Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Memasak Qurban Buat Yang Mengurusinya, Bolehkah? | rumahfiqih.com

Memasak Qurban Buat Yang Mengurusinya, Bolehkah?

Wed 1 October 2014 23:35 | Qurban Aqiqah | 11.718 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamua'alaikum warohmatullohi wabarokatuh .....

Semoga ustadz dan keluarga dalam naungan Rahmad Allah. Amiin

Begini ustadz mau bertanya tentang Panitia Penyembelihan Kurban, Biasanya di tempat kami setiap penyembelihan kurban, Panitia menjamu orang-orang yang membantu pelaksanaan kurban dengan dibuatkan makan-makan, biasanya diambilkan dari kepala sapi.

Nah yang begini ini dibenarkan tidak dalam syariat Kurban, dan Mohon Solusinya kalau memang tidak diperbolehkan dalam syariat .

Makasih atas pencerahanya

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada dasarnya daging qurban itu boleh dimakan oleh siapa saja. Tidak ada larangan bagi siapapun untuk memakannya. Yang penting jangan dijual atau dijadikan upah bagi para panitia, jagal atau siapapun yang ikut membatu pengurusan.

Yang penting untuk dipastikan adalah daging itu jangan sampai dijadikan upah atas jasa panitia atau jagal. Kalau pun mereka ikut makan, judulnya bukan karena upah atas jasa mereka.

Terus bagaimana membedakan antara makan daging sebagai upah dan bukan upah?

Mudah saja. Kita bisa membuat beberapa indikator untuk membedakannya.

1. Indikator Pertama

Kalau daging itu dimasak khusus hanya untuk diberikan kepada mereka yang bekerja, sementara selain mereka tidak diperbolehkan ikut memakannya, maka itu adalah salah satu indikator.

Maka jangan sampai yang diberi makan hanya sebatas mereka yang bekerja saja. Tetapi siapa pun yang ada di situ, bekerja atau tidak bekerja, disilahkan untuk ikut mencicipi dan diajak makan merasakan daging qurban itu.

2. Indikator Kedua

Kalau yang lain dibolehkan juga ikut makan, tetapi yang bekerja diberi tambahan bonus daging yang lebih banyak. Selain yang dimakan, masih diberikan lagi untuk dibawa pulang lima atau sepuluh tentengan daging, maka itu adalah salah satu indikator bahwa daging itu diberikan dalam rangka memberi upah atau 'uang jasa'.

Hati-hatilah dalam masalah ini, sebab memberi upah dengan daging hewan qurban merupakan salah satu bentuk 'menjual' yang dilarang dalam ritual penyembelihan hewan qurban.


Panitia Bukan Pemilik Daging & Bukan Amil Qurban

Satu hal wajib dicatat bahwa panitia penyembelihan hewan qurban itu bukanlah pemilik daging qurban, sehingga tidak boleh menjual seenaknya. Panitia juga bukan amil zakat, sehingga merasa berhak mendapatkan upah atau jatah dari bagian tubuh hewan qurban.

Kalau pun panitia ikut makan, aspek legalnya bukan lantaran dia sebagai panitia. Tetapi harus dicatat bahwa aspek legalnya adalah karena dia bagian dari masyarakat. Kalau orang lain dibolehkan untuk menerima dan memakannyanya, maka panitia pun juga boleh menerima daging dan memakannya.

Namun apa yang diterima dan dimakan harus dipastikan bukan sebagai upah atau uang jasa lelah atau keringatnya.

Tidak Manusiawi?

Mungkin ada yang bertanya, betapa tidak manusiawinya kalau panitia dan jagal tidak boleh diupah. Padahal kerja mereka berat sekali. Demikian juga dengan tanggung-jawabnya juga bukan main-main. Masak untuk semua itu, mereka tidak boleh menerima jatah daging yang sedikit lebih banyak?

Rata-rata protesnya seperti itu memang. Hal ini karena banyak orang salah duga, dikira qurban itu sama dengan zakat. Amil zakat itu berhak menerima upah legal maksimal 12,5% dari harta yang terkumpul. Maka panitia qurban yang jarang-jarang mengaji fiqih pun seringkali terjebak dengan qiyas gadungan ini. Lantas mereka berpikir bahwa panitia pun berhak diupah dan dibayar jasanya yang diambilkan dari bagian hewan itu.

Disinilah titik kerancuannya terjadi, yaitu ketika terjadi asal qiyas dan main tarik kesimpulan seenaknya, tanpa melihat dalil hadits dan arahan para ulama.

Ketahuilah bahwa panitia qurban itu bukan amil, maka mereka sama sekali tidak punya hak untuk dibayar dari bagian hewan qurban yang jadi amanat di tangan mereka. Tugas panitia hanya sebatas mengurus penyembelihan dan membagikan, dan bukan untuk memiliki atau diupah dan digaji dari tubuh hewan itu.

Tetapi panitia memang berhak diupah, bahkan saya malah cenderung mengatakan bahwa panitia wajib diberi upah. Tetapi yang penting untuk diperhatikan, upahnya tidak diambilkan dari tubuh hewan itu. Upahnya diambil dari kantung para pequrban sendiri. Maka sudah menjadi kewajiban para pequrban untuk mengeluarkan biaya ekstra yang sifatnya wajib. Uang ini adalah uang upah buat panitia.

Kenapa saya katakan wajib?

Sebab kalau uang ini tidak diberikan, panitia akan cenderung 'mencuri' dan 'mengambil' daging yang bukan haknya. Mereka bisa saja melakukan kecurangan ini secara diam-diam. Sebab akan ada sejuta alasan yang dibuat-buat. Yang paling sering adalah dari pada mubazir tebuang percuma, maka kulit, kepala, kaki dan jeroannya dijual saja. Hasilnyanya buat nambah-nambah uang saku panitia.

Panitia Tidak Dilarang Ikut Makan

Kesimpulannya, panitia bukan tidak boleh ikut makan daging qurban. Boleh saja dan silahkan ikut makan. Tetapi judulnya bukan upah. Itu saja yang penting untuk diperhatikan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bolehkah Mengupah Jagal Dengan Kepala Kaki dan Kulit Hewan Qurban?
29 September 2014, 05:35 | Qurban Aqiqah | 28.976 views
Miqat Haji dari Indonesia Gelombang Kedua di Jeddah, Bolehkah?
28 September 2014, 08:21 | Haji | 17.308 views
Punya Uang dan Mampu, Tapi Tidak Mau Qurban, Dosakah?
27 September 2014, 21:23 | Qurban Aqiqah | 68.813 views
Bolehkah Menjamak Shalat Karena Harus Dirias Jadi Pengantin?
25 September 2014, 06:55 | Wanita | 40.249 views
Jamaah Menimbulkan Perpecahan?
24 September 2014, 10:55 | Dakwah | 8.070 views
Bolehkah Memakai Aksesori Yang Terbuat Dari Kulit Ular atau Buaya?
23 September 2014, 10:55 | Thaharah | 17.592 views
Hakekat dari Hak Cipta
20 September 2014, 04:22 | Muamalat | 9.767 views
Mana yang Lebih Utama, Naik Haji atau Menyantuni Anak Miskin?
19 September 2014, 15:12 | Haji | 11.005 views
Di Luar Negeri Hanya 7 yang Muslim, Shalat Jumatnya Bagaimana?
18 September 2014, 20:00 | Shalat | 9.921 views
Haramkah Barang Temuan
17 September 2014, 18:25 | Kontemporer | 24.271 views
Benarkah Keshahihan Shahih Hanya Sebuah Produk Ijtihad?
16 September 2014, 05:45 | Hadits | 51.954 views
Dalam Penyembelihan Syar'i, Urat Mana Saja Yang Harus Putus?
14 September 2014, 07:50 | Qurban Aqiqah | 22.848 views
Adab dan Etika Ketika Berjima
13 September 2014, 14:23 | Nikah | 44.134 views
Apakah Mengadzankan Bayi Bid
12 September 2014, 11:00 | Kontemporer | 193.591 views
Mensiasati Pembagian Waris Biar Yang Diterima Anak Laki dan Wanita Sama
11 September 2014, 07:35 | Mawaris | 11.151 views
Bolehkah Menjadikan Jeddah Sebagai Miqat?
9 September 2014, 19:35 | Haji | 20.773 views
Bolehkah Tiap Tahun Pergi Haji?
6 September 2014, 15:40 | Haji | 10.102 views
Benarkah Tidak Semua Jenis Harta Wajib Dizakatkan?
5 September 2014, 09:20 | Zakat | 13.510 views
Bolehkah Kita Bertransaksi Dengan Cara Lelang?
4 September 2014, 10:22 | Muamalat | 25.827 views
Etika dan Batasan Dalam Berbeda Pendapat
3 September 2014, 10:35 | Ushul Fiqih | 9.950 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 30,364,041 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema