Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Berwudhu dengan Air Banjir | rumahfiqih.com

Berwudhu dengan Air Banjir

Sun 16 March 2014 18:44 | Thaharah | 8.872 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr wb,

Ustadz, saya ingin bertanya berkenaan dengan kondisi banjir yang tengah melanda Jakarta saat ini. Bagaimana cara yang paling mudah bagi warga korban banjir untuk bersuci/berwudhu? Bolehkah air banjir tersebut digunakan untuk berwudhu?

Dan mengenai shalat yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, bolehkah bersolat sambil berdiri di dalam genangan air banjir?

Terima kasih

Wassalamualaikum wr wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam fiqih kita mengenal hukum air yang secara umum oleh para ulama dikatakan bahwa hukum asalnya adalah mutlak. Mutlak artinya adalah bahwa semua air yang ada di alam ini hukumnya suci dan mensucikan.

Selama air itu tidak tercampur dengan benda najis, maka hukum air itu tidak berubah dari suci menjadi najis.

Air Yang Kemasukan Najis

Khusus air yang kemasukan najis, para ulama membaginya menjadi air banyak dan air sedikit.

Dan hukum air sedikit adalah bila berubah dipengaruhi oleh benda najis yang tercampur di dalamnya, salah satu dari tiga hal, yaitu warna, rasa atau aromanya, maka hukum air itu berubah menjadi air najis. Batasannya air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah. Dalam kitab-kitab fiqih modern banyak disebutkan bahwa jumlah itu adalah 270 liter.

Sedangkan air yang jumlahnya lebih dari 2 qullah disebut air yang banyak. Hukumnya secara umum adalah air mutlak yang suci dan mensucikan. Kecuali bila air itu secara umum adalah air najis, seperti air di penampungan limbah kotoran hewan, air limbah rumah sakit. Maka meski jumlahnya banyak, namun melihat wujud pisiknya yang berupa limbah, bahkan baunya sudah sedemikian menyengat, tentu tidak suci lagi untuk digunakan.

Sedangkan air banjir besar dan massal seperti yang sekarang sedang terjadi di Jakarta, tidak bisa dikategorikan sebagai kotor semua. Justru kita katakan secara umum bahwa air banjir itu suci. Bahwa sebagiannya ada yang tercampur dengan air najis, misalnya masuk ke septik tank, atau bercampur dengan air limbah kotoran hewan dan sebagainya, memang tidak dapat dipungkiri.

Namun kalau dibandingkan dengan jumlah volume air banjir massal seperti yang terjadi saat ini di Jakarta, tentu prosentasenya menjadi sangat kecil. Tentu semua ini kalau kita lihat secara umum.

Namun tidak menutup kemungkinan, di daerah perumahan tertentu, air banjir yang masuk ke dalam rumah kadar kontaminasi air dengan najis termasuk tinggi. Misalnya, warnanya hitam atau hijau, aromanya khas aroma najis, atau indikator-indikator lainnya yang sekiranya dapat dijadikan sandaran bahwa air itu tercemar berat dengan najis.

Sedangkan bila warna itu sekedar keruh karena tercampur dengan tanah atau lumpur, ketahuilah bahwa tanah dan lumpur bukan benda najis. Meksi kita menyebutnya sebagai kotoran, namun dalam bahasa fiqih, tidak semua yang kotor itu najis. Butinya, kita bertayammum menggunakan tanah. Bukankah tanah itu kotor? Benar, tanah itu dikatakan kotor namun sekali lagi kita tetapkan bahwa tanah itu bukan benda najis. Walhasil, kalau ada air keruh karena tanah, kekeruhan itu tidak secara otomatis melahirkan kenajisan. Air keruh belum tentu najis.

Shalat di Air Banjir

Tidak ada halangan untuk shalat dalam keadaan becek dengan air banjir. Selama tidak ada indikasi adanya najis yang pasti. Indikasinya adalah aroma najis. Misalnya aroma kotoran manusia. Tapi kalau aromanya adalah aroma tanah atau lumpur, maka tanah becek atau banjir itu tidak najis.

Yang terlarang adalah kita shalat di atas tempat yang 100% diketahui kenajisannya. Misalnya, shalat di atas genangan darah, nanah, timbunan bangkai, atau di dalam septink tank.

Sedangkan bila shalat di air banjir yang tidak dipastikan kenajisannya, hukumnya kembali kepada hukum asal air mutlak. Yaitu boleh dan tidak menjadi masalah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kenapa Harus Ada Khilafiyah?
15 March 2014, 12:01 | Ushul Fiqih | 11.663 views
Uang Belanja Jika Isteri Lebih dari Satu
14 March 2014, 08:30 | Nikah | 7.559 views
Bagaimana Shalatnya Nelayan Seminggu di Atas Perahu
12 March 2014, 06:00 | Shalat | 9.501 views
Adegan Sujud Syukur Dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa
11 March 2014, 06:10 | Shalat | 12.283 views
Istri Hamil Dengan Laki-laki Lain, Dicerai Lalu Menikah Dengan Yang Menghamilinya
10 March 2014, 08:30 | Nikah | 19.400 views
Istri Dicerai Mau Menikah Lagi, Haruskah Menunggu Talak Tiga?
9 March 2014, 11:00 | Nikah | 18.388 views
Benarkah Quran Mendiskriminasikan Perempuan karena Hanya Ada Bidadari di Surga?
8 March 2014, 07:40 | Quran | 13.529 views
Shalat Jama' Shuri, Apakah itu?
7 March 2014, 06:00 | Shalat | 11.099 views
Bolehkah Melakukan Operasi Ganti Kelamin
6 March 2014, 06:54 | Kontemporer | 12.477 views
Khutbah Jumat Wajib Berbahasa Arab?
5 March 2014, 06:05 | Shalat | 20.468 views
Hukum Memelihara Anjing
3 March 2014, 06:01 | Umum | 21.236 views
Haruskah Zakat Karena Jual Mobil?
2 March 2014, 11:16 | Zakat | 9.039 views
Hutang Dalam Pandangan Syariah
1 March 2014, 06:00 | Muamalat | 9.721 views
Larangan Memajang Gambar Makhluk Bernyawa
28 February 2014, 08:00 | Kontemporer | 78.168 views
Tentang Urf dan Tradisi
27 February 2014, 05:30 | Ushul Fiqih | 24.825 views
Siapa Yang Mewarisi Hutang?
26 February 2014, 07:25 | Mawaris | 9.325 views
Tidak Semua Talak Halal, Ada Juga Yang Haram
25 February 2014, 06:02 | Wanita | 14.023 views
Wanita Dicerai Tidak Boleh Langsung Kawin Lagi?
24 February 2014, 06:02 | Wanita | 16.770 views
Posisi Imam Wanita Pada Jamaah Wanita
23 February 2014, 02:44 | Wanita | 69.800 views
Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak?
22 February 2014, 01:00 | Nikah | 10.387 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 28,115,531 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema