Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Haruskah Menikah Dengan Ikhwan? | rumahfiqih.com

Haruskah Menikah Dengan Ikhwan?

Wed 30 January 2013 08:56 | Dakwah | 8.626 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz yang saya hormati,

Saya senang bisa bergabung dalam gerakan dakwah Islam. Selain saya mendapat semangat keislaman dari lingkungan saya, saya juga bisa ikut berjuang membela agama Islam.

Namun sebagai seorang akhwat yang masih lajang, saya agak miris dengan syarat dan ketentuan bahwa saya tidak boleh sembarangan memilih calon suami. Menurut murabbiyah saya, saya harus minta izin dulu kalau mau menikah. Kalau dapat lampu hijau boleh diteruskan tetapi kalau tidak, saya dianggap telah melanggar aturan.

Pertanyaan saya : apa benar bahwa seorang wanita seperti saya ini tidak boleh menikah dengan sembarang orang, kecuali hanya mereka yang berstatus 'ikhwan' saja. Apakah ada dalil syar'i tentang masalah ini, misalnya dari Al-Quran atau dari As-Sunnah?

Kalau memang ada keharusan seperti itu, menurut ustadz kenapa harus ada peraturan tidak boleh menikah kecuali dengan ikhwan? Apakah kalau bukan ikhwan itu berarti standar dan kualitas keislamannya diragukan?

Saya jadi agak bingung, karena ketika saya memberitahukan bahwa ada seorang laki-laki baik akhlaqnya mau menikahi saya, dan saya tahu beliau adalah seorang ustadz juga, kenapa  malah tidak direkomendasikan? Apakah karena calon saya itu bukan ikhwan sehingga dianggap kurang bertaqwa atau tidak punya loyalitas dalam berjamaah?

Saya agak bingung dengan aturan seperti ini dan mohon ustadz bisa menjelaskan secara terang. Atas penjelasan ustadz saya ucapkan terima kasih.

Ukthi yang galaw

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Karena anda bertanya ke RUMAH FIQIH yang memang menekuni hukum-hukum fiqih, maka saya akan menjawab dengan kacamata hukum-hukum fiqih saja. Sebab bisa jadi kalau anda bertanya kepada orang lain yang punya kaca mata berbeda, barangkali jawabannya juga akan berbeda.

Saya ingin membagi syarat sebagai calon suami itu menjadi tiga macam, yaitu syarat secara syar'i, syarat secara subjektif dan syarat secara administrasi.

1. Syarat Syar'i

Secara syar'i atau secara hukum fiqih, syarat sah nikah yang harus ada pada seorang calon suami adalah muslim, laki-laki, berakal dan jumlah istrinya tidak lebih dari empat orang. Selama syarat-syarat itu terpenuhi, maka calon suami itu adalah calon suami yang sah. Dan sebaliknya, bila salah satu syarat dasar itu tidak terpenuhi, maka pernikahan tidak sah.

Misalnya, calon suami beragama selain Islam, atau orang yang tidak waras (gila), atau sudah punya istri empat orang, maka tidak boleh dijadikan calon suami. Kalau pun dilakukan pernikahan juga, maka pernikahan itu tidak sah.

Syarat inilah yang sebenarnya berlaku bagi setiap muslim. Di luar syarat-syarat ini, bukan aturan yang ditetapkan syariah, mungkin sifatnya hanya subjektif dan administratif saja. Tergantung dari institusi dimana kita berada.

2. Syarat Subjektif

Selain syarat syar'i, kita juga sering mengenal ada empat syarat lainnya, yaitu sebagaimana hadits Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat (HR. Bukhari Muslim)

Memang hadits ini bicara tentang empat kriteria memilih istri, namun banyak ulama yang berpandangan sebenarnya bisa juga diterapkan sebagai syarat buat calon suami.

Namun sebagaimana saya sebutkan, syarat ini bukan syarat mutlak, mengingat sebenarnya apa yang disebut oleh Rasulullah SAW di atas sebenarnya bukan syarat, melainkan kriteria-kriteria yang dijadikan penilaian. Maksudnya, sebaiknya nilai dari keempat kriteria itu baik.

Cuma yang jadi masalah, kualitas agama, keturunan (nasab), harta dan kerupawanan, adalah kriteria yang sifatnya subjektif. Maksudnya tidak memiliki  ukuran yang eksak, sehingga tidak bisa distandarisasikan.

Syarat keislaman tidak sama dengan syarat kualitas agama. Syarat keislaman itu sederhana dan mudah dibuatkan tolok ukurnya. Tolok ukurnya cuma bersyahadat dan mengakui beragama Islam. Indikator luarnya juga mudah, yaitu minimal KTP-nya beragama Islam.

Yang susah adalah kalau kita bicara tentang nilai dan kualitas ke-islam-an seseorang. Standar tiap orang pasti berbeda-beda. Bisa saja seorang calon suami mendapat nilai kualitas ke-islam-an tinggi menurut seseorang, tetapi menurut orang lain justru nilainya rendah.

3. Syarat Administratif

Kalau syarat apakah calon suami harus ikhwan atau bukan, itu masuk syarat yang sifatnya administratif saja. Bukan syarat yang datang dari syariat Islam yang baku.

Maksudnya bahwa seseorang yang terikat dengan institusi tertentu, memang kadang institusinya suka bikin syarat macam-macam. Tentu saja syarat itu bukan dari Al-Quran dan As-Sunnah, juga bukan dari syariat Islam. Namanya saja syarat administratif, jadi ya suka-sukanya yang punya institusi.

Sebagai contoh dari syarat administratif itu adalah para pegawai negeri sipil (PNS). Mereka dilarang secara resmi punya istri dua, juga dilarang punya anak lebih dari dua. Kalau melanggar, tentu akan mendapat sanksi administratif.

Kadang ada juga institusi yang melarang para karyawannya saling menikah di antara mereka. Kalau ada yang menikah, maka salah satu harus keluar dari institusi tersebut.

Tetapi sebaliknya, ada juga institusi yang justru melarang anggotanya menikah kecuali harus dengan sesama anggota institusi yang sama. Bahkan harus ada rekomendasi dari atasan, ketika menentukan pilihan. 

Institusi atau jamaah tempat anda beraktifitas barangkali menerapkan aturan yang terakhir ini. Aturan yang melarang para anggota menikah kecuali dengan sesama anggota juga. Selain itu juga harus ada semacam lampu hijau, yaitu berupa   izin atau rekomandasi dari  'atasan'. Saya sendiri tentu tidak tahu apa pertimbangannya, kenapa seorang anggota dapat rekomendasi dan kenapa yang lain tidak.

Barangkali pertanyaan yang anda ajukan itu sebenarnya lebih tepat diajukan kepada pihak institusi dimana anda aktif menjadi anggotanya. Tanyakan kepada institusi itu, kenapa tidak boleh menikah dengan calon suami yang menurut anda sudah merupakan sosok yang islami, malah jadi ustadz pula, tetapi kenapa dianggap tidak boleh atau tidak direkomendasikan.

Barangkali benar dugaan anda, karena calon suami anda itu dianggap tidak sama institusinya dengan anda sendiri. Dan kalau sampai anda yang sudah lama jadi aktifis dan anggota dari jamaah anda itu, tiba-tiba menikah dengan 'orang luar', mungkin dianggap akan merugikan pergerakan, atau dianggap kurang punya loyalitas kepada jamaah. Tentu para 'atasan' anda yang lebih tahu alasannya.

Kesimpulan :

Secara hukum Islam, tidak ada keharusan bahwa calon suami itu harus ikhwan atau bukan ikhwan. Syarat itu sifatnya hanya administratif, yang berlaku secara lokal pada institusi dimana anda beraktifitas.

Dan tiap institusi bisa saja berbeda-beda ketentuan dan perlakuannya kepada anggotanya. Kadang ada yang sampai mengatur urusan yang sangat pribadi, sampai siapa yang boleh dan tidak boleh jadi pasangan hidup kita. Namun ada begitu banyak jamaah dan institusi yang tidak meributkan hal-hal seperti itu. Karena dianggap itu urusan pribadi masing-masing, dan isntitusi tahu batas-batas mana yang boleh ikut campur dalam urusan pribadi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mendirikan Televisi Khusus Konsumsi Umat Islam
30 January 2013, 01:07 | Dakwah | 5.916 views
Hukum Main Drama, Teater, Sinetron dan Film
29 January 2013, 00:22 | Umum | 9.794 views
Bingung Baca Terjemah Quran dan Kitab Hadits
28 January 2013, 23:39 | Quran | 10.643 views
Belanja Dengan Cicilan 0 % Termasuk Riba?
28 January 2013, 03:29 | Muamalat | 26.538 views
Jarak Antar Musholla Berdekatan
28 January 2013, 02:30 | Kontemporer | 6.801 views
Berbekam Bukan Sunnah Nabi?
27 January 2013, 09:05 | Hadits | 11.032 views
Adakah Kedokteran Nabawi?
26 January 2013, 02:33 | Umum | 5.288 views
Ahli Waris : Istri, Ibu Kandung, Dua Anak Perempuan dan Saudara/i
24 January 2013, 23:51 | Mawaris | 8.735 views
Ambil Keuntungan Dari Bisnis Dari Orang Dalam
24 January 2013, 23:14 | Muamalat | 4.830 views
Hak Waris Saudara Kandung
24 January 2013, 22:04 | Mawaris | 8.390 views
Mohon Saya Dihukum Cambuk 100 Kali Karena Zina
23 January 2013, 18:02 | Jinayat | 8.987 views
Bingung Cari di Google Tentang Pro Kontra Perayaan Maulid
23 January 2013, 01:42 | Umum | 14.491 views
Melamar Gadis Yang Ayahnya Bercerai Tinggal Bapak Tiri
22 January 2013, 05:09 | Nikah | 5.656 views
Bukankah Mazhab Itu Membawa Perpecahan?
22 January 2013, 01:19 | Ushul Fiqih | 7.298 views
Cara Melamar Calon Istri Yang Islami
21 January 2013, 03:54 | Nikah | 90.573 views
Manhaj Majelis Tarjih Muhammadiyah
21 January 2013, 01:48 | Ushul Fiqih | 13.117 views
Hak Waris Anak
20 January 2013, 21:31 | Mawaris | 7.078 views
Minuman 0.00% Alkohol dengan Rasa Beer
19 January 2013, 13:20 | Kuliner | 9.435 views
Nikah Gantung
19 January 2013, 12:13 | Nikah | 15.529 views
Cara Bayar Hutang Kepada Almarhum
19 January 2013, 01:55 | Muamalat | 17.331 views

TOTAL : 2.301 tanya-jawab | 27,052,024 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema