Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Kita Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Wafat? | rumahfiqih.com

Bolehkah Kita Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Wafat?

Wed 26 August 2015 05:45 | Qurban Aqiqah | 9.083 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mohon penjelasan dari ustadz terkait dengan hukum meyembelih hewan qurban. Bolehkah kita menyembelih hewan qurban seperti sapi atau kambing, tetapi diniatkan atau atas nama orang tua yang sudah meninggal dunia. Apakah pahala qurban itu bisa sampai kepada mereka?

Demikian pertanyaan saya semoga bisa segera dijawab.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah ini sudah lama menjadi ajang perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian dari para ulama membenarkan bahwa menyembelih hewan qurban untuk keluarganya yang telah wafat itu boleh dilakukan, dan pahalanya akan bisa disampaikan kepada yang dituju.

Namun sebagian dari para ulama tidak membenarkan hal ini. Mereka menolak bila pahala penyembelihan hewan udhiyah ini bisa dikirim kepada almarhum di alam kubur.

1. Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah menyebutkan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin terkait masalah qurban untuk orang yang sudah wafat sebagai berikut :

وذكر صاحب «العدة» : أنه لو أنبط عينا أو حفر نهرا أو غرس شجرة أو وقف مصحفا في حياته أو فعله غيره عنه بعد موته يلحق الثواب الميت.

Penulis kitab Al-Uddah menuliskan bahwa bila seseorang menemukan mata air atau menggali sungai atau menanam pohon atau mewakafkan mushaf semasa hidupnya, atau ada orang yang melakukan untuknya setelah dia wafat, maka dia (mayyit itu) akan mendapatkan pahalanya.
واعلم أن هذه الأمور إذا صدرت من الحي فهي صدقات جارية، يلحقه ثوابها بعد الموت كما صح في الحديث، وإذا فعل غيره عنه بعد موته، فقد تصدق عنه. والصدقة عن الميت تنفعه، ولا يختص الحكم بوقف المصحف، بل يجري في كل وقف . 

Ketahuilah bahwa masalah ini bila dilakukan oleh orang yang masih hidup akan menjadi sedekah jariyah, dimana pahalanya akan sampai kepadanya setelah matinya sebagaimana disebutkan di dalam hadits. Dan bila orang lain yang melakukannya setelah kematiannya, juga termasuk sedekah baginya. Dan sedekah untuk mayyit akan memberikan manfaat. Hukumnya tidak sebatas mewakafkan mushaf tapi berlaku untuk semua wakaf.

وهذا القياس يقتضي جواز التضحية عن الميت؛ لأنها ضرب من الصدقة. وقد أطلق أبو الحسن العبادي جواز التضحية عن الغير، وروى فيه حديثا. لكن في «التهذيب» أنه لا تجوز التضحية عن الغير بغير إذنه، وكذلك [عن] الميت، إلا أن يكون أوصى به

Qiyas ini membolehkan qurban untuk mayit karena merupakan bagian dari sedekah juga. Abu Al-Hasan Al-Abadi membolehkan qurban untuk orang lain dan beliau meriwayatkan hadits untuk itu.

Namun di dalam kitab At-Tahzib disebutkan bahwa tidak dibenarkan qurban untuk orang lain kecuali dengan seizinnya. Demikian juga qurban untuk mayyit kecuali bila semasa hidupnya pernah berwasiat. [1]

Dari pemaparannya nampak bahwa para ulama dalam mazhab Asy-Syafi'iyah tidak sepakat tentang kebolehannya. Ada yang membolehkan tanpa syarat dan ada yang membolehkan tetapi dengan syarat.

Sebagian yang membolehkan qurban untuk mayyit mensyaratkan harus ada wasiat dari mayyit sebelum kematiannya. Dan sebagian yang lain membolehkan qurban untuk mayyit tanpa harus ada wasiat sebelumnya, dengan dalil bahwa bila mayyit itu berhutang lalu dilunasi orang lain, maka pembayaran hutang itu bermanfaat buat mayit itu meski dia tidak pernah mewasiatkan sebelumnya.

2. Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah

Sebaliknya, kalangan fuqaha dari Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa hal itu boleh hukumnya. Artinya tetap sah dan diterima disisi Allah SWT sebagai pahala qurban.

Mereka membolehkan pengiriman pahala menyembelih hewan udhiyah kepada orang yang sudah meninggal dunia. Dan bahwa pahala itu akan bisa bermanfaat disampaikan kepada mereka.

Dasar kebolehannya adalah bahwa dalil-dalil menunjukkan bahwa kematian itu tidak menghalangi seorang mayit bertaqarrub kepada Allah SWT, sebagaimana dalam masalah shadaqah dan haji.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?" Rasulullah SAW menjawab, "Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah hutang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan." (HR Al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji dengan dilakukan oleh orang lain memang jelas dasar hukumnya, oleh karena para shahabat dan fuqoha mendukung hal tersebut. Mereka di antaranya adalah Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Imam Asy-Syafi`i rahimahullah. dan lainnya.

Sedangkan Imam Malik mengatakan bahwa boleh melakukan haji untuk orang lain selama orang itu sewaktu hidupnya berwasiat untuk dihajikan.

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya?" Rasulullah SAW menjawab, "Ya." (HR Jamaah)

3. Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa hal itu masih tetap boleh tapi dengan karahiyah (kurang disukai).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 6 hal. 202

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tidak Mau Bi'at dengan Jamaah Apakah Mati Jahiliyah?
24 August 2015, 11:10 | Aqidah | 10.843 views
Mana Lebih Utama Haji Qiran, Ifrad atau Tamattu'?
21 August 2015, 11:15 | Haji | 4.708 views
Bolehkah Kita Membuat Mazhab Sendiri Di Luar Mazhab Empat?
15 August 2015, 06:06 | Ushul Fiqih | 6.792 views
Lima Perbedaan Mendasar Antara Haji dan Umrah
14 August 2015, 03:30 | Haji | 15.948 views
Tiga Versi Lafadz Tasyahhud Yang Berbeda
13 August 2015, 04:50 | Shalat | 8.509 views
Bagaimana Proses Munculnya Mazhab Fiqih, Apakah Merupakan Gerakan Sempalan?
12 August 2015, 03:00 | Ushul Fiqih | 6.755 views
Apakah Mazhab Itu Bentuk Perpecahan Umat?
11 August 2015, 06:00 | Ushul Fiqih | 5.116 views
Kenapa Puasa Wajib Diqadha' Tapi Shalat Tidak Wajib Diqadha'?
10 August 2015, 04:35 | Shalat | 12.477 views
Shalat Idul Fithr dan Idul Adha : Mana Yang Lebih Utama, di Masjid atau di Lapangan?
8 August 2015, 06:03 | Shalat | 5.009 views
Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid?
7 August 2015, 03:01 | Shalat | 7.034 views
Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali
5 August 2015, 09:13 | Nikah | 10.829 views
Apa Yang Dibaca Pada Saat Sujud Dan Ketentuannya
2 August 2015, 03:12 | Shalat | 143.405 views
Haramkah Gaji Satpam di Bank Konvensional?
1 August 2015, 08:10 | Muamalat | 30.911 views
Fasakh dan Talak : Perbedaan dan Persamaannya
31 July 2015, 06:45 | Nikah | 19.290 views
Teknis Rujuk Setelah Menjatuhkan Talaq, Haruskah Ada Saksi?
30 July 2015, 16:05 | Nikah | 18.436 views
Haruskah Jadi Ulama Dulu Baru Boleh Dakwah?
29 July 2015, 07:13 | Ushul Fiqih | 22.089 views
Terlanjur Menikahi Pacar Ternyata Dahulu Pernah Berzina
28 July 2015, 07:18 | Nikah | 93.711 views
Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut?
19 July 2015, 23:15 | Puasa | 14.035 views
Bolehkah Kami Yang Domisili di Jepang Shalat Id di Rumah Tanpa Khutbah?
16 July 2015, 17:20 | Shalat | 9.548 views
Benarkah Ada Kewajiban Zakat Atas Madu?
14 July 2015, 08:11 | Zakat | 6.770 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 29,325,247 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema