Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Menyembelih Aqiqah Bukan Kambing Tapi Sapi? | rumahfiqih.com

Bolehkah Menyembelih Aqiqah Bukan Kambing Tapi Sapi?

Sun 20 September 2015 19:50 | Qurban Aqiqah | 6.232 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ada sedikit pertanyaan yang ingin saya tanyakan, ustadz. Ini terkait dengan qurban dan aqiqah.

Begini ustadz :

1. Bolehkah hukumnya kita niat aqiqah bukan dengan kambing tetapi dengan sapi?

2. Dalam hal ini saya tidak menyembelih seekor sapi tapi cuma 1/7 sapi. Jadi saya ikut patungan dengan 6 teman untuk menyembelih sapi qurban. Teman-teman saya niatnya qurban tapi saya niatnya aqiqah. Bolehkah aqiqah dengan cara itu?

Mohon penjelasan dan terima kasih

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan mengganti kambing dengan hewan lain dalam syariat aqiqah. Sebab nash yang kita dapat umumnya hanya sebatas kambing saja. Barangkali karena selama ini kurang banyak mendapatkan referensi syariah.

Namun kalau kita telurusi lebih jauh dalam kitab-kitab fiqih klasik, ternyata kita menemukan adanya dalil tentang menyembelih aqiqah dengan unta dan bukan kambing. Sehingga umumnya para ulama membolehkan aqiqah bukan dengan kambing, asalkan dari jenis hewan sebagaimana qurban, yaitu an-na’am, seperti unta, sapi, dan kambing.

1. Jumhur Ulama : Boleh

Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti mazhab Al-Hanafiyah, As-Syafi’iyah, dan Al-Hanabilah. Sedangkan di kalangan mazhab Al-Malikiyah, ada perbedaan riwayat antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Namun yang lebih rajih, mazhab ini pun membolehkannya.

Mereka umumnya sepakat dibenarkannya penyembelihan aqiqah dengan selain kambing, yaitu sapi atau unta.

Di antara dasarnya karena sapi dan unta juga merupakan hewan yang biasa digunakan untuk ibadah, yaitu untuk qurban dan hadyu. Bahkan sapi dan unta secara ukuran lebih besar dari kambing, dan tentunya harganya lebih mahal. Oleh karena itu, tidak mengapa bila menyembelih aqiqah dengan hewan yang lebih besar dan lebih mahal harganya, selama masih termasuk hewan persembahan.

Imam Ibnul Mundzir membolehkan aqiqah dengan selain kambing, dengan alasan:

مَعَ الْغُلامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى

“Bersama bayi itu ada aqiqahnya, maka sembelihlah hewan, dan hilangkanlah gangguan darinya.” (HR. Bukhari)

Menurutnya, hadits ini tidak menyebutkan kambing, tetapi hewan secara umum, jadi boleh saja dengan selain kambing.

Ibnul Mundzir menceritakan, bahwa Anas bin Malik meng-aqiqahkan anaknya dengan unta. Dari Al-Hasan, dia berkata bahwa Anas bin Malik radhiyallahuanhu menyembelih seekor unta untuk aqiqah anaknya.

Hal itu juga dilakukan oleh shahabat yang lain, yaitu Abu Bakrah radhiyallahuanhu. Beliau pernah menyembelih seekor unta untuk aqiqah anaknya dan memberikan makan penduduk Bashrah dengannya.

a. Mazhab Al-Hanafiyah

Para ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah umumnya membolehkan beberapa orang berpatungan untuk menyembelih hewan dalam rangka taqarrub kepada Allah dengan bentuk yang berbeda-beda. Yang penting masih dalam rangka taqarrub dan tidak boleh bila niatnya di luar itu.

Al-Kasani (w. 587 H) menuliskan masalah itu di dalam kitabnya, Badai Ash-Shanai' sebagai berikut :

ولو أرادوا القربة الأضحية أو غيرها من القرب أجزأهم سواء كانت القربة واجبة أو تطوعا أو وجبت على البعض دون البعض وسواء اتفقت جهات القربة أو اختلفت بأن أراد بعضهم الأضحية وبعضهم جزاء الصيد وبعضهم هدي الإحصار وبعضهم كفارة شيء أصابه في إحرامه وبعضهم هدي التطوع وبعضهم دم المتعة والقران وهذا قول أصحابنا الثلاثة

Bila mereka berniat qurbah dengan qurban atau yang lainnya maka hukumnya sah, baik yang hukumnya wajib ataupun sunnah, atau hukumnya untuk sebagian mereka wajib dan untuk sebagiannya lainnyasunnah, baik jenis qurbahnya sama atau berbeda. Misalnya sebagian ada yang niat qurban, sebagian niat berburu, hadyu ihshar, kaffarah atas pelanggaran ihram, hadyu tatahawwu', dam tamattu' dan qiran. Dan ini pendapat tiga ulama kami. [1]

b. Mazhab Asy-syafi'iyah dan Al-Hanabilah

Demikian juga mazhab Asy-syafi'iyah dan Al-Hanabilah, keduanya sama-sama membolehkan aqiqah dengan sapi, termasuk bila hanya dari salah satu peserta patungan. Bahkan dalam mazhab ini, niat orang-orang yang berpatungan itu tidak harus dalam rangka taqarrub kepada Allah.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama besar di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menyebutkan di dalam kitabnya, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وتجزئ البدنة عن سبعة وكذا البقرة سواء كانوا أهل بيت أو بيوت وسواء كانوا متقربين بقربة متفقة أو مختلفة واجبة أو مستحبة أم كان بعضهم يريد اللحم ويجوز أن يقصد بعضهم التضحية وبعضهم الهدي

Boleh menyembelih unta atau sapi untuk 7 orang, baik mereka satu rumah atau beberapa rumah, baik semuanya berniat ibadah yang sama, atau ibadah yang berbeda-beda, baik hukumnya wajib atau mustahab, baik sebagiannya hanya butuh daging. Dan boleh bila sebagian berniat qurban dan yang lain hadyu.[2]

2. Pendapat Ibnu Hazm Azh-Zhahiri: Tidak Boleh

Sebagian ulama berpendapat bahwa aqiqah itu hanya boleh dengan kambing dan tidak boleh dengan sapi atau unta, di antaranya sebagian ulama mazhab Al-Malikiyah, Ibnu Hazm yang mewakili madzhab Azh-Zhahiri, dimana keduanya mengacu kepada ijtihad Aisyah radhiyallahuanha.

Sebagaimana disebukan di atas, ada perbedaan riwayat di kalangan mazhab Al-Malikiyah, antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Dan pendapat yang lebih lemah mengatakan tidak boleh beraqiqah dengan selain kambing.

Ibnu Hazm (w. 456 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhalla tentang masalah ini sebagai berikut :

ولا يجزئ في العقيقة إلا ما يقع عليه اسم شاة - إما من الضأن وإما من الماعز فقط - ولا يجزئ في ذلك من غير ما ذكرنا لا من الإبل ولا من البقر الإنسية، ولا من غير ذلك

Tidak sah aqiqah kecuali dengan hewan yang termasuk syah, baik berupa domba ataupun kambing. Dan tidak sah kecuali dengan apa yang kami sebutkan, maka unta atau sapi tidak sah dan yang lainnya juga. [3]

Ibnul Qayyim menceritakan, bahwa telah ada kasus pada masa sahabat, di antara mereka melaksanakan aqiqah dengan unta, namun hal itu langsung dingkari oleh Rasulullah SAW.

Lalu apa dasar mereka tidak membolehkan beraqiqah kecuali dengan kambing? Di antara landasannya sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat berikut:

قِيْلَ لِعَائِشَةَ  : ياَ أُمَّ المـُؤْمِنِين عَقَّى عَلَيْهِ أَوْ قَالَ عَنْهُ جُزُورًا؟ فَقَالَتْ : مَعَاذَ اللهِ ، وَلَكْن مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ  شَاتاَنِ مُكاَفِأَتَانِ

Dari Ibnu Abi Malikah ia berkata: Telah lahir seorang bayi laki-laki untuk Abdurrahman bin Abi Bakar, maka dikatakan kepada ‘Aisyah: “Wahai Ummul Mu’minin, adakah aqiqah atas bayi itu dengan seekor unta?”. Maka ‘Aisyah menjawab: “Aku berlindung kepada Allah, tetapi seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, dua ekor kambing yang sepadan.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam riwayat lain, dari ‘Atha radhiallahuanhu, katanya:

قاَلَتْ اِمْرَأُةٌ عِنْدَ عَائِشَة لَوْ وَلَدَتْ اِمْرَأَة فُلاَن نَحَرْناَ عَنْهُ جُزُورًا؟ قَالَتْ عَائِشَة : لاَ وَلَكِن السُّنَّة عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

Seorang wanita berkata di hadapan ‘Aisyah: “Seandainya seorang wanita melahirkan fulan (anak laki-kaki) kami menyembelih seekor unta.” Berkata ‘Aisyah: “Jangan, tetapi yang sesuai sunah adalah buat seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ishaq bin Rahawaih)

Kemudian disebutkan hadits, dari Yahya bin Yahya, mengabarkan kepada kami Husyaim, dari ‘Uyainah bin Abdirrahman, dari ayahnya, bahwa Abu Bakrah telah mendapatkan anak laki-laki, bernama Abdurrahman, dia adalah anaknya yang pertama di Bashrah, disembelihkan untuknya unta dan diberikan untuk penduduk Bashrah, lalu sebagian mereka mengingkari hal itu, dan berkata:

”Rasulullah SAW telah memerintahkan aqiqah dengan dua kambing untuk bayi laki-laki, dan satu kambing untuk bayi perempuan, dan tidak boleh dengan selain itu.[4]

Kesimpulan

Kebolehan aqiqah dengan selain kambing disepakati oleh jumhur ulama baik mazhab Al-Hanafiyah, mazhab Al-Malikiyah pada salah satu riwayat, mazhab Asy-Syafi'iyah dan mazhab Al-Hanabilah. Bahkan walaupun bukan dengan sapi atau unta yang utuh, cukup dengan 1/7-nya saja sudah sah.

Yang tidak membolehkan adalah Ibnu Hazm mewakili mazhab Azh-Zhihiriyah dan sebagian riwayat mazhab Al-Malikiyah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai', jilid 5 hal. 71

[2] An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 8 hal. 397

[3] Ibnu Hazm, Al-Muhalla, jilid 7 hal. 523

[4] Imam Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 58. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah


 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Sejak Lahir Belum Diaqiqahkan Orang Tua, Haruskah Mengaqiqahkan Diri Sendiri?
15 September 2015, 04:40 | Qurban Aqiqah | 10.537 views
Orang Tidak Shalat Ikut Patungan Qurban Sapi, Apakah Menggugurkan Qurban Yang Lain?
11 September 2015, 06:13 | Qurban Aqiqah | 5.324 views
Menentang Pembagian Waris Islam Kekal di Neraka
10 September 2015, 06:00 | Mawaris | 7.390 views
Kalau Pembagian Harta Waris Harus Disegerakan Lalu Ibu Harus Tinggal Dimana?
9 September 2015, 18:57 | Mawaris | 9.413 views
Dalam Keadaan Yang Bagaimana Menunda Shalat Jadi Lebih Utama?
3 September 2015, 10:25 | Shalat | 10.445 views
Bolehkah Membeli Hewan Qurban Dengan Uang Hutang?
31 August 2015, 23:37 | Qurban Aqiqah | 7.894 views
Syarat Orang Yang Hajinya Dibadalkan dan Syarat Orang Yang Membadalkan
30 August 2015, 05:03 | Haji | 7.744 views
Mengapa Panitia Diharamkan Menjual Kulit Hewan Qurban?
28 August 2015, 06:21 | Qurban Aqiqah | 8.353 views
Bolehkah Kita Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Wafat?
26 August 2015, 05:45 | Qurban Aqiqah | 9.299 views
Tidak Mau Bi'at dengan Jamaah Apakah Mati Jahiliyah?
24 August 2015, 11:10 | Aqidah | 11.334 views
Mana Lebih Utama Haji Qiran, Ifrad atau Tamattu'?
21 August 2015, 11:15 | Haji | 4.891 views
Bolehkah Kita Membuat Mazhab Sendiri Di Luar Mazhab Empat?
15 August 2015, 06:06 | Ushul Fiqih | 6.980 views
Lima Perbedaan Mendasar Antara Haji dan Umrah
14 August 2015, 03:30 | Haji | 16.472 views
Tiga Versi Lafadz Tasyahhud Yang Berbeda
13 August 2015, 04:50 | Shalat | 8.689 views
Bagaimana Proses Munculnya Mazhab Fiqih, Apakah Merupakan Gerakan Sempalan?
12 August 2015, 03:00 | Ushul Fiqih | 7.068 views
Apakah Mazhab Itu Bentuk Perpecahan Umat?
11 August 2015, 06:00 | Ushul Fiqih | 5.225 views
Kenapa Puasa Wajib Diqadha' Tapi Shalat Tidak Wajib Diqadha'?
10 August 2015, 04:35 | Shalat | 13.387 views
Shalat Idul Fithr dan Idul Adha : Mana Yang Lebih Utama, di Masjid atau di Lapangan?
8 August 2015, 06:03 | Shalat | 5.132 views
Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid?
7 August 2015, 03:01 | Shalat | 7.317 views
Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali
5 August 2015, 09:13 | Nikah | 11.390 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 30,363,002 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema