Menomori Hadits Bukan Tradisi Ulama Salaf | rumahfiqih.com

Menomori Hadits Bukan Tradisi Ulama Salaf

Hanif Luthfi, Lc., MA Fri 8 November 2019 05:05 | 160 views

Bagikan lewat

“Ustadz, tadi hadits Bukhari yang ustadz sampaikan nomor berapa?” Tanya salah seorang jamaah kepada Saya.

“Maaf Pak. Saya tak begitu memperhatikan nomornya malahan”.

Ternyata jamaah tadi di rumah baru saja beli kitab terjemah hadits Shahih Bukhari. Hadits tadi mau dicek kebenaranya dan mau ditelaah lagi sendiri maknanya.

Penomoran hadits ini memang bisa dibilang sesuatu yang baru dalam keilmuan hadits. Hal itu tak lain sebenarnya untuk memudahkan dalam melacak atau juga untuk diingat.

Hanya saja, berkaitan dengan penomoran hadits ini ada beberapa hal yang perlu diketahui.

Cara Menghitung yang Berbeda

Masalah yang sering muncul terkait nomor hadits ini adalah ketidak samaan nomor hadits dalam satu judul kitab. Misalnya: Hadits Shahih Bukhari nomor 500, antar satu kitab dengan kitab lainnya bisa jadi berbeda. Hal itu biasanya karena percetakannya yang berbeda.

Kenapa nomornya berbeda? Karena standar tiap percetakan dalam pemberian nomor juga berbeda. Misalnya ada percetakan yang memberi nomor tiap bab. Ketika masuk bab berikutnya, nomornya kembali dari angka 1. Ada yang memberi nomornya berkesinambungan sampai akhir kitab.

Belum lagi perbedaan dalam hal cara hitung. Ada percetakan yang menghitung hadits meskipun berulang di tempat lain. Ada pula yang tak menghitung perulangan itu. Berbeda muhaqqiq juga beda cara.

Memang penomoran hadits yang awalnya untuk mempermudah, bisa jadi malah tambah rumit.

Maka jika ada ustadz atau orang yang ketika menyebutkan hadits berkata; “di dalam kitab Shahih Bukhari nomor hadits sekian...”, baiknya kita tanya dahulu, itu kitab hadits Shahih Bukhari penomoran versi siapa, cetakan siapa.

Berbeda Jumlah Hadits

Lebih detail terkait perbedaan penomoran hadits, kita bisa ambil satu contoh kitab, yaitu Shahih Bukhari.

Jumlah hadits Shahih Bukhari menurut pendapat yang masyhur dari Ibnu as-Shalah (w. 643 H) dan diikuti oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) adalah 7.275 buah hadits secara terulang. Sedangkan tanpa terulang sekitar 4.000an hadits. (Ibnu as-Shalah w. 643 H, Ma’rifat Anwa’ Ulum al-Hadits, h. 87 dan an-Nawawi, Tadrib ar-Rawi, h. 51).

Badruddin al-‘Aini (w. 855 H) dan Muhammad bin Yusuf al-Kirmani (w. 786 H) sebagai ulama yang ikut mensyarah atau menjelaskan Shahih Bukhari termasuk yang berpandangan sama dengan Ibnu as-Shalah (w. 643 H). (Lihat: Badruddin al-‘Aini w. 855 H, Mukaddimah Umdat al-Qari Syarah Shahih Bukhari, h. 1/ 6 dan Muhammad bin Yusuf al-Kirmani w. 786 H, Mukaddimah al-Kawakib ad-Darari Syarah Shahih Bukhari, h. 1/ 12).

Hal berbeda diungkap oleh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H). Menurut beliau, jumlah hadits Shahih Bukhari; baik yang maushul sanadnya maupun yang mu’allaq, termasuk mutaba’at dengan diulang adalah 9.082 buah hadits. Jumlah ini tidak termasuk atsar dari shahabat maupun tabiin yang ada dalam hadits Shahih Bukhari. (Ibnu Hajar al-Asqalani w. 852, Mukaddimah Fath al-Bari, h. 469).

Berbeda lagi menurut beberapa ulama kontemporer. Dr. Dib Al-Bugha ketika mentahqiq Shahih Bukhari, beliau mengakhiri Shahih Bukhari pada nomor 7.124. Penomoran itu masuk juga hadits yang terulang. (Dr. Dib al-Bugha, Mukaddimah Minhat al-Bari fi Khidmat Shahih Bukhari).

Berbeda lagi menurut Fuad Abdul Baqi (w. 1388 H/ 1967 M). Hadits Shahih Bukhari berjumlah 7.563, atau selisih sekitar 439 hadits.

Bisa dikatakan Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1388 H/ 1967 M) ini termasuk ulama kontemporer yang memulai memberi nomor pada kitab-kitab hadits.

Nah, kita mau pakai penomoran versi yang mana? Apakah 7.124, atau 7.275, atau 7.563 atau malah 9.082?

Berbeda Periwayat

Lain masalah jika berbicara mengenai Kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik bin Anas (w. 179 H). Dimana pembawa hadits (rawi) dari Imam Malik bin Anas ini sangat banyak.

Bahkan Muhammad Mushtafa al-A’dzami ketika mentahqiq kitab al-Muwattha’, beliau menghitung setidaknya ada 100 orang yang meriwayatkan kitab al-Muwattha’. (Muhammad Mushtafa al-A’dzami, Mukaddimah Tahqiq Muwattha’, h. 1/ 189).

Antar satu versi Muwattha’ dan versi lainnya, beberapa ada perbedaan jumlah haditsnya.

Selain karena banyak periwayat dari Imam Malik bin Anas, dalam kitab al-Muwattha’ ini masih banyak kita temukan pernyataan dari Shahabat Nabi, Tabiin bahkan fatwa dari Imam Malik bin Anas sendiri. Maka standar menomorinya pun beragam.

Maka, Dr. Muhammad Mushtafa al-A’dzami ketika mentahqiq kitab al-Muwattha’, tak mau mengikuti penomoran dan Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1388 H). Dimana menurut Muhammad Mushtafa al-A’dzami, Penomoran dari Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1388 H) dalam banyak tahqiqannya, mengambil dari karya orientalis Arent Jan Wensinck (w. 1939 H).

Bedanya, Muhammad Fuad Abdul Baqi tak memberi nomor jika berasal dari pernyataan Imam Malik bin Anas dalam kitab al-Muwattha’.

Jumlah hadits di Kitab al-Muwattha’ menurut Muhammad Mushtafa al-A’dzami berjumlah 3.676. Jika menurut tahqiq dari Basyar Awad Ma’ruf jumlah haditsnya ada 3.069. Jika menurut tahqiq dari Abdul Wahab Abdullatif Riwayat Muhammad bin Hasan jumlah haditsnya ada 1.008.

Bukan Tradisi Ulama Salaf

Bisa dikatakan penomoran hadits itu bukan tradisi dari ulama salaf. Meski bukan tradisi ulama salaf belum tentu jelek. Ulama dahulu, tak sibuk menomori. Tapi mereka sibuk menghafalkan isi atau matan hadits beserta sanadnya.

Penomoran hadits itu tak jauh beda dengan pemberian warna-warni berbeda dalam tulisan sebuah buku modern.

Paling tidak, hal itu bisa kita simpulkan dari pernyataan Musthafa al-Bugha dalam mukaddimah tahqiq hadits Shahih Bukhari atau yang bernama Minhat al-Bari fi Khidmat Shahih al-Bukhari. Beliau menyebut:

هذا الكتاب لا نزال نجد أكثر طبعاته إذا لم نقل جميعها على النمط القديم خالية من المزاي الفنية للطباعة الحديثة تحشى الصفحة بالأبواب والأحاديث الواحد تلو الآخر دون فواصل أو ترقيم أو بداءة متميزة مما يجعل القارىء يجد صعوبة في مطالعته أو الرجوع إليه (مقدمة المحقق)

Kitab ini banyak kita temukan belum ada seni percetakan modern, seperti antar satu bab dan bab lain ada pemisahnya, haditsnya juga belum ada nomornya atau awalan bab yang berbeda, sehingga menjadikan pembaca mudah untuk mencarinya kembali. (Mushtafa al-Bugha, Minhat al-Bari fi Khidmat Shahih al-Bukhari)

Maka, beliau menomori kitab shahih bukhari. Sebagai bentuk dari model percetakan buku modern.

Metodologi Ulama Kontemporer

Bisa dikatakan, ulama kontemporer pertama yang mencoba menomori kitab-kitab hadits adalah Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1388 H/ 1967 M). Diantara kitab yang beliau nomori adalah Shahih Muslim, Muwattha’ Imam Malik, dan Sunan Ibnu Majah.

Dari Orientalis

Uniknya, penomoran hadits yang dilakukan oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1967 H) ini terinspirasi oleh salah seorang Orientalis. Beliau menyebutkan:

فهذا هو الكتاب الثالث من أصول السنة الثمانية التي خار الله لنا أن نخرجها معدودة الكتب والأبواب والأحاديث بالأرقام المطابقة للتي وضعها مؤلف أصل كتاب مفتاح كنوز السنة وواضعو المعجم المفهرس لألفاظ الحديث النبوي (مقدمة الإمام مسلم لمحمد فؤاد عبد الباقي)

Kitab ketiga ini (pent: tahqiqan ketiga Muhammad Fuad Abdul Baqi) termasuk kitab yang telah kami keluarkan (pent: tahqiq), dimana penomorannya sesuai dengan kamus “Miftah Kunuz as-Sunnah” dan “al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Hadits”. (Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mukaddimah Tahqiq Shahih Muslim).

Orientalis itu bernama Arent J. Wensinck (w. 1939 M); seorang Profesor bahasa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda.

Dia membuat kamus untuk mempermudah mencari satu hadits di kitab hadits. Karena sifatnya kamus, harus ringkas dan cepat untuk dilacak.

Kamus itu bernama Al-Mu’jam Al-Mufahras Lil Al-Fadz Al-Hadits An-Nabawi. Kamus ini disusun sebuah berdasar kosa kata alfabetis yang berasal dari 9 kitab hadits; yaitu Kutub As-Sittah, Musnad Ad-Darimi, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Muwaththa’ Imam Malik.

Dalam penyusunan kamus tadi, Wensinck dibantu orientalis lainnya: Dr. Y. B. Monsej dari Universiti Leiden, Y. B. Dye Hasz, Y. B. Fonne Lone, Y. T. B. Dye Barwin dan Y. B. R. Herman, termasuk J. Horovitz; seorang orientalis beragama Yahudi.

Sebelum itu, Arent J. Wensinck (w. 1939 M) juga telah menulis kamus serupa berjudul Miftah Kunuz as-Sunnah; kunci dari sunnah-sunnah. Pertama muncul kamus ini di Leiden tahun 1927 M.

Lalu oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1967 M), kamus Miftah Kunuz as-Sunnah diterjemahkan kedalam Bahasa Arab tahun 1941 M dan disebarkan di Mesir atas permintaan dari Muhammad Rasyid Ridha (w. 1935 H). (Muhammad Abdullah Hayyani, Mimma Yulahadz ‘Ala Kitabai Miftah Kunuz as-Sunnah wa al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Hadits, h. 2).

Dalam menyusun kamus Al-Mu’jam Al-Mufahras Lil Al-Fadz Al-Hadits An-Nabawi ini, agar mudah mencarinya maka dibuat simbol nama kitab dan nomor hadits dari 9 kitab hadits tadi.

Maka, Muhammad Fuad Abdul Baqi (w. 1967 H) menomori beberapa kitab hadits sesuai dengan penomoran pada kamus Miftah Kunuz as-Sunnah dan  al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Hadits (Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mukaddimah Tahqiq Shahih Muslim).

Maka, penomoran hadits itu bukan sesuatu yang baku. Tergantung siapa yang menomori. Daripada mengingat nomornya, mending hafalkan saja matan dan sanadnya. Tapi kalau mau dihafalkan nomornya ya bagus, asal jangan hafal nomornya saja tapi lupa isi atau matannya. Wallahua’lam


Baca Lainnya :

Berilmu Sebelum Berutang
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 27 August 2018, 08:40 | 819 views
Jika Makmum dan Imam Berbeda Niat Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 26 August 2018, 21:07 | 970 views
Fiqih Pinjam-meminjam
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 23 August 2018, 21:49 | 2.228 views
Keluarga Yang Dapat Pahala Qurban, Siapa Saja?
Aini Aryani, Lc | 18 August 2018, 18:08 | 741 views
Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2018, 20:34 | 2.955 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Menikahi Wanita Ahli Kitab, Halalkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 December 2019, 05:05 | 162 views
Mencium Tangan Kyai, Sunnah Siapa?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 November 2019, 05:05 | 124 views
Kuburiyyun dan Anti Kuburan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 November 2019, 05:05 | 181 views
Menomori Hadits Bukan Tradisi Ulama Salaf
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 November 2019, 05:05 | 160 views
Taklid Bagi Orang Awam
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 October 2019, 05:05 | 267 views
Menuduh Kyai Ibnu Taimiyyah Klenik
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2019, 09:17 | 438 views
Ilmu Cocokologi al-Qur’an
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 May 2019, 08:56 | 176 views
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 December 2016, 09:58 | 4.940 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 September 2016, 16:17 | 3.917 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 March 2016, 11:31 | 5.604 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 November 2015, 20:20 | 7.141 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 22 October 2015, 17:26 | 22.036 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc., MA | 15 October 2015, 13:54 | 6.185 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc., MA | 3 September 2015, 12:01 | 35.437 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 August 2015, 10:00 | 21.006 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 June 2015, 11:00 | 7.012 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 8.848 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 7.310 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 June 2015, 12:41 | 7.420 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 May 2015, 17:00 | 13.274 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 10.026 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 8.517 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 13.154 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 12.241 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 March 2015, 11:11 | 12.886 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 February 2015, 20:54 | 7.415 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 February 2015, 20:21 | 12.054 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 4 February 2015, 19:31 | 14.620 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 January 2015, 06:46 | 8.273 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 8.087 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 9.906 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 August 2014, 15:49 | 6.354 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 July 2014, 08:18 | 10.976 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 July 2014, 21:32 | 8.034 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 June 2014, 00:57 | 5.607 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 May 2014, 00:00 | 6.179 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 7 May 2014, 11:05 | 6.114 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 April 2014, 12:20 | 8.227 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 April 2014, 18:00 | 9.734 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 April 2014, 22:32 | 7.544 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 6.201 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 12 March 2014, 06:55 | 7.497 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 February 2014, 06:00 | 7.186 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 26 February 2014, 12:00 | 8.632 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 19 February 2014, 01:01 | 7.656 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 February 2014, 15:00 | 5.564 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 January 2014, 07:28 | 7.664 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 January 2014, 12:23 | 6.792 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 January 2014, 05:45 | 12.192 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 14:38 | 6.487 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 11:37 | 7.950 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 August 2013, 07:32 | 14.549 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 August 2013, 15:35 | 27.271 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 June 2013, 03:03 | 13.248 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 May 2013, 20:02 | 7.977 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 April 2013, 00:45 | 8.176 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 April 2013, 15:12 | 7.974 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 April 2013, 07:04 | 6.968 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 February 2013, 16:45 | 21.672 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA48 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA23 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:39 | Ashar 15:02 | Maghrib 17:54 | Isya 19:05 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img