Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Diminta Jadi Wakil Rakyat Demi Memperjuangkan Agama | rumahfiqih.com

Diminta Jadi Wakil Rakyat Demi Memperjuangkan Agama

Thu 19 September 2013 22:08 | Dakwah | 5.865 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya beberapa bulan lalu diminta oleh Ayah mertua yang juga kebetulan pimpinan pondok pesantren di kampung kami, untuk maju menjadi wakil rakyat. Menurut ayah kami, saya satu-satunya harapan buat pondok pesantren agar bisa maju mewakili kepentingan pesantren. Sebab selama ini pesantren hanya dimintai dukungan oleh para calon kandidat yang mau maju, tetapi tidak punya kader sendiri yang benar-benar mewakili kepentingan pesantren.

Saat itu terus terang saya agak bingung ustadz, karena dalam diri saya tidak ada niat sedikit pun untuk jadi politikus. Saya sudah menyelesaikan pendidikan agama di Universitas Islam terbesar di Timur Tengah. Dalam diri saya, ada keinginan kuat membaktikan diri di bidang agama dan bukan jadi pejabat.

Saya lebih ingin menjadi ustadz dan mengajarkan ilmu-ilmu syariah, seperti yang seringkali ustadz anjurkan.

Tidak terbayang dalam hati tiba-tiba harus mengubah cita-cita demi hanya sekedar menjadi pejabat, sebuah jalan yang amat tidak saya sukai, mengingat resiko jadi pejabat itu sangat besar, dan juga banyak sekali jebakan di tengah jalan.

Mohon pencerahan dari ustadz, saya agak bimbang.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada salahnya kalau seorang mau berjuang membela agama dan kelompoknya lewat jalur politik parlementer. Itu merupakan hak asasi yang menjadi anugerah bagi tiap warga negara.

Dan tidak salah kalau dikatakan bahwa kepentingan umat Islam perlu diperjuangkan lewat jalur birokrasi. Itu merupakan jalur perjuangan yang benar dan konstitusional.

Dan sama sekali tidak salah kalau umat Islam harus melek politik, serta menjadikan politik sebagai salah satu poros kekuatan perjuangan umat.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa tidak semua orang berbakat untuk berpolitik. Tidak semua orang mampu berjuang di jalur politik. Dan tidak semua orang berminat untuk berjuang di jalur birokrasi. Apalagi mengingat bahwa setiap medan perjuangan itu punya karakteristik yang khas dan unik.

Saya tentu tidak akan menyalahkan Bapak mertua antum dengan permintaannya agar antum ikut terjun ke bidang politik. Apalagi niatnya luhur sekali, yaitu untuk memperjuangkan kepentingan pesantren khususnya, dan juga kepentingan umat umumnya.

Tetapi beliau juga perlu mempertimbangkan beberapa hal yang amat krusial. Utamanya, apakah antum sebagai menantu punya minat berjuang di jalur birokrasi? Kedua, apakah antum punya kemampuan yang mumpuni untuk menjadi pejabat dan wakil rakyat, dengan berbagai macam tantangan dan carut-marut isinya?

Ketiga, dan ini yang paling penting, apakah tidak sia-sia ilmu yang sudah antum pelajari sepanjang waktu, bahkan sampai ke luar negeri segala, kalau tiba-tiba harus dilupakan begitu saja dengan menceburkan diri di dunia politik? Lalu mau dibawa kemana murid-murid antum yang tulus ingin belajar ilmu agama?

Dan masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lain yang perlu dipikirkan. Sebab dalam urusan terjun ke dunia politik,  tentu ukurannya bukan sekedar ada kesempatan atau sekedar pas ada proyek aji mumpung. Tidak mentang-mentang ada kesempatan, dan dibumbui bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali, lalu seorang tibat-tiba harus berimprovisasi dan banting setir meninggalkan kerja produktif yang telah ditekuninya.

Maka kalau antum merasa ragu untuk memenuhi permintaan bapak mertua, saya pun bisa memahami. Bahkan saya paham bahwa antum seperti orang makan buah simalakama, dimakan atau tidak dimakan, sama-sama punya resiko.

Dan asal tahu saja, tokoh muda potensial seperti antum yang mengalami dilema seperti ini bukan cuma satu dua orang saja, tetapi ada ribuan lainnya yang merasakan galau seperti antum. Mereka bimbang menentukan pilihan, meneruskan karir di bidang yang sudah sesuai dengan ilmu yang dipelajari dan ditekuninya, ataukah memanfaatkan peluang yang menganga menunggu diambil kesempatannya.

Biasanya kalau saya dimintai pendapat dalam kasus ini, saya akan ajak yang bersangkutan untuk berkaca diri melihat kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Kalau dia ahli dalam berpikir strategis, punya konsep managemen yang baik, matang dalam organisasi, pandai silat lidah dan fasih berargumentasi, ditambah lagi tetapi punya standar moral yang tinggi, akhlaq yang luhur dan tidak harus meninggalkan ilmu yang ditekuninya selama ini, maka saya bilang silahkan maju untuk memperjuangkan Islam lewat jalur politik.

Kepada sosok seperti ini, pesan saya cuma satu, yaitu jangan hidup mewah, baik dengan harta yang halal atau pun dengan harta yang tidak jelas halalnya. Sebab begitu mulai hidup mewah, saya bilang bahwa dia harus siap dapat tambahan masalah, yaitu akan terus dicurigai makan uang haram, walaupun tidak dilakukannya. Dan kasusnya sudah cukup banyak terjadi dan saya miris melihatnya.

Sedangkan kalau saya melihat sosok yang ditawari jabatan itu adalah sosok guru ngaji, ustadz, apalagi kiyai pondok pesantren, yang sudah punya ilmu agama lebih dalam dan matang, bahkan sampai kuliah ke luar negeri, maka nasehat saya sebaiknya tidak usah diterima saja tawaran itu.

Kenapa? Bukankah dengan jadi anggota dewan, maka ilmunya akan lebih bermanfaat? Dan dakwahnya akan jadi semakin luas?

Jawaban saya tetap tidak.

Memang teorinya bisa saja diplintir-plintir begitu. Tetapi bukti yang otentik selama ini  menyatakan sebaliknya. Sebut saja Almarhum KH. Zainuddin MZ. Beliau pernah suatu ketika lupa diri dan tergiur terjun ke dunia politik praktis, lalu ikut partai dan kemudian bikin partai sendiri.

Walau pun belum pernah jadi anggota dewan dan cuma jadi aktifis partai, tetapi aktifitas politiknya itu malah membuatnya tidak produktif ketika menjadi da'i kondang. Banyak sekali kalangan yang menyayangkan langkah kiyai sejuta umat ini.

Alhamdulillah, beliau sebelum wafat menyadari kekeliruannya. Nampaknya khalayak lebih suka Zainuddin dengan sosoknya sebagai penceramah dan menasehati umat, ketimbang Zainuddin sebagai politisi. Beliau mengaku jadi punya banyak musuh ketika berpartai. Dan dakwahnya malah jadi terhambat, karena ada baju partainya.

Lebih baik tekuni saja pekerjaan yang sudah ada selama ini, jangan sampai terkena 'ujub alias rasa jumawa dengan memandang bahwa diri kita ini punya potensi besar berpolitik. Serahkan saja pekerjaan politik itu kepada mereka yang memang sudah ahli di bidangnya.

Godaan dari semua pihak biasanya sulit dibendung. Seorang ustadz yang baru sedikit kondang memang seringkali diiming-imingi dengan tawaran-tawaran menarik hati, tetapi semua ibarat fatamorgana.

Jangan terjun ke dunia politik niatnya mau memperjuangkan agama, tetapi setelah masuk ke dalamnya, lupa dari tujuan semua, akhirnya malah memperjuangkan kepentingan kelompoknya sendiri, bahkan memperjuangkan kesejahteraan diri sendiri dan keluarga. Mentang-mentang punya jamaah dan pengikut dimana-mana. Naudzbillahi min dzalik

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Perbedaan Haji Qiran, Ifrad dan Tamattu : Mana Yang Lebih Afdhal
19 September 2013, 02:02 | Haji | 99.603 views
Cara Menentukan Arah Kiblat di Pesawat
17 September 2013, 22:36 | Shalat | 6.733 views
Halalkah Dana Talangan Haji Dari Bank Syariah?
16 September 2013, 21:54 | Haji | 13.315 views
Apakah Sah Khutbah Pakai Bahasa Selain Arab?
13 September 2013, 00:17 | Shalat | 8.009 views
Perlukah Lisensi Buat Para Khatib untuk Khutbah?
12 September 2013, 01:12 | Dakwah | 5.673 views
Nabrak Orang Sampai Mati, Pembunuhan atau Musibah?
9 September 2013, 22:05 | Jinayat | 15.184 views
Hijrah, Syarat Diterimanya Amal Seseorang?
9 September 2013, 03:03 | Umum | 7.383 views
Cara Menyikapi Hadits yang Berbeda-Beda
8 September 2013, 06:22 | Hadits | 7.758 views
Shalat Jum'at dalam Perjalanan
6 September 2013, 10:32 | Shalat | 8.123 views
Kirim Fatihah Buat Abdul Qadir Jaelani Atau Imam Asy-Syafi'i?
3 September 2013, 20:28 | Aqidah | 62.682 views
Salah Paham Sertifikat Halal
3 September 2013, 02:28 | Kuliner | 10.692 views
Haramkah Gaji PNS Karena Lulus Dengan Menyogok?
30 August 2013, 21:25 | Muamalat | 18.939 views
Meminjamkan Uang dengan Imbalan, Haramkah?
29 August 2013, 03:31 | Muamalat | 17.149 views
Menikah di Depan Jenazah
29 August 2013, 02:42 | Nikah | 7.680 views
Doa Agar Suami Tidak Dipoligami, Bolehkah?
27 August 2013, 07:54 | Nikah | 9.837 views
Tidak Tahan Menggauli Isteri Masih Nifas
27 August 2013, 04:39 | Nikah | 9.138 views
Kondangan Diniatkan Infaq?
26 August 2013, 04:39 | Umum | 8.816 views
Hukum Menikah untuk Diceraikan
22 August 2013, 07:40 | Nikah | 7.033 views
Tarif Memanggil Penceramah Terkenal Mahalnya
21 August 2013, 03:24 | Kontemporer | 11.023 views
Bolehkah Menikah Dengan Wali Hakim?
20 August 2013, 21:52 | Nikah | 10.241 views

TOTAL : 2.300 tanya-jawab | 25,666,718 views