Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu' | rumahfiqih.com

Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'

Tue 17 March 2015 11:45 | Thaharah | 10.051 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Allah SWT.

Perkenankan saya mau tanya terkait dengan hal-hal apa saja yang makruh hukumnya untuk dikerjakan ketika kita sedang berwudhu'. Mohon penjelasan dari antum terkait hal-hal itu.

Terima kasih sebelumnya.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di antara perbuatan yang hukumnya makruh atau kurang disukai ketika melakukan wudhu' antara lain :

1. Wudhu Sambil Berbicara

Para ulama memakruhkan wudhu' bila dilakukan sambil berbicara, kecuali bila memang ada keperluan yang penting dan mendesak.

Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa termasuk mustahab adalah meninggalkan percakapan ketika sedang berwudhu'. Dan mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah tegas menyebutkan bahwa makruh hukumnya bila bercakap-cakap sambil berwudhu'.[1]

Memberi Salam dan Menjawabnya

Para ulama berbeda pendapat bila dalam kasus memberi salam atau menjawabnya, yang dilakukan ketika seseorang sedang berwudhu'.

Sebagian ulama berpendapat bahwa bercakap-cakap berbeda dengan memberi atau menjawab salam. Orang yang sedang berwudhu tetap disunnahkan untuk memberi atau menjawab salam. Dasarnya adalah praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW :

أَنَّ أَمَّ هَانِئٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا سَلَّمَتْ عَلَى النَّبِيِّ  وَهُوَ يَغْتَسِل ، فَقَال : مَنْ هَذِهِ ؟ قُلْتُ : أَمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ ، قَال : مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ

Bahwa Ummu Hani' radhiyallahuanha memberi salam kepada Rasulullah SAW yang sedang mandi. Beliau SAW bertanya,"Siapakah Anda?". Aku (Ummu Hani') menjawab,"Saya Ummu Hani' bintu Abi Thalib". Beliau SAW menjawab,"Selamat datang wahai Ummu Hani'. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun ada juga pendapat yang tetap memakruhkan orang yang sedang berwudhu' untuk memberi salam atau menjawabnya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Al-Faraj dari kalangan ulama mazhab Al-Hanabilah. [2]

2. Membasuh Leher

Umumnya para ulama berfatwa bahwa termasuk perkara yang makruh untuk dikerjakan oleh orang yang sedang berwudhu adalah membasuh leher.

Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah memandang bahwa perbuatan membasuh leher bukan termasuk bagian dari ritual wudhu'.

Al-Imam An-Nawawi menyebutnya sebagai bid'ah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah menyebutkan bahwa perbuatan itu termasuk ghuluw atau melebih-lebihkan agama, yang tidak ada dasarnya dari sunnah Rasulullah SAW.[3]

Namun ada juga sebagian kecil ulama yang memandang bahwa membasuh leher termasuk bagian dari sunnah. Namun pandangan ini agak menyendiri dan tidak banyak disetujui oleh kebanyakan ulama.

3. Membasuh Kepala Tiga Kali

Yang disyariatkan dalam wudhu dalam mengusap kepala hanya satu kali usapan saja. Sehingga bila ada yang mengusapnya tiga kali atau lebih, hukumnya makruh menurut para ulama, karena tidak ada dasarnya.

Hal itu dituliskan dalam mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah serta Al-Hanabilah. [4]

4. Boros Air

Meski pun seseorang berwudhu di sungai yang airnya berlimpah, namun sikap boros dan berlebihan dalam menggunakan air ketika wudhu tetap merupakan perbuatan yang makruh hukumnya. Apalagi bila dalam keadaan biasa atau malah kurang air.

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

أَنَّ رَسُول اللَّهِ  مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَال : " مَا هَذَا السَّرَفُ ؟ " فَقَال : أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ ؟ فَقَال : " نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

Rasulullah SAW berjalan melewati Sa'd yang sedang berwudhu' dan menegurnya,"Kenapa kamu boros memakai air?". Sa'ad balik bertanya,"Apakah untuk wudhu' pun tidak boleh boros?". Beliau SAW menjawab,"Ya, tidak boleh boros meski pun kamu berwudhu di sungai yang mengalir. (HR. Ibnu Majah)

Hadits yang shahih menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berwudhu tidak lebih dari satu sha' air, yaitu kurang lebih 660 ml :

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ  يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Dari Anas r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim)

5. Wudhu di Tempat Yang Tidak Suci

Di antara perbuatan yang hukumnya makruh untuk dikerjakan pada saat berwudhu adalah berwudhu’ di tempat yang tidak suci. Sebab tujuan wudhu’ adalah bersuci, maka makruh hukumnya berwudhu tidak tempat yang tidak suci.

Para ulama dari empat mazhab sepakat memakruhkan wudhu di tempat yang tidak suci atau bernajis. Oleh karena itulah kita lebih sering menyaksikan bahwa tempat wudhu dibuatkan terpisah dari wc atau tempat buang air.

6. Mengeringkan Bekas Air Wudhu' : Makruhkah?

Para ulama sebenarnya berbeda pendapat tentang hukum mengeringkan bekas air wudhu. Sebagian memakruhkannya namun sebagain malah menganggapnya sunnah.

a. Makruh

Mereka yang berpendapat hukumnya makruh untuk mengeringkan bekas sisa air wudhu’ berhujjah bahwa nanti di hari kiamat, umat Nabi Muhammad SAW dikenali dari bekas sisa air wudhu’.

Dasarnya adalah hadits berikut ini :

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيل غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَل

Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya karena bekas wudhu’nya. Maka siapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya, maka lakukanlah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, dalam pandangan mereka, bekas sisa air wudhu’ hukumnya makruh bila cepat-cepat dikeringkan.

Di antara para ulama yang memakruhkannya adalah mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Mazhab Al-Hanabilah menyebutkan bahwa meninggalkan bekas sisa air wudhu pada badan merupakan keutamaan.

b. Sunnah

Sebaliknya mazhab Al-Hanafiyah memandang bahwa menyeka atau mengeringkan bekas sisa air wudhu’ hukumnya sunnah. Dasarnya karena Rasulullah SAW pernah melakukannya.

أَنَّ النَّبِيَّ  تَوَضَّأَ ثُمَّ قَلَبَ جُبَّةً كَانَتْ عَلَيْهِ فَمَسَحَ بِهَا وَجْهَهُ

Bahwa Nabi SAW berwudhu kemudian beliau membalik jubbahnya dan mengusapkannya pada wajahnya. (HR. Ibnu Majah).

Selain dalil fi'liyah yang dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW di atas, mereka yang mendukung pendapat ini juga memandang bahwa mengusap bekas sisa air wudhu itu seperti menghilangkan dosa. Sebab di hadits yang lain disebutkan bahwa wudhu' itu merontokkan dosa. Logikanya, sisa bekas air wudhu itu dianggap mengandung dosa, sehingga harus segera dibersihkan.

Dalilnya sebagai berikut :

Apabila seorang hamba yg muslim atau mukmin itu berwudhu di mana sewaktu ia membasuh mukanya, maka keluarlah semua dosa yg dilihat dengan kedua matanya dari mukanya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yg terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah semua dosa yg diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir. Dan jika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua dosa yg diperbuat oleh kedua kakinya itu bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air yg terakhir, sehingga ia benar-benar bersih dari semua dosa. (HR. Muslim).

Perhatikan lagi sabda Rasulullah berikut ini :

Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yg mana dengan sesuatu itu ALLAH akan menghapus dosa-dosa kalian dan dengan sesuatu itu pula ALLAH akan mengangkat kalian beberapa derajat?” Para sahabat menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Yaitu menyempurnakan wudhu atas hal-hal yg tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid-masjid dan menantikan sholat sehabis sholat. Maka itulah yang dinamakan ar-Ribath (mengikatkan diri dalam ketaatan) (HR. Muslim)

Kesimpulan :

Lalu kita pakai yang mana dari dua pendapat di atas?

Begitu biasanya pertanyaan selanjutnya dari para penanya, apabila saya menjawab masalah yang khilafiyah dengan menampilkan semua pilihan fatwa dilengkapi dengan dalil-dalilnya.

Biasanya saya akan menjawab dengan sederhana, silahkan pakai pendapat yang mana saja yang Anda cenderung untuk memakainya. Toh, semua pendapat itu sama-sama didasari dengan dalil-dalil yang shahih, plus juga merupakan hasil ijtihad para fuqaha dan mujtahidin yang memang ahli dibidangnya serta memiliki otoritas yang tepat.

Sehingga pilihan manapun yang Anda pilih, sudah dijamin tidak akan menjadi dosa atau celaka.

Namun terkadang, tetap saja pihak penanya suka penasaran, lalu menyampaikan pertanyaan lagi,"Kalau Ustadz sendiri pilih yang mana?".

Biasanya kalau sudah sampai disini saya suka menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Fatawa Al-Hindiyah, jilid 1 hal. 8

[2] Al-Inshaf, jilid 1 hal. 38

[3] Ad-Durr Al-Mukhtar wa Ar-Radd Al-Muhtar, jilid 1 hal. 84

[4] Asy-Syarhu Al-Kabir ma’a Hasyiatu Ad-Dasuqi, jilid 1 hal. 89-90

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tolok Ukur Untuk Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam
15 March 2015, 05:57 | Shalat | 10.070 views
Sebelas Konsekuensi Jima' Dalam Perspektif Syariah
13 March 2015, 10:45 | Nikah | 10.257 views
Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?
12 March 2015, 03:22 | Nikah | 65.713 views
Bagaimana Cara Membatalkan Baiat Yang Sudah Terlanjur?
11 March 2015, 11:29 | Dakwah | 10.282 views
Ibnu Sabil Sebagai Penerima Zakat
10 March 2015, 06:12 | Zakat | 7.330 views
Bolehkah Menjatuhkan Hukum Mati Dalam Hukum Ta'zir?
9 March 2015, 11:15 | Jinayat | 5.142 views
Hukum Berburu Hewan, Halal atau Haram?
7 March 2015, 12:30 | Qurban Aqiqah | 11.871 views
Rukun Khutbah Jumat Versi Empat Mazhab
6 March 2015, 09:16 | Shalat | 19.666 views
Hukum Berijtihad di Masa Sekarang, Apakah Masih Diperbolehkan?
5 March 2015, 01:00 | Ushul Fiqih | 15.090 views
Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe
4 March 2015, 10:00 | Kuliner | 6.148 views
Hukum Jual Beli Padi Non Tunai
3 March 2015, 06:40 | Muamalat | 4.811 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Hukum Qishash dan Perbedaannya Dengan Jinayat dan Hudud
2 March 2015, 06:40 | Jinayat | 14.511 views
Sudah Mampu Tapi Tidak Mendaftar Haji : Kafirkah?
1 March 2015, 23:45 | Haji | 5.377 views
Bolehkah Makan dan Minum di dalam Masjid?
27 February 2015, 10:13 | Kuliner | 21.969 views
Benarkah Riba Tidak Haram Kalau Tidak Berlipat Ganda?
26 February 2015, 06:18 | Muamalat | 6.921 views
Bolehkah Jual Barang Secara Kredit Seperti Ini?
25 February 2015, 10:24 | Muamalat | 8.035 views
Menjawab Tuduhan Kejamnya Syariat Islam
23 February 2015, 01:00 | Jinayat | 7.540 views
Perbedaan Antara Ghanimah, Fai, Jizyah, Nafl dan Salab
22 February 2015, 06:01 | Umum | 31.813 views
Perbedaan Tanda Baca Dua Mushaf, Apakah Bukti Al-Quran Dipalsukan?
20 February 2015, 01:00 | Quran | 7.386 views
Empat Pertanyaan Terkait Ijab Kabul Dalam Pernikahan
19 February 2015, 01:00 | Nikah | 48.970 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,897,836 views