Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Al-Quran Diturunkan dengan 7 Huruf? | rumahfiqih.com

Al-Quran Diturunkan dengan 7 Huruf?

Mon 21 May 2007 23:18 | Quran | 7.898 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mohon dijelaskan pak Ustadz tentang maksud Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf? Apakah maksudnya dengan tujuh dialek yang berbeda seperti dalam qiraat sab'ah, ataukah ada pemahaman yang lain.

Terima kasih sebelumnya dan wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada banyak riwayat yang seperti anda katakan, menyebutkan bahwa Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf, di antaranyaadalah lafadz hadits berikut ini:

Dari Ibn Abbas berkata bahwaRasulullah SAW bersabda, "Jibril membacakan (Qur'an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf."

Dari Umar bin Khatab ia berkata, "Aku mendengar Hisyam bin Hakim membacakan surah al-Furqan di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba-tiba ia membacanya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat dia shalat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai salam. Begitu salam, aku tarik selendangnya dan bertanya, "Siapakah yang membacakan (mengajarkan bacaan) surah itu kepadamu? Dia menjawab: 'Rasulullah yang membacakannya kepadaku.' Lalu aku katakan kepadanya: 'Dusta kau! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah yang kau dengar tadi engkau membacanya (tapi tidak seperti bacaanmu).' Kemudian aku bawa dia ke hadapan Rasulullah, dan aku menceritakan kepadanya bahwa ' Aku telah mendengar orang ini membaca surah al-Furqan dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surah al-Furqan kepadaku.' Maka Rasulullah berkata: ' Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah surah tadi, wahai Hisyam, Hisyam pun membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka kata Rasulullah SAW: 'Begitulah surah itu diturunkan.' Ia berkata lagi: 'Bacalah wahai Umar, lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah; begitulah surah itu diturunkan.' Dan katanya lagi: 'Sesungguhnya Qur'an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu, di antaranya.'

Masih banyak hadits-hadits yang terkait dengan tema yang sama. Hadis-hadis yang berkenaan dengan hal itu amat banyak jumlahnya dan sebagian besar telah diselidiki oleh Ibn Jarir di dalam pengantar tafsirnya. Semuanya bisa diterima dan saling menguatkan.

As-Suyuti menyebutkan bahwa hadis-hadis tersebut diriwayatkan dari dua puluh orang sahabat. Bahkan Abu 'Ubaid al-Qasim bin Salam telah menetapkan kemutawatiran hadis mengenai turunnya Qur'an dengan tujuh huruf.

Namun para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan istilah tujuh huruf ini dengan perbedaan yang bermacam-macam. Sehingga Ibn Hayyan mengatakan: 'Ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti kata tujuh huruf menjadi tiga puluh lima pendapat."

Namun kebanyakan pendapat itu bertumpang tindih. Di sini kami akan kemukakan beberapa pendapat di antaranya yang dianggap paling mendekati kebenaran.

1. Pendapat Pertama

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna; dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Qur'an pun diturunkan dengan sejumlah lafal sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan jika tidak terdapat perbedaan, maka Qur'an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja.

Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan ketujuh bahasa itu. Dikatakan bahwa ketujuh bahasa itu adalah bahasa Quraisy, Huzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman.

Menurut Ibnu Hatim as-Sijistani, Qur'an diturunkan dalam bahasa Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, Rabi'ah, Haazin, dan Sa'd bin Bakar. Dan diriwayatkan pula pendapat lain."

2. Pendapat Kedua
Suatu hukum berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dengan nama Qur'an diturunkan, dengan pengertian bahwa kata-kata dalam Qur'an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi. Yaitu bahasa paling fasih di antara kalangan bangsa arab.

Meskipun sebagian besarnya dalam bahasa Quraisy. Sedang sebagian yang lain dalam bahasa Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim atau Yaman; karena itu maka secara keseluruhan Qur'an mencakup ketujuh macam bahasa tersebut.

Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya, karena yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surah Qur'an. Bukan tujuh bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.

Menurut Abu 'Ubaid bahwayang dimaksud bukanlah setiap kata boleh dibaca dengan tujuh bahasa, tetapi tujuh bahasa yang bertebaran dalam Qur'an. Sebagiannya bahasa Quraisy, sebagian yang lain bahasa Huzail, Hawazin, Yaman dan lain-lain. Dan sebagian bahasa-bahasa itu lebih beruntung karena dominan dalam Qur'an."

3. Pendapat Ketiga

Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh wajh, yaitu:

  • amr (perintah)
  • nahyu (larangan)
  • wa'd (janji)
  • wa'id (ancaman)
  • jadal (perdebatan)
  • qashash (cerita)
  • matsal (perumpamaan).

Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa Nabi berkata, "Kitab umat terdahulu diturunkan dari satu pintu dan dengan satu huruf. Sedang Qur'an diturunkan melalui tujuh pintu dengan tujuh huruf, yaitu: zajr (larangan), amr, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amsal."

4. Pendapat Keempat

Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah: tujuh macam hal yang di antaranya terjadi ikhtilaf (perbedaan), yaitu:

a. Ikhtilaful asma'(perbedaan kata benda):

Yaitu dalam bentuk mufrad (tunggal), muzakkar (laki)dan cabang-cabangnya, seperti tasniyah, (double), jamak (plural)dan ta'nis (perempuan). Misalnya firman Allah

(al-Mukminun:8)

Pada kata li amanatihin, bisa dibaca pendek pada huruf nun(li amanatihim) dengan makna tunggal, yaitu satu amanah saja. Namun bisa juga dibaca dengan panjang menjadi li amanaatihimdengan bentuk mufrad dan dibaca pula dengan bentuk jamak.

Sedangkan rasamnya (penulisannya) dalam bentuk mushaf adalah

Yang memungkinkan kedua qiraat itu dibaca, baik pendek atau pun panjang, karena tidak adanya alif yang disukun.

Tetapi kesimpulan akhir dari kedua macam qiraat itu adalah sama. Sebab bacaan dengan bentuk jamak dimaksudkan untuk arti istighraq (keseluruhan) yang menunjukkan jenis-jenisnya.

Sedang bacaan dengan bentuk mufrad, dimaksudkan untuk jenis yang menunjukkan makna banyak. Yaitu semua jenis amanat yang mengandung bermacam-macam amanat yang banyak jumlahnya.

b. Ikhtilaf fil i'rab atau Perbedaan dalam segi I'rab,

Seperti firman Allah:

Ini bukan manusia (QS. Yusuf:31)

Jumhur ulama Qiraaat membacanya dengan nasab (accusative) menjadi maa hadzaa basyara, dengan alasan bahwa kata (ما) berfungsi seperti kata (ليس) dan ini adalah bahasa penduduk hijaz yang dalam bahasa inilah Qur'an diturunkan

Sedang Ibn Mas'ud membacanya dengan rafa' (nominatif) (ماهذا بشرُ) menjadi maa hadza basyarun, sesuai dengan bahasa Bani Tamim, karena mereka tidak memfungsikan (ما) seperti (ليس).

c. Perbedaan Dalam Tasrif
Contohnya seperti di dalam firman Allah SWT berikut ini:

Ya tuhan kami, jauhkanlah perjalanan kami (QS. Saba': 19),

Lafadz rabbana oleh sebagian ulama dibaca dengan menasabkan ربُّنا karena menjadi munada' mudhaf dan باعِد dibaca dengan bentuk perintah (fi'il amar).

Namun lafaz rabbana dibaca pula dengan tasrif yang berbeda menjadi rabbuna yang statusnya rafa'. Kedudukannya bukansebagai munada tetapi sebagai mubtada'. Dan kata ba'id berubah menjadi baa'ada. Dengan perbedaan pengucapan ini, maka artinya berubah menjadi, "Tuhan kami menjauhkan kami dalam perjalanan."

5. Pendapat Kelima
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa bilangan tujuh itu tidak diartikan secara harfiah (maksudnya bukan bilangan antara enam dan delapan), tetapi bilangan tersebut hanya sebagai lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang arab.

Dengan demikian, maka kata tujuh adalah isyarat bahwa bahasa dan susunan Qur'an merupakan batas dan sumber utama bagi perkataan semua orang arab yang telah mencapai puncak kesempurnaan tertinggi.

Sebab lafaz sab'ah (tujuh) dipergunakan pula untuk menunjukkan jumlah banyak dan sempurna dalam bilangan satuan, seperti kata tujuh puluh' dalam bilangan bilangan puluhan, dan 'tujuh ratus' dalam ratusan. Tetapi kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bilangan tertentu.

6. Pendapat Keenam
Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut adalah qiraat tujuh.

Wallahu a'lam bishshawab, Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wudhu' yang Wajib dan yang Sunnah
21 May 2007, 22:30 | Thaharah | 9.106 views
Khilafiyah, Bukankah Kebenaran Hanya Satu?
19 May 2007, 22:16 | Ushul Fiqih | 6.725 views
Suami Wafat Meninggalkan 1 Isteri, 3 Anak Laki dan 2 Anak Perempuan
18 May 2007, 21:38 | Mawaris | 5.409 views
Ayat yang Sekilas Bertentangan
16 May 2007, 23:41 | Quran | 5.345 views
Al-Fatihah Dalam Shalat
16 May 2007, 23:19 | Shalat | 6.246 views
Nabi Muhammad Buta Huruf
16 May 2007, 03:00 | Quran | 6.017 views
Ritual Pasca Meninggal Dunia
16 May 2007, 02:58 | Umum | 7.509 views
Kuburan di Depan Masjid
14 May 2007, 21:42 | Aqidah | 7.474 views
Ayah Menghibahkan 100% Hartanya kepada Ibu
14 May 2007, 21:05 | Mawaris | 5.229 views
Multi Level Marketing: Antara Halal dan Haram
13 May 2007, 23:18 | Muamalat | 6.869 views
Berapa Nishab Zakat Profesi?
13 May 2007, 22:21 | Zakat | 10.727 views
Al-Quran VS Shahih Muslim Dalam Basmalah
13 May 2007, 22:19 | Quran | 6.896 views
Adakah Kewajiban Bayar Zakat Dua Kali?
11 May 2007, 07:03 | Zakat | 5.039 views
Shalat Tasbih Tidak Ada Dalil Shahihnya, Bid'ahkah?
11 May 2007, 06:48 | Hadits | 6.275 views
Puasa Hari Kelahiran
9 May 2007, 23:46 | Puasa | 8.985 views
Adakah Kaitan Antara Kemiripan Wajah dengan Jodoh?
9 May 2007, 22:55 | Nikah | 6.588 views
KB yang Sesuai dengan Tuntunan Agama
9 May 2007, 02:03 | Kontemporer | 11.985 views
Maghrib Dulu atau Isya Dulu?
8 May 2007, 23:10 | Shalat | 8.146 views
Niat Puasa Dobel Bisakah?
8 May 2007, 00:09 | Puasa | 7.689 views
Apa yang Dimaksud Aqad Ganda Dalam Transaksi?
7 May 2007, 15:37 | Muamalat | 6.344 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,313,415 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

19-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img