Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Hukumnya Punya Hutang kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal? | rumahfiqih.com

Bagaimana Hukumnya Punya Hutang kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?

Thu 24 January 2008 01:28 | Mawaris | 17.248 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz,

Saya mau tanya mengenai hukum berhutang kepada orang tua yang sudah meninggal. Ceritanya begini, orang tua saya punya hutang kepada Kakek dan Nenek saya yang kebetulan keduanya sudah meninggal, apakah hutang orang tua saya itu harus dibayar?

Kebetulan orang tua saya juga punya saudara yang merupakan sama-sama ahli waris. Dan orang tua saya ditagih oleh saudaranya agar hutangnya dilunasi.

Saudara orang tua saya juga sebenarnya punya hutang kepada Kakek dan Nenek saya. Rasanya tidak adil kalau hanya orang tua saya saja yang harus membayar hutangnya sedangkan saudara orang tua saya hutangnya tidak ditagih.

Bagaimana solusinya ustadz dalam menyelesaikan masalah ini, Dalil dalam Al-qur'an/ Hadist Nabi yang mana yang dijadikan acuan untuk menyelesaikan masalah ini. Mohon sekiranya ustadz menjelaskan masalah ini. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Cara yang paling logis dan masuk akal adalah dengan duduk bersama semua ahli waris dari kakek. Mereka adalah putera puteri kakek, yaitu paman dan bibi.

Karena ahli waris yang berhak atas harta warisan punya hutang kepada almarhum kakek. Jadi tinggal nanti dihitung secara bersama-sama, maka siapa yang hutangnya lebih besar dari bagian warisannya, dia harus menomboki. Dan siapa yang hutangnya lebih kecil dari bagian warisannya, tinggal dikurangi.

Dalam pembagian waris itulah kemudian didata semua harta peninggalan kakek, baik harta yang ada dan siap dibagi maupun harta yang masih menjadi piutang. Semua didata dan dijumlahkan.

Dan jangan lupa juga, kurangi dengan semua hutang alarhum kalau ada, juga biaya penyelenggaraan penguburan jenazah dan seterusnya. Dan kalau almarhum pernah berwasiat untuk memberikan sebagian hartanya kepada selain ahli waris, maka laksanakan terlebih dahulu.

Setelah itu barulah dilakukan pembagian warisan. Pembagiannya amat sederhana. Hitungnya saja berapa jumlah anak-anak kakek, lalu dibagi rata. Ketentuannya, anak perempuan kakek dihitung 1/2 orang.

Sebagai ilustrasi, kalau kakek punya 4 anak yaitu 2 laki dan 2 perempuan, maka harta kakek dibagi 3. 1/3 buat anak laki pertama, 1/3 buat anak laki kedua dan 1/3 buat 2 orang anak perempuan dibagi rata.

Setelah masing-masing tahu berapa jumlah harta yang menjadi haknya, maka siapa saja yang pernah punya hutang kepada kakek tinggal disebutkan jumlahnya. Kalau haknya dari warisan lebih besar dari hutangnya, maka tinggal dikurangi. Sebaliknya, kalau haknya lebih kecil dari hutangnya, tinggal ditomboki.

Begitu saja, sederhana dan selesai.

Yang biasanya menjadi masalah bukan pada sistem dan hitungan pembagian warisannya, tetapi masalah itu seringkali terjadi gara-gara isu, fitnah, intrik, dan pengaruh dari pihak-pihak lain yang memanas-manasi. Intinya, mental kita yang membagi warisan rasanya lebih mirip seperti orang yang rebutan harta rampasan perang, kalau perlu satu dengan lainnya saling berbunuhan. Lupa suadara, lupa kerabat. Naudzu billah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kapasitas untuk Mendhoifkan Hadits
24 January 2008, 00:18 | Hadits | 6.165 views
Zakat Sebagai Penerimaan Negara...
23 January 2008, 02:54 | Zakat | 6.852 views
Jaminan Masuk Surga
23 January 2008, 01:41 | Aqidah | 9.171 views
Shalat Ghoib untuk Isteri Ustad Hidayat NW
22 January 2008, 04:11 | Shalat | 6.216 views
Memakan Daging atau Darah Ular untuk Obat
22 January 2008, 03:02 | Kontemporer | 22.425 views
Keheranan Tentang Kristenisasi
21 January 2008, 01:16 | Aqidah | 6.592 views
Hukum Asuransi Dalam Al-Quran
20 January 2008, 15:16 | Muamalat | 15.965 views
Puasa Hari Jumat
18 January 2008, 06:39 | Puasa | 6.880 views
Prosentase Biaya Titipan Barang yang Digadai dan Waktu Gadai
18 January 2008, 06:38 | Muamalat | 7.107 views
Islam Vs Ahmadiyah
17 January 2008, 12:52 | Aqidah | 6.347 views
JIL: Sesat atau Kebebasan Berpikir?
17 January 2008, 02:41 | Aqidah | 7.478 views
Apakah Ketika Azan Harus Berdiri?
16 January 2008, 10:21 | Shalat | 15.523 views
Pelarangan Khamar di Dunia Islam dan Negeri Sekuler
16 January 2008, 09:59 | Kuliner | 6.423 views
Allah Berbahasa Arab....?
16 January 2008, 08:24 | Umum | 7.555 views
Mudahnya Memvonis Golongan Lain Bid'ah
15 January 2008, 00:19 | Kontemporer | 6.424 views
Hadits Bukan Wahyu?
14 January 2008, 22:55 | Hadits | 5.280 views
Sholat Jamaah dan Permasalahannya
14 January 2008, 01:25 | Shalat | 8.089 views
Gadai Sawah
13 January 2008, 23:32 | Muamalat | 7.100 views
Syarat Menjadi Ahli Tafsir
13 January 2008, 12:29 | Quran | 10.225 views
Haramkah Menyapa Non Muslim dengan Ucapan Selamat Pagi?
12 January 2008, 11:45 | Umum | 8.282 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,313,542 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

19-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img