Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hal-hal Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Tayammum? | rumahfiqih.com

Hal-hal Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Tayammum?

Wed 25 March 2015 11:22 | Thaharah | 26.219 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr .wb.

Ustadz yang dirahmati Allah.

Mohon penjelasan terkati dengan tayammum dan hal-hal yang membatalkannya.

1. Apakah tidur itu membuat tayammum kita menjadi batal?

2. Apakah bila kita sudah tayammum lalu air ditemukan, tayammumnya menjadi batal dan harus berwudhu' lagi?

Terima kasih

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana wudhu', tayammum juga bisa batal bila seseorang melakukan sesuatu yang membuatnya batal. Hal-hal yang dapat membatalkan tayamumm antara lain :

1. Segala Yang Membatalkan Wudhu’

Segala yang membatalkan wudhu’ sudah tentu membatalkan tayammum. Sebab tayammum adalah pengganti dari wudhu’. Maka segala yang membatalkan wudhu secara otomatis menjadi hal yang juga membatalkan tayammum.

Di antara hal-hal yang membatalkan wudhu adalah :

a. Keluarnya Sesuatu Lewat Kemaluan.

Yang dimaksud kemaluan itu termasuk bagian depan dan belakang. Dan yang keluar itu bisa apa saja termasuk benda cair seperti air kencing mani wadi mazi atau apapun yang cair. Juga berupa benda padat seperti kotoran batu ginjal cacing atau lainny.

Pendeknya apapun juga benda gas seperti kentut. Kesemuanya itu bila keluar lewat dua lubang qubul dan dubur membuat wudhu' yang bersangkutan menjadi batal.

b. Tidur

Tidur yang bukan dalam posisi tetap (tamakkun) di atas bumi. Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang membuat hilangnya kesadaran seseorang. Termasuk juga tidur dengan berbaring atau bersandar pada dinding.

Sedangkan tidur sambil duduk yang tidak bersandar kecuali pada tubuhnya sendiri tidak termasuk yang membatalkan wudhu'

c. Hilang Akal

Hilang akal baik karena mabuk atau sakit. Seorang yang minum khamar dan hilang akalnya karena mabuk maka wudhu' nya batal. Demikian juga orang yang sempat pingsan tidak sadarkan diri juga batal wudhu'nya.

Demikian juga orang yang sempat kesurupan atau menderita penyakit ayan, dimana kesadarannya sempat hilang beberapa waktu wudhu'nya batal. Kalau mau shalat harus mengulangi wudhu'nya.

d. Menyentuh Kemaluan

Menyentuh kemaluan membatalkan wudhu dan otomatis juga membatalkan tayammum. Namun para ulama mengecualikan bila menyentuh kemaluan dengan bagian luar dari telapak tangan dimana hal itu tidak membatalkan wudhu'.

e. Menyentuh kulit lawan jenis

Menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram (mazhab As-Syafi'iyah) termasuk hal yang membatalkan wudhu.

Di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menyentuh kulit lawan jenis yang bukan mahram termasuk yang membatalkan wudhu'. Namun hal ini memang sebuah bentuk khilaf di antara para ulama. Sebagian mereka tidak memandang demikian.

2. Ditemukannya Air

Bila ditemukan air maka tayammum secara otomatis menjadi gugur. Yang harus dilakukan adalah berwudhu dengan air yang baru saja ditemukan.

Yang jadi masalah bila seseorang bertayammum lalu shalat dan telah selesai dari shalatnya tiba-tiba dia mendapatkan air dan waktu shalat masih ada. Apa yang harus dilakukannya ?

Para ulama mengatakan bahwa tayammum dan shalatnya itu sudah sah dan tidak perlu untuk mengulangi shalat yang telah dilaksanakan. Sebab tayammumnya pada saat itu memang benar lantaran memang saat itu dia tidak menemukan air. Sehingga bertayammumnya sah. Dan shalatnya pun sah karena dengan bersuci tayammum. Apapun bahwa setelah itu dia menemukan air kewajibannya untuk shalat sudah gugur.

Namun bila dia tetap ingin mengulangi shalatnya dibenarkan juga. Sebab tidak ada larangan untuk melakukannya. Dan kedua kasus itu pernah terjadi bersamaan pada masa Rasulullah SAW.

خَرَجَ رَجُلاَنِ فيِ سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءُ فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا المَاءَ فيِ الوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ وَلَم يُعِد الآخَر ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللهِ  فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِد : أَصَبْتَ السُّنَّة وَأَجْزَأْتَكَ صَلاَتَكَ وَقَالَ لِلَّذِي تَوَضَّأَ وَأَعَادَ : لَكَ الأَجْر مَرَّتَينِ

Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahuanhu berkata bahwa ada dua orang bepergian dan mendapatkan waktu shalat tapi tidak mendapatkan air. Maka keduanya bertayammum dengan tanah yang suci dan shalat. Selesai shalat keduanya menemukan air. Maka seorang diantaranya berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang satunya tidak. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan masalah mereka. Maka Rasulullah SAW berkata kepada yang tidak mengulangi shalat"Kamu sudah sesuai dengan sunnah dan shalatmu telah memberimu pahala". Dan kepada yang mengulangi shalat"Untukmu dua pahala". (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i)

3. Hilangnya Penghalang

Bila halangan untuk mendapatkan air sudah tidak ada maka batallah tayammum. Misalnya ketika sedang shalat yang bersucinya dengan tayammum, tiba-tiba ditemukan cara untuk mendapatkan air dari dalam sumur. Maka shalat yang sedang dikerjakan batal dengan sendirinya.

Penghalang yang di atas sudah kita bicarakan, seperti takut hilangnya barang-barang kalau harus pergi jauh mencari air, atau resiko terancam binatang buas, atau adanya ancaman musuh, memang semua itu bisa dijadikan syarat dibolehkannya tayammum.

Akan tetapi ketika penghalang-penghalang itu sudah tidak lagi ada, secara otomatis tayammum tidak lagi diperkenankan. Yang harus dikerjakan saat itu adalah berwudhu dengan air yang sudah bisa didapat, lalu kembali melakukan shalat kembali, asalkan waktu shalatnya masih ada.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mana Yang Benar Waktu Shalat, Tangan di Dada Atau di Bawah Dada?
24 March 2015, 10:28 | Shalat | 28.193 views
Benarkah Jumhur Ulama Salaf Sepakat Tarawih 20 Rakaat?
23 March 2015, 10:10 | Shalat | 15.652 views
Mohon Rincian Khilafiyah Najisnya Anjing
20 March 2015, 10:01 | Thaharah | 6.655 views
Shalat Menggunakan Pakaian Bergambar Makhluk Bernyawa
18 March 2015, 05:15 | Shalat | 7.746 views
Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'
17 March 2015, 11:45 | Thaharah | 10.051 views
Tolok Ukur Untuk Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam
15 March 2015, 05:57 | Shalat | 10.070 views
Sebelas Konsekuensi Jima' Dalam Perspektif Syariah
13 March 2015, 10:45 | Nikah | 10.257 views
Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?
12 March 2015, 03:22 | Nikah | 65.713 views
Bagaimana Cara Membatalkan Baiat Yang Sudah Terlanjur?
11 March 2015, 11:29 | Dakwah | 10.282 views
Ibnu Sabil Sebagai Penerima Zakat
10 March 2015, 06:12 | Zakat | 7.330 views
Bolehkah Menjatuhkan Hukum Mati Dalam Hukum Ta'zir?
9 March 2015, 11:15 | Jinayat | 5.142 views
Hukum Berburu Hewan, Halal atau Haram?
7 March 2015, 12:30 | Qurban Aqiqah | 11.871 views
Rukun Khutbah Jumat Versi Empat Mazhab
6 March 2015, 09:16 | Shalat | 19.666 views
Hukum Berijtihad di Masa Sekarang, Apakah Masih Diperbolehkan?
5 March 2015, 01:00 | Ushul Fiqih | 15.090 views
Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe
4 March 2015, 10:00 | Kuliner | 6.148 views
Hukum Jual Beli Padi Non Tunai
3 March 2015, 06:40 | Muamalat | 4.811 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Hukum Qishash dan Perbedaannya Dengan Jinayat dan Hudud
2 March 2015, 06:40 | Jinayat | 14.511 views
Sudah Mampu Tapi Tidak Mendaftar Haji : Kafirkah?
1 March 2015, 23:45 | Haji | 5.377 views
Bolehkah Makan dan Minum di dalam Masjid?
27 February 2015, 10:13 | Kuliner | 21.969 views
Benarkah Riba Tidak Haram Kalau Tidak Berlipat Ganda?
26 February 2015, 06:18 | Muamalat | 6.921 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,897,818 views