Sesuai Pemahaman Sahabat, Bagaimana Maksudnya? | rumahfiqih.com

Sesuai Pemahaman Sahabat, Bagaimana Maksudnya?

Galih Maulana, Lc Sat 5 August 2017 21:21 | 1563 views

Bagikan via

Dalam menjalankan ajaran agama Islam seorang muslim wajib merujuk kepada al-Qur’an dan sunah-sunah Nabi , semua sepakat tentang ini. Masalah terjadi ketika muncul berbagai pendapat dan pemahaman (terutama saat ini) yang semuanya mengaku merujuk kepada al-Qur’an dan sunah Nabi, pemahaman mana yang sebenarnya sesuai dengan dua sumber Islam tersebut?

Pemahaman Sahabat

Ahlu sunah wal jama’ah sepakat mengatakan bahwa pemegang kebenaran setelah wafatnya Rosulullah adalah kumpulan para sahabat, merka berdalil dengan sabda Nabi:

 وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة، كلهم في النار إلا ملة واحدة، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي[1]

“Dan akan terpecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya di Neraka kecuali satu golongan saja, para sahabat bertanya: siapa itu ya Rosulullah? Beliau menjawab: yaitu golongan yang mengikuti jalanku dan para sahabatku”

Juga sabda beliau :

إن أمتي لا تجتمع على ضلالة، فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم[2]

“sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as-Sawad al-A’dzham

Salah satu tafsir as-Sawad al-A’dzham adalah jama’ah para sahabat, sebagaimana disebutkan oleh Imam asy-Syathibi (w 790 H) dalam al-I’tishom[3]. Hadits-hadits seputar masalah ini banyak, yang intinya menegaskan bahwa bila ingin memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan benar, maka harus sesuai pemahaman para sahabat.

Namun fakta sejarah mengatakan, seringkali terjadi, para Sahabat berselisih satu dengan lainnya dalam beberapa masalah. Hal ini membuat kita bertanya, apabila para sahabat berselisih, pendapat Sahabat mana yang merepresentasikan kebenaran al-Qur’an?

Tentu pertanyaan seperti ini harus dijawab dengan penuh penghayatan dan kematangan berpikir. Dan ternyata, pernyataan “sesuai pemahaman Sahabat” tidak semudah pengucapannya dalam pengaplikasiannya di kehidupan nyata.

Untuk memudahkan bagaimana memahami pemahaman Sahabat, kita harus mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan para sahabat berselisih, dan apakah pemahaman sahabat tersebut bisa kita pelajari atau tidak?

Perselisihan Sahabat di Masa Nabi

Di masa Nabi masih hidup, hanya sedikit sekali terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat, hal itu dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah; Mereka melihat langsung apa yang dilakukan oleh Nabi , kemudian mereka mengikuti, tanpa bertanya apakah ini wajib atau sunah, apakah rukun atau syarat. Mereka semua paham, bahwa apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Nabi adalah kebenaran yang harus diikuti.

Apabila terjadi perbedaan pendapat antara sahabat dalam suatu masalah, maka akan langsung ditanyakan hukumnya kepada Nabi , sehingga jelas apa yang benar. Seperti kisah pasukan yang dikirim kepada bani Quraidzoh, Rosulullah bersabda kepada mereka:

لا يصلين أحد العصر إلا في بني قريظة[4]

“Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidzoh”

Sebagian sahabat memahami bahwa perintah Rosulullah tersebut adalah untuk bergegas agar cepat sampai di perkampungan bani Quraidzhoh, sementara sebagian lainnya memahami bahwa maksud beliau memang benar-benar melarang sholat Ashar kecuali di perkampungan bani Quraidzhoh. Setelah mereka semua kembali, ditanyakan hal itu kepada Nabi , dan Nabi sama sekali tidak mencela keduanya.

Selain itu, Nabi juga selalu berusaha menutup celah yang bisa menimbulkan perpecahan di kalangan sahabat akibat perbedaan pendapat, seperti kisah Ibnu Mas’ud yang memandang salahnya bacaan al-Qur’an sahabat lain:

عن ابن مسعود رضي الله عنه، قال: سمعت رجلا قرأ آية، وسمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ خلافها، فجئت به النبي صلى الله عليه وسلم فأخبرته، فعرفت في وجهه الكراهية، وقال: «كلاكما محسن، ولا تختلفوا، فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا[5]

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: “Saya mendengar seseorang membaca suatu ayat, dan saya mendengar Nabi membaca ayat itu berbeda dengan bacaannya, maka saya membawa orang itu kepada Nabi dan memberitahukan kepadanya. Saya melihat rasa tidak senang di wajah Nabi dan beliau bersabda: “Kamu berdua benar (dalam hal bacaan ayat) dan janganlah berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu selalu berselisih sehingga mereka binasa”

Seperti itulah keadaan para sahabat di masa Nabi masih hidup, celah-celah yang bisa menimbulkan perselisihan ditutup, dan apabila terjadi perselisihan segara diselesaikan sehingga tidak menjadi besar.

Perselisihan Sahabat pasca wafat Nabi

Setelah Rosulullah wafat, sahabat berpencar ke berbagai negeri untuk mendakwahkan Islam, setiap mereka menjadi contoh dan referensi dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam.

Fenomena dan masalah-masalah baru muncul, yang sebelumnya belum terjadi di masa Nabi , maka tiap sahabat menjawab masalah-masalah tersebut dengan apa yang mereka hafal dari Nabi atau berijtihad sesuai kadar ilmu yang mereka dapat dari Nabi , disitulah mulai timbul perbedaan-perbedaan pandangan di kalangan sahabat. Keadaan-keadaan para sahabat ketika itu dapat dirinci sebagai berikut;

Pertama, salah seorang sahabat mengetahui hukum dari Nabi tentang suatu masalah, sedangkan sahabat lain tidak mengetahuinya, maka sahabat yang tidak mengetahui hukum tersebut berijtihad ketika menemui masalah yang serupa. Hasil ijtihad sahabat ini bisa dirinci sebagai berikut;

  • Hasil ijtihad sahabat sesuai dengan hadits (hukum) yang diterangkan Nabi .

Seperti kisah Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasai sebagai berikut:

عن علقمة، عن ابن مسعود، أنه سئل عن رجل تزوج امرأة ولم يفرض لها صداقا ولم يدخل بها حتى مات؟ قال ابن مسعود: «لها مثل صداق نسائها لا وكس ولا شطط، وعليها العدة ولها الميراث»، فقام معقل بن سنان الأشجعي، فقال: «قضى فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم في بروع بنت واشق امرأة منا مثل ما قضيت»، ففرح ابن مسعود رضي الله عنه[6]

 

“Dari Alqomah dari Ibnu Mas’ud: bahwasannya Ibnu Mas’ud ditanya tentang seorang lelaki yang menikahi seorang perempuan yang mana belum ditentukan maharnya, belum juga sempat terjadi jima’, kemudian lelaki tersebut meninggal. Ibnu mas’ud menjawab: “baginya mahar seperti mahar-mahar wanita lain yang sederajat dengan dirinya tanpa dikurang tanpa ditambah, dia waib menjalani masa ‘iddah dan dia berhak mendapat waris”. Kemudian berdirilah Ma’qil bin Sinan al-Asyja’I, dia berkata: “Rosulullah telah memberi putusan (hukum) kepada kami dalam kasus Buru’ binti Wasyiq, seorang wanita dari kaum kami, seperti apa yang telah engkau putuskan”. Maka Ibnu Mas’ud sangat bahagia”

Dalam riwayat lain Ibnu Mas’ud berkata:

سأقول فيها بجهد رأيي، فإن كان صوابا فمن الله وحده لا شريك له، وإن كان خطأ فمني ومن الشيطان والله ورسوله منه برآء، أرى أن أجعل «لها صداق نسائها، لا وكس ولا شطط، ولها الميراث، وعليها العدة أربعة أشهر وعشرا»، قال: وذلك بسمع أناس من أشجع، فقاموا فقالوا: " نشهد أنك قضيت بما قضى به رسول الله صلى الله عليه وسلم في امرأة منا يقال لها: بروع بنت واشق " قال: «فما رئي عبد الله فرح، فرحة يومئذ إلا بإسلامه[7]

“aku akan menjawab dengan ijtihadku, bila benar maka itu hanya dari Allah yang tiada sekutu baginya, apabila salah, maka itu dari diriku dan dari setan, sedangkan Allah dan Rosulnya berlepas diri dari kesalahan tersebut, saya berpendapat bahwa baginya mahar seperti mahar wanita lain yang seperti dirinya, tanpa dikurang tanpa ditambah, dia berhak mendapat warisan dan wajib menjalani ‘iddah selama 4 bulan 10 hari” putusan itu didengar orang-orang dari suku Asyja’, mereka berdiri kemudian berkata: “kami bersaksi bahwasannya engkau telah memberi pustusan sebagaimana Rosulullah memberi putusan atas seorang wanita yang bernama Buru’ binti Wasyiq”. Rowi hadits berkata: “tidaklah Ibnu mas’ud terlihat begitu bahagia sebahagia hari itu kecuali bahagia atas keIslamannya”

  • Sahabat berijtihad dan mengenyampingkan hadits, karena hadits tersebut tidak meyakinkan (lemah dalam pandangan sahabat yang berijtihad tersebut)

Seperti kisah Faimah binti Qois yang bersaksi dihadapan Umar bahwasannya dia ditalak tiga oleh suaminya, kemudian Rosulullah memutuskan bahwa dirinya tidak mendapat nafkah dan tempat tinggal lagi dari mantan suaminya. Namun Umar menolak keterangan Nabi yang dibawa oleh Fatimah tersebut, dia berkata :

لا نترك كتاب الله وسنة نبينا صلى الله عليه وسلم لقول امرأة، لا ندري لعلها حفظت، أو نسيت، لها السكنى والنفقة[8]

“kami tidak akan meninggalkan al-Qur’an dan sunah Nabi kami karena ucapan seorang wanita yang kami tidak tahu apakah mungkin dia ingat atau lupa. Pustusan kami adalah wanita yang ditalak tiga berhak mendapat tempat tinggal dan nafkah (dari mantan suaminya).

  • Sahabat berijtihad karena memang belum ada hadits yang sampai kepadanya

Seperti apa yang diriwatakan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, tentang fatwa dari Ibnu Umar yang megatakan bahwa apabila seorang wanita mandi janabah maka kepangan (ikatan) rambutnya harus dilepas, fatwa tersebut sampai di telingan Aisyah, maka dia pun berkata:

فقالت: يا عجبا لابن عمرو هذا يأمر النساء إذا اغتسلن أن ينقضن رءوسهن. أفلا يأمرهن أن يحلقن رءوسهن، «لقد كنت أغتسل أنا ورسول الله صلى الله عليه وسلم من إناء واحد. ولا أزيد على أن أفرغ على رأسي ثلاث إفراغات[9]

“sungguh aneh Ibnu Umar, dia menyuruh wanita yang hendak mandi janabah untuk melapas kepangan rambutnya, apa tidak sekalian saja menyuruh mereka untuk mencukur rambutnya? Sungguh aku pernah mandi (janabah) berasama Rosulullah menggunalkan satu wadah air, aku tidak mengguyurkan air ke kepalaku lebih dari tiga kali”

Kedua, para sahabat berselisih karena perbedaan mereka dalam menentukan dhobt (akurasi/ketepatan) dalam mendengar atau  menentukan maksud sebuah hadits.

Seperti  apa yang diriwayatkan Umar dan Ibnu Umar bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya, tetapi kemudian Aisyah mengatkan bahwa itu hanya wahm (praduga) saja, Aisyah berkata:

لا والله ما قاله رسول الله ﷺ أن الميت يعذب ببكاء أحد، ولكن رسول ﷺ قال: إن الكافر ليزيده الله عز وجل ببكاء أهله عذابا وإن الله لهو أضحك وأبكى، ولا تزر وازرة وزر أخرى[10]

“Bukan seperti itu, demi Allah, Rosulullah tidak mengatakan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya akan tetapi Rosulullah mengatakan: “sesungguhnya orang kafir akan ditambah siksaanya dengan tangisan keluarganya, dan sesunggunnya Allah lah yang membuat seseorang tertawa dan menangis, dan bahwasannya sesorang tidak menanggung dosa orang lain

Dalam riwayat lain Aisyah juga berkata:

إنكم لتحدثوني عن غير كاذبين ولا مكذبين، ولكن السمع يخطيء[11]

“Kalian tidaklah menyampaikan kepadaku ucapan dua orang yang berdusta lagi mendustakan, tetapi mereka berdua hanya salah dalam mendengar (hadits)”

Ketiga, para sahabat berselisih dikarenakan perbedaan mereka dalam menentukan ‘illat (latarbelakang) suatu hukum.

Seperti dalam kasus “berdiri untuk jenazah”, sebagian sahabat mengatakan illat nya adalah untuk menghormati malaikat, jadi berdiri bagi jenazah itu dilakukan baik kepada jenazah muslim atau jenazah kafir, sebagian sahabat mengatakan, illat nya adalah karena kengerian kematian, sehingga berdiri bagi jenazah dilakukan baik bagi jenazah muslim atau jenazah kafir, sebagian sahabat lain mengatakan bahwa itu khusus untuk orang kafir,  Nabi pernah berdiri ketika melawat di hadapannya jenazah yahudi karena tidak suka jenazah itu lebih tinggi dari kepala Nabi [12].

Keempat, para sahabat bebeda pendapat karena perbedaan mereka dalam cara menggabungkan atau mengkompromikan dua hadits Rosulullah yang saling bertentangan.

Seperti dalam kasus nikah mut’ah, Rosulullah pernah membolehkannya dalam perang Khoibar, kemudian melarangnya, kemudian membolehkannya lagi pada tahun ke 8 Hijriyah saat perang Authos kemudian melarangnya lagi.

Ibnu Abbas kemudian berpendapat bahwa Rosulullah membolehkan karena darurat sedangkan beliau melarang karena keadaan sudah tidak darurat lagi, dan begitulah hukum nikah mut’ah seterusnya.

Sedangkan mayoritas sahabat lain mengatakan bahwa bolehnya mut’ah sudah di nasikh dengan larangan Rosulullah , maksudnya hukum bolehnya nikah itu sudah diganti dengan tidak boleh.

Dan masih banyak lagi sebab-sebab mengapa para sahabat berbeda pendapat, namun intinya, perbedaan atau perselisihan para sahabat itu nyata terjadi. Para Tabi’in atau murid-murid langsung dari sahabat tau dan mengerti tentang itu, mereka mengambil ilmu dari setiap sahabat apa yang paling mudah menurut mereka.

Terkadang seorang Tabi’in ketika sudah mengetahui perselisihan para sahabat, merojihkan (menguatkan) pendapat yang menurutnya kuat dan mengenyampingkan pendapat sahabat lain walau termasuk pembesar sahabat. Karena itulah setiap ulama dari kalangan Tabi’in memiliki madzhab sendiri dalam fiqih, dan setiap negeri memiliki Imam tersendri dari kalangan Tabi’in.

Sa’id bin al-Musayyib (w 94 H) di Madinah, Atho bin Abi Robah (w 114 H) di Mekah, Ibrohim an-Nakhoi (w 96 H) di Kufah, Hasan al-Bahsri (110 H) di Bashrah, Thowus bin Kisan (w 160 H) di Yaman dan Makhul (116 H) di Syam. Dalam hati merekalah terkumpul ilmu warisan para sahabat, mereka tau perbedaan pendapat di kalangan sahabat dan mereka tau cara dan aturan dalam merojihkan sebuah pendapat.

Pemahaman Sahabat diwariskan dan dipetakan

Setelah generasi Sahabat berakhir, contoh dan referensi dalam memahami dan melaksakan ajaran Islam ada di tangan Tabi’in, khususnya para Imam dan ulama-ulamanya.

Di Madinah misalnya, para Tabi’in mewarisi ilmu Rosulullah lewat Aisyah, Umar bin Khottob, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar dan sahabat lainnya. Di Mekah para Tabi’in belajar kepada sahabat Ibnu Abbas  dan lainnya. Di Irak para sahabat menerima ilmu dari Ali bin Abi Tholib, Ibnu Mas’ud dan lainnya. Secara global, apa yang dulu dipahami oleh para sahabat dari Rosulullah diwariskan kepada murid-muridnya dari kalangan Tabi’in.

Generasi Tabi’in kemudian berlalu, mereka tidak hanya meninggalkan warisan berupa ilmu sahabat, tetapi mereka juga meninggalkan kaidah-kaidah dan ushul dalam setiap madzhab yang mereka pegang dalam merojihkan (menguatkan) suatu pendapat bila terjadi perselisihan. Benarlah sabda Rosulullah :

إن العلماء ورثة الأنبياء، إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر[13]

“Sesungguhnya ulama adalah ahli waris para Nabi, karena para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa mengambilnya maka sungguh telah mengambil bagian yang melimpah”

Sampai tiba masa para Imam Mujtahid, pada masa inilah awal mula pemetaan sebagian warisan keilmuan yang selama ini berpencar pada tiap dada para ulama.

Hal itu berawal ketika Imam Abdurahman bin Mahdi (w 198 H) melakukan bekam, kemudian pergi ke masjid lalu sholat tanpa berwudhu lagi, hal ini beliau lakukan karena mengambil madzhab Imam Malik (w 179 H) di Madinah, yang menyatakan bahwa bekam tidaklah membatalkan wudhu, namun rupanya peristiwa tersebut diingkari oleh orang-orang di Basrah, karena kala itu, Basrah di dominasi oleh madzhab ahlu ro’yi, yang berpandangan bahwa bekam itu membatalkan wudhu.

Hal ini membuat sang Imam gundah gulana, maka ketika mendengar kabar kedatangan Imam Syafi’i (w 204 H) di Bagdad, beliau bergegas menulis surat, yang isinya meminta Imam Syafi’i menuliskan suatu kitab yang berisi penjelasan bagaimana hukum itu digali dari al-Qur’an dan sunah-sunah Nabi dengan pemahaman yang benar[14].

Maka ditulislah kitab ar-Risalah, sebuah kitab pertama tentang ushul fiqih,suatu ilmu tentang dasar-dasar seorang mujtahid yang ingin menggali hukum dalam syariat Islam. Ushul fiqih sendiri bukanlah ilmu baru yang diciptakan oleh Imam Syafi’i, esensi dari ushul fiqih adalah pemahaman Sahabat dalam melakukan ijtihad yang diwariskan kepada murid-muridnya kemudian tersimpan dalam tiap dada mereka.

Imam Ahmad (w 241 H) berkata:

كان الفقه قفلا على أهله حتى فتحه الله بالشافع[15]

“Dahulu fiqh (pemahaman tentang agama) terkunci hanya pada ahlinya saja, sampai Allah membukanya lewat Imam Syafi’i”

Maksudnya adalah, dahulu, pemahaman tentang cara berijtihad yang benar sesuai ajaran dari para sahabat hanya ada di dada-dada ulama saja, yang merupakan murid atau murid dari muridnya Sahabat, sampai datangnya Imam Syaf’i yang melakukan penyususan dan kodifikasi pemahaman tersebut, sehingga lahirlah ilmu yang disebut Ushul fiqh, yang mana ilmu tersebut sepeninggal Imam Syafi’i terus berkembang dan tersusuan rapih sehingga bisa dipelajari dengan lebih mudah.

Pantas saja Imam az-Za’faroni (w 260 H) salah satu periwayat qoul qodim Imam Syafi’i berkata:

وما حمل أحد محبرة إلا وللشافعى عليه منة

“Tidaklah seorang pun menbawa wadah tinta kecuali imam Syafi’i memiliki kebaikan atasnya”

Maksudnya yaitu tidaklah seorang ulama menulis kitab (terutama tentang fiqih) kecuali Imam Syafi’i punya jasa atas dirinya, karena telah memberi pengetahuan tentang dasar ilmu fiqih dan ushul fiqh.

Kesimpulan

Dengan mengetahui latar belakang terjadinya perselisihan atau perbedaan pendapat di kalangan Sahabat, para ulama setelah Sahabat bisa mengerti dan mampu memetakan kenapa perbedaan itu muncul, paham cara berijtihad dan mampu melakukan tarjih (memilih pendapat yang lebih kuat).

Pemahaman Sahabat secara global itu kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya, sampai tiba di masa para Imam Mujtahid yang kemudian dipetakan dan dikodifikasi secara berkesinambungan sampai saat ini, sehingga lebih mudah untuk dipelajari.

Jadi bila ingin mengetahui bagaimana cara sahabat dalam memahami ajaran Islam terutama dalam cara mereka berijtihad, setidaknya dua hal yang harus dilakukan, pertama adalah berguru kepada ulama yang benar yang merupakan ahli waris Nabi , sedangkan yang kedua adalah belajar ushul fiqh.

Mudah-mudahan kita diberi kemudahan oleh Allah dalam memahami agama Islam, yang mana dengan pemahaman yang benar tentang agama ini akan membawa kepada kedamaian dan kebahagian sejati.

 

 


[1] HR. At-Tirmidzi

[2] HR. Ibnu Majah

[3] Al-I’tishom (3/212)

[4] HR. Bukhori

[5] HR. Bukhori

[6] HR. an-Nasai

[7] HR. an-Nasai

[8] HR. Muslim

[9] HR. Muslim

[10] HR. Ahmad

[11] HR. Ahmad

[12] Nail al-Author (93/4)

[13] HR. at-Tirmidzi

[14] Manaqib Imam Syafi’i (230/1)

[15] Tahdzib al-Asma wa al-Lughot (61/1)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Ibnu Hazm dan Beberapa Pendapat Kocaknya
Muhammad Amrozi, Lc | 4 August 2017, 18:05 | 1.802 views
Apakah Dalil Adalah Nash Al-Quran dan Hadis?
Isnawati, Lc | 22 July 2017, 11:57 | 1.241 views
Siapakah yang Berhak Mengambil Hukum Langsung Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ?
Galih Maulana, Lc | 20 July 2017, 15:48 | 2.202 views
Makna Kullu Menurut Para Ulama
Galih Maulana, Lc | 18 July 2017, 02:23 | 2.734 views
Benarkah Go-Food Haram?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 July 2017, 22:27 | 7.383 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Taklid Boleh Apa Tidak
Galih Maulana, Lc | 17 October 2017, 12:49 | 1.712 views
Kupas Tuntas Qunut Subuh
Galih Maulana, Lc | 15 October 2017, 19:50 | 3.099 views
Ahli Hadits Dan Ahli Fiqih
Galih Maulana, Lc | 27 September 2017, 11:45 | 1.599 views
Fatwa Dan Tarjih
Galih Maulana, Lc | 26 September 2017, 08:35 | 1.241 views
Antara Fiqih Dan Tasawuf
Galih Maulana, Lc | 6 August 2017, 21:47 | 1.893 views
Sesuai Pemahaman Sahabat, Bagaimana Maksudnya?
Galih Maulana, Lc | 5 August 2017, 21:21 | 1.563 views
Siapakah yang Berhak Mengambil Hukum Langsung Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ?
Galih Maulana, Lc | 20 July 2017, 15:48 | 2.202 views
Makna Kullu Menurut Para Ulama
Galih Maulana, Lc | 18 July 2017, 02:23 | 2.734 views
Tukar Menukar Kado, Boleh apa Tidak ?
Galih Maulana, Lc | 27 May 2017, 14:31 | 2.038 views
Apa Setiap Manfaat yang Diambil dari Transaksi Pinjam Meminjam Itu Riba ?
Galih Maulana, Lc | 4 April 2017, 13:16 | 3.347 views
Hukum Melafadzkan Niat
Galih Maulana, Lc | 8 January 2017, 16:57 | 2.440 views
Manhaj Imam Syafii dalam Memahami Al-Quran dan As-Sunnah
Galih Maulana, Lc | 29 December 2016, 10:29 | 2.275 views
Ilmu Cocokologi al-Qur’an
Galih Maulana, Lc | 21 December 2016, 06:39 | 2.682 views
Maulid Nabi, Bagaimana Sikap Kita?
Galih Maulana, Lc | 10 December 2016, 06:02 | 3.865 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan