Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Haramkah Jadi Golput? | rumahfiqih.com

Haramkah Jadi Golput?

Tue 2 July 2013 21:50 | Negara | 8.055 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum War. Wab.

Yang terhormat ustadz Sarwat.

Ini adalah pertanyaan saya yang ke sekian kalinya. Sebentar lagi kita akan memasuki pemilu dan kini sudah banyak bertebaran foto-foto calon legislatif dari berbagai partai dengan menawarkan segala "komitmennya" apabila mereka terpilih nanti. Terus terang saja saya sekarang merasa apatis dengan semua caleg.

Dalam pemikiran saya mereka hanya menawarkan janji-janji palsu ketika belum terpilih dan ceritanya akan lain ketika mereka sudah terpilih.

Selain itu saya juga kadang berfikiran buat apa saya memilih seorang caleg toh nantinya mereka hanya akan menjadi koruptor dan saya merasa turut bersalah ketika calon yang saya pilih tersangkut suatu kasus.

Saya pernah mengagumi suatu partai fenomenal yang dianggap sebagai partai bersih dan membawa harapan yang baik bagi masyarakat. Eh.... nyatanya sekarang ketahuan juga belangnya pemimpinnya terlibat korupsi xxxx.  Jadi sekarang saya sudah kurang percaya pada para caleg.

Pertanyaan saya haramkah bila saya jadi golput alias tak ikut memilih caleg?
Terima kasih.

Wassalamu'alaikum War. Wab.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pertanyaan ini sangat bernuansa politis, dan sudah bisa ditebak bahwa umat Islam pasti akan selalu berbeda pendapat kalau ditanyakan hal-hal semacam ini. Ada yang mewajibkan berpolitik dan mendukung partai, dan ada yang beraliran tidak berpolitik dan meninggalkan partai alias golput.

Dan saya amat yakin siapa pun yang membaca jawaban ini, pasti tidak akan setuju. Kalangan yang mengharamkan golput pasti akan keberatan kalau saya bilang golput itu boleh. Sebaliknya, kalangan golput tentu juga akan keberatan kalau jawabannya mengharamkan golput.

Maka sebagaimana umumnya masalah fiqih yang dipenuhi dengan nuansa khilafiyah, saya beranggapan bahwa pertanyaan ini termasuk masalah khilafiyah.

Kita tidak akan ikut terjebak untuk mendukung atau menolak suatu pendapat, tetapi kita lebih konsen kepada bagaimana mempelajari perbedaan-perbedaan pendapat itu.

1. Kelompok Yang Mengharamkan Golput

Buat mereka yang jalan hidup dan pola pikirnya di jalur-jalur politik, tentu akan mengatakan bahwa menjadi golput itu haram. Mereka yang berpendapat seperti itu tentu saja para aktifis yang jadi kader dari partai-partai Islam, baik dari kalangan elit serta petinggi, dan juga tentu dari kalangan akar rumputnya.

Dan untuk mendukung pendapat haramnya golput, biasanya ada barisan ustadz, kiyai atau sejenisnya yang sudah disiapkan untuk mengeluarkan fatwa-fatwa haramnya golput. Tentu dilengkapi dengan ayat Quran, serangkaian hadits, kutipan pendapat para ulama, hingga logika-logika yang bisa dengan mudah disusun sedemikian rupa. Intinya, jadi golput itu haram.

Lalu para ustadz ini berceramah, mengajar, pidato dan turun ke majelis-majelis umat Islam, untuk berkampanye membela partai masing-masing. Maka berbagai pengajian, mulai dari pengajian ibu-ibu, bapak-bapak, sampai remaja bahkan di kalangan mahasiswa, terselip kampanye membela partai tertentu, baik yang sifatnya terang-terangan ataupun yang sifatnya kucing-kucingan.

Ada seribu satu macam alasan yang bisa dengan mudah dibuat. Yang paling sering kita dengar adalah : kalau umat Islam tidak memilih partai Islam, nanti suara umat Islam akan habis. Terus nanti negara kita dikuasai oleh 'musuh' Islam dan bla bla bla. Atau seruan bahwa siapa yang golput berarti dia telah menyerahkan suaranya kepada orang kafir, maka nanti akan ditanya di akhirat untuk mempertanggung-jawabkan.

Ah, pokoknya serem karena main ancam pakai neraka segala.

Dengan model logika sederhana seperti itu, masyarakat muslim yang awam dan gampang jatuh hati itu, lantas digiring kepada opini seolah-olah menang tidaknya suatu partai akan sangat menentukan tegak atau tidak tegaknya agama Islam di negeri kita.

Kalau ada semacam keberatan bahwa oknum petinggi partai ada yang bermasalah, biasanya dijawab dengan rayuan pemanis, misalnya ajakan untuk menerima batas kemampuan secara wajar. Nasehatnya biasanya berbunyi : jangan terlalu idealis ingin punya partai yang sempurna, partai kita bukan partai malaikat, jadi kalau ada kekurangan disana-sini, ya harus dimaklumi. Kalau bukan kita yang dukung siapa lagi. Jelek-jelek begini minimal masih ada harapan dan bla bla bla.

Dan biasanya setelah itu keluar dalil yang berasal dari kaidah fiqhiyah, yaitu : kita memilih akhaffu adh-dhararain. Memilih yang lebih ringan kemudaratannya. Ada juga kaidah yang sering diperdengarkan, yaitu mala yudraku kulluhu la yutraku julluhu. Apa-apa yang tidak bisa didapat semuanya, jangan ditinggalkan semuanya. Pesannya, apa yang baik kita terima yang kurang baik kita tinggalkan saja.

Dan teman saya yang jadi pendukung militan sering berkampenye di berbagai pengajian dengan logika yang mudah dicerna : Kalau ada satu dua orang yang khilaf, masak sih kita akan membakar sejuta orang shalih di dalamnya?

Dan buat sebagian kalangan muslim, apalagi khususnya mereka yang dibesarkan dalam suasana ketaatan yang akut, dan terbiasa dengan suasana loyalitas kejamaahan, bahkan pakai acara dibai'at segala, logika-logika sederhana itu mudah dicerna dan masuk akal. Ibarat perut lapar lalu kemasukan nasi uduk pinggir jalan. Rasanya menjadi sangat nikmat.

Tren Angka Golput Selalu Naik

Ada satu kekhawatiran dari kalangan pendukung partai, bahwa tren golput selalu naik dari waktu ke waktu. Untuk itu mereka punya kepentingan bikin fatwa haramnya golput. Bayangkan saja, pada Pemilu 2009 angka golput mencapai 39.1%. Sebuah angka rada mengkhawatirkan bagi mereka.

Jadi intinya, harus ada fatwa bahwa haram golput dan wajib memilih partai Islam. Titik.

2. Kalangan Pendukung Golput

Namun kita harus juga melihat kenyataan lain, bahwa tidak semua elemen umat Islam sepakat dengan logika sederhana itu. Landasan berpikirnya lebih realistis dan menapak ke bumi. Paling tidak menurut pengakuan mereka sendiri.

Ada Atau Tidak Ada Partai Islam : Tidak Ada Pengaruhnya

Dimulai dari keraguan yang sangat, apa benar menangnya suatu partai akan secara otomatis menegakkan agama Islam di negeri ini? Dan apa benar kalahnya suatu partai akan menghancurkan agama Islam?

Menurut logika kelompok kedua ini, selama ini nyaris tidak pernah ada hubungannya. Menangnya suatu partai di suatu wilayah tidak secara otomatis jadi kemenangan umat Islam. Sebab partai hanya milik segelintir orang yang merupakan kelompok kecil saja dari sekian ratus juta bangsa muslim ini.

Kenyataan sejarah menurut mereka jelas-jelas memberi fakta bahwa menang kalahnya partai itu, apapun nama partainya, tidak pernah terbukti secara eksak berpengaruh kepada kondisi umat Islam, apalagi nasib bangsa ini.

Dan semua itu terbukti bahwa meski prosentase umat Islam konon berjumlah lebih dari 80-an persen, tetapi belum pernah dalam sejak kita merdeka di tahun 1945 hingga zaman sekarang partai berbasis Islam menang dalam tiap pemilu. Paling-paling hanya menang di wilayah tertentu saja.

Dan umat Islam tetap eksis meski tidak pernah dibela-bela oleh partai Islam. Malah partai Islam yang datang dan pergi di tiap kurun waktu. Berapa banyak partai Islam yang pernah besar, lalu sekarang mati dan hanya bisa dibaca dalam buku sejarah.

Logika Mendorong Mobil Mogok

Kalau pun pernah ada kisah partai Islam yang agak besar dan fenomenal, biasanya ceritanya selalu berulang di setiap zaman. Ketika masih kecil didukung banyak orang, karena kelihatan cantik, molek dan menarik hati. Tetapi begitu mulai membesar, mulai ada pembusukan di kalangan elitnya. Dan busuk itu sulit ditutup-tutupi, ketika sudah semakin menyengat.

Dan biasanya berakhir dengan jebolnya berbagai macam skandal dan permainan di kalangan elitnya. Sementara kalangan akar rumputnya masih terus dituntut untuk mendukung dan mendukung, tanpa pernah boleh tahu apa yang sesungguhnya terjadi di kalangan elit.

Dan begitulah yang terjadi, akar rumput bagai disuruh mendorong mobil mogok. Mereka capek-capek bekerja, mengorbankan segalanya, tetapi elitnya hidup mewah dan enak-enakan, sambil pamer ini dan itu. Dan kisahnya selalu terulang mulai dari zaman kemerdekaan, hingga kurun orde lama dan orde baru, diteruskan dengan orde-orde berikutnya, nasib umat Islam selalu berada pada posisi sebagai pendorong mobil mogok saja.

Ketika mobil itu mogok, semua orang diajak ramai-ramai untuk membantu mendorong, sampai keluar fatwa bahwa golput itu haram. Sayangnya, begitu mesin mobil itu menderum dan mobil bisa berjalan, para pendorongnya ditinggalkan begitu saja.

Pembusukan di Dalam

Dan melihat prestasi yang pernah digoreskan selama ini, keraguan itu semakin nampak nyata. Boro-boro menegakkan agama di negeri kita, lha wong menegakkan syariat di kandang sendiri saja masih banyak kebobolan?

Ibaratnya seperti orang yang terlalu bermimpi mau bersih-bersih di lingkungan kampungnya, tetapi rumahnya saja masih jadi tempat sampah.

Juru Kampanye

Untuk mendukung pendapat agar masyarakat ber-golput, kita juga memukan begitu banyak para ustadz dan kiyai yang meski tidak terang-terangan, tetapi mereka tidak melarang orang untuk ber-golput-ria. Alasannya, juga sederhana saja, mau partai Islam atau partai lain, kelakuannya sama saja.

Malah kadang ada yang lebih bejat dan bikin sakit hati umat Islam, lantaran suka membawa-bawa nama Islam, tetapi banyak perilakunya yang kurang ajar dan tidak sejalan dengan perasaan hati umat Islam.

Adapun logika akhffu -adhdhararain dijawab dengan mudah, yaitu bahwa kita tidak berada pada kewajiban harus memilih salah satunya. Kalau semua pilihan yang tersedia tidak ada yang baik, masak masih mau dipaksakan juga kita memilih?

Ibaratnya orang mau pulang mudik tidak kebagian tiket, pesawat habis, kereta habis, bus juga habis, kapal laut pun habis juga. Terus bagaimana? Masak mau memaksakan diri di luar kemampuan? Toh tidak mudik pun juga tidak apa-apa, sebab mudik itu bukan perkara fardhu 'ain yang kalau ditinggalkan jadi berdosa, bukan?

Orang awam yang mendengar logika ini pun dengan mudah mencerna dan mengiyakan. Benar, tidak ada ancaman dari Allah atau Rasulullah SAW untuk mereka yang tidak memilih partai. Dan tidak ada dalil haramnya golput baik dalam Al-Quran atau pun sunnah.

Tiap Kubu Pecah-pecah Lagi

Sampai disini kita tahu bahwa setidaknya umat Islam terbelah dua dalam urusan partai. Ada yang menggantungkan harapan sebesar-besarnya kepada keberadaan partai, tetapi ada yang bersikap sebaliknya, yaitu sudah menganggap era berpartai itu sebagai kenangan pahit di masa lalu.

Kubu Pro Berpartai Pecah-pecah

Tetapi masalahnya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalam kelompok yang suka berpartai, sebenarnya masih ada perpecahan lagi di dalamnya, meksi agak tersamar dan kurang nampak nyata.

Misalnya, ada kelompok tertentu yang masih rada idealis, ingin menegakkan nilai-nilai keislaman secara lebih kuat, walaupun di dalam partai. Kalau pun pada kenyataannya tidak pernah terlaksana, minimal dalam lisan dan pikiran, masih ada sisa-sisa pemahaman kesana.

Sebaliknya, ada juga kelompok yang sudah lebih pragmatis, sampai-sampai mereka bilang bahwa penegakan syariat Islam hanyalah kenangan di masa lalu.

Sikap ambigu seperti ini buat orang awam mungkin jadi masalah besar. Tetapi tidak bagi kalangan yang hidupnya selalu dalam suasa berpolitik. Sebab dalam kepala mereka, antara dusta dan bersiasat itu hanya beda tipis, bahkan nyaris tidak ada bedanya.

Kadang faktor yang membuat kedua kubu ini pecah bukan hanya karena beda pendapat, tetapi juga karena beda pendapatan.

Kubu Pro Golput Juga Pecah-pecah

Kubu pro golput meski kelihatan kompak, sebenarnya di dalamnya lebih pecah-pecah lagi. Dan jumlah pecahannya malah jauh lebih banyak.

Sebagian dari mereka justru datang dari kalangan yang dulunya pro partai lalu berbalik 180 derajat, dengan masing-masing alasannya.

Ada yang motivasinya semata-mata karena sudah dibuang dan tidak terpakai lagi, lalu berbalik memusuhi. Padahal dahulu mereka termasuk yang mendirikan partai demi untuk memperjuangkan agama Islam. Tetapi saat ini mereka telah 'dibuang' begitu saja, akibat 'dikalahkan' di persaingan internal antar kubu yang saling mengancam.

Dan ada mereka yang tidak berasal dari kader partai tertentu, namun pada kurun waktu tertentu pernah jadi pengagum sekalgus pendukung. Sayangnya setelah melihat perkembangan akhir-akhir ini, sikap mereka sedikit demi sedikit mulai berubah golput, atau minimal tidak ngotot harus memilih partai Islam. Kalangan ini sering dituduh oleh lawannya yaitu pendukung partai sebagai korban konspirasi opini 'media sekuler' yang memusuhi umat Islam.

Sebagian yang golput ada juga yang datang dari kalangan anti partai, dimana sejak lahir sudah golput. Hal itu lantaran materi pengajiannya sejak awal memang sudah memusuhi demokrasi. Bahwa demokrasi itu haram dan kafir, siapapun yang aktifitasnya berbau-bau partai, parlemen dan pemerintahan, pasti akan dituding telah terjerat dengan jebakan ideologi non Islam.

Mereka tidak pernah ikut aktif dalam politik praktis dan dipastikan golput kalau ada pemilihan. Sebab dalam logika mereka semua sama saja, semua bukan Islam dan tidak memberikan kemenangan buat Islam.

Untuk kepentingan sesaat, meski berasal dari kubu-kubu yang berbeda, tetapi karena punya kesamaan visi yaitu golput, kadang semua kelihatan bersatu. Walaupun isi hati mereka berbeda-beda juga, dan dalam kenyataannya tetap berkubu-kubu juga.

Kubu Orang Awam

Lepas dari konstalasi kubu-kubu di atas, masih ada tersisa kelompok yang sebenarnya justru paling besar, yaitu kelompok umat Islam yang awam dengan urusan pro golput atau haram golput. Mereka adalah umat Islam yang tidak terlalu peduli dengan semua gejolak dan perdebatan itu, sebab kepahitan hidup dan semua bebannya telah mendera dan menyibukkan mereka dari semua itu.

Kubu ini awam sekali dan bisa dibilang masuk dalam jajaran masa mengambang (floating mass). Sikap politik mereka bersifat improvisasi dan serba kebetulan saja. Kalau partai A mau bayar untuk kampanye partai tertentu dan dibagikan kaus plus makan siang, ya mereka ikut. Dan kalau tiba-tiba ada partai B yang berani bayar juga, mereka pun ikut juga. Toh, mereka umumnya pengangguran tidak punya pekerjaan tetap.

Sayangnya, mereka inilah yang nasibnya sering disebut-sebut oleh para juru kampanye untuk berjualan, yang intinya agar yang berkampanye dapat suara. Sudah tidak terhitung jumlah pejabat yang naik panggung kekuasaan dengan menjual cerita dan kisah sedih mereka, tetapi nasih mereka tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Nasib mereka hanya sampai sebatas bisa dijual kisahnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wajibkah Wanita Memakai Cadar?
1 July 2013, 04:19 | Wanita | 11.121 views
Tata Cara Talaq Sesuai Syariah
28 June 2013, 03:15 | Nikah | 9.711 views
Penetapan Awal Ramadhan, Kenapa Sering Berbeda?
25 June 2013, 20:37 | Puasa | 11.677 views
Mohon Maaf Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
24 June 2013, 22:53 | Puasa | 16.537 views
Nenek Ingin Puasa
21 June 2013, 18:37 | Puasa | 5.374 views
Puasa untuk Ibu yang Sedang Menyusui
21 June 2013, 01:22 | Puasa | 8.825 views
Pulang Pergi Jakarta Bogor, Bolehkah Menjama' Shalat?
20 June 2013, 00:28 | Shalat | 14.925 views
Shalat Sendirian Lalu Ditepuk Bahunya
19 June 2013, 02:45 | Shalat | 102.432 views
Sikat Gigi Memakai Pasta Gigi Apa Membatalkan Puasa?
17 June 2013, 02:21 | Puasa | 21.764 views
Zakat Mobil Sewa
15 June 2013, 03:06 | Zakat | 6.702 views
Mengapa Abu Hurairah Lebih Banyak Meriwayatkan Hadits?
14 June 2013, 00:34 | Hadits | 19.462 views
Bolehkah Anak Laki-laki Jadi Wali Nikah Ibunya Sendiri?
11 June 2013, 01:34 | Nikah | 22.426 views
Mensucikan Najis Dengan Kain Pel dan Pengharum
10 June 2013, 00:34 | Thaharah | 11.679 views
Bagaimana Menentukan Keshahihan Hadits?
8 June 2013, 00:05 | Hadits | 8.439 views
Mewarnai Rambut dan Batasan Pendeknya Rambut bagi Akhwat
4 June 2013, 00:31 | Wanita | 11.378 views
Bolehkah Laki-Laki Memanjangkan Rambut?
3 June 2013, 23:55 | Hadits | 9.881 views
Pernikahan Anak Perempuan Adopsi
2 June 2013, 21:39 | Nikah | 6.585 views
Tidak Ada Label Halalnya, Haramkah?
29 May 2013, 23:48 | Kuliner | 8.973 views
Bolehkah Menghapus Tanda Hitam di Dahi
27 May 2013, 22:29 | Shalat | 44.397 views
Wanita Melakukan Safar ke Luar Kota Tanpa Mahram
26 May 2013, 21:39 | Wanita | 17.170 views

TOTAL : 2.300 tanya-jawab | 26,335,801 views