Ibnu Hazm dan Beberapa Pendapat Kocaknya | rumahfiqih.com

Ibnu Hazm dan Beberapa Pendapat Kocaknya

Muhammad Amrozi, Lc Fri 4 August 2017 18:05 | 1802 views

Bagikan via

Nama lengkap guru besar fiqih dzahiri dari Spanyol itu adalah Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm Al Andalusi, Abu Muhammad. Dilahirkan di kota Cordoba pada 30 Ramadhan 384 H. Beliau tergolong ulama besar Andalus pada masanya dan termasuk ulama yang sangat produktif dalam menghasilkan karya tulis yang fenomenal.

Ibn Hazm tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang berkecukupan; karena sang ayah adalah seorang menteri, bahkan beliau sendiri pun juga pernah menjabat sebagai seorang menteri, namun walaupun demikian, kemewahan istana dan kekayaan yang dimiliki tidak membuatnya malas untuk menggali ilmu sehinga memebuatnya salah seorang ulama Islam yang namanya dikenal di setiap penjuru dan dicatat dalam buku-buku sejarah.

Ibn Hazm menuntut ilmu kepada para ulama Andalus pada masannya, sehingga beliau menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti Tafsir, Hadits, Aqidah, Fiqih dan lainnya. pada awalnya ibn hazm dalam bidang fiqih bermadzhab syafi’i,kemudian ia berpindah menjadi seorangdzahiri. Ia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu yang lainnya seperti ilmu kedokteran dan beliau mengarang beberapa buku dalam hal itu.

Awal Mula Kenapa Ibnu Hazm Al Qurthubi Belajar Fiqih

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Siyarnya (jilid 18/hal 199) menceritkan sebuah cerita tentang kapan dan kenapa Ibnu Hazm Al Andalusi mulai belajar ilmu fiqih.

Dengan sanad kisah yang sampai kepada Ibnu Hazam, Imam Syamsuddin Adz Dzahabi memulai ceritanya:

"Orang tua Imam Abu Bakar ibn Al 'Arabi yang bernama Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad medengar cerita Ibnu Hazm senduri tentang sebab dirinya belajar ilmu fiqih. Suatu hari guru besar madzhab Adz Dzahiriyah ini ikut shalat jenazah di sebuah masjid, ketika beliau masuk ke dalam masjid itu, sambil menunggu dimulainya shalat jenazah beliau langsung duduk dan tidak shalat tahiyat masjid, lalu datang seorang laki-laki yang menghampiri beliau dan berkata: "ayo berdiri! Shalat tahiyat masjid dulu" kata si lelaki itu. Lalu Ibnu Hazm pun berdiri dan shalat.

"Setelah pulang dari pemakaman jenazah, beliau kembali lagi ke masjid tersebut, dan waktu itu tepat setelah shalat Ashar, setelah masuk dengan mantap beliau shalat tahiyat masjid, namun ada seseorang yang menghampiri dan berkata: "Duduk! Duduk! Ini bukan waktunya shalat" ucap orang tersebut.

"Lalu Ibnu Hazm pulang dalam keadaan sedih dan malu. Setelah kejadian itulah beliau minta kepada salah seorang guru pendidiknya agar memberitahunya seseorang yang bisa mengajarinya ilmu fiqih. Lalu ditunjukanlah kepadanya seorang faqih bernama Abu Abdillah bin Dahun. Kepada sang guru fiqih ini beliau ceritakan kejadian yang terjadi di masjid tempo hari, sang faqih tersebut menganjurkan Ibnu Hazm untuk membaca karya luar biasa Iamam Daar Al Hijrah "Al Muwattha". Mualailah Ibnu Hazm mempelajari dan membaca kitab tersebut dan juga kitab-kitab lainnya selama kurang lebih tiga tahun, seperti yang beliau tuturkan sendiri"

Dari situlah mulai pengembaraan Kiyai dan Tuan Guru fiqih Adz Dzahiriyah ini dalam bidang fiqih, dan usianya saat itu seperti yang beliau tuturkan sendiri adalah 26 tahun.

Diantara Karya Ibnu Hazm

Diantara karya-karya Ibn Hazm yang populer adalah Al Ihkam fi Ushuli Al Ahkam, Ibthalu Al Qiyas, Al Muhalla Bi Al Atsar, Jawami’ As Sirah, Jamharah Ansab Al ‘Arab dan banyak lagi karya-karya beliau yang lainnya.

Tragedi Dibakarnya Buku-Buku Beliau

Pernah suatu hari seseorang datang ke rumah Ibnu Hazm Al Qurthubi untuk memperingatinya agar tidak mengeluarkan serta menulis pendapat dan fatwa yang menyimpang dan berbeda dari ulama-ulama yang lain yang semasa dengan beliau. Setelah mendapat peringatan tersebut Ibnu Hazm hanya berkata kepada orang itu: "aku menulis pendapat yang aku yakini kebenarannya dan aku merasa puas dengan pendapat itu, aku tidak menulis agar orang lain ridha atau murka kepadaku".

Tidak lama setelah peringatan itu, datang beberapa orang ke rumah beliau dan masuk tanpa izin pemilik rumah, mereka mengambil semua buku-buku yang di dalamnya terdapat pendapat-pendapat dan fatwa Ibnu Hazm yang beliau tulis. Orang-orang itu pun membawa buku-buku tersebut ke sebuah tanah lapang yang ternyata di sana sudah disiapkan api yang sudah menyala, selang beberapa saat buku-buku itu pun dilemparkan ke kobaran api tersebut, Ibnu Hazm yang tadi mengikuti mereka hanya dapat pasrah melihat karya-karyanya dilemparkan ke api seraya berucap:

"Jika kalian bisa membakar kertas-kertas itu, maka ketahuilah bahwa kalian tidak akan pernah bisa membakar apa yang tertulis di kertas itu; karena ia ada di dalam dadaku.

"Ia akan selalu berjalan bersamaku ke manapun aku pergi, dan di manapun aku tinggal ia akan tinggal bersamaku, bahkan ia akan bersamaku hingga nanti saat aku berada dalam kuburku".

Untungnya setelah pembakaran itu beliau tidak hilang semangat dan putus asa, beliau tuliskan lagi pendapat beliau yang pernah tertuang di kertas-kertas yang dibakar habis itu. Bersama orang kepercayaannya beliau menulis ulang semua yang pernah beliau tulis, hingga akhirnya karya-karya itu sampai pada kita saat ini.

Pada 28 sya’ban tahun 456 H sejarah mencatat satu lagi putra cemerlang Islam meninggal dunia. Kyai ahli fiqih madzhab dzahiri, Ibn Hazm pada hari itu menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 72 tahun.

Semoga Allah membalas jasanya terhadap ilmu dan para penuntut ilmu dan menjadikan apa yang ia kontribusikan untuk agama ini berada dalam timbangan kebaikannya pada hari kiamat nanti.

Beberapa Pendapat Fiqih Ibnu Hazm yang Mengundang Tawa

1. Lupa Niat Puasa Di Malam Hari

Menurut Ibnu Hazm, jika seseorang lupa melakukan niat puasa Ramadhan di malam hari, dan baru ingat di siangnya atau bahkan baru ingat ketika hampir waktu buka dan tidak tersisa waktunya kecuali hanya sekedar untuk niat saja, maka ia harus berniat puasa pada saat itu juga, puasanya sah dan tudak perlu diqadha, walaupun ia sudah makan dan minum atau bahkan sudah berhubungan suami istri. (Ibnu Hazm w. 456 H, Al Muhalla, jilid 4 hal. 290)

2. Berbohong Itu Membatalkan Puasa

Menurut Imam Madzhab Al Hazmiyah, sesorang yang sedang berpuasa jika melakukan maksiat seperti berbohong, menggunjing atau menggibah orang, mengadu domba, berbuat dzolim ataupun maksiat-maksiat lain jika ia lakukan dengan sengaja dan dalam keadaan tidak lupa bahwa ia sedang puasa maka puasanya batal dan tidak sah, bukan hanya pahala puasanya yang batal seperti pendapat jumhur. (Ibnu Hazm w. 456 H, Al Muhalla, jilid 4 hal. 304)

3. Pokoknya Harus Diam

Wanita bikr (perawan) jika ingin dinikahi atau dinikahkan maka terlebihdahulu dimintai izinnya. Izinnya menurut mayoritas ulama fiqih minimal adalah diamnya ia, dan jika ia berkata "iya" atau memberikan isyarat setuju maka hal itu lebih boleh. Pendapat ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat ditanya oleh para sahabatnya bagaimana izinnya wahai Rasulallah? Beliau menjawab: "izinnya adalah diamnya" . Adapun selebihnya, maka mereka berdalil dengan mafhum muwafaqah hadits tersebut, kalau diamnya saja merupakan izin, maka apalagi jika si dia mengatakan "iya" atau memberi isyarat setuju, maka itu merupakan izin + +. Begitu menurut jumhur fuqaha.

Namun berbeda dengan Ibnu Hazm Al Qurthubi, beliau tidak sepenuhnya setuju dengan mayoritas ulama mengenai izin wanita bikr ini, menurut beliau wanita perawan ketika dimintai izin untuk dinikahkan maka pokoknya ia harus diam jika memang setuju untuk dinikahkan, jika ia berkata "iya" atau "mau" atau "setuju" maka itu tidak dianggap izin dan ia tidak boleh dinikahkan; karena ia tidak diam. Dalam bukunya Al Muhalla beliau berkata:

وكل بكر فلا يكون إذنها في نكاحها إلا بسكوتها، فإن سكتت فقد أذنت ولزمها النكاح، فإن تكلمت بالرضا أو بالمنع أو غير ذلك، فلا ينعقد بهذا نكاح عليها.

"Setiap perawan maka izinnya ketika ingin dinikahkan hanyalah diamnya, jika ia diam maka berarti ia mengizinkan dan nikahnya menjadi lazim, namun jika ia berkata "setuju" atau "tidak setuju" atau perkataan lain, maka tidak boleh dinikahkan" (Al Muhalla jilid 9/hal 57)

Dalil yang digunakan Ibnu Hazm untuk pendapatnya ini sama dengan dalil jumhur ulama, yaitu hadits:

"ولا تنكح البكر حتى تستأذن" قالوا: يا رسول الله وكيف إذنها؟ قال: "أن تسكت"

"Wanita perawan tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin" para sahabat bertanya: bagaimana izinnya wahai Rasulallah? Beliau menjawab: "diamnya ia"

Menurut Ibnu Hazm, dalam hadits ini dan juga hadits-hadits lain yang serupa Nabi hanya menyebutkan bahwa izinnya si perwan hanyalah diam saja, bukan berkata "iya" atau "setuju" dan lainnya, jadi jika setuju nikah pokoknya harus diam.

4. Boleh Berqurban Dengan Hewan Apapun yang Halal

Mayoritas ulama dari empat madzhab fiqih, yaitu Al Hanafiyah, Al Malikiyah, Asy Syafi’iyah dan Al Hanabilah sepakat bahwa hewan yang boleh dikurbankan hanyalah hewan ternak berkaki empat, atau yang dikenal dengan istilah Al An’am dalam buku-buku fiqih, yaitu unta, sapid dan kambing. Maka menurut mereka selain hewan-hewan tersebut tidak boleh dijadikan hewan kurban.

Namun berbeda dengan Ibnu Hazm, dalam masalah ini beliau menyelisihi mayoritas ulama, beliau berpendapat bahwa berkurban boleh dengan semua hewan yang dagingnya halal dimakan, baik itu hewan berkaki empat seperti unta, sapi, kambing, kuda dan hewan-hewan lain yang boleh dimakan atau unggas seperti ayam, bebek dan burung-burung yang dagingnya dihalalkan dalam Islam. (Al Muhalla, jilid 6, hal. 29)

5. Telur yang Berdosa Tidak Akan Memikul Dosa Telur Lain

Di kitab Al Ath'imah dalam bukunya Al Muhalla bi Al Atsar Ibnu Hazm Al Qurthubi membahas masalah telur. Jika seseorang memasak sejumlah telur dalam satu wadah, lalu ternyata di antara sejumlah telur itu ada telur yang busuk, maka telur busuk itu tidak berpengaruh pada telur lain yang tidak busuk, artinya telur yang tidak busuk masih tetap halal dan boleh dimakan, hanya telur yang busuk itu saja yang harus ia buang.

Untuk menguatkan pendapatnya ini Ibnu Hazm mengutip sebuah ayat dalam Al Qur'an, yaitu firman Allah:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain"

Menurut beliau telur tidak akan memikul dosa telur lain, dan yang halal akan tetap halal walu berdekatan dengan yang haram, dan sebaliknya yang haram tetap haram biarpun berdekatan dengan yang halal. (Al Muhalla jilid 6/hal 95)

6. Malu-Malu Memakai Qiyas

Sebagaimana kita tahu bahwa Ahlu Dzahir dan Ibnu Hazm menolak qiyas sebagai salah satu dalil untuk menetapkan hukum dalam Islam, namun anehnya jika kita menelaah buku Ibnu Hazm, Al Muhalla kita akan menemukan cukup sering beliau menggunakan qiyas untuk berdalil atas sebuah hukum atau untuk membantah dalil dan argumentasi lawan pendapatnya, hanya saja beliau malu-malu menggunakan qiyas tersebut dengan mengatakan: "Inilah Qiyas, Jika Seandainya Qiyas Itu Benar".

Salah satu contoh kasus Ibnu Hazm menggunakan qiyas ialah saat beliau membantah pendapat Zufar (w 158 H) mengenai puasa Ramadhan tidak perlu niat.

Menurut salah satu ulama dari madzhab Al Hanafiyah itu puasa di bulan Ramadhan tidak memerlukan niat, selama seseorang itu tidak makan, minum, bersetubuh dan melakukan pembatal-pembatal puasa yang lain di siang hari Ramadhan maka ia sudah dianggap berpuasa walupun ia tidak berniat untuk puasa; karena menurutnya bulan Ramadhan itu ya waktu untuk puasa, jadi tak perlu lagi niat puasa.

Ibnu Hazm (w 456 H), dalam salah satu bantahannya terhadap pendapat Imam Zufar (w 158 H) ini menganalogikan begini: seandainya seseorang ingin melakukan shalat Shubuh, dan waktunya telah masuk, kemudian ia shalat 2 raka'at tanpa niat shalat Shubuh, seharusnya -kata Ibnu Hazm, jika kita menuruti pendapat Zufar (w 158 H) tersebut- shalat Shubuhnya sah karena memang waktu itu waktu shalat Shubuh dan bukan waktu shalat lain. Kemudian beliau menutup bantahannya ini dengan statement "inilah qiyas, jika seandainya qiyas itu benar"

Allahu a’lam

Muhamad Amrozi, Lc

Bagikan via


Baca Lainnya :

Apakah Dalil Adalah Nash Al-Quran dan Hadis?
Isnawati, Lc | 22 July 2017, 11:57 | 1.241 views
Siapakah yang Berhak Mengambil Hukum Langsung Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ?
Galih Maulana, Lc | 20 July 2017, 15:48 | 2.202 views
Makna Kullu Menurut Para Ulama
Galih Maulana, Lc | 18 July 2017, 02:23 | 2.734 views
Benarkah Go-Food Haram?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 July 2017, 22:27 | 7.383 views
Puasa Qadha Dulu Atau Puasa Syawwal Dulu?
Ridwan Hakim, Lc | 3 July 2017, 06:29 | 1.068 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ibnu Hazm dan Beberapa Pendapat Kocaknya
Muhammad Amrozi, Lc | 4 August 2017, 18:05 | 1.802 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan