dekat dengan tempat yang dia tuju, maka dosa-dosanya sudah diampuni dan dia termasuk penghuni surga. Setelah diukur, ternyata jarak laki-laki tadi dengan tempat tujuannya lebih dekat daripada jaraknya dengan tempat berangkat. Dan otomatis laki-laki tadi tidak berhak mendapatkan adzab, justru dia berhak mendapatkan pengampunan dari Allah SWT disebabkan taubatnya yang dia lakukan dengan sepenuh hati.

Para Nabi Juga Berbeda Pendapat

Walaupun para nabi adalah manusia yang ma’shum, akan tetapi hal itu tidak menghalangi terjadinya perbedaan pendapat di antara mereka. Kisah perbedaan yang terjadi antara para Nabi ini dapat kita lihat pada kisah perbedaan pendapat antara Nabi Dawud Alahissalam dengan putranya Nabi Sulaiman Alaihissalam ketika keduanya dimintai hukum mengenai kambing-kambing yang merusak ladang orang lain.

Kejadian tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al-Anbiya’ ayat 78 dan 79. Menurut riwayat Ibnu Abbas, ada sekelompok kambing telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Dawud Alaihissalam. Beliau memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak.

Tetapi Nabi Sulaiman Alaihissalam memiliki pendapat yang lain dalam memutuskan perkara ini. Beliau memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Dan dalam masalah ini, keputusan Nabi Sulaiman Alaihissalam yang lebih tepat sebagaimana yang dikabarkan Allah SWT didalam firman-Nya.

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu”. (QS. al-Anbiya’: 79)

Para Sahabat Nabi Juga Berbeda Pendapat

Setelah kita mengetahui bahwasanya para malaikat dan para nabi juga pernah berbeda pendapat dalam beberapa masalah, maka wajar bagi manusia selain para nabi yang mereka tidak ma’shum untuk berbeda pendapat.

Bahkan para manusia terbaik dalam umat ini, yaitu para sahabat Nab SAW, mereka juga sering berbeda pendapat mengenai suatu masalah. Pujian Nabi SAW kepada para sahabatnya sebagai manusia yang hidup di zaman yang terbaik tidak menghalangi mereka berbeda pendapat satu sama yang lainnya, karena memang perbedaan pendapat merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Perbedaan pendapat yang terkenal yaitu perbedaan pendapat antara Ibnu Abbas dengan Ibnu Umar dalam beberapa masalah agama ini. Contoh lain dari perbedaan pendapat dikalangan para sahabat Nabi SAW dapat kita lihat pada masalah shalat ashar ketika perang melawan Bani Quraizhah.

Sebelum berangkat ke perkampungan Bani Quraizhah, Nabi SAW berpesan kepada para sahabat:

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ العَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

“Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan shaat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”. (Muttafaq ‘Alaih)

Sebagian dari sahabat berpendapat dengan cara mengambil zhahir ucapan Nabi SAW tersebut. Yaitu mereka tidak akan melaksanakan shalat ashar kecuali setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga sebagian dari mereka tidak melaksanakan shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah, meskipun pada saat itu sudah keluar dari waktu shalat ashar.

Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa ucapan Nabi tersebut bermaksud untuk memotivasi para sahabat untuk bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraizhah, sehingga mereka dapat melaksanakan shalat ashar disana.

Oleh karena itu, mereka melaksanakan shalat ashar sebelum waktu shalat ashar habis meskipun mereka masih dalam perjalanan dan belum sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Karena menurut mereka ucapan Nab SAW tidak bisa dipahami dari zhahirnya saja karena hal tersebut bertentangan dengan nash al-Qur’an yang menjelaskan bahwa masing-masing shalat mempunyai waktunya tersendiri yang tidak mungkin digabungkan dengan waktu shalat yang lain kecuali adanya ‘udzur yang membolehkan hal tersebut.

Setelah para pengkhianat Yahudi Bani Quraizhah dapat di tumpas, para sahabat tidak lantas merasa tenang. Masih ada ganjalan di hati mereka, yaitu masalah yang berkaitan dengan shalat ashar yang mereka berselisih di dalam hal tersebut.

Lantas para sahabat bergegas menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan masalah tersebut. Sesampainya dihadapan Rasulullah SAW, mereka segera menceritakan hal tersebut. Dalam masalah ini Rasulullah Saw tidak membenarkan tindakan salah satu pihak dan menyalahkan pihak yang lain. Bahkan Rasulullah SAW membenarkan pendapat kedua belah pihak.

Maka jelaslah kalau perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah dan wajar terjadi di kalangan umat islam. Bahkan Rasulullah SAW mengakui perbedaan pendapat tersebut, dan membenarkannya selama hal tersebut mempunyai dalil yang bisa dijadikan sebagai hujjah.

Allah SWT dan Rasulullah SAW Sebagai Hakim Penentu Kebenaran

Dalam masalah perbedaan pengambilan keputusan antara Nabi Dawud Alaihissalam dan Nabi Sulaiman Alaihissalam, Allah SWT membenarkan pendapat Nabi Sulaiman Alaihissalam sebagai pendapat yang lebih tepat dalam masalah tersebut.

Walaupun Demikian Allah SWT tidak menyalahkan Nabi Dawud Alaihissalam yang pendapatnya kurang tepat dalam masalah tersebut, bahkan Allah SWT malah memuji keduanya karena mereka berdua sudah berijtihad sesuai kesanggupan mereka untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pada sengketa perbedaan pendapat antara Malaikat rahmat dengan Malaikat adzab, Allah SWT mengutus malaikat lain sebagai penengah dari perbedaan pendapat tersebut. Hingga akhirnya pendapat Malaikat rahmat lah yang lebih benar dalam masalah tersebut. Lagi-lagi Allah SWT yang bisa menunjukkan pendapat siapa yang lebih benar dalam masalah tersebut dengan mengutus malaikat lain sebagai penengah.

Dalam kasus perbedaan pendapat diantara para sahabat, Rasulullah SAW yang bertindak sebagai hakim yang menghukumi masalah tersebut. Dan Rasulullah SAW membenarkan pendapat kedua belah pihak.

Maka yang berhak untuk menjadi hakim dalam masalah perbedaan pendapat dalam masalah agama, hanya Allah SWT dan Rasulullah SAW saja, yang pada zaman sekarang ini dapat kita ketahui dengan mempelajari al-Qur’an dan sunnah.

Jadi selama perbedaan pendapat tersebut mempunyai landasan dasar hukum syar’i yang bisa dijadikan sebagai hujjah, maka pendapat tersebut harus dihormati walaupun berbeda dengan pendapat kita.

Yang memprihatinkan di zaman sekarang, yaitu adanya segelintir orang yang menjadikan dirinya sebagai hakim yang berhak memutuskan pendapat siapa yang benar dalam masalah perbedaan pendapat ini. Dan yang paling menyedihkan lagi, mereka menganggap pendapat mereka saja yang paling benar. Bahkan mereka mencela pendapat yang berseberangan dengan mereka, walaupun masing-masing pendapat memiliki dalil-dalil yang bisa dijadikan sebagai hujjah.

Kedewasaan Berpikir Salafus Shalih

Perbedaan pendapat dalam masalah agama khususnya masalah fiqih sudah terjadi sejak generasi awal islam, tapi hal tersebut tidak menjadikan umat islam terpecah belah. Hal tersebut dikarenakan kedewasaan cara berpikir para pendahulu kita. Mereka saling menghargai dan menghormati pendapat pihak lain selama pebedaan tersebut memang dalam koridor khilaf yang diperbolehkan dan berdasarkan pada dalil-dalil yang bisa dijadikan sebagai hujjah.

Para sahabat tidak pernah mencela pendapat saudaranya yang berseberangan dengan mereka, pun demikian dengan para ulama pendahulu kita. Imam Malik adalah guru dari Imam as-Syafi’i. Walaupun mereka adalah imam madzhab yang masing-masing dari mereka terkadang punya pendapat yang berbeda dengan pihak lain, tapi perbedaan tersebut tidak membuat mereka saling mencela ataupun menciderai hubungan mereka sebagai guru dan murid. Bahkan mereka saling menghormati pendapat pihak lain. Begitu juga yang terjadi antara Imam as-Syafi’i sebagai guru dengan Imam Ahmad ibn Hanbal sebagai sang murid. Mereka juga saling menghormati satu sama lain dan saling mendo’akan.

Maka merupakan suatu kebodohan jika ada orang yang mengaku menjadi pengikut ulama salaf tapi perilaku dan akhlaknya tidak seperti mereka. Bahkan perilaku mereka bertentangan dengan para ulama salaf. Mereka menganggap diri mereka saja yang paling benar. Seakan-akan mereka adalah hakim dalam perkara agama islam ini, sehingga mereka bisa mencela pihak lain dan menganggap mereka sebagai golongan sesat yang nanti masuk kedalam 72 golongan yang diancam masuk neraka. Sedangkan mereka sudah pasti masuk surga, karena mereka adalah golongan yang paling benar islamnya dan paling betul pendapatnya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai umat yang selalu mengikuti jalan para ulama pendahulu kita yang saling menghormati di antara saudaranya sesama muslim. Dan juga agar kita dijadikan umat yang selalu nasehat menasehati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati di dalam kesabaran, bukan menjadi umat yang selalu mencela saudaranya sesama muslim bahkan sesat menyesatkan di antara sesama muslim.

Wallahu A’lam Bish Shawab


Bagikan via


Baca Lainnya :

Ternyata Isbal Haram, Kata Siapa?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 5 September 2015, 12:00 | 12.303 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 5.706 views
Hukum Wanita Haji Tanpa Suami atau Mahram
| 4 September 2015, 07:08 | 2.652 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc., MA | 3 September 2015, 12:01 | 28.973 views
Imam Nawawi Sang Pembela Qunut Shubuh
Muhammad Ajib, Lc., MA | 3 September 2015, 06:02 | 7.497 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Imam an-Nawawi mengharamkan Ilmu Kedokteran?
Ali Shodiqin, Lc | 10 November 2015, 06:00 | 4.294 views
Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan
Ali Shodiqin, Lc | 7 September 2015, 03:00 | 4.827 views
Ijtihad di Zaman Nabi SAW
Ali Shodiqin, Lc | 26 August 2015, 10:30 | 8.241 views
Imam Abu Hanifah Tidak Mungkin Salah !
Ali Shodiqin, Lc | 18 August 2015, 12:40 | 5.052 views
Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru
Ali Shodiqin, Lc | 6 August 2015, 06:00 | 4.708 views
Beda Murid Salaf dengan Murid Sok Salaf
Ali Shodiqin, Lc | 2 August 2015, 16:30 | 8.266 views
Anak Kecil Tidak Mau Shalat, Siapa Yang Berdosa?
Ali Shodiqin, Lc | 30 July 2015, 02:00 | 5.364 views
Yang Tidak Paham Fiqih Dilarang Masuk Pasar
Ali Shodiqin, Lc | 28 July 2015, 04:00 | 4.416 views
Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama?
Ali Shodiqin, Lc | 27 July 2015, 12:00 | 4.138 views
Hafal Kitab Suci, Beliau Dianggap Anak Tuhan
Ali Shodiqin, Lc | 26 May 2014, 05:29 | 5.918 views
Nikah Sunnah Nabi, Kok Banyak Ulama Membujang?
Ali Shodiqin, Lc | 16 May 2014, 05:00 | 13.931 views
Islam Bukan Agama Bonsai
Ali Shodiqin, Lc | 9 April 2014, 06:23 | 5.076 views
Rasul Juga Pernah Salah Berijtihad
Ali Shodiqin, Lc | 6 April 2014, 10:33 | 10.255 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA18 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan
Wildan, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Maharati Marfuah Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan