Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Cara Kita Memahami Ayat-ayat Sain di dalam Al-Quran? | rumahfiqih.com

Bagaimana Cara Kita Memahami Ayat-ayat Sain di dalam Al-Quran?

Fri 15 April 2016 18:40 | Quran | 4.866 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. wb.
Mohon penjelasan ustadz terkait seputar hubungan antara nash-nash syariah seperti Al-Quran atau Hadits dengan realitas sain modern. Sewaktu masih SMA dulu saya teringat pernah membaca buku terjemahan orang Perancis, Dr. Maurice Bucaille, yaitu Bible Quran dan Sains Modern. Disana beliau menetapkan bahwa Al-Quran sangat ilmiyah dan sejalan dengan kebenaran sain modern.

Tapi sekarang saya jadi rada ragu, karena saya melihat ada juga nash-nash Al-Quran dan juga hadits yang ternyata juga tidak masuk akal, alias bertentangan dengan realitas kebenaran ilmu modern. Contoh sederhana adalah lailatul qadar, dimana dikatakan bahwa lailatul qadar berakhir dengan terbitnya fajar.

Pertanyaan saya, bukankah fajar itu bergerak terus dari timur ke barat? Karena bumi kita bulat dan berputar pada posornya dari timur ke bara. Berarti lailatul qadar tidak berakhir tetapi bergeser terus menerus. Dan buat saya ini membingungkan.

Sebenarnya saya bukan ingin menghujat kebenaran Al-Quran, tetapi saya agak ragu apa benar ayat Al-Quran itu selamanya bisa dipahami lewat pendekatan sain?

Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang ada semacam keinginan dari banyak kalangan untuk mengait-ngaitkan Al-Quran dengan sain modern. Dan dalam beberapa hal usaha ini nampaknya cukup berhasil. Akan tetapi belum tentu berhasil kalau diterapkan dalam semua sisinya.

Sebab biar bagaimana pun juga, ternyata Allah SWT tidak menurunkan Al-Quran dengan tujuan semata-mata untuk menjadi buku sain. Al-Quran adalah kitab wahyu yang berisi petunjuk untuk menjadi hamba Allah SWT yang taat. Isinya tentu bukan bagaimana cara bertani, beternak, atau menaklukkan alam semesta dengan segala tantangannya.

Demikian juga Rasulullah SAW tidak semata-mata diutus untuk menjadi ilmuwan dan saintis. Beliau SAW adalah pembawa risalah langit yang mengajarkan bagaimana caranya menyembah Allah dan menjelaskan hukum-hukum samawi. Beliau SAW tidak diutus untuk menjadi fisikawan, dokter, angkasawan, atau cendekiawan.

Dalam urusan seperti ini, saya memandang kita jangan terlalu eksak dalam memahaminya. Sebab nanti kita akan mengalami banyak kegagalan dan ketidak-selarasan dengan realitas fisika yang sesungguhnya. Lebih amannya kita pakai 'kaca mata' iman saja.

Keganjilan Istilah Langit

Sebenarnya wujud Al-Quran justru lebih cenderung sebagai kitab sastra yang tinggi derajatnya. Sehingga dengan ketinggian sastranya itu, Allah SWT menantang para pujangga Arab untuk bisa meniru atau setidaknya mendekati keindahannya.

Adapun sebagai buku sain, sebenarnya Al-Quran tidak terlalu menonjol. Misal yang sederhana saja, ketika menyebut langit dan bumi, Al-Quran sama sekali tidak membedakan apakah maksudnya langit yang rendah dimana masih ada awan di dalam atmosfir kita, ataukah langit dalam arti angkasa luar dalam sistem tata surya. Atau malah langit yang lebih luas lagi yaitu gugus bintang dan galaksi yang jauhnya diukur dengan kecepatan cahaya?

Semua itu di dalam Al-Quran nyaris tidak pernah dibedakan, semuanya sama-sama disebut langit. Ketika menyebut awan yang menurunkan hujan, Al-Quran menyebut langit. Dan ketika menyebutkan bintang yang jauhnya jutaan tahun cahaya, Al-Quran juga menyebut dengan kata yang sama, yaitu langit.

Kalau kita angkat masalah ini tentu saja niat kita sama sekali bukan mau merendahkan Al-Quran. Dengan sederhana kita bisa simpulkan bahwa Al-Quran bukan kitab sain atau buku astronomi, ketika tidak membedakan mana atmosfir dan mana galaksi luar. Bukan Al-Quran yang salah, tetapi kita yang salah menempatkan Al-Quran dengan cara memaksakannya menjadi buku fisika.

Gunung Bergerak Seperti Awan

Di dalam Al-Quran ada disebutkan bahwa gunung itu bergerak seperti awan.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (QS. An-Naml:88)

Lalu beberapa kalangan saintis muslim modern mencoba menafsirkan ayat ini dengan pergerakan lempeng bumi. Mereka bilang inilah bukti kebenaran Al-Quran, yaitu ternyata terbukti bahwa gunung itu tidak diam, melainkan bergerak sebagaimana disebutkan dalam ayat itu.

Menarik untuk dicermati, tafsiran versi sain modern ini sebenarnya agak membingungkan. Mengapa? Karena Al-Quran menyebutkan bahwa gunung itu bergerak sebagaimana berjalannya awan. Kecepatan gerakan awan tentu bisa dilihat dengan mata, katakanlah sekitar 20-30 km perjam. Tapi pergerakan lempeng bumi dan pergeserannya tentu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan gerakan awan. Karena kecepatannya cuma 7 cm - 8 cm per tahun. Apalah artinya pergerakan itu menurut sudut pandang mata kita? Tentu sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai 'bergerak'.

Lagi pula yang bergerak itu bukan gunung melainkan lempeng bumi. Bagaimana mungkin menafsirkan ayat yang menyebutkan gunung bergerak dengan lempeng bergerak?

Kalau cuma mau bergerak, sebenarnya bumi kita inipun bergerak juga, bukan? Tetapi bergeraknya bersama-sama dengan semua hamparannya, dan bukan hanya gunung yang bergerak.

Jadi ayat di atas itu memang kurang tepat kalau mau ditafsirkan dengan kaca mata ilmu fisika atau geologi.

Lailatul Qadar

Kalau kita memandang masalah lailatuh qadar itu pakai kacamata fisika atau astronomi, maka boleh jadi kita akan bertabrakan dengan banyak nash agama. Setidaknya akan berhadapan dengan para tokoh agama dengan segala keterbatasan pengetahuan astronomi mereka.

Sebagaimana kita tahu bahwa malam itu tidak terjadi secara serentak di seluruh dunia. Dalam satu waktu, ada beberapa wilayah di muka bumi yang sedang berada dalam keadaan malam, sebaliknya juga ada yang sedang mengalami siang. Bahkan malam itu datang bergerak merambat mendatangi kita untuk kemudian bergerak terus meninggalkan kita. Sebenarnya bukan merambat tapi berlari sangat cepat.

Dengan logika seperti ini, maka lailatul qadar tidak mungkin terjadi pada sekali dan satu waktu saja. Sebab dia datang bersama malam menjelajahi seluruh permukaan bumi. Dan 'malam' bergerak dengan kecepatan yang amat fantastis, melebih kecepatan pesawat jet komersial yang paling-paling hanya sekitar 900-an km/jam. Sedangkan 'malam' bergerak dengan kecepatan kurang lebih 1.600 km per jam.

Sebenarnya angka ini cuma hitungan kasar saja. Dari mana hitung-hitungannya kok bisa bilang begitu?

Mudah saja kok menghitungnya. Bumi kita berputara para porosnya dalam sekali putaran butuh waktu kurang lebih 24 jam. Tinggal kita ukur berapa panjang lintasanya, sebutlah lintasan yang paling panjang adalah garis Khatulistiwa. Ternyata panjang garis Khatulistiwa itu sekitar 40 ribuan km. Ya sudah mari kita bagi menjadi 24 jam. Hasilnya 1.600, artinya kecepatan datang dan perginya 'malam' dan juga 'siang' sekitar 1.600-an km/jam.

Dengan demikian, kalau kita naik jet tempur yang melebihi 1,6 mach, kita bisa mengejar malam atau siang agar tidak meninggalkan kita. Jadi kita bisa mengalami siang terus atau malam terus, asalkan kita bergerak ke arah Barat dengan kecepatan minimal 1,6 mach.

Dengan demikian, bila kita hubungkan fenomena ini dengan keimanan atas lailatul qadar yang kita yakini hanya terjadi dalam satu kejadian, bubarlah semua logikanya. Jelas tidak konek antara urusan iman dan astronomi kalau begini caranya.

Bisakah Kita Bilang Lailatul Qadar Itu Relatif?

Ini pertanyaan yang paling peka sekaligus rawan untuk dijawab. Bolehkah kita mengatakan bahwa keberadaan lailatul qadar itu relatif juga, sebagaimana relatifitas penetapan tanggal di atas? Artinya, lailatul qadar itu bukan hanya satu kejadian di satu tempat, tapi dia terdiri dari banyak kejadian di banyak tempat dan waktunya tidak harus bersamaan?

Kalau kita kembali kepada syariah Islam, sebenarnya jawabannya boleh-boleh saja. Toh hampir setiap tahun negeri-negeri Islam saling berbeda hari raya, meski tidak selalu berbeda.  Shalat Idul Fithri di Mesir hari Senin dan di Saudi hari Selasa, atau sebaliknya. Semua itu sangat mungkin terjadi dan dianggap keduanya sah dalam ilmu syariah.

Apakah hal yang sama bisa diterapkan juga dalam memahami lailatul qadar? Pasti akan banyak muncul perbedaan yang tidak akan ada habisnya.

Oleh karena itu saya lebih suka membahas masalah lailatul qadar dengan menghindari keterkaitannya dengan ilmu astronomi, sebab akan semakin ribet. Intinya, mari kita cari malam itu di 10 malam terakhir. Tugas kita bukan menemukannya, tetapi mencarinya. Maksudnya, ya kita konsentrasi ibadah di kesemua malam itu, dan bukan menebak-nebak atau menerka-nerka.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Khamar dan Alkohol Apakah Najis?
14 April 2016, 14:30 | Kuliner | 5.278 views
Makanan Halal
13 April 2016, 01:31 | Kuliner | 7.416 views
Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama?
12 April 2016, 11:01 | Nikah | 15.988 views
Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan
11 April 2016, 11:10 | Muamalat | 4.765 views
Menikahkan Wanita Hamil, Ayahnya Tidak Merestui
9 April 2016, 01:45 | Nikah | 9.565 views
Jual Beli Online Haramkah?
8 April 2016, 04:09 | Muamalat | 11.483 views
Hukum Menjual Dropshipping, Apakah Halal?
6 April 2016, 05:04 | Muamalat | 163.945 views
Islam Dituduh Haus Darah, Bagaimana Menjawabnya?
2 April 2016, 14:42 | Aqidah | 10.403 views
Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh
24 March 2016, 17:00 | Wanita | 12.923 views
Apakah Anak Hasil Zina Dapat Warisan?
23 March 2016, 02:56 | Mawaris | 10.834 views
Benarkah Yang Dimakan Nabi Adam adalah Buah Khuldi?
22 March 2016, 06:01 | Aqidah | 16.672 views
Habis Wudhu, Mana Lebih Utama Dilap Atau Dibiarkan?
18 March 2016, 11:55 | Thaharah | 66.854 views
Mau Belanja Online Bolehkah Pinjam Kartu Kredit Milik Teman?
16 March 2016, 11:30 | Muamalat | 5.617 views
Catatan 8 Kali Gerhana di Masa Nabi SAW
10 March 2016, 00:01 | Umum | 5.055 views
Jakarta Mengalami Gerhana Cuma 88% Persen, Masihkah Disyariatkan Shalat Gerhana?
7 March 2016, 11:30 | Shalat | 9.344 views
Istilah Quran Yang Beda Antara Makna Harfiyah dan Maksudnya
1 March 2016, 11:00 | Quran | 7.026 views
LGBT : Operasi Ganti Kelamin, Haramkah?
15 February 2016, 10:23 | Kontemporer | 13.734 views
Bolehkah Uang Zakat Untuk Membangun Masjid dan Membiayai Dakwah?
13 February 2016, 06:10 | Zakat | 7.617 views
Mazhab Cuma Pendapat Manusia, Buang Saja Cukup Quran dan Sunnah
10 February 2016, 09:20 | Ushul Fiqih | 23.329 views
Bingung, Ini Hibah atau Wasiat?
15 December 2015, 04:52 | Mawaris | 11.067 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 28,904,912 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema