Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bisakah Satu Ekor Kambing Untuk Satu Keluarga? | rumahfiqih.com

Bisakah Satu Ekor Kambing Untuk Satu Keluarga?

Thu 31 August 2017 05:50 | Qurban Aqiqah | 18.946 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum,

Saya ingin menanyakan apa dasar hukum yang menjadikan ketentuan bahwa 1 ekor kambing untuk 1 orang dan 1 ekor sapi untuk 7 orang. Selama ini di Indonesia sudah berjalan seperti itu, lalu kemudian ada yg "berfatwa" bahwa praktik seperti itu tidak tepat. Beliau bilang bahwa 1 ekor kambing bisa untuk 1 keluarga.

Terima kasih.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam menjawab masalah ini, rasanya kita perlu sedikit meluruskan redaksi dan bahasa yang digunakan. Sebab perbedaan penggunaan istilah ini sudah memicu terjadinya kerancuan dan kekeliruan dalam memahami duduk masalah.

Kerancuan Penggunaan Istilah 'Oleh' dan 'Untuk'

Seharusnya kita bisa membedakan dua istilah yang mendasar ini, yaitu istilah 'oleh' dan 'untuk'. Sebab kalau tercampur maka akan terjadi salah tafsir.

1. Istilah 'Oleh'

Jumhur ulama telah sepakat bahwa seekor kambing hanya boleh dipersembahkan 'oleh' satu orang saja. Maksudnya pihak yang melakukan ibadah penyembelihan hewan qurban itu maksimal hanya satu orang, yang secara baku disebut dengan istilah mudhahhi (مضحي).

Sebab pada dasarnya ibadah qurban menyembelih kambing ini memang ibadah perorangan dan bukan ibadah berjamaah. Lalu kemudian dibolehkan bila ada maksimal 7 orang mudhahhi bersekutu dan berpatungan untuk menyembelih seekor sapi atau unta.

Ketentuan yang harus diperhatikan bahwa bila jumlah mudhahhi lebih dari tujuh orang maka hukumnya tidak boleh. Sebaliknya, bila jumlahnya kurang dari tujuh, misalnya cuma ada enam, lima, empat, tiga, dua atau satu mudhahhi, maka hukumnya sah dan pahalanya tentu akan lebih besar. Semua didasarkan pada nash-nash yang shahih, misalnya :

 

 

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ  أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ

 

Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bersekutu pada unta dan sapi, setiap tujuh orang satu hewan. (HR. Muslim)

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Dari Jabir bin Abdillah ra berkata,”Kami menyembelih bersama Rasulullah SAW pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk 7 orang dan seekor sapi untuk 7 orang”. (HR. Muslim).

كُنَّا نَتَمَتَّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ  فَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ نَشْتَرِكُ فِيهَا

Kami melakukan haji tamattu' bersama Rasulullah SAW. Kami menyembelih sapi untuk tujuh orang dimana kami saling bersekutu pada hewan itu. (HR. Muslim)

Hadits-hadits di atas dan masih banyak riwayat shahih lainnya tegas menerangkan bahwa ketentuan dalam penyembelihan adalah patungan untuk membeli sapi dan sejenisnya atau untuk dan sejenisnya oleh 7 orang.

Sedangkan kambing dan sejenisnya tidak ada keterangan yang membolehkannya untuk dilakukan dengan patungan. Oleh karena itu umumnya para fuqaha mengatakan bahwa bahwa seekor kambing tidak boleh disembelih atas nama lebih dari satu orang. Keterangan ini pada beberapa kitab fiqih yang menjadi rujukan utama.[1]

 

2. Istilah 'Untuk'
Sedangkan dalam kasus satu kambing untuk sekeluarga, kita tidak menggunakan istilah 'oleh' melainkan kita menggunakan istilah 'untuk'. Maksudnya kambing yang disembelih itu pahalanya diperuntukkan kepada keluarganya. Tentu saja jelas sekali perbedaan antara penggunaan istilah 'oleh' dengan 'untuk'.

Kalau kita gunakan istilah 'oleh', maksudnya adalah pihak yang berqurban. Tentu kalau hewannya berupa kambing hanya dilakukan 'oleh' satu orang saja. Baik maksudnya sebagai pemilik uang atau sebagai orang yang mengiris leher kambing itu.

Sedangkan keluarga dalam hal ini bukan sebagai orang yang menyembelih, melainkan sebagai pihak yang ikut mendapatkan pahalanya. Maka kita tidak menggunakan istilah 'oleh' melainkan istilah 'untuk'. Dan peruntukan ini memang sudah sejalan dengan hadits nabawi berikut ini :

 

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَبَحَ كَبْشًا وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

 

Dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Nabi SAW menyembelih seekor kambing kibash dan membaca,"Bismillah, Ya Allah, terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad". Kemudian beliau berquran dengannya. (HR. Muslim)

Tentu saja yang melakukan ibadah qurban dalam hadits ini cuma seorang saja, yaitu Rasulullah SAW sendirian. Kalaulah disebut 'keluarga Muhammad' dan 'umat Muhammad', maksudnya tidak lain pahalanya 'untuk' mereka.

Sangat tidak masuk akal kalau ditafsirkan bahwa 'keluarga Muhammad'  sebagai pihak yang menyembelih seekor kambing. Bayangkan, jumlah keluarga beliau SAW sangat besar. Istrinya saja sudah sebelas orang, belum lagi putera-puteri beliau ada tujuh orang. Jumlah total ada 18 orang dan belum termasuk para menantu dan cucu-cucu. Tidak masuk akal seekor kambing disembelih secara patungan oleh segitu banyak orang.

Dan lebih tidak masuk akal lagi kalau mau diteruskan dengan istilah 'umat Muhammad'. Jumlahnya menjadi tidak terhingga. Di zaman ketika beliau SAW masih hidup, jumlah shahabat mencapai 124.000 orang. Masak seekor kambing dibeli secara patungan oleh orang senegara? Tidak masuk akal, bukan?

Dan kalau menghitung jumlah umat Muhammad di zaman kita sekarang, tentu jadi lebih tidak masuk akal lagi. Jumlah muslimin sedunia kita pukul rata kurang lebih ada 1,5 miliar jiwa. Jelas tidak logis kalau orang Islam sedunia cuma patungan seekor kambing.

Pahala Untuk Sekeluarga

Barulah masalah penafsiran hadits ini menjadi lebih jelas lagi ketika Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang merupakan salah satu ulama besar dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menegaskannya di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib.

الشاة تجزئ عن واحد فإن ذبحها عنه وعن أهله أو عنه وأشرك غيره في ثوابها جاز

Seekor kambing sah disembelih oleh satu orang. Bila dia menyembelihnya untuk keluarganya atau orang lain dan bersekutu dalam pahalanya maka hukumnya dibolehkan. [2]

Jadi mohon dibedakan istilah 'oleh' dan istilah 'untuk'. Jangan sampai terjadi kerancuan dalam memahami nash-nash syariah.

Satu Keluarga Cukup Satu Kambing

Adapun pernyataan bahwa untuk satu keluarga sudah cukup bila hanya menyembelih satu ekor kambing saja, tentu tidak salah. Sebab di dalam mazhab Asy-Syafi'i memang disebutkan bahwa bila satu orang di dalam satu keluarga sudah menyembelih kambing, maka anggota keluarga itu sudah tidak lagi dibebankan untuk menyembelih.

Istilah yang digunakan dalam hal ini bahwa menyembelih qurban adalah 'sunnah kifayah' bagi satu keluarga. Perbandingannya kira-kira seperti hukum fardhu kifayah, misalnya kalau sudah ada satu orang yang melakukan shalat jenazah, maka gugurlah kewajiban orang lain untuk melakukannya. Sehingga nilainya menjadi sunnah dan bukan wajib.

Maka dalam masalah hukum qurban yang sunnah kifayah, bila sudah ada satu anggota keluarga menyembelih kambing, sudah cukup bagi yang lain tidak perlu lagi menyembelih. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

كُنَّا وُقُوفاً مَعَ النَّبِيِّ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَى كُلِ أَهْلِ بَيْتٍ فيِ كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةِ

Kami wuquf bersama Rasulullah SAW, Aku mendengar beliau bersabda,"Wahai manusia, atas tiap-tiap keluarga menyembelih udhiyah tiap tahun. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmizy)

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama besar di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menyebutkan di dalam kitabnya, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

تجزئ الشاة عن واحد ولا تجزئ عن أكثر من واحد لكن إذا ضحى بها واحد من أهل البيت تأدى الشعار في حق جميعهم وتكون التضحية في حقهم سنة كفاية

Satu ekor kambing untuk satu orang dan tidak boleh dibagi lebih dari satu orang. Namun bila seseorang menyembelih satu kambing, maka syiarnya merata untuk satu keluarga itu sehingga hukum qurban bagi keluarga itu menjadi sunnah kifayah.[3]

Jelas dan tegas, kambing tidak boleh disembelih secara patungan atas beberapa orang. Tetapi begitu salah seorang anggota keluarga menyembelih kambing, maka semua anggota keluarganya akan mendapatkan pahalanya, meski tidak ikut menyembelihnya.

Apakah Bila Ada Yang Mau Menyembelih Lagi Hukumnya Makruh?

Bila salah satu anggota keluarga sudah ada yang menyembelih qurban, lalu ternyata anggota keluarga yang lain juga ingin menyembelinya, lantas apakah hukumnya jadi terlarang?

Dalam hal ini kita tidak menemukan nash yang menyebutkan adanya larangan. Sebab wilayah pembicaraan para ulama bicara sebatas apakah satu keluarga cukup menyembelih seekor kambing saja. Dan tidak sampai kalau lebih dari seekor hukumnya jadi terlarang.

Jadi umumnya para ulama memahami bahwa istilah 'cukup' disini lebih banyak dimaknai sebagai tidak membebani anggota keluar lain. Tetapi kalau ada yang mau berqurban juga, tidak kita temukan nash yang melarangnya. Sebagaimana tidak ada nash yang melarang bila satu orang menyembelih sapi atau unta sendirian dan tidak berpatungan dengan orang lain, tidak ada nash yang melarangnya.

Demikian juga kita tidak menemukan dalil larangan satu keluarga menyembelih lebih dari seekor kambing dengan alasan biar tidak mubadzdzir. Tidak ada satu pun nash baik dalam Al-Quran atau As-Sunnah yang menafsirkan kemubadzdziran itu sampai wilayah qurban lebih dari satu kambing dalam satu keluarga. Yang kita temukan justru Rasulullah SAW menyembelih sendirian lebih dari seekor kambing. Beliau SAW menyembelih dua ekor kambing. Dan tidak ada satu pun ulama yang bilang bahwa itu mubadzdzir.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Badai’ jilid 5 hal. 70, Bidayatul Mujtahid jilid 1 hal. 420, Mughni Al-Muhtaj jilid 4 hal. 285, Al-Muhazzab jilid 1 hal. 238, Al-Mughni jilid 8 hal. 619, Kasysyaf Al-Qanna’ jilid 2 hal. 617.

[2] Zakaria Al-Anshari, Asna Al-Mathqalib, jilid 1 hal. 536

[3] An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 8 hal. 397

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bolehkah Tujuh Orang Patungan Sapi Dengan Niat Berbeda-beda?
28 August 2017, 04:50 | Qurban Aqiqah | 5.898 views
Hubungan Iedul Adha dengan Ibadah Haji
25 August 2017, 12:54 | Haji | 7.202 views
Persamaan dan Perbedaan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha
23 August 2017, 02:02 | Shalat | 15.683 views
Benarkah Haram Potong Rambut dan Kuku Bila Mau Berqurban?
17 August 2017, 15:01 | Qurban Aqiqah | 32.151 views
Bisakah Kita Menjalankan Haji Hanya Dalam 4 Hari?
16 August 2017, 18:25 | Haji | 1.104 views
Berbagai Keringanan dan Rukhshah Dalam Ibadah Haji
13 August 2017, 15:00 | Haji | 922 views
Perbedaan Antara Qurban Dengan Zakat
11 August 2017, 10:45 | Qurban Aqiqah | 10.924 views
10 Penyimpangan Pembagian Waris di Indonesia
8 August 2017, 05:30 | Mawaris | 52.280 views
Iedul Adha Jatuh Hari Jumat, Gugurkah Kewajiban Shalat Jumatnya?
7 August 2017, 17:30 | Shalat | 13.042 views
Kenapa di Indonesia Shubuh Datang Lebih Awal?
4 August 2017, 17:50 | Kontemporer | 2.312 views
Mau Berangkat Haji, Apakah Disunnahkan Shalat Sunnah Sebelumnya?
3 August 2017, 04:30 | Haji | 1.205 views
Benarkah Nilai Mahar Nabi SAW 40 Juta?
21 July 2017, 06:48 | Nikah | 24.900 views
Hukum Pakaian Berbahan Campuran 50% Sutra dan 50% Katun, Bolehkah?
11 July 2017, 03:45 | Umum | 1.870 views
Pembagian Waris Untuk Suami, Tiga Anak Laki dan Satu Anak Perempuan
10 July 2017, 06:29 | Mawaris | 1.661 views
Benarkah Aisyah Bolehkan Laki-laki Dewasa Menyusu Pada Wanita Biar Jadi Mahram?
9 July 2017, 17:02 | Nikah | 22.813 views
Berdosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?
3 July 2017, 01:01 | Hadits | 4.008 views
Benarkah Puasa Syawwal Belum Boleh Dikerjakan Sebelum Qadha Ramadhan?
1 July 2017, 21:20 | Puasa | 1.915 views
Selama Mudik di Kampung Halaman Apakah Kita Boleh Tetap Menjamak-qashar Shalat?
28 June 2017, 04:53 | Shalat | 3.406 views
Mudik Tapi Tidak Shalat, Apakah Berdosa?
27 June 2017, 12:34 | Shalat | 1.972 views
Makna Idul Fithri Bukan Kembali Menjadi Suci?
26 June 2017, 09:35 | Puasa | 58.649 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,883,505 views