Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 2) | rumahfiqih.com

Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 2)

Muhammad Ajib, Lc., MA Tue 15 August 2017 10:00 | 1090 views

Bagikan via

M. Musthalah Khusus Dalam Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab syafi’i ada istilah khusus yang digunakan oleh para ulama syafi’iyah ketika berbicara dalam masalah fiqih. Diantara istilah-istilah tersebut adalah:

1. al-Aqwal adalah istilah untuk menyebutkan beberapa pendapat Imam Syafi’i dalam satu masalah.

2. at-Turuq adalah istilah untuk menyebutkan beberapa pendapat dari para ashab dalam meriwayatkan pendapat madzhab.

3. al-Wujuh adalah istilah untuk menyebutkan beberapa pendapat khilafiyah antar ashab.

4. al-Madzhab adalah istilah untuk menyebutkan pendapat resmi madzhab syafi’i.

5. an-Nash adalah istilah untuk menyebutkan perkataan dari Imam Syafi’i.

6. al-Masyhur adalah istilah untuk menyebutkan pendapat Imam Syafi’i yang masyhur dari dua pendapatnya. Istilah ini kebalikan dari al-Gharib.

7. al-Gharib adalah istilah untuk menyebutkan bahwa disana ada pendapat Imam Syafi’i yang masyhur.

8. al-Adzhar adalah istilah untuk menyebutkan pendapat yang rajih dari beberapa pendapat Imam Syafi’i dalam satu masalah.

9. al-Ashah adalah istilah untuk menyebutkan pendapat yang rajih dari beberapa pendapat para ashab.

10. al-Imam adalah istilah untuk menyebutkan nama Imamul Haramain al-Juwaini (w. 478 H)

11. al-Qadhi adalah istilah untuk menyebutkan nama al-Qadhi Husain (w. 462 H)

12. asy-Syaikhon adalah istilah untuk menyebutkan nama Imam Rofi’i (w. 623 H) dan Imam Nawawi (w. 676 H)

13. al-Qadhiyaani adalah istilah untuk menyebutkan nama Imam ar-Ruyani (w. 502 H) dan Imam al-Mawardi (w. 450 H)

N. Ulama Besar Yang Bermadzhab Syafi’i

Setiap madzhab tentu saja memiliki ulama yang terkenal dengan karyanya masing-masing dalam setiap cabang ilmu. Dibawah ini saya kumpulkan beberapa nama ulama yang bermadzhab syafi’i. Sebagian dari mereka juga sangat masyhur dalam ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih, ilmu fiqih dan lain lain.

No.

Nama Ulama

Wafat

Karya

1

Imam Syafi’i

204 H

al-Umm, ar-Risalah

2

Imam Buwaiti

231 H

Mukhtashar al-Buwaiti

3

Imam Ibnu Rahwaih

238 H

-

4

Imam Abu Tsaur

240 H

-

5

Imam Harmalah

243 H

-

6

Imam al-Karabisi

248 H

-

7

Imam Rabi’ al-Jaizi

256 H

-

8

Imam Za’farani

260 H

-

9

Imam al-Muzani

264 H

Mukhtashar al-Muzani

10

Imam Rabi’ al-Muradi

270 H

-

11

Imam Abu Hatim ar-Razi

277 H

Tafsirul Quran

12

Imam at-Tirmidzi

279 H

Sunan at-Tirmidzi

13

Imam Ibnu Suraij

306 H

-

14

Imam at-Thabari

310 H

Jami’ul Bayan

15

Imam Ibnu Khuzaimah

311 H

Shahih Ibnu Khuzaimah

16

Imam Ibnu al-Mundzir

319 H

Al-Ijma’

17

Imam al-Asy’ari

320 H

al-Ibanah

18

Imam Ibnu Abi Hatim

327 H

Adabu asy-Syafi’i

19

Imam Abu Ishaq al-Marwazi

340 H

-

20

Imam ad-Daruqutni

385 H

Sunan ad-Daruqutni

21

Imam al-Isfiroyini

406 H

Syikhu al-Iraq

22

Imam al-Muhamiliy

415 H

al-Lubab fil FiqhiSyafii

23

Imam al-Qaffal al-Marwazi

417 H

Syaikhu al-Khurasan

24

Imam Abu Ali as-Sanji

430 H

-

25

Imam al-Juwaini

438 H

Al-Jam’u wal Firoq

26

Imam al-Mawardi

450 H

al-Hawi al-Kabir

27

Imam al-Baihaqi

458 H

As-Sunan al-Kubro

28

Imam al-Qadhi Husain

462 H

At-Ta’liqah

29

Imam al-Khatib al-Baghdadi

463 H

Al-Ihtijaj bi asy-Syafi’i

30

Imam asy-Syairazi

476 H

Al-Muhadzdzab

31

Imam Abul Ma’ali al-Juwaini

478 H

Nihayatul Matlab Fi Dirayatil Madzhab

32

Imam ar-Ruyani

502 H

Bahrul Madzhab

33

Imam al-Ghazali

505 H

Al-Basit, Al-Wasit

34

Imam asy-Syasyi al-Qaffal

507 H

Hilyatul Ulama

35

Imam al-Baghawi

516 H

At-Tahdzib

36

Imam Salim al-Imrani

558 H

Al-Bayan

37

Imam Ibnu Asakir

571 H

Mu’jam Ibnu Asakir

38

Imam Abu Syuja’

593 H

At-Taqrib

39

Imam Fakhruddin ar-Razi

606 H

Mafatihul Ghaib

40

Imam ar-Rafi’i

623 H

Asy-Syarh al-Kabir

41

Imam Ibnu as-Shalah

643 H

Muqodimah Ibnu Shalah

42

Imam al-Izz Ibnu Abdissalam

660 H

Qawaidul Ahkam

43

Imam an-Nawawi

676 H

Al-Majmu’

44

Imam al-Baidhawi

685 H

Minhajul Wushul

45

Imam Ibnu Daqiq al-Iid

702 H

Ihkamul Ahkam

46

Imam ad-Dimyati

705 H

Ahaditsu ‘Awali

47

Imam Ibnu ar-Rif’ah

710 H

Kifayatun Nabih

48

Imam Ibnu al-Atthar

724 H

Al-Uddah

49

Imam al-Mizzi

742 H

Tahdzibul Kamal

50

Imam adz-Dzahabi

748 H

Siyar A’lamin Nubala’

51

Imam Taqiyuddin as-Subki

758 H

Al-Ibhaj

52

Imam Tajuddin as-Subki

771 H

Tabaqat Syafiiyah Kubro

53

Imam al-Isnawi

772 H

Al-Hidayah

54

Imam Ibnu Katsir

774 H

alBidayah wan-Nihayah

55

Imam az-Zarkasyi

794 H

Al-Burhan

56

Imam Ibnul Mulaqqin

804 H

At-Tadzkirah

57

Imam al-Hafidz al-Iraqi

806 H

At-Taqyid wal Iidhoh

58

Imam ad-Damiri

808 H

An-Najmu al-Wahhaj

59

Imam Taqiyuddin al-Hisni

829 H

Kifayatul Akhyar

60

Imam Ibnul Jazari

833 H

Muqadimah jazariyah

61

Imam Ibnu Raslan

844 H

Az-Zubad

62

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani

852 H

Fathul Baari

63

Imam as-Sakhawi

902 H

Al-Ghayah

64

Imam as-Suyuti

911 H

Al-Itqan

65

Imam Syamsuddin al-Ghazzi

918 H

Fathul Qarib

66

Imam Zakaria al-Anshari

926 H

Asnal Mathalib

67

Imam Ibnu Hajar al-Haitami

974 H

Tuhfatul Muhtaj

68

Imam asy-Syirbini

977 H

Mughnil Muhtaj

69

Imam al-Malibari

987 H

Fathul Mu’iin

70

Imam ar-Ramli

1004 H

Nihayatul Muhtaj

71

Imam al-Qalyubi

1068 H

Hasyiah al-Qalyubi

72

Imam al-Bujairimi

1221 H

Hasyiah al-Bujairimi

73

Imam al-Baijuri

1276 H

Hasyiah Al-Baijuri

74

Syaikh ad-Dimyati

1310 H

I’anathut Thalibin

75

Syaikh Nawawi al-Bantani

1316 H

Nihayatuz Zain

76

Syaikh al-Ghumrawi

1337 H

As-Siraj al-Wahhaj

77

Syaikh Ahmad Dahlan

1344 H

Kitab fiqih

78

Syaikh Hasyim Asy’ari

1367 H

Risalah Ahlus Sunnah

79

Syaikh Yasin al-Fadani

1410 H

Al-Fawaid al-Janiyah

80

Syaikh asy-Sya’rawi

1419 H

Al-Fiqh al-Islami

81

Syaikh Ahmad Nahrawi

1420 H

Al-Imam asy-Syafi’i

82

Syaikh Ramadhan al-Buthi

1434 H

Fiqhus Sirah

83

Syaikh Wahbah az-Zuhaili

1436 H

Al-Fiqh al-Islami

84

Syaikh Hasan Hito

-

Al-Ijtihad

85

Syaikh Ali Jum’ah

-

Al-Madkhal

 

O. Apa Itu Qaul Qadim dan Qaul Jadid?

Dalam dunia ilmu fiqih kita mengenal adanya Madzhab-Madzhab ulama salaf yang terkenal dengan keilmuannya. Tentu saja Madzhab para ulama salaf kita banyak sekali jumlahnya. Hanya saja Madzhab yang sampai sekarang masih terus dipelajari dan diikuti ajarannya ada 4 yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

Dari 4 Madzhab tersebut ada salah satu madzhab yang sangat unik sekali untuk dibahas. Dimana madzhab ini terkenal dengan pendirinya yang memiliki dua Qaul (pendapat) yang mungkin secara sekilas terlihat berbeda. Madzhab ini adalah Madzhab Syafi’i yang masyhur dengan adanya istilah Qaul Qadim dan Qaul Jadid.

Qaul Qadim secara bahasa artinya adalah pendapat lama. Adapun Qaul Jadid secara bahasa adalah pendapat baru. Sedangkan menurut istilah, para ulama syafiiyah memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai istilah Qaul Qadim dan Qaul Jadid. namun maknanya sebenarnya sama.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) mengatakan bahwa Qaul Qadim adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang beliau ucapkan sebelum pindah ke Mesir. Sedangkan Qaul Jadid adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang beliau ucapkan setelah pindah ke Mesir.[1]

Imam asy-Syirbini (w. 977 H) mengatakan bahwa Qaul Qadim adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang beliau ucapkan ketika masih berada di Iraq dalam kitabnya al-Hujjah. Sedangkan Qaul Jadid adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang beliau ucapkan ketika beliau berada di Mesir.[2]

Imam Romli (w. 1004 H) mengatakan bahwa Qaul Qadim adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang beliau ucapkan ketika masih berada di Iraq yang mana Qaul Qadim ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Imam az-Za’farani (w. 260 H), Imam al-Karabisi (w. 248 H) dan Imam Abu Tsaur (w. 240 H). Sedangkan Qaul Jadid adalah fatwa atau pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang beliau ucapkan ketika beliau berada di Mesir yang mana Qaul Jadid ini diriwayatkan oleh Imam al-Buwaiti (w. 231 H), Imam al-Muzani (w. 264 H), Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270 H), Imam Rabi al-Jaizi (w. 256 H) dan Imam Harmalah (w. 243 H).[3]

Dari beberapa defini para ulama diatas bisa kita simpulkan bahwa intinya Qaul Qadim adalah pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) ketika beliau berada di Iraq. Sedangkan Qaul Jadid adalah pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) ketika beliau berada di Mesir.

P. Contoh Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Berikut ini adalah beberapa contoh Qaul Qadim dan Qaul Jadidnya Imam Syafi’i (w. 204 H). Penulis kumpulkan semua qaul ini dari kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi (w. 676 H). Penulis membaginya menjadi 6 bagian yang berbeda.

1. Qaul Jadid yang merevisi Qaul Qadim dan yang dipakai sebagai pendapat madzhab adalah Qaul Jadidnya.

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1.

Masalah air yang kurang dari dua qullah dan terkena najis.

Airnya tetap suci kecuali jika berubah warna, bau dan rasanya.

Airnya menjadi najis baik berubah  maupun tidak berubah.

2.

Masalah muwalat dalam wudhu (berkesinambungan).

Wajib muwalat, jika tidak maka wudhunya batal.

Muwalat hukumnya sunnah.

3.

Masalah kesucian kulit bangkai yang disamak.

Suci bagian luarnya saja adapun bagian dalamnya tetap najis.

Suci bagian luar dan dalamnya.

4.

Masalah hukum menjual kulit yang disamak.

Tidak boleh dijual karena kenajisannya masih ada dibagian dalamnya.

Boleh dijual karena kenajisannya sudah hilang dengan disamak.

5.

Masalah kesucian rambut manusia yang sudah meninggal.

Rambut mayit hukumnya najis.

Rambut mayit hukumnya suci.

6.

Masalah menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak.

Hukumnya makruh tanzih.

Hukumnya makruh tahrim.

7.

Masalah lupa tertib (berurutan) dalam wudhu.

Wudhunya tetap sah.

Wudhunya batal.

8.

masalah batalkah wudhu seseorang jika tertidur dalam keadaan berdiri, ruku’ dan sujud

Wudhunya tidak batal.

Wudhunya batal.

9.

Menyentuh dubur apakah membatalkan wudhu.

Wudhunya tidak batal.

Wudhunya batal.

10.

Masalah hukum membaca al-Quran bagi wanita haid.

Boleh membaca al-Quran bagi wanita haid.

Tidak boleh membaca al-Quran bagi wanita haid.

 

2. Qaul Jadid yang merevisi Qaul Qadim dan yang dipakai sebagai pendapat madzhab adalah Qaul Qadimnya.

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1.

Masalah air dua qullah yang terkena najis kering.

Boleh digunakan selama tidak berubah warna, bau dan rasanya.

Tidak boleh digunakan baik berubah maupun tidak berubah.

2.

Masalah memakan kulit bangkai yang sudah disamak.

Haram hukumnya memakan kulit bangkai walaupun sudah disamak.

Boleh memakan kulit bangkai yang sudah disamak.

3.

Masalah hukum membaca ta’min bagi imam.

Dikeraskan suara ta’min.

Tidak dikeraskan suara ta’min.

4.

Masalah hukum membaca surah-surah al-quran di rakaat ke 3 dan 4.

Tidak disunnahkan membaca surah al-Quran di rakaat ke 3 dan 4.

Disunnahkan membaca surah al-Quran di rakaat ke 3 dan 4.

5.

 

 

 

 

3. Qaul Jadid yang sama persis dengan Qaul Qadim (tidak ada revisi pendapat).

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1.

Masalah air yang telah digunakan untuk bersuci atau air musta’mal.

Tidak mensucikan.

Tidak mensucikan

2.

Masalah lupa membaca basmalah ketika wudhu.

Tetap disunnahkan membaca basmalah ketika ingat sekalipun ditengah-tengah wudhu.

Tetap disunnahkan membaca basmalah ketika ingat sekalipun ditengah-tengah wudhu.

3.

Masalah bersentuhan kulit lawan jenis batal wudhunya orang yang menyentuh, apakah yang disentuh juga batal?

Wudhunya batal.

Wudhunya batal.

4.

Masalah menyentuh mahram.

Wudhunya tidak batal.

Wudhunya tidak batal.

5.

Masalah batas akhir waktu shalat ashar.

Sampai terbenamnya matahari.

Sampai terbenamnya matahari.

6.

Masalah Tatswib dalam shalat shubuh.

Tatswib hukumnya sunnah.

Tatswib hukumnya sunnah.

7.

Masalah kapan sujud sahwi afdhal dilakukan.

Boleh dilakukan sebelum salam dan sesudah salam. Namun yang afdhal sebelum salam.

Boleh dilakukan sebelum salam dan sesudah salam. Namun yang afdhal sebelum salam.

8.

Masalah orang yang sudah shalat secara berjmaah kemudian ikut shalat jamaah lagi.

Disunnahkan ikut shalat lagi secara berjamaah.

Disunnahkan ikut shalat lagi secara berjamaah.

9.

Masalah hukum menghias mushaf dengan perak.

Hukumnya boleh.

Hukumnya boleh.

10.

Masalah hukum shalat jumat bertepatan dengan hari raya.

Shalat jumat tetap wajib bagi ahlul balad. Tidak wajib bagi ahlul quro.

Shalat jumat tetap wajib bagi ahlul balad. Tidak wajib bagi ahlul quro.

 

4. Qaul Qadim dan Qaul Jadid yang tidak diketahui mana yang rajih dari keduanya.

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1.

Masalah hukum tayammum dengan pasir.

Boleh tayammum dengan pasir.

Tidak boleh tayammum dengan pasir.

2.

Masalah tayammum dengan tanah yang bercampur dengan najis yang sudah melebur kering.

Suci dan boleh untuk tayammum.

Najis dan tidak boleh untuk tayammum.

3.

Masalah meniup tanah/debu sebelum bertayammum.

Sunnah dan dianjurkan

Tidak dianjurkan.

4.

Masalah shalat jamaah bagi orang yang tidak berbusana sama sekali.

Sebaiknya shalat sendiri sendiri. Tidak perlu berjamaah.

Boleh secara berjamaah dan boleh secara sendiri-sendiri.

5.

Masalah kesalahan dalam menentukan arah kiblat.

Tidak perlu mengulangi. Sebab dia telah berijtihad dalam menentukan kiblatnya.

Harus mengulangi shalatnya.

6.

Masalah sutrah shalat dengan mengunakan garis.

Sutrah dengan garis hukumnya sunnah.

Tidak perlu sutrah dengan garis.

7.

Masalah hukum mengqadha’ shalat sunnah.

Tidak perlu diqadha’.

Dianjurkan untuk mengqadha’.

 

5. Qaul Qadim yang tidak ada Qaul Jadidnya.

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1.

Masalah hukum mandi untuk thawaf wada’.

Hukumnya sunnah.

Tidak ada nash jadid.

2.

Masalah hukum mandi bagi orang berbekam.

Hukumnya sunnah.

Tidak ada nash jadid.

3.

Masalah muadzin lebih dari dua orang.

Muadzin boleh lebih dari dua orang.

Tidak ada nash jadid.

4.

Masalah hukum menjawab salam dalam shalat.

Disunnahkan menjawab salam dengan isyarat tangan.

Tidak ada nash jadid.

5.

 

 

 

 

6. Qaul Qadim dan Qaul Jadid terjadi khilafiyah antara mana yang paling rajih dari keduanya.

No

Topik

Qaul Qadim

Qaul Jadid

1.

Masalah batalkah wudhu sebab makan daging unta.

Wudhunya batal. Menurut Imam Nawawi ini pendapat yang paling rajih.

Wudhunya tidak batal. Menurut Ashab ini pendapat yang paling rajih.

2.

Masalah tayammum mengusap tangan sampai siku atau pergelangan tangan saja.

Sunnahnya sampai pergelangan tangan saja. Menurut Imam Nawawi ini pendapat yang paling rajih.

Sunnahnya sampai siku. Menurut Ashab ini pendapat yang paling rajih.

3.

Masalah berniat tayammum dengan debu yang berterbangan ke wajah dan tangan.

Tayammumnya sah. Menurut Imam Ghazali dan al-Isfiroyini ini pendapat yang paling rajih.

Tidak sah tayammumnya. Menurut Imam Nawawi ini pendapat yang paling rajih.

4.

Masalah tayamum namun masih ada air sedikit.

Cukup tayammum saja. Menurut Imam al-Muzani dan Ibnul Mundzir ini pendapat yang paling rajih.

Harus menggunakan air tersebut kemudian tayammum. Menurut Imam Nawawi dan Ashab ini pendapat yang paling rajih.

5.

Masalah cara mensucikan benda yang terkena najis babi.

Dibasuh satu kali saja. Menurut Imam Nawawi ini pendapat yang paling rajih.

Dibasuh 7 kali seperti najis anjing. Menurut Ashab ini pendapat yang paling rajih.

6.

Masalah batas akhir waktu shalat maghrib.

Waktu maghrib ada dua, yaitu ketika matahari terbenam dan sampai hilangnya megah merah. Menurut Imam Nawawi ini pendapat yang paling rajih.

Waktu maghrib hanya satu yaitu ketika terbenam matahari. Menurut Ashab ini pendapat yang paling rajih.

7.

Masalah batas akhir waktu shalat isya’.

Batas akhirnya sampai pertengahan malam. Menurut Abu Ishaq al-Marwazi dan ar-Ruyani ini pendapat yang paling rajih.

Batas akhirnya sampai sepertiga malam yang akhir. Menurut Imam Rofi’i, Nawawi, al-Ghazali dan al-Mawardi ini pendapat yang paling rajih.

8.

Masalah hukum bayar hutang puasa bagi orang yang sudah meninggal dunia.

Walinya berpuasa bagi mayit tersebut. Menurut Imam Nawawi ini pendapat yang paling rajih.

Walinya membayarkan fidyah. Menurut Ashab ini pendapat yang paling rajih.

 

Q. Apakah Imam Syafi’i Punya Dua Madzhab Yang Berbeda?

Setiap ada dua pendapat Imam Syafii (w. 204 H) dalam satu masalah maka pendapat Qoul Jadid (pendapat baru) adalah pendapat yang dipakai. Sebab Qoul Qodim (pendapat lama) sudah direvisi, maksudnya Qoul Qodim (pendapat lama) yang memang ada Qoul Jadid (pendapat baru) yang merevisinya. Adapun Qoul Qodim (pendapat lama) Imam Syafii (w. 204 H) yang tidak direvisi atau tidak ditemukan Qoul Jadidnya (pendapat baru) maka Qoul Qodim (pendapat lama) yang seperti ini tetap dipakai dan diamalkan.

Para ulama Syafiiyah sering menyebut Qoul Qodim (pendapat lama) Imam Syafii (w. 204 H) telah direvisi dan tidak diamalkan lagi sebab memang kebanyakan seperti itu kecuali beberapa masalah saja. Bahkan ada sebagian ulama Syafiiyah yang berpendapat bahwa ditemukan sekitar 20 masalah dimana Qoul Qodim (pendapat lama) masih bisa diamalkan dan lebih kuat dari pada Qoul Jadidnya (pendapat baru).

Sebagian orang salah paham mengenai Qoul Qodim (pendapat lama) dan Qoul Jadid (pendapat baru) Imam Syafii (w. 204 H). Mereka menganggap kedua Qoul tersebut adalah dua madzhab yang berbeda. Padahal setelah diteliti sebenarnya madzhab Imam Syafii (w. 204 H) itu hanya satu. Dan saya sepakat dengan pendapat Syaikh Ahmad Nahrowi (w. 1420 H) dimana beliau berkata “Sesungguhnya madzhab Imam Syafii (w. 204 H) adalah satu, adapun penyebutan Qoul Qodim (pendapat lama) dan Qoul Jadid (pendapat baru) adalah sebatas kalimat majaz saja”.[4] Penyebutan Qoul Qodim (pendapat lama) dan Qoul Jadid (pendapat baru) hanya karena perbedaan tempat ketika berfatwa.

R. Ciri Khas Pendapat Madzhab Syafi’i

Ketika kita belajar fiqih perbandingan madzhab khususnya madzhab 4 yang masyhur, maka kita dapati khilafiyah atau perbedaan pendapat diantara madzhab-madzhab tersebut. Setiap madzhab memiliki pendapat khas yang terkadang sangat berbeda dibanding dengan madzhab yang lain.

Sebagai contoh dalam madzhab syafi’i ada beberapa pendapat yang sebagiannya terkadang berbeda dengan pendapat jumhur ulama. Misalnya dalam bab thaharah madzhab syafii memiliki pendapat khas yang agak berbeda dengan madzhab lainnya, diantaranya:

1. Air mani tidak najis.

2. Sucinya kulit bangkai dengan disamak kecuali bangkai anjing dan babi.

3. Babi termasuk najis mughalladzah yang harus dibasuh 7 kali dan salah satu basuhan dicampur dengan tanah.

4. Mengusap sebagian kepala dalam wudhu.

5. Tayammum hingga siku tangan.

6. Batalnya wudhu karena sentuhan kulit antar lawan jenis.

Dalam bab shalat madzhab syafii juga memiliki pendapat yang agak berbeda dengan madzhab lainnya, diantaranya:

1. Melafadzkan niat shalat hukumnya sunnah.

2. Wajib bagi imam dan makmum membaca surat al-Fatihah.

3. Mengeraskan bacaan basmalah ketika membaca al-Fatihah.

4. Adanya kesunnahan shalat qabliyah jum’at.

5. Adanya istilah sunnah hai’at dan sunnah ab’adh.

6. Disunnahkan meletakkan kedua tangan diatas pusar.

7. Disunnahkan doa qunut dalam shalat shubuh.

8. Disunnahkan isyarat telunjuk pada lafadz “illallah”.

S. Sifat Shalat Nabi Ala Madzhab Syafi’i

Kita tahu bahwa dari masa ke masa seluruh umat islam menggunakan tata cara ibadah shalat dari 4 madzhab yang ada yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafiiy dan Hanbali. Tentu saja masing-masing madzhab ini menuliskan Shifat Shalat Nabi dalam kitab-kitab fiqih mereka dengan versi yang berbeda beda sesuai dengan dalil yang diyakini kebenarannya oleh masing-masing madzhab.

Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa sebenarnya Shifat Shalat Nabi memang banyak versinya. Bukan berarti Shifat Shalat Nabi ‘Ala Madzhab Syafi’i ini adalah satu-satunya Shifat Shalat Nabi yang paling shahih. Sebab bisa jadi Shifat Shalat Nabi Versi Madzhab lain juga sesuai dengan dalil-dalil yang shahih.

Bahkan ada juga sebagian golongan yang menganggap bahwa Shifat Shalat Nabi karya Syaikh al-Albani (w. 1420 H) adalah Shifat Shalat Nabi yang paling ter-shahih di dunia. Tentu saja anggapan ini kurang tepat. Sebab banyak ulama yang menyusun tentang Shifat Shalat Nabi selain Syaikh al-Albani seperti Syaikh al-Utsaimin (w. 1421 H) dan ulama lainnya. Dalam kenyataannya masing-masing ulama berbeda dalam menentukan mana Shifat Shalat Nabi yang paling benar sesuai dengan dalil-dalil yang shahih.

Shifat Shalat Nabi Ala Madzhab Syafi’i yang akan penulis susun ini merujuk kepada berbagai macam kitab-kitab madzhab syafiiy yang mu’tamad. Khususnya penulis merujuk kepada kitab ”al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya imam Nawawi (w. 676 H) Rahimahullah.

InsyaAllah akan penulis sertakan juga berbagai macam dalil dari al-quran dan hadits-hadits yang shahih dalam setiap pembahasan sifat shalat menurut madzab syafiiy. InsyaAllah pembahasan tentang shifat shalat nabi ala madzhab syafi’i ini bersambung pada tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam.

 

Muhammad Ajib, Lc. MA.

 


[1] Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj Fii Syarhil Minhaj, (Mesir: Maktabah Tijariyah) jilid 1 halaman 53.

[2] Asy-Syirbini, Mughnil Muhtaj, (Darul Kutub al-Ilmiyah), jilid 1 halaman 107.

[3] Ar-Romli, Nihayatul Muhtaj Ilaa Syarhil Minhaj, (Bairut: Darul Fikr), Jilid 1 halaman 50.

[4] Ahmad Nahrawi, al-Imam asy-Syafii Fii Madzhabaihi al-Qadim wal-Jadid, halaman 443.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 1)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 14 August 2017, 14:50 | 1.688 views
Antara Fiqih Dan Tasawuf
Galih Maulana, Lc | 6 August 2017, 21:47 | 1.756 views
Sesuai Pemahaman Sahabat, Bagaimana Maksudnya?
Galih Maulana, Lc | 5 August 2017, 21:21 | 1.413 views
Ibnu Hazm dan Beberapa Pendapat Kocaknya
Muhammad Amrozi, Lc | 4 August 2017, 18:05 | 1.643 views
Apakah Dalil Adalah Nash Al-Quran dan Hadis?
Isnawati, Lc | 22 July 2017, 11:57 | 1.163 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 2)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 15 August 2017, 10:00 | 1.090 views
Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 1)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 14 August 2017, 14:50 | 1.688 views
Fiqih Itu Apa Sih?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 25 December 2016, 01:36 | 3.690 views
Sebab-Sebab Perbedaan Ulama Fiqih
Muhammad Ajib, Lc., MA | 7 December 2016, 00:00 | 1.613 views
Batas Akhir Diperbolehkannya Takbiran Pada Hari Raya Ied
Muhammad Ajib, Lc., MA | 27 September 2015, 08:15 | 2.110 views
Ternyata Isbal Haram, Kata Siapa?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 5 September 2015, 12:00 | 9.282 views
Imam Nawawi Sang Pembela Qunut Shubuh
Muhammad Ajib, Lc., MA | 3 September 2015, 06:02 | 5.634 views
Benarkah Imam Syafi'iy Mengatakan Tidak Sampainya Pahala ke Mayit?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 1 September 2015, 10:05 | 16.477 views
Bolehkah Berqurban Dengan Selain Kambing, Sapi Dan Unta?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 30 August 2015, 17:29 | 2.373 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan