Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Berwudhu dengan Air Banjir | rumahfiqih.com

Berwudhu dengan Air Banjir

Sun 16 March 2014 18:44 | Thaharah | 7.941 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr wb,

Ustadz, saya ingin bertanya berkenaan dengan kondisi banjir yang tengah melanda Jakarta saat ini. Bagaimana cara yang paling mudah bagi warga korban banjir untuk bersuci/berwudhu? Bolehkah air banjir tersebut digunakan untuk berwudhu?

Dan mengenai shalat yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, bolehkah bersolat sambil berdiri di dalam genangan air banjir?

Terima kasih

Wassalamualaikum wr wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam fiqih kita mengenal hukum air yang secara umum oleh para ulama dikatakan bahwa hukum asalnya adalah mutlak. Mutlak artinya adalah bahwa semua air yang ada di alam ini hukumnya suci dan mensucikan.

Selama air itu tidak tercampur dengan benda najis, maka hukum air itu tidak berubah dari suci menjadi najis.

Air Yang Kemasukan Najis

Khusus air yang kemasukan najis, para ulama membaginya menjadi air banyak dan air sedikit.

Dan hukum air sedikit adalah bila berubah dipengaruhi oleh benda najis yang tercampur di dalamnya, salah satu dari tiga hal, yaitu warna, rasa atau aromanya, maka hukum air itu berubah menjadi air najis. Batasannya air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah. Dalam kitab-kitab fiqih modern banyak disebutkan bahwa jumlah itu adalah 270 liter.

Sedangkan air yang jumlahnya lebih dari 2 qullah disebut air yang banyak. Hukumnya secara umum adalah air mutlak yang suci dan mensucikan. Kecuali bila air itu secara umum adalah air najis, seperti air di penampungan limbah kotoran hewan, air limbah rumah sakit. Maka meski jumlahnya banyak, namun melihat wujud pisiknya yang berupa limbah, bahkan baunya sudah sedemikian menyengat, tentu tidak suci lagi untuk digunakan.

Sedangkan air banjir besar dan massal seperti yang sekarang sedang terjadi di Jakarta, tidak bisa dikategorikan sebagai kotor semua. Justru kita katakan secara umum bahwa air banjir itu suci. Bahwa sebagiannya ada yang tercampur dengan air najis, misalnya masuk ke septik tank, atau bercampur dengan air limbah kotoran hewan dan sebagainya, memang tidak dapat dipungkiri.

Namun kalau dibandingkan dengan jumlah volume air banjir massal seperti yang terjadi saat ini di Jakarta, tentu prosentasenya menjadi sangat kecil. Tentu semua ini kalau kita lihat secara umum.

Namun tidak menutup kemungkinan, di daerah perumahan tertentu, air banjir yang masuk ke dalam rumah kadar kontaminasi air dengan najis termasuk tinggi. Misalnya, warnanya hitam atau hijau, aromanya khas aroma najis, atau indikator-indikator lainnya yang sekiranya dapat dijadikan sandaran bahwa air itu tercemar berat dengan najis.

Sedangkan bila warna itu sekedar keruh karena tercampur dengan tanah atau lumpur, ketahuilah bahwa tanah dan lumpur bukan benda najis. Meksi kita menyebutnya sebagai kotoran, namun dalam bahasa fiqih, tidak semua yang kotor itu najis. Butinya, kita bertayammum menggunakan tanah. Bukankah tanah itu kotor? Benar, tanah itu dikatakan kotor namun sekali lagi kita tetapkan bahwa tanah itu bukan benda najis. Walhasil, kalau ada air keruh karena tanah, kekeruhan itu tidak secara otomatis melahirkan kenajisan. Air keruh belum tentu najis.

Shalat di Air Banjir

Tidak ada halangan untuk shalat dalam keadaan becek dengan air banjir. Selama tidak ada indikasi adanya najis yang pasti. Indikasinya adalah aroma najis. Misalnya aroma kotoran manusia. Tapi kalau aromanya adalah aroma tanah atau lumpur, maka tanah becek atau banjir itu tidak najis.

Yang terlarang adalah kita shalat di atas tempat yang 100% diketahui kenajisannya. Misalnya, shalat di atas genangan darah, nanah, timbunan bangkai, atau di dalam septink tank.

Sedangkan bila shalat di air banjir yang tidak dipastikan kenajisannya, hukumnya kembali kepada hukum asal air mutlak. Yaitu boleh dan tidak menjadi masalah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kenapa Harus Ada Khilafiyah?
15 March 2014, 12:01 | Ushul Fiqih | 10.205 views
Uang Belanja Jika Isteri Lebih dari Satu
14 March 2014, 08:30 | Nikah | 6.737 views
Bagaimana Shalatnya Nelayan Seminggu di Atas Perahu
12 March 2014, 06:00 | Shalat | 7.529 views
Adegan Sujud Syukur Dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa
11 March 2014, 06:10 | Shalat | 11.152 views
Istri Hamil Dengan Laki-laki Lain, Dicerai Lalu Menikah Dengan Yang Menghamilinya
10 March 2014, 08:30 | Nikah | 15.606 views
Istri Dicerai Mau Menikah Lagi, Haruskah Menunggu Talak Tiga?
9 March 2014, 11:00 | Nikah | 14.943 views
Benarkah Quran Mendiskriminasikan Perempuan karena Hanya Ada Bidadari di Surga?
8 March 2014, 07:40 | Quran | 11.925 views
Shalat Jama' Shuri, Apakah itu?
7 March 2014, 06:00 | Shalat | 9.290 views
Bolehkah Melakukan Operasi Ganti Kelamin
6 March 2014, 06:54 | Kontemporer | 11.079 views
Khutbah Jumat Wajib Berbahasa Arab?
5 March 2014, 06:05 | Shalat | 16.796 views
Hukum Memelihara Anjing
3 March 2014, 06:01 | Umum | 16.555 views
Haruskah Zakat Karena Jual Mobil?
2 March 2014, 11:16 | Zakat | 8.214 views
Hutang Dalam Pandangan Syariah
1 March 2014, 06:00 | Muamalat | 8.553 views
Larangan Memajang Gambar Makhluk Bernyawa
28 February 2014, 08:00 | Kontemporer | 65.358 views
Tentang Urf dan Tradisi
27 February 2014, 05:30 | Ushul Fiqih | 18.676 views
Siapa Yang Mewarisi Hutang?
26 February 2014, 07:25 | Mawaris | 7.938 views
Tidak Semua Talak Halal, Ada Juga Yang Haram
25 February 2014, 06:02 | Wanita | 10.672 views
Wanita Dicerai Tidak Boleh Langsung Kawin Lagi?
24 February 2014, 06:02 | Wanita | 10.337 views
Posisi Imam Wanita Pada Jamaah Wanita
23 February 2014, 02:44 | Wanita | 50.598 views
Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak?
22 February 2014, 01:00 | Nikah | 8.592 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,897,915 views