Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Pedoman Shalat Istisqa Minta Hujan | rumahfiqih.com

Pedoman Shalat Istisqa Minta Hujan

Mon 2 November 2015 09:50 | Shalat | 6.073 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ustadz, kemarau yang berkepanjangan ini telah membuat kekeringan dimana-mana, termasuk asap yang sudah berbulan-bulan jadi masalah.

Di beberapa tempat kemudian diserukan untuk kita melakukan shalat minta hujan alias shalat Istisqa. Mohon kiranya ustadz di Rumah Fiqih memberikan pedoman dan petunjuk bagaimana teknis melakukan shalat tersebut.

Atas jawabanya kami ucapkan terima kasih.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang Rumah Fiqih Indonesia sudah seringkali dimintai permohonan serupa, mengingat memang musim kemarau yang berkepanjangan ini sudah sedemikian menyusahkan. Untuk itu berikut ini adalah beberapa petunjuk dan catatan dalam melaksankan shalat minta hujan.

A. Pengertian

1. Bahasa

Asal kata istisqa' adalah saqaa (سقى). Di dalam kamus Lisanul Arab, kata istisqa' bermakna : meminta air (طلب السقيا). [1]

2. Istilah

Dan secara istilah syariat, istisqa' bermakna ibadah shalat yang secara khusus dilakukan agar Allah SWT segera menurunkan air hujan. Biasanya shalat ini dilakukan bila terjadi kemarau berkepanjangan yang mengakibatkan keringnya sumber-sumber air, mati tanaman, hewan kehausan dan manusia kesusahan.

Demikian syariat Islam memberikan ajaran bagi umat manusia manakala menghadapi masalah kekeringan. Bukan dengan pergi ke pawang hujan atau orang sakti.

Sebab hal-hal yang demikian malah bisa membuatnya kita terperosok pada syirik dan dosa besar. Sebab orang-orang yang mengaku bisa menurunkan hujan dengan ilmu ghaibnya, tidak lain mendapat bantuan dari syetan.

B. Dalil Pensyariatan

Shalat istisqa' adalah shalat yang disyariatkan dalam agama Islam. Dimana dahulu Rasulullah SAW pernah melakukannya sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Quran dan hadits-hadits berikut ini.

1. Al-Quran

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

Maka aku katakan kepada mereka,"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh : 10-12)

2. Hadits

Ada banyak hadits yang menceritakan bagaimana dahulu Rasulullah SAW mengerjakan shalat istisqa' dan berdoa minta diturunkan hujan. Di antara sekian banyak hadits itu adalah hadits-hadits berikut ini :

a. Hadits Pertama : Hadits Ibnu Abbas

أَنَّ النَّاسَ قَدْ قَحَطُوا فِي زَمَنِ رَسُول اللَّهِ فَدَخَل رَجُلٌ مِنْ بَابِ الْمَسْجِدِ وَرَسُول اللَّهِ يَخْطُبُ . فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ هَلَكَتِ الْمَوَاشِي وَخَشِينَا الْهَلاَكَ عَلَى أَنْفُسِنَا فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا . فَرَفَعَ رَسُول اللَّهِ  يَدَيْهِ فَقَال : اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا هَنِيئًا مَرِيئًا غَدَقًا مُغْدِقًا عَاجِلاً غَيْرَ رَائِثٍ

Orang-orang mengalami kekeringan di masa Rasulullah SAW. Maka ada seorang masuk dari pintu masjid sedangkan Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Orang itu berkata,"Ya Rasulallah, hewan ternak telah binasa dan kami takut kebinasaan itu juga akan menimpa kami. Mintalah kepada Allah untuk memberi kami air. Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangganya dan berdoa,"Ya Allah, Ya Allah siramilah kami dengan hujan yang menyuburkan dan yang baik kesudahannya yang bertapis-tapis yang memberi manafaat tidak memberi mudharat segera tidak berlambat-lambat.

b. Hadits Kedua : Hadits Anas bin Malik

أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِنْ بَابٍ كَانَ وِجَاهَ الْمِنْبَرِ وَرَسُولُ اللَّهِ  وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَ رَسُولَ اللَّهِ  قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْمَوَاشِي وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُغِيثُنَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ  يَدَيْهِ فَقَالَ: اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا

Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata bahwa seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah SAW sedang berdiri menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah SAW sambil berdiri seraya berkata,“Ya Rasulullah, hewan ternak telah binasa dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami”. Anas berkata, “Maka Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya seraya berdoa,"Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan).”

قَالَ أَنَسُ : وَلَا وَاللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ مِنْ سَحَابٍ وَلَا قَزَعَةً وَلَا شَيْئًا وَمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ سَلْعٍ مِنْ بَيْتٍ وَلَا دَارٍ.قَالَ: فَطَلَعَتْ مِنْ وَرَائِهِ سَحَابَةٌ مِثْلُ التُّرْسِ فَلَمَّا تَوَسَّطَتْ السَّمَاءَ انْتَشَرَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ. قَالَ: وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا الشَّمْسَ سِتًّا.

Anas melanjutkan kisahnya,“Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikitpun awan baik yang tebal maupun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satupun.” Anas berkata, “Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itupun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari.”

ثُمَّ دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ فِي الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ  قَائِمٌ يَخْطُبُ فَاسْتَقْبَلَهُ قَائِمًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ يُمْسِكْهَا. قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ. قَالَ: فَانْقَطَعَتْ وَخَرَجْنَا نَمْشِي فِي الشَّمْسِ

Anas berkata selanjutnya, “Kemudian pada Jumat berikutnya, ada seorang lelaki lagi yang masuk dari pintu yang sama sementara Rasulullah SAW sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau sambil berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalanpun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah dia di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

c. Hadits Ketiga : Hadits Aisyah

عَنْ عَائِشَةَ  قَالَتْ: شَكَا النَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ  قُحُوطَ الْمَطَرِ فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ فَوُضِعَ لَهُ فِي المُصَلَّى وَوَعَدَ النَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ فَقَعَدَ عَلَى المِنْبَرِ فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ

Dari Aisyah ra berkata bahwa orang-oang datang mengadu kepada Rasulullah SAW atas tidak turunnya hujan (kemarau). Maka beliau memerintahkan orang-orang untuk menyiapkan mimbar pada tempat shalat (mushalla) dan berkumpul pada hari yang ditentukan. Beliau kemudian keluarrumah tatkala mahatari terik dan duduk di mimbar kemudian bertakbir dan memuji Allah

ثُمَّ قَالَ: "إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ

Lalu beliau SAW bepidato,"Kalian telah mengadukan keringnya rumah dan Allah telah memerintahkan untuk meminta kepada-Nya serta berjanji untuk memberikan apa yang diminta".

Kemudian beliau SAW berdoa :

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَنْتَ الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلاغًا إِلَى حِينٍ

"Alhamdu lillahi rabbil 'alamin, Arrahmanurrahim, Maliki Yaumiddin, Laa Ilaha Illalah Yang Maha Mengerjakan apa yang diinginkan, Ya Allah, tidak ada tuhan kecuali Engkau, Engkau Maha Kaya dan kami orang yang faqir. Turunkan kepada kami air hujan. Jadikan apa yang Engkau turunkan itu sebagai kekuatan yang lama".

" ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى النَّاسِ وَنَزَلَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً فَرَعَدَتْ وَبَرَقَتْ ثُمَّ أَمْطَرَتْ بِإِذْنِ اللَّهِ

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga nampak putihnya ketiaknya. Kemudian beliau membelakangi orang-orang dan membalik selendangnya dengan masih mengangkat tangannya. Kemudian berbalik lagi menghadap orang-orang dan turun lalu shalat dua rakaat. Maka Allah menciptakan awan hujan lengkap dengan guruh dan kilatnya. Kemudian turunlah hujan atas izin Allah SWT.

فَلَمْ يَأْتِ مَسْجِدَهُ حَتَّى سَالَتِ السُّيُولُ فَلَمَّا رَأَى سُرْعَتَهُمْ إِلَى الْكِنِّ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. فَقَالَ : أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنِّي عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Beliau belum lagi sampai masjid namun sudah terjadi banjir air hujan. Ketika belliau menyaksikan kecepatan air masuk ke rumah beliau tertawa hingga nampak putihnya giginya. Beliau berkata,"Aku bersaksa bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan bahwa aku adalah hamba dan rasul-Nya. (HR. Al-Hakim dan Abu Daud)

d. Hadits Keempat : Abdullah bin Zaid

Hadits lainnya adalah hadits dari Abdullah bin Zaid Al-Mazani.

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ t وَفِيهِ: فَتَوَجَّهَ إِلَى القِبْلَةِ يَدْعُو ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazani bahwa Nabi SAW keluar kepada orang-orang untuk meminta diturunkan air hujan. Maka beliau shalat bersama mereka dua rakaat dengan mengeraskan bacaannya. (HR. Bukhari Muslim)

e. Hadits Kelima : Abu Hurairah

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi SAW keluar pada suatu hari untuk meminta hujan. Beliau shalat bersama kami dua rakaat tanpa azan dan iqamat. Kemudian berkhutbah untuk kami, berdoa kepada Allah, memalingkan wajah ke kiblat dengan mengangkat kedua tangan. Lalu membalikkan selendangnya sehingga yang kanan di kiri dan yang kiri di kanan. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang lain dengan tema yang sama.

C. Hukum

Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum shalat istisqa' ini. Sebagian cenderung mengatakan sunnah muakkadah, sebagian lagi bilang sunnah dan sebagian lainnya mengatakan mubah.

1. Asysyafi'iyah dan Al-Hanabilah

Mazhab Asysyafi'iyah dan Al-Hanabilah cenderung menyebutkan bahwa hukumnya sunnah muakkadah. Pendapat ini juga didukung oleh Muhammad bin Al-Hasan, ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah.

Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah shalat istisqa' dan juga doanya.

Pendapat mereka ini berangkat dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan juga para shahabatnya di kemudian hari, dimana beliau SAW dan para shahabat memang beberapa kali melakukannya.[2]

2. Al-Hanafiyah

Pendapat Al-Hanafiyah agak sedikit berbeda dari sebelumnya, dimana mazhab ini menetapkan bahwa yang menjadi sunnah muakkadah hanyalah doa istisqa' saja, sedangkan shalatnya hukumnya jaiz (boleh).

3. Al-Malikiyah

Sedangkan mazhab Al-Malikiyah punya tiga hukum yang berbeda terkait dengan shalat istisqa' ini. [3]

a. Sunnah Muakkadah

Hukum shalat ini menjadi sunnah muakkadah yaitu bila dalam keadaan kekeringan yang mengakitabkan penderitaan berkepanjangan, dimana kekeringan ini langsung dirasakan oleh orang-orang yang bersangkutan.

Maka menjadi sunnah muakkadah bagi mereka untuk melakukan shalat istisqa'.

b. Mandub

Hukum shalat istisqa' ini menjadi mandub, yaitu bagi untuk mereka yang tidak secara langsung mengalami kekeringan, lalu mereka mendoakan buat saudara-saudara mereka yang sedang dilanda kekeringan dengan cara menjalankan shalat istisqa'.

Bagi mereka, hukum melakukan shalat ini hanya mandub saja, tidak sampai sunnah muakkadah.

c. Jaiz (boleh)

Dan hukum shalat istisqa' ini menjadi jaiz atau boleh, yaitu buat mereka yang tidak dilanda kekeringan yang sangat, bahkan sudah ada curah hujan. Hanya saja curah air hujan itu dirasa masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup mereka.

Untuk itu shalat istisqa' tetap diperbolehkan untuk dilaksanakan, meski sebenarnya sudah ada curah hujan.[4]

D. Penyebab Shalat Istisqa’

Para ulama sepakat bahwa shalat istisqa’ itu disyariatkan buat orang-orang yang mengalami salah satu dari empat sebab yang tertentu.

1. Orang Yang Berada di Wilayah Yang Tidak Ada Air

Wilayah yang kering ini bisa saja merupakan tempat tinggal dimana orang-orang menetap di tempat itu. Namun bisa juga bukan wilayah tinggal, tetapi merupakan wilayah yang kebetulan dilewati oleh suatu kaum dalam perjalanan mereka. Dan lokasinya bisa saja di padang pasir atau pun di tengah laut, yaitu ketika mereka kekurangan air untuk diminum

Pada saat itu bila mereka mengalami kekeringan atau kekurangan air, baik untuk minum mereka atau pun ternak mereak, maka para ulama sepakat bahwa shalat istisqa’ disyariatkan.

2. Wilayah Terdapat Air Tetapi Terbatas

Shalat istisqa’ jug disyariatkan buat orang-orang yang berada di tempat yang terdapat air, namun jumlahnya agak terbatas. Sehingga mereka terpaksa harus agak berhemat dalam menggunakannya.

Maka disyariatkan atas mereka meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan agar jumlah air bertambah banyak.

Hal ini merupakan pendapat mazhab Al-Malikiyah dan As-Syafi’iyah.

3. Mengulang-ulang

Dan shalat istisqa’ juga disyariatkan untuk dilakukan meki pun sudah pernah dilakukan, bahkan misalnya sudah berkali-kali dikejakan, namun hujan belum juga turun. Maka selama hujan belum turun, tetap masih disyariatkan untuk dikerjakan shalat istisqa’.

Mengulang-ulang shalat istisqa’ dalam kasus seperti ini dibenarkan oleh semua mazhab, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah.E. Tiga Bentuk Istisqa’

Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah menyebutkan bahwa meminta hujan bisa dilakukan dengan salah satu dari tiga cara, yaitu berdoa tanpa shalat, berdoa sesudah shalat selain istisqa’ dan shalat istisqa’ dengan diawali serta diakhri dengan doa.

1. Hanya Berdoa Tanpa Shalat

Bentuk pertama dari meminta hujan hanya dengan berdoa, tanpa melakukan shalat istisqa’. Dimana doa minta hujan itu bisa saja dilakukan sendiri-sendiri tanpa berjamaah. Dan bisa saja dilakukan di dalam masjid atau di rumah

Cara ini adalah cara yang paling rendah, dan merupakan pendapat mazhab Al-Hanafiyah.

2. Doa Sesudah Shalat

Cara kedua adalah doa meminta diturunkan hujan dan dilakukan seusai shalat berjamaah, namun bukan shalat istisqa’. Jadi misalnya doa minta hujan itu dilakukan seusai shalat lima waktu atau sesudah shalat Jumat. Dan bisa juga doa dipanjatkan pada saat khatib menyampaikan khutbahnya.

Cara ini dari segi keutamaan berada pada posisi yang pertengahan.

3. Shalat Istisqa’ dan Doa

Cara ketiga adalah meminta hujan dengan mengerjakan shalat khusus untuk meminta hujan, yaitu shalat istisqa’, dimana shalat itu diawali dan diakhiri dengan doa dan juga dilengkapi dengan dua khutbah sebelumnya.

Cara yang ketiga ini adalah bentuk yang paling utama dalam rangka meminta diturunkan hujan.

F. Tata Cara Shalat Istisqa'

Beberapa hal yang menjadi ketentuan dalam shalat Istisqa' antara lain : [5]

1. Dua Rakaat

Tidak ada perbedaan pendapat di antara semua mazhab ulama tentang jumlah rakaat shalat istisqa’. Seluruh ulama sepakat bahwa shalat istisqa’ itu hanya terdiri dari dua rakaat saja.

2. Tujuh dan Lima Kali Takbir

Namun ada perbedaan pendapat tentang jumlah takbir pada rakaat pertama dan kedua.

a. Tujuh dan Lima Kali Takbir

Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah berpandangan bahwa shalat istisqa’ punya tata cara yang sama dengan shalat hari Raya Idul Fithr dan Idul Adha, yaitu membaca tujuh kali takbir di rakaat pertama dan lima kali takbir di rakaat kedua.

Pendapat ini juga merupakan pendapat dari Muhammad dari Mazhab Al-Hanafiyah, Umar bin Abdul Aziz serta Said bin Al-Musayyab.

Dasar pendapat ini adalah hadits berikut :

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ  وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يُصَلُّونَ صَلاَةَ الاِسْتِسْقَاءِ يُكَبِّرُونَ فِيهَا سَبْعًا وَخَمْسًا

Dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya bahwa Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar melakukan shalat istisqa’ dengan bertakbir tujuh dan lima kali. (HR. Abdurrazzaq)

b. Takbir Sekali Tiap Rakaat

Sedangkan pendapat mazhab Al-Malikiyah berbeda dengan pendapat sebelumnya. Dalam pandangan mazhab ini, shalat istisqa dilakukan sebagaimana umumnya shalat sunnah dua rakaat, tidak perlu bertakbir tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua.

Pendapat senada juga ditegaskan oleh Al-Auza’i dan Abu Tsaur, serta merupakan pendapat kedua dari Muhammad.

Dasar pendapat ini adalah bahwa hadits tentang shalat istisqa’ yang mereka gunakan tidak ada tambahan keterangan tentang jumlah takbir.

أَنَّ النَّبِيَّ  اسْتَسْقَى فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Bahwa Nabi SAW shalat istisqa’ sebanyak dua rakaat (HR. Ahmad)

3. Imam Mengeraskan Suaranya

Shalat ini dilakukan dengan mengeraskan bacaan oleh imam (jahr). Disunnahkan untuk membaca surat Al-A'la (Sabbhisma rabbikal a'la) pada rakaat pertama dan surat Al-Ghasyiah (Hal Attaka) pada rakaat kedua setelah membaca Al-Fatihah.

4. Khutbah

Disunnahkan untuk disampaikan khutbah baik sebelum atau sesudah shalat. Namun dalam teknisnya para ulama berbeda pendapat, apakah khutbah itu terdiri dari dua khutbah atau cukup dengan satu khutbah saja.

a. Perbedaan Jumlah Khutbah

Di tengah para ulama terdapat dua pendapat yang berbeda tentang jumlah khutbah, apakah dua khutbah atau cukup satu khutbah saja.

Pendapat pertama : Pendapat ini mengatakan bahwa khutbah shalat istisqa' terdiri dari dua khutbah sebagaimana khutbah jumat adalah pendapat mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah, serta pendapat Muhammad dari Al-Hanafiyah.

Semua rukun, syarat dan berbagai ketentuan dalam khutbah Jumat dalam pandangan mereka juga berlaku dalam khutbah shalat istisqa'.

Pendapat Kedua : Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat yang mengatakan cukup disampaikan satu khutbah saja adalah mazhab Al-Hanabilah dan pendapat Abu Yusuf dari Al-Hanafiyah.

b. Perbedaan Pembukaan Khutbah

Para ulama juga berbeda pendapat tentang apakah khutbah itu diawali dengan takbir atau lafadz yang lainnya.

Pendapat Pertama : Khutbah diawali dengan takbir, sebagaimana yang dilakukan dalam khutbah shalat Idul Fithr dan Idul Adha. Pendapat ini adalah pendapat mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.

Pendapat Kedua : Khutbah diawali dengan lafadz istighfar yang intinya memohon ampunan. Istighfar dibaca tujuh kali pada khutbah yang pertama dan lima kali pada khutbah yang kedua.

Pendapat ini dikemukakan oleh mazhab AL-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah.

5. Memindahkan Selendang

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pada saat berkhutbah itu sempat memindahkan rida' (selendang) dari bagian kanan tubuh ke bagian kiri atau sebaliknya.

6. Berdoa

Disunnahkan untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT setelah selesai shalat khususnya permintaan untuk segera diturunkan hujan, dengan mengangkat tangan.

Di antara doa yang ma’tsur diucapkan oleh Rasulullah SAW dalam kesempatan istisqa’ adalah :

a. Versi Pertama

Doa ini diucapkan Rasulullah ketika seorang laki-laki datang ke masjid dan Rasulullah SAW sedang berkhutbah, kemudian ia minta supaya Rasulullah SAW berdo’a sebanyak tiga kali.

اللَّهُمَّ أَغِثْناَ اللَّهُمَّ أَغِثْناَ اللَّهُمَّ أَغِثْنَا 

Ya Allah tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami.

b. Versi Kedua

Lafad doa ini sebagaimana yang diucapkan Rasulullah SAW dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahuanhu.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلاً غَيْرَ رَائِثٍ

“Ya Allah berilah kami hujan yang menolong, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman dan segera tanpa ditunda-tunda.

c. Versi Ketiga

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwasanya Nabi SAW ketika dalam istisqa’ beliau membaca lafadz berikut ini :

 اللَّهُمَّ اسْقِناَ اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا

Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami, Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami, Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami”.

d. Versi Keempat

Salah satu do’a dalam istisqa’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah turunkanlah hujan disekitar kami, bukan pada kami. Ya Allah berilah hujan ke dataran tinggi, pegunungan, anak bukit, dan lembah serta di tempat tumbuhnya pepohonan.”

e. Versi Kelima

Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan di antara do’a yang dibaca Nabi saw ketika istisqa’

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاًً غَيْرَ آجِلٍ قَالَ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمْ السَّمَاءُ

“Ya Allah berilah kami hujan yang menolong. Menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat dan tidak membahayakan dengan segera tanpa ditunda-tunda

G. Yang Disunnahkan Dalam Shalat Istisqa’

Ada cukup banyak hal yang disunnahkan ketika kita mengerjakan shalat istisqa', di antaranya :

1. Berjamaah

Disunnahkan untuk dilakukan dengan berjamaah, minimal ada imam dan makmumnya.

Tetapi yang afdhal shalat ini dilaksanakan dengan mengerahkan semua anggota masyarakat, termasuk para wanita dan anak-anak untuk hadir. Hal ini memberikan isyarat bahwa seluruh hamba Allah SWT telah bersimpuh memohon turunnya hujan.

2. Banyak Bersedekah

Dianjurkan kepada orang-orang untuk mengeluarkan sedekah, sebelum hari pelaksanaan shalat istisqa'. Mazhab Al-Hanafyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa diantara tugas imam adalah memberikan anjuran kepada orang-orang untuk mengeluarkan sedekah.

3. Puasa Sunnah Tiga Hari Sebelumnya

Mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa termasuk disunnahkan untuk berpuasa tiga hari sebelum mengikuti shalat istisqa' berjamaah. Sebab puasa itu salah satu kunci agar doa dikabulkan.

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : الصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ

Tiga orang yang doanya tidak akan ditolak : Orang yang berpuasa hingga berbuka . . . (HR. At-Tirmizy)

Maka imam menjadi tugas imam untuk mengajurkan orang-orang berpuasa tiga hari, kemudian para hari keempat mereka melaksanakan shalat istisqa' berjamaah dalam keadaan berpuasa.

Namun ada juga yang memandang bahwa pada hari keempat itu tidak perlu berpuasa, karena dibutuhkan tenaga untuk datang ke tempat shalat.

4. Mandi dan Bersiwak

Disunnahkan bagi jamaah yang akan ikut menghadiri dan menjalankan shalat istsqa' untuk mandi terlebih dahulu sebelumnya, serta membersihkan giginya.

Alasannya, karena shalat ini dikerjakan dengan berjamaah, dimana tiap orang akan bertemua dengan banyak orang yang lain. Maka para ulama menyunnahkan agar para jamaah mandi dan bersiwak terlebih dahulu.

5. Tidak Pakai Parfum atau Perhiasan

Berbeda dengan shalat Jumat dan shalat Idul Fithr atau Idul Adha, dalam shalat istisqa' tidak disunnahkan untuk memakai parfum dan perhiasan.

Sebab shalat istisqa' bukan waktu yang tepat untuk itu. Shalat istisqa' adalah shalat keprihatinan hamba-hamba Allah SWT atas cobaan dan adzab yang turun.

Bahkan tidak disunnahkan untuk datang ke tempat shalat dengan mengendarai kuda atau unta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

خَرَجَ رَسُول اللَّهِ  مُتَوَاضِعًا مُتَبَذِّلاً مُتَخَشِّعًا مُتَضَرِّعًا

Rasulullah SAW pergi keluar rumah dengan rendah hati, (berpakaian) dalam keadaan kerendahan hati, penyerahan diri dan memohon

6. Membawa Hewan Ternak

Disunnahkan bahwa pada saat melaksanakan shalat istisqa' kepada jamaah untuk membawa serta ternak dan hewan peliharaan mereka ke lapangan tempat dilaksanakannya shalat itu.

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

لَوْلاَ عِبَادٌ لِلَّهِ ركَّعٌ وَصِبْيَانٌ رُضَّعٌ وَبَهَائِمُ رُتَّعٌ لَصُبَّ عَلَيْكُمْ الْعَذَابُ صَبًّا ثُمَّ رُصَّ رَصًّا

Seandainya bukan karean hamba-hamba yang ruku', bayi-bayi yang menyusu, dan ternak yang dan binatang-binatang yang sama mencari makanan, maka dituangkan atas kamu sekalian siksaan, benar-benar dituangkan. (HR. At-Thabarani dan Al-Baihaqi)

أَنَّ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ خَرَجَ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي فَإِذَا هُوَ بِنَمْلَةٍ رَافِعَةٍ بَعْضَ قَوَائِمِهِمَا إِلَى السَّمَاءِ . فَقَال : ارْجِعُوا فَقَدِ اسْتُجِيبَ لَكُمْ مِنْ أَجْل هَذِهِ النَّمْلَةِ

Bahwa Nabi Sulaiman alaihissalam keluar bersama orang-orang untuk melakukan istisqa'. Tiba-tiba ada seekor semut yang mengangkat kaki-kakinya ke langit. Maka Sulaiman berkata,"Mari kita pulang, sebab permintaan kita sudah diterima lantaran semut ini". (HR. At-Thabarani dan Al-Baihaqi).

Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal itu bukan bagian dari sunnah. Alasannya karena Rasulullah SAW dahulu tidak melakukannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Lisanul Arab pada materi (سقى)

[2] Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal. 402

[3] Al-Mughni jilid 2 hal. 283

[4] Ibnu Abdin jilid 1 hal. 191

[5] Fiqhus Sunnah pada jilid 1 hal. 182


 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hak Warisan Pria dan Wanita Dua Banding Satu, Adilkah?
30 October 2015, 14:27 | Mawaris | 10.899 views
Denda Tebusan Karena Jima Saat Ihram
29 October 2015, 10:04 | Haji | 3.806 views
Hukum Bertaqlid : Haram, Boleh atau Wajib?
26 October 2015, 08:50 | Ushul Fiqih | 25.208 views
Mazhab: Apa Masih Diperlukan Hari Ini?
24 October 2015, 16:02 | Ushul Fiqih | 12.484 views
Pensyariatan Puasa Tanggal 9 dan 10 Muharram
22 October 2015, 16:55 | Puasa | 4.984 views
Perbuatan Itu Memang Sunnah Nabi Tapi Hukumnya Haram, Kok Bisa?
21 October 2015, 10:34 | Hadits | 25.259 views
Ingin Berdakwah Tapi Dituduh Wahabi
20 October 2015, 08:28 | Umum | 11.343 views
Hukum Mengadakan Walimah dan Wajibkah Menghadiri Undangan Walimah?
19 October 2015, 07:53 | Nikah | 6.407 views
Amalan Apa Saja yang Dilakukan Terkait 10 Muharram?
16 October 2015, 08:19 | Umum | 12.253 views
Darah Apa Saja Yang Hukumnya Tidak Najis?
15 October 2015, 04:20 | Thaharah | 6.382 views
Apakah Klaim Asuransi Kematian Harus Dibagi Menurut Hukum Waris?
14 October 2015, 17:21 | Mawaris | 5.900 views
Teknis Mengerjakan Penggantian Shalat Beda Waktu Dan Berjamaah
13 October 2015, 09:00 | Shalat | 6.141 views
Teknis Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan Selama Bertahun-tahun
12 October 2015, 06:23 | Shalat | 48.875 views
Haruskah Menyegerakan Pembagian Waris?
10 October 2015, 08:00 | Mawaris | 9.094 views
Apakah Cucu Yang Ayahnya Wafat Duluan Terhijab Oleh Saudara Ayah?
7 October 2015, 16:59 | Mawaris | 5.620 views
Ojek Khusus Perempuan, Mungkinkah?
6 October 2015, 10:41 | Wanita | 10.043 views
Mengapa Kita Wajib Belajar Ilmu Mawaris?
5 October 2015, 11:21 | Mawaris | 18.127 views
Bolehkah Anak Yang Banyak Jasa Pada Orang Tua Dapat Warisan Lebih Besar?
2 October 2015, 07:24 | Mawaris | 7.315 views
Keunggulan Waqaf Dari Zakat
30 September 2015, 18:08 | Zakat | 5.102 views
Status Ikatan Suami Istri Jika terjadi Khulu'
25 September 2015, 04:38 | Nikah | 9.092 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 28,828,634 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema