Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Keluar dari Suatu Jamaah, Murtadkah Saya? | rumahfiqih.com

Keluar dari Suatu Jamaah, Murtadkah Saya?

Fri 4 January 2013 15:08 | Dakwah | 8.601 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaykum wr. wb.,

(ta'awudz, basmallah, syahadah, sholawat, salam).

Ustadz yang dimuliakan Allah, begitu besar semangat memperjuangkan Islam di dalam diri ini hingga sembilan tahun yang lalu saya bergabung ke dalam salah satu harokah yang tergolong bermilitansi tinggi di Indonesia ini. Namun beberapa bulan yang lalu, atas dasar ketidak setujuan saya terhadap beberapa kebijakannyalah saya memutuskan untuk berhenti dari jama'ah tersebut.

Hingga saat ini, mereka terus mencari tahu keberadaan saya. Bahkan tidak sedikit pula yang menghardik semua tulisan dan segala bentuk buah pikir saya. Sekalipun yang saya tuliskan adalah berdasarkan al-Qur'an, semua dianggapnya salah, bahkan mereka menyatakan saya murtad sebab mundur dari kancah perjuangan penegakan Dinul Islam.

Apakah saya demikian murtadnya, Pak Ustadz?

Apakah saya tergolong berkhianat terhadap perjuangan jika di tengah jalan saya berubah pikiran mengenai manhaj dalam memperjuangkan al-Islam?

Apakah memperjuangkan Islam harus selalu dinaungi sebuah jama'ah harokiyah? Bagaiamana jika saya menganggap bahwa sekalipun saya sendiri tetapi saya masih termasuk jama'ah Rasulullah saw, apakah itu salah?

Mohon penerangannya Pak Ustadz, saya hanya ingin hidup mulia atau mati syahid di jalan Allah. Ya Rabb, mudahkan hamba dalam meraih keridhoan-Mu.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di dalam semua daftar penyebab kemurtadan pada materi tentang syahadatain, tidak pernah kita dapati penyebabnya karena seseorang keluar dari sebuah organisasi atau kelompok tertentu di tengah umat Islam. Bahwa seseorang dianggap tidak layak lagi menjadi anggota pada kelompoknya tertentu lalu dipecat, dengan baik-baik atau dengan tidak baik-baik, tidak ada kaitannya dengan status keIslamannya.

Vonis murtad yang dikeluarkan juga tidak bisa sembaragan, kalau kita mengacu kepada syariah Islam. Tidak ada hak bagi individu atau bagi organisasi atau jamaah tertentu di tengah umat Islam untuk menjatuhkan vonis seberat itu. Bahkan meski si tertuduh itu benar-benar telah melakukan perbuatan yang tegas melanggar aqidah Islam.

Vonis murtad kepada seseorang tidak bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, harus menunggu ada ketetapan resmi dari pengadilan syariah. Pengadilan syariah ini harus diselenggarakan oleh lembaga formal atas nama negara Islam yang berdaulat. Bukan pengadilan jalanan, bukan pengadilan swasta, apalagi pengadilan internal di dalam satu institusi. Jelas semua itu tidak berlaku.

Sebab vonis kafir itu punya konsekuensi yang sangat berat, yaitu kehalalan darah orang yang divonis. Artinya, si kafir yang murtad itu harus dibunuh. Sehingga tuduhan murtad itu tidak bisa hanya didasarkan pada sebuah asumsi subjektif belaka, juga tidak boleh hanya berdasarkan tuduhan dari kelompok-kelompok tertentu, atau hanya berdasarkan fatwa dari satu atau dua orang ulama.

Status kemurtadan seseorang harus berdasarkan sebuah ketetapan hukum positif yang tetap dan dikeluarkan oleh negara Islam yang berdaulat penuh.

Jamaah Bukan Negara

Sebuah jamaah harakiyah tertentu, walaupun anggotanya diklaim berjumlah jutaan orang, secara hukum syariah sama sekali tidak bisa disamakan dengan sebuah negara Islam yang berdaulat. Boleh saja sebuah jamaah berilusi bahwa mereka telah mendirikan negara dalam negara, tapi nyatanya tidak. Memang sayang sekali, semangat berilusi semacam itu seringkali dipompakan dengan tekanan yang sangat kuat kepada setiap anggotanya.

Padahal negara Islam yang dikhayalkan itu tidak pernah ada, tidak pernah eksis. Hanya ada di alam imajinasi para pemimpinnya saja. Kalau sebuah negara itu mensyaratkan tiga unsur utama, yaitu ada rakyat, ada pemerintahan dan ada wilayah, maka negara ilusi itu hanya memenuhi satu unsur saja, yaitu pemerintahan. Sedangkan wilayah dan rakyat tidak pernah ada.

Mungkin kalau sekedar mengklaim boleh-boleh saja, tetapi realitanya, wilayah yang mereka klaim sebagai wilayah mereka tidak lain adalah sebuah wilayah milik sebuah negara berdaulat. Rakyat yang mereka klaim sebagai rakyat mereka, tidak pernah mengenal pemerintahannya, sebab pemerintahannya tidak pernah menampakkan diri. Jadi bagaimana pemerintahan itu bisa dibilang absah, kalau tidak pernah nongol dan dikenal rakyatnya?

Walhasil, negara Islam yang mereka klaim itu memang hanya sebuah ilusi. Dan sebagai negara ilusi, tidak layak untuk mengeluarkan keputusan hukum atau vonis murtad layaknya sebuah negara betulan. Dan oleh karena itu, semua fatwanya tidak bisa diterima dan otomatis tidak berlaku. Apalagi mengingat fatwa itu sangat bertentangan dengan syariah Islam yang muktamad dan diakui oleh mayoritas muslimin sepanjang masa.

Dan di lapangan, ternyata yang kerjaannya mengklaim sudah membentuk negara tidak cuma satu atau dua kelompok, tapi ada puluhan bahkan ratusan, untuk satu wilayah Indonesia yang sama.

Pertanyaannya, manakah di antara klaim-klaim itu yang benar? Mengapa ada begitu banyak negara ilusi yang didirikan hanya berdasarkan klaim segelintir orang?

Jawabnya, karena semua itu hanya ilusi dari beberapa gelintir orang, maka tidak ada yang susah untuk mendirikan negara ilusi. Dalam sehari bisa saja kita mendirikan ribuan negara ilusi, berdasarkan klaim-klaim sepihak. Dan boleh jadi, jamaah yang pernah anda ikuti itu suatu hari akan pecah para pemimpinnya, lalu masing-masing mengklaim bahwa dirinya adalah pewaris tunggal dari negara mereka. Dan begitulah seterusnya, setiap pecahan lalu bikin lagi negara baru lagi, sampai ada jutaan ilusi dari orang-orang yang berhayal di siang bolong.

Dan jangan-jangan, anda dikeluarkan dari sebuah negara ilusi yang merupakan pecahan entah yang keberapa dari yang ada sebelumnya.

Lepas dari semua itu, jangan anda risau dengan semua tuduhan kafir itu. Anda muslim 100% sejak anda dilahirkan, tidak ada yang bisa merenggut keIslaman dari dada anda sejak anda lahir.

Kalau jamaah yang pernah anda ikuti itu benar-benar jamaah Islam yang mengerti syariah, maka anda tidak akan divonis kafir. Sebaliknya, jamaah itu akan mengakui anda sebagai muslim, sebab anda tidak pernah melakukan hal-hal yang membatalkan syahadat anda, kecuali hanya keluar dari sebuah jamaah kecil di antara jutaan jamaah yang berserakan di dunia Islam.

Ciri sebuah jamaah yang benar adalah tidak pernah berpikir bagaimana menjatuhkan vonis kafir atau mengkafirkan orang yang sudah muslim. Justru berpikir bagaimana meng-Islamkan orang yang masih kafir.

Apakah Memperjuangkan Islam Harus Lewat Jamaah Harakiyah?

Saya yakin anda pasti sudah tahu jawabannya, yaitu tidak harus. Toh, yang namanya jamaah harakiyah itu baru ada beberapa tahun yang lalu saja. Sebelumnya kan tidak pernah ada, dan tidak ada yang bisa menjamin akan ada terus sampai kiamat.

Lagian, pengalaman di berbagai negara, berbagai jamaah itu, apapun genrenya, lebih sering mengalami pecah di dalam, baik di level grassroot atau pun di level elite. Lalu sebagian menyempal bikin jamaah baru lagi, dan begitulah sunnatullah yang berjalan sepanjang 1.400 ini.

Coba kita ingat-ingat sejarah umat Islam. Ketika ibukota khilafah Islamiyah masih ada di Damaskus di bawah panji-panji Dinasti Bani Umayah, kemudian pada akhirnya berdirilah Dinasti Bani Abbasiyah di Baghdad di waktu yang sama. Jadi sempat ada dua khilafah yang berbeda. Itu fakta sejarah, dan tidak ada seorang ulama pun yang membatil-batilkan salah satu dari kedua Dinasti itu.

Lalu selama masa Dinasti Bani Abbasiyah berkuasa di Baghdad, ternyata kita juga menemukan ada banyak 'duailat', yaitu negara-negara kecil lainnya, sebagiannya berkiblat ke Baghdad, tetapi sebagiannya tidak. Salah satunya dengan berdirinya Dinasti Bani Umayah jilid kedua, di Spanyol.

Awalnya mereka masih berkiblat ke Baghdad, tetapi akhirnya mereka benar-benar 100% memisahkan diri dari induknya, dan berdiri sebagai peradaban Islam selama hampir 800 tahun lamanya di belahan Barat dunia. Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan banyak lagi ulama, lahir di peradaban ini. Tidak ada fatwa ulama yang mengatakan bahwa Dinasti Bani Umayah yang kedua di Andalusia adalah negara yang batil dan tidak sah.

Semua itu adalah fakta dan realita sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Silih bergantinya dinasti yang kita bicarakan itu bukan sembarang dinasti, tetapi ruang lingkupnya adalah khilafah islamiyah. Khilafah itu kalau kita sejajarkan dengan negara-negara yang kita kenal sekarang, posisinya di atas negara. Jadi bukan cuma negara, tetapi gabungan dari berbagai negara.

Kalau di level khilafah islamiyah saja kita harus menerima kenyataan adanya silih bergantinya kekuasaan, bahkan khilafah-khilafah itu sekarang ini malah sudah tumbang, apatah lagi untuk level jamaah atau harakah. Jamaah dan harakah yang kita kenal sekarang itu levelnya bukan khilafah, juga bukan negara, tetapi maaf kalau saya harus katakan hanya merupakan segerombolan atau sedikit orang saja.

Kalau kita bandingkan jumlah anggota dan simpatisannya dengan jumlah umat Islam, maka jumlah mereka sangat kecil. Jamaah dan harakah itu sama sekali bukan representasi dari umat Islam. Jangankan untuk level dunia, untuk level Indonesia saja pun tidak.

Ikhwanul Muslimin di Mesir yang usianya sudah nyaris seabad saja, dan konon punya cabang di 70 negara, ternyata juga tidak bisa mengklaim diri sebagai representasi dari seluruh bangsa Mesir. Apalagi untuk mengklaim diri sebagai jamaah islamiyah. Para tokoh ikhwan sudah sejak dini menyebutkan bahwa jamaah mereka itu hanyalah sebuah jamaah di antara sekian banyak jamaah milik umat Islam yang ada.

Maka kalau anda setuju dan merasa cocok dengan sebuah jamaah atau harakat, silahkan bergabung dan ikuti semua perintahnya. Tetapi begitu anda merasa tidak cocok, ada banyak hati nurani anda yang serasa diinjak-injak, anda berhak 100% untuk keluar dari sana. Tidak perlu takut dikatakan kafir atau murtad. Sebab syariat Islam tidak pernah memurtadkan orang yang sekedar keluar dari sebuah perkumpulan. Suka-suka hati sajalah.

Satu lagi yang perlu direnungkan, bahwa janganlah kita berpikir kalau jamaah atau harakat tertentu tidak ada, maka Islam akan hancur dan bubar. Karena yang memperjuangkan agama Islam itu bukan satu dua kelompok saja, ada ribuan dan jutaan kelompok yang juga memperjuangkan agama Islam.

Di akhirat nanti, para malaikat ketika merekap pahala dan dosa, tidak pernah bertanya, dulu ikut gabung dengan jamaah mana atau kelompoknya siapa. Jadi sama sekali tidak perlu risau untuk urusan berjuang dan mencari pahala.

Dicegah Keluar Itu Biasa, Bahkan Bisa Juga Dengan Ancaman

Kalau anda ingin keluar tetapi dicegah, tentu sangat wajar. Mana ada organisasi yang rela kehilangan anggota, walau pun anggota itu bandel dan tidak taat atasan.

Di sekolah saja, kalau ada anak murid yang tidak betah dan ingin keluar, maka pihak sekolah pasti akan menghalangi dulu, tidak membiarkan begitu saja murid keluar seenaknya.

Nah, di beberapa kelompok militan, memang ada kebiasaan untuk mengintimidasi anggota-anggota yang bandel dan dipecat. Biasanya setelah dihukum atau dipecat, lantas diboikot, diasingkan, diputuskan hubungan silaturahmi, sampai bisa juga diisukan telah kafir dan keluar dari agama Islam. Itu trik kuno sebenarnya, tetapi buat mereka yang mentalnya lemah alias pengecut, ancaman seperti itu memang menciutkan nyali.

Kadang-kadang anggota yang mau keluar ditakut-takuti dengan ikatan bai'at, bahwa mereka yang mati tapi berbai'at, dianggap matinya mati jahiliyah. Dan ada banyak ragam ancaman yang bikin seorang anggota berpikir 1000 kali sebelum keluar arena permainan.

Jangankan kelompok militan, seorang pemain judi pun tidak bisa tiba-tiba menyatakan berhenti. Pasti lawan main judinya akan murka bila di tengah permainan ada yang memutuskan untuk berhenti. 

Keluar Dari Kelompok Tertentu Bukan Berarti Tidak Berjamaah

Perintah untuk berjamaah memang merupakan kewajiban, dalam arti setiap muslim memang harus berjamaah. Tetapi yang dimaksud dengan jamaah itu bukanlah kelompok-kelompok yang kita kenal itu. Itu bukan jamaah yang dimaksud dalam banyak hadits nabi SAW.

Yang dimaksud dengan berjamaah itu adalah menjadi bagian dari umat Islam. Siapa pun orang yang beragama Islam, otomatis dia adalah bagian jamaah umat Islam. Jadi berjamaah itu harus dipahami maknanya adalah menjadi umat Islam itu sendiri. Ada pun mau ikut kelompok ini dan itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perintah berpegang teguh pada jamaah.

Kalau anda muslim dan masuk masjid shalat bersama-sama dengan umat Islam, maka saat itu anda adalah bagian dari jamaah. Maksudnya ya jamaah shalat. Kalau anda terbang ke Baitullah melaksanakan ibadah haji, anda adalah bagian dari jamaah, yaitu jamaah haji. Nah, apakah bila ada orang tidak ke masjid shalat jamaah, atau tidak pergi haji, lantas dia dianggap telah murtad, kafir dan halal darahnya, karena dianggap TIDAK BERJAMAAH?

Tentu jawabannya tidak.

Saat itu anda memang bukan bagian dari jamaah shalat, dan juga bukan bagian dari jamaah haji. Tetapi anda muslim 100%. Karena tidak ikutnya anda pada sebuah shalat jamaah atau ritau haji, tidak ada kaitannya dengan status keislaman anda. Yang pasti, anda tetap saja masih jadi bagian dari jamaah umat Islam. Ketika anda hidup harus diperlakukan sebagai muslim, dan ketika wafat pun harus diperlakukan sebagai muslim juga, yaitu dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan di lokasi kuburan orang Islam. Karena Anda adalah muslim, dan status keislaman anda tidak bisa direnggut oleh siapa pun.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Benarkah Pemeluk Madzhab Syafi'i Ahli Bid'ah?
4 January 2013, 02:00 | Ushul Fiqih | 15.983 views
Talfiq Antar Mazhab, Apa Maksud dan Pengertiannya
4 January 2013, 01:22 | Ushul Fiqih | 18.830 views
Istri Menikah Lagi Sebelum Habis Masa 'Iddah
4 January 2013, 00:47 | Nikah | 7.289 views
Perbedaan Antara Syariah dan Fiqih
3 January 2013, 02:50 | Ushul Fiqih | 32.465 views
Jawaban Shalat Istikharah Apakah Harus Mimpi?
3 January 2013, 01:05 | Shalat | 19.680 views
Haruskah Memilih Satu Jama'ah Tertentu?
3 January 2013, 00:46 | Dakwah | 8.790 views
Shalat Jama' Qasar dan Batasan Luar Kota
2 January 2013, 03:44 | Shalat | 22.400 views
Nabi dan Rasul Selain Muhammad SAW Beragama Apa Ya?
1 January 2013, 23:55 | Aqidah | 9.329 views
Adakah 'Bidadara' di Surga Nanti?
1 January 2013, 23:47 | Aqidah | 11.217 views
Apakah Uang Kertas Haram?
1 January 2013, 04:14 | Muamalat | 9.507 views
Hukum Mawaris dan Konsep Keluarga Dalam Islam
1 January 2013, 02:58 | Mawaris | 5.776 views
Khawatir Dzikir Bersama Malam Tahun Baru Jadi Budaya
31 December 2012, 12:25 | Kontemporer | 7.479 views
Berteman tapi Mesra
31 December 2012, 12:05 | Kontemporer | 7.826 views
Cara Elegan Dalam Menghadapi Pemikiran Liberal
31 December 2012, 02:12 | Umum | 8.388 views
Hubungan Fiqih dan Etika
29 December 2012, 04:37 | Ushul Fiqih | 6.053 views
Merry Christmas BUKAN Merry X'Mas
29 December 2012, 03:23 | Aqidah | 9.361 views
Shalat di Majid yang Ada Kuburannya, Bolehkah?
28 December 2012, 03:18 | Shalat | 7.987 views
Bagaimana Cara Merelakan Suami Berpoligami?
27 December 2012, 11:28 | Nikah | 7.357 views
Bagaimana Cara Mandi Junub Jika Terluka
27 December 2012, 11:24 | Thaharah | 7.923 views
Pendanaan Dalam Pilkada
27 December 2012, 11:17 | Muamalat | 5.242 views

TOTAL : 2.301 tanya-jawab | 27,052,065 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema