Bolehkah Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat? | rumahfiqih.com

Bolehkah Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?

Isnawati, Lc Thu 24 August 2017 03:35 | 1919 views

Bagikan via

Ada suatu kasus, dimana ada seseorang, sebut saja Ahmad misalnya. Semasa hidup orang tuanya, keluarganya belum pernah qurban. Karena kondisi ekonomi yang serba kekurangan atau rendah. Buat makan sehari-hari saja mereka susah. Kemudian seiring bergulirnya waktu, Ahmad ini menjadi orang yang sukses dan mapan. Kemudian dia punya keinginan yang sangat besar. Yaitu  melakukan qurban, dimana qurban tersebut bukan atas dirinya saja, tapi juga atas nama almarhum ibunya atau ayahnya. Karena sewaktu mereka hidup belum pernah berqurban sama sekali.

Maka pada kasus ini,  bolehkah seorang anak berqurban atas nama ibu/ayahnya yang telah meninggal? Karena pada hakikatnya qurban dianjurkan bagi yang masih hidup, punya kelebihan harta, tentunya muslim baligh dan berakal. Dan Nabi SAW pernah bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Siapa yang memiliki kelapangan (keluasan harta) tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Anjuran berqurban dari nabi SAW  diatas tentunya ditujukan kepada umatnya yang masih hidup. Bukan yang sudah meninggal. Maka bagaimana pendapat para ulama fiqih mengenai qurban untuk orang yang telah meninggal ini. Berikut pendapat dari ulama fiqih yang bisa dikumpulkan penulis:

1. Tidak Sah

Pendapat ini, merupakan pendapat resmi dalam madzhab Asy-Syafi’i. Sebagaimana yang dijelaskan Imam An-Nawawi dalam kitab beliau Al-Minhaj:

ولا تضحية عن الغير بغير إذنه ولا عن ميت إن لم يوص بها

Tidaklah seseorang melakukan qurban atas orang lain tanpa seijinnya, dan tidak pula atas mayyit (orang yang telah meninggal), jika almarhum tidak berwasiat untuk berqurban. [1]

 

Jadi kalau seandainya tidak ada wasiat dari orang yang telah meninggal tersebut untuk berqurban semasa hidupnya, maka qurban atas almarhum tersebut tidak sah menurut pendapat pertama ini. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab beliau juga menjelaskan sebagai berikut: “Dalil yang dipakai pendapat madzhab Asy-Syafi’i tidak boleh berqurban atas orang yang telah meninggal adalah firman Allah:

{وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} [النجم: 39]

Tidaklah bagi manusia kecuali apa yang dia usahakan. (QS.An-Najm: 39)

Kalau seandainya hanya melaksanakan wasiat dari almarhum maka boleh. qurbannya sah. Dengan ketentuan, wajib bagi yang menjalankan wasiat tersebut untuk membagikan semua daging hewan qurban kepada faqir miskin. Tidak buat yang melakukan qurban dan tidak boleh pula memberikannya kepada orang kaya”.[2]

2. Boleh dan Sah

Ini merupakan pendapat jumhur ulama yaitu ulama Hanafiyah dan Hanabilah. Berdasarkan hadis Ali:

أن عليا رضي الله عنه كان يضحي عن النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين، وقال: إنه صلى الله عليه وسلم أمره بذلك.

Bahwasanya Ali RA pernah berqurban atas nabi SAW dengan menyembelih dua ekor kibasy. Dan beliau berkata: Bahwasanya nabi SAW menyuruhnya melakukan yang demikian. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Al-Baihaki)

Pendapat kedua ini mengambil kesimpulan bahwa Ali menyembelih dua ekor hewan qurban, dimana satu hewan qurban atas diri beliau, dan satunya adalah qurban Nabi SAW yang telah meninggal pada waktu itu. Al-Kasani (w. 587H) salah seorang ulama Hanafiyah menjelaskan, dalil yang digunakan madzhab Hanafi dalam masalah ini adalah istihsan.

الاستحسان أن الموت لا يمنع التقرب عن الميت بدليل أنه يجوز أن يتصدق عنه ويحج عنه، وقد صح أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ضحى بكبشين أحدهما عن نفسه والآخر عمن لا يذبح من أمته - وإن كان منهم من قد مات قبل أن يذبح - فدل أن الميت يجوز أن يتقرب عنه فإذا ذبح عنه صار نصيبه للقربة فلا يمنع جواز ذبح الباقين.

Berdasarkan istihsan, kematian tidak menghalangi seseorang bertaqarrub (melakukan kebaikan) atas orang yang telah meninggal. Dengan dalil seseorang boleh bersedekah untuknya dan menghajikannya. Dan dalam sebuah hadis shahih juga disebutkan, “bahwasanya rasulullah SAW berqurban dengan dua ekor kibasy, dimana satu kibasy adalah qurban beliau, dan satunya lagi untuk qurban umatnya yang tidak/belum pernah berqurban.”[3] Diantara umatnya termasuk juga yang telah meninggal dunia sebelum dia berqurban. Ini menunjukkan bahwa boleh melakukan kebaikan atas orang yang meninggal dunia. Jika dia menyembelihkan qurban atasnya, orang yang meninggal tersebut akan mendapat ganjaran pahala atas kebaikan tersebut[4]

Al-Buhuti (w.1051H) salah ulama Hanabilah dalam kitab beliau juga menyebutkan:

التضحية (عن ميت أفضل) منها عن حي. قاله في شرحه لعجزه واحتياجه للثواب (ويعمل بها) أي الأضحية عن ميت (ك) أضحية (عن حي) من أكل وصدقة وهدية

Qurbannya orang yang sudah meninggal dunia lebih utama dari qurbannya orang yang masih hidup. Karena ketidakberdayaan mayyit dan dia lebih membutuhkan pahala. Pelaksanaan qurban atas mayyit sama seperti pelaksanaan qurban orang yang hidup, dari yang dimakan dagingnya, disedekahkan dan dihadiahkan. [5]

Namun hal yang berbeda antara ulama Hanafiyah dan Hanabilah terkait boleh tidaknya daging qurban atas mayyit dimakan atau dikonsumsi sendiri buat yang melakukan qurban. Karena qurbannya bukan atas dirinya, tapi atas mayyit atau orang yang telah meninggal yang dia ingin hadiahkan pahala qurban.

Madzhab hambali dalam hal ini membolehkan, sedangkan madzhab Hanafi mereka melarang daging qurbannya itu untuk diambil, dimakan orang yang berqurban kalau qurban itu statusnya wasiat atau perintah dari yang meninggal semasa hidupnya. Tapi kalau qurban tersebut merupakan bentuk sukarela, bukan wasiat, maka yang melakukan qurban boleh mengambil, memakan daging qurban tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan imam Ibnu Abdin salah seorang ulama Hanafiyah berikut:

قوله وعن ميت) أي لو ضحى عن ميت وارثه بأمره ألزمه بالتصدق بها وعدم الأكل منها، وإن تبرع بها عنه له الأكل لأنه يقع على ملك الذابح والثواب للميت)

Kalau ada ahli waris yang berqurban untuk orang yang sudah meninggal karena perintahnya (wasiat), maka ahli waris ini wajib menyedekahkan daging qurban tersebut tanpa mengambil untuk memakannya. Tapi, kalau qurban tersebut dilakukan karena sukarela berbuat baik kepada yang meninggal, dia boleh memakan, karena statusnya dia pemilik qurban, dan bagi yang meninggal pahalanya. [6]

3. Makruh

Pendapat ini merupakan pendapat dari ulama Malikiyah. Bagi mereka makruh hukumnya berqurban atas orang yang telah meninggal dunia. Sebagaimana yang dikatakan Al-Kharsyi salah seorang ulama Malikiyah:

وفعلها عن ميت (ش) يعني أنه يكره للشخص أن يضحي عن الميت خوف الرياء والمباهاة ولعدم الوارد في ذلك وهذا إذا لم يعدها الميت وإلا فللوارث إنفاذها

Makruh bagi seseorang melakukan qurban atas orang yang sudah meninggal. Karena dikhawatirkan menjadi riya atau pamer. Dan juga tidak ada dalil dari nabi atas yang demikian itu. Kecuali atas permintaan almarhum semasa hidupnya, maka bagi ahli waris melaksanakannya. [7]

Imam Malik juga mengatakan:

ولا يعجبني أن يضحي عن أبويه الميتين

Dan aku tidak merasa takjub kepada orang yang berqurban atas orang tuanya yang telah meninggal dunia. [8]

Dalam sebuah riwayat lain, imam Malik juga berucap:

أكره أن يرسل لمناحة

Aku memakruhkan mengirim (pahala qurban ) bagi orang yang sudah meninggal. [9]

Dari pemaparan pendapat-pendapat para fuqaha di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Para ulama fiqih bersepakat kalau status qurban atas orang yang meninggal tersebut adalah wasiat almarhum, maka ahli warisnya sebisa mungkin untuk melaksanakan. Dan daging qurbannya berdasarkan pendapat jumhur harus disedekahkan kepada faqir miskin semuanya.
  2. Sedangkan kalau qurban itu statusnya hanya sukarela, menghadiahi almarhum yang di kubur. Semata-mata berbuat baik untuk mereka. Maka disinilah mereka terbagi kedalam tiga pendapat: 1. Tidak Sah, 2. Sah, 3. Makruh.
  3. Ketiga pendapat di atas sama-sama memiliki dalil yang cukup kuat. Mana yang paling benar dan rajih. Wallahua’lam.

 

 


[1] An-Nawawi (w.676H), Al-Minhaj, jilid.1, hal. 321

[2] Wahbah Az-Zuhaili (w.2015M), Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh, jilid 4, hal. 2744. 

[3] HR. Ahmad, Abu Daud dan At-Tarmidzi

[4] Al-Kasani, Badai’ As-Shanai’, jilid.5, hal.72.

[5] Al-Buhuti, Syarh Al-Muntaha Al-Iradat, jilid. 1, hal. 612.

[6] Ibnu Abdin, Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 3, hal. 335.

[7] Al-Kharsyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 3, hal.42.

[8] Al-Hattab Al-Ru’aini, Mawahib Al-Jalil, jilid. 3, hal. 247.

[9] Al-Gharnathi, At-Taj wa Al-Iklil, jilid. 4, hal. 378

Bagikan via


Baca Lainnya :

Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 1.467 views
Bolehkah Melebihkan Pembayaran Utang dengan Alasan Inflasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 20 August 2017, 23:24 | 2.009 views
Ayat-ayat Hukum Terancam Expired?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2017, 10:30 | 1.273 views
Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 2)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 15 August 2017, 10:00 | 1.091 views
Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 1)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 14 August 2017, 14:50 | 1.688 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bolehkah Aqiqah dengan Sapi?
Isnawati, Lc | 26 August 2017, 14:35 | 907 views
Bolehkah Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?
Isnawati, Lc | 24 August 2017, 03:35 | 1.919 views
Apakah Dalil Adalah Nash Al-Quran dan Hadis?
Isnawati, Lc | 22 July 2017, 11:57 | 1.163 views
Konsekuensi Bagi Ibu Hamil dan Menyusui yang meninggalkan Puasa, Qadha atau Fidyah?
Isnawati, Lc | 29 May 2017, 17:10 | 2.242 views
Hukum Wanita Hadir Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Ulama Empat Madzhab
Isnawati, Lc | 19 May 2017, 05:18 | 2.348 views
Haruskah Niat Puasa dengan Redaksi Khusus
Isnawati, Lc | 18 May 2017, 13:23 | 1.445 views
Bisakah Hafalan Al-Quran Dijadikan Mahar?
Isnawati, Lc | 24 December 2016, 05:08 | 1.688 views
Benarkah Madzhab Maliki Membolehkan Wanita Haidh Membaca Al-Quran?
Isnawati, Lc | 6 December 2016, 11:05 | 1.565 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan