Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kenapa di Indonesia Shubuh Datang Lebih Awal? | rumahfiqih.com

Kenapa di Indonesia Shubuh Datang Lebih Awal?

Fri 4 August 2017 17:50 | Kontemporer | 2.454 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Kenapa para ulama di Indonesia menentukan bahwa subuh itu datang lebih awal sementara di Negara Arab subuh dianggap datangnya harus lebih siang?

Jawaban :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perbedaan dalam menetapkan waktu sungguh memang disebabkan karena penetapan itu bersifat ijtihad. Yang disepakati bahwa subuh itu adalah fajar,  tetapi fajar itu kapan terjadinya? Disinilah para ulama berbeda pendapat.

Ada yang mengatakan bahwa Shubuh itu adalah ketika matahari masih belum terbit dan  masih berada di balik bumi kurang lebih 20 derajat. Yang lain mengatakan bukan 20 derajat,  tapi 19 derajat,  18 derajat dan seterusnya. Secara dalil nash memang tidak ada disebutkan tentang berapa derajat ini,  karena semuanya adalah ijtihad.

Maka wajar kalau dalam ijtihad itu terjadi perbedaan pendapat, tergantung banyak hal dan salah satunya tergantung kondisi geografis.

Menarik kalau kita membaca tulisan Dr. Thomas Djamaluddin, ketua LAPAN,  terkait perbedaan geografis ini. Beliau menganalisa bahwa ketebalan atmosfer antara negeri kita di Khatulistiwa dengan negeri-negeri di Arab sana itu ada pengaruhnya dalam menetapkan apakah fajar itu sudah dianggap terbit ketika posisi matahari masih minus 20 derajat mataharinya atau sudah 18 derajat.

Menurut Pak Thomas, ketebalan atmosfer itulah yang membuat para ulama berbeda pendapat menjadi berbeda pendapat.

Di wilayah khatulistiwa ketebalan atmosfer itu melebihi ketebalan di wilayah lain yang jauh dari khatulistiwa. Semakin tebal atmosfer itu maka semakin tinggi kemampuan dalam menangkap berkas cahaya matahari yang masih ada di balik bumi. Sebaliknya, semakin tipis atmosfir itu maka semakin berkurang kemampuan dalam menangkap berkas cahaya tersebut.

Ketebalan atmosfer yang berbeda ini bisa kita ibaratkan seperti ada dua gunung. Gunung yang satu lebih tinggi dari gunung yang kedua. Saat matahari terbit di pagi hari, maka puncak gunung yang pertama itu akan mendapat cahaya matahari terlebih dahulu baru kemudian puncak gunung yang kedua.

Puncak gunung yang terkena cahaya matahari terlebih dahulu inilah yang kita ibaratkan itu namanya fajar. Karena pada hakikatnya nya fajar itu adalah pantulan sinar matahari yang tertangkap pada atmosfer kita.

Pada saat matahari belum terbit dan kita belum bisa melihat matahari di permukaan bumi, maka sinar matahari itu sudah bisa nampak kalau kita berada setinggi batas ketebalan atmosfer itu. Dan lapis paling atas dari atmosfer yang sudah terkena sinar matahari itu kalau kita lihat dari permukaan bumi itulah yang disebut dengan fajar. 

Makin tebal atmosfirnya maka makin cepat dalam menangkap sinar matahari walaupun matahari nya masih ada di balik bumi. Sebaliknya semakin tipis ketinggian atmosfer itu, maka semakin terlambat dalam menerima cahaya matahari.

Karena Indonesia berada di daerah khatulistiwa dan ketebalan atmosfer di khatulistiwa itu memang lebih tinggi dari daerah lainnya, maka orang-orang yang tinggal di Indonesia akan melihat mendapatkan fajar itu datang lebih cepat. Sebaliknya negeri yang agak jauh dari khatulistiwa, karena ketebalan atmosfer yang lebih rendah, mereka lebih lambat dalam melihat berkas cahaya matahari yang tertangkap pada lapisan terluar atmosfer nya.

Maka wajar bila di Indonesia Subuh itu lebih cepat karena fajar lebih cepat terlihat meski posisi matahari baru berada 20 derajat di bawah ufuk. Dalam posisi seperti itu ternyata sinarnya sudah tertangkap lewat atmosfer kita yang tebal.

Sementara di beberapa negara Arab yang memang jauh dari khatulistiwa, maka ketebalan atmosfer mereka lebih rendah, sehingga nampak fajar datang belakangan daripada di daerah khatulistiwa.

Jadi kalau di Indonesia Subuh ditetapkan ketika matahari masih minus 20 derajat, memang sangat masuk akal. Sementara di negeri-negeri yang jauh dari khatulistiwa seperti di negeri Arab sana itu, kalau subuh baru nampak ketika matahari sudah mencapai 18 derajat di bawah ufuk itu juga masuk akal.

Yang tidak masuk akal bahwa di negeri yang tebal atmosfernya ini dipaksakan harus 18 derajat. Juga lebih tidak masuk akal posisi matahari masih minus 20 derajat itu dipaksakan di negeri subtropis yang jauh dari khatulistiwa sepereti beberapa negeri Arab.

Maka perhitungan para ulama di masing-masing negara itu sudah benar dan tidak ada yang salah. Yang salah justru kalau memaksakan hasil hitungan di negara lain untuk dipaksakan di negara kita atau sebaliknya.

Semoga penjelasan sederhana ini bisa memberikan kita pencerahan dalam memahami Kenapa ada perbedaan pendapat dalam menetapkan Kapan jatuhnya waktu Fajar. Yang mengatakan minus 20 derajat kalau menyebutkannya untuk wilayah Indonesia maka itu sudah tepat. Yang mengatakan minus 18 derajat kalau memang di daerah yang atmosfernya lebih tipis itu juga sudah tepat.

Sehingga tidak perlu ada ribut-ribut ditengah kita gara-gara tidak memahami duduk masalahnya.

Wallahualam bissawab wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat Lc MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mau Berangkat Haji, Apakah Disunnahkan Shalat Sunnah Sebelumnya?
3 August 2017, 04:30 | Haji | 1.280 views
Benarkah Nilai Mahar Nabi SAW 40 Juta?
21 July 2017, 06:48 | Nikah | 26.229 views
Hukum Pakaian Berbahan Campuran 50% Sutra dan 50% Katun, Bolehkah?
11 July 2017, 03:45 | Umum | 2.008 views
Pembagian Waris Untuk Suami, Tiga Anak Laki dan Satu Anak Perempuan
10 July 2017, 06:29 | Mawaris | 1.792 views
Benarkah Aisyah Bolehkan Laki-laki Dewasa Menyusu Pada Wanita Biar Jadi Mahram?
9 July 2017, 17:02 | Nikah | 23.247 views
Berdosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?
3 July 2017, 01:01 | Hadits | 4.162 views
Benarkah Puasa Syawwal Belum Boleh Dikerjakan Sebelum Qadha Ramadhan?
1 July 2017, 21:20 | Puasa | 2.008 views
Selama Mudik di Kampung Halaman Apakah Kita Boleh Tetap Menjamak-qashar Shalat?
28 June 2017, 04:53 | Shalat | 3.576 views
Mudik Tapi Tidak Shalat, Apakah Berdosa?
27 June 2017, 12:34 | Shalat | 2.041 views
Makna Idul Fithri Bukan Kembali Menjadi Suci?
26 June 2017, 09:35 | Puasa | 58.965 views
Wajibkah Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Fithri?
24 June 2017, 20:50 | Shalat | 20.135 views
Apa Saja Yang Disunnahkan Dalam Shalat Idul Fithri?
24 June 2017, 12:23 | Shalat | 3.303 views
Lebaran Bersama Rasulullah SAW
23 June 2017, 15:13 | Puasa | 2.716 views
Benarkah Jumat Terakhir Ramadhan Waktunya Menqadha Semua Shalat?
22 June 2017, 09:45 | Shalat | 5.332 views
Katanya Quran Turun Lailatul Qadar, Kenapa Peringatan Nuzulul-Quran 17 Ramadhan?
20 June 2017, 09:45 | Quran | 2.403 views
Bolehkah Bayar Zakat Fithr dengan Uang?
20 June 2017, 08:30 | Zakat | 35.082 views
Apakah Qiyamullail dan Itikaf Harus Dengan Begadang Semalam Suntuk Sampai Shubuh?
16 June 2017, 04:20 | Shalat | 5.678 views
Mengapa Tidak Boleh Belajar Islam Lewat Google?
11 June 2017, 08:13 | Kontemporer | 63.343 views
Benarkah Orang Shalih Menjauhi Kekuasaan?
9 June 2017, 14:12 | Negara | 2.812 views
Lagi Makan Sahur Terdengar Adzan, Benarkah Makan Minum Masih Boleh Diteruskan?
8 June 2017, 05:05 | Puasa | 56.843 views

TOTAL : 2.297 tanya-jawab | 23,383,124 views