Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Belajar Ilmu Fiqih Hanya Lewat Buku? | rumahfiqih.com

Bolehkah Belajar Ilmu Fiqih Hanya Lewat Buku?

Tue 19 April 2016 01:00 | Ushul Fiqih | 11.115 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr.wb .

Mohon izin bertanya terkait dengan belajar dari buku. Apakah dibolehkan kita belajar ilmu fiqih hanya mengandalkan kitab atau buku-buku serta dari internet saja? Ataukah belajar ilmu fiqih itu harus ada gurunya? Bukankah buku itu juga merupakan gudang atau sumbernya ilmu?

Mohon penjelasan dan terima kasih.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Semua orang sepakat bahwa buku adalah gudangnya ilmu. Sampai ada mahfuzhat dalam bahasa Arab yang mengungkapkan betapa bergunanya suatu buku.

خير جليس في الزمان الكتاب

Sebaik-baik teman duduk sepanjang zaman adalah buku.

Dan ilmu fiqih yang luas itu tersimpan di dalam jutaan jilid buku. Maka kalau mau belajar ilmu fiqih tidak bisa tidak, harus punya buku dan membacanya. Kita bersyukur bahwa salah satu wujud tingginya peradaban umat Islam di masa lalu adalah warisan buku-buku fiqih yang berjuta jilidnya.

Yang sudah dicetak dan dijual umum masih terlalu sedikit dibandingkan yang masih dalam bentuk manuskrip (makhthuthat). Sebagian kalangan ada yang memperkirakan bahwa yang sudah tercetak itu paling banyak baru 5% saja. Selebihnya masih tersimpan di museum atau perpustakaan di berbagai penjuru dunia.

Beberapa Kekeliruan Yang Harus Dihindari

Namun dibalik pentingnya sebuah buku, kita juga harus waspada dan cermat. Ketika kita merasa sudah cukup bisa menimba ilmu hanya lewat buku dan merasa tidak butuh penjelasan dari orang yang ahli di bidang itu, maka kita sudah mulai salah arah.

Jangan mentang-mentang buku itu tempat dituliskannya ilmu, lantas kita berpikir bahwa kita sudah tidak lagi butuh guru yang mengajar secara langsung. Sebab biar bagaimana pun, buku itu sendiri ditulis oleh guru juga. Dan apa yang disampaikan oleh seorang guru kepada muridnya secara langsung tentu akan jauh lebih akurat dan lebih mudah dipahami, ketimbang sekedar hanya membaca bukunya.

Biasanya dalam keseharian kita, bila kita punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan penulis sebuah buku yang pernah kita baca, maka kita pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Buat apa? Toh bukunya sudah kita baca, bukan?

Jawabannya sederhana saja, yaitu dengan bertemu langsung dengan penulis buku, maka kita bisa menggali lebih jauh hal-hal yang barangkali belum sempat dituliskan dalam buku itu. Atau kita bisa mengkonfirmasi informasi yang kita baca langsung kepada penulisnya.

1. Salah Paham

Kesalahan yang sering terjadi pada orang yang belajarnya hanya lewat baca buku adalah seringnya terjadi salah paham terhadap isi buku. Boleh jadi maksud penulis buku ke Utara tetapi dipahami oleh pembacanya malah ke Selatan. Tentu Utara itu bukan Selatan. Utara adalah lawan dari Selatan.

Maka kita butuh guru untuk menjelaskan apa-apa yang sekiranya bisa membuat kita salah paham terhadap apa yang kita baca dari sebuah buku.

2. Sama Sekali Tidak Paham

Kekeliruan kedua ini lebih parah dari kekeliruan pertama di atas, yaitu orang yang baca buku seringkali malah sama sekali tidak paham isi buku itu. Walaupun sudah dibolak-balik dari awal ke akhir dan dari akhir ke awal, tetap saja gagal paham.

Keadaan ini tentu saja mengerikan. Bagaimana tidak, ketika kita merasa sudah membaca suatu buku, ternyata kita sama sekali tidak paham apa isinya. Ujung-ujungnya buku itu hanya menjadi bantal untuk tidur saja.

3. Keliru Terjemahan

Buku-buku fiqih yang dijual di negeri kita kebanyakan adalah buku terjemahan dari bahasa Arab. Yang menjadi masalah adalah kualitas terjemahannya yang rata-rata bukan hanya tidak akurat, tetapi malah jauh keluar dari maksud penulis aslinya.

Seringkali sebuah buku dalam bahasa Arab diterjemahkan oleh mereka yang sama sekali tidak punya kompetensi untuk melakukan terjemah. Baru duduk di bangku kursus bahasa Arab dua minggu lantas sudah merasa pandai dan latah mau menerjemahkan buku. Lalu sedikit-sedikit buka kamus Arab Indonesia karena miskin kosa kata, tidak mengerti uslub bahasa Arab, tidak punya dzauq (taste) dalam tarkib bahasa Arab.

Akhirnya sebuah paragraf yang panjang itu diterjemahkan secara kata per kata. Hasilnya menjadi aneh dan si penerjemahnya sendiri pun tidak paham atas apa yang dia tulis sendiri. Ini bukan sekedar musibah tetapi ini adalah bencana.

Padahal setiap disiplin ilmu yang tertulis dalam buku tidak mudah dipahami begitu saja oleh mereka yang bukan ahli di bidang ilmu tersebut. Sebutlah misalnya buku diktat kuliah ilmu kedokteran. Penulisnya pastilah dokter ahli di bidang kedokteran dan yang bisa membacanya dengan mudah hanyalah para mahasiswa kedokteran saja. Sedangkan buat kita yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu kedokteran, meskipun diktat kuliah itu berbahasa Indonesia, tetap saja kita akan mengalami 'gagal paham', meski sudah dibolak-balik seratus kali.

Kitab fiqih dalam bahasa Arab hanya bisa dipahami oleh mereka yang sedang menekuni ilmu fiqih, setidaknya para mahasiswa yang duduk di bangku fakultas syariah. Itu pun mereka tetap harus datang kuliah biar bisa menerima penjelasan dosen. Dan tidak mungkin bisa lulus ujian dengan hanya mengandalkan diktat kuliah saja dengan belajar sendiri di rumah.

Kalau si penerjemah sama sekali tidak pernah belajar ilmu fiqih, tidak paham berbagai istilah, tidak tahu hukum-hukum fiqih, tidak punya basic dasar ilmu fiqih, sudah bisa dipastikan dia akan kesulitan memahami isi teks buku bahasa Arab itu. Kalau teks bahasa Arabnya saja tidak paham, bagaimana dia mau menerjemahkannya?

4. Penerjemah Bukan Penulis Yang Baik

Anggaplah misalnya seorang penerjemah itu mahasiswa fakultas syariah, tiap hari belajar ilmu fiqih. Tetapi kalau kemampuan menulisnya nol, maka meski dia tahu isi buku aslinya, dia belum tentu mampu menuliskan terjemahannya.

Untuk itu sangat dibutuhkan kemahiran dalam menulis. Namun yang sering kita dapati memang menyedihkan sekali. Para penerjemah itu jangankan menuliskan kembali tulisan orang dari bahasa Arab, kalaupun dia sendiri menuliskan apa yang ada di dalam pikirannya, maka hasil tulisannya sama sekali tidak bisa dipahami orang. Bahkan dirinya pun juga tidak paham apa yang ditulisnya sendiri.

Dengan kualitas penerjemah gadungan macam ini, lantas bagaimana sebuah kitab fiqih bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan benar?

5. Keliru Ternyata Bukan Buku Fiqih

Kesalahan nomor ini terletak pada bukunya. Banyak orang yang keliru belajar fiqih bukan dari buku fiqih, tetapi malah memakai buku hadits. Sangat-sangat keliru ketika belajar fiqih malah pakai kitab hadits, meski pun kitab-kitab hadits itu shahih semuanya.

Sebab isi teks hadits sama sekali tidak bisa menjelaskan hukum yang terkandung di dalamnya. Hadits-hadits itu hanyalah sumber dari ilmu fiqih yang masih membutuhkan penjelasan panjang lebih lanjut. Penjelasan atas kandungan isi hadits itulah yang kita sebut dengan ilmu fiqih.

6. Keliru Ternyata Buku Fiqih Versi Haters

Dan yang paling parah adalah ketika salah paham atas otentifitas suatu buku. Kita mengira buku yang kita baca itu buku yang berisi ilmu fiqih, ternyata setelah diteliti lebih jauh, bukan itu bukan buku fiqih.

Buku itu ternyata kumpulan pendapat pribadi seseorang yang isinya justru menyalahi sebagian besar ilmu fiqih.

Alih-alih belajar ilmu fiqih, yang terjadi kita malah keracunan pendapat para 'fiqih heaters' alias para pembenci ilmu fiqih. Ujung-ujungnya kita malah mencaci-maki para ulama dan fuqaha, karena terkena hasutan tulisan-tulisan sesat yang provokatif.

Kekeliruan demi kekeliruan inilah yang pada gilirannya mengharuskan kita berguru kepada ahlinya dan tidak semata-mata mengandalkan buku.

Untuk belajar ilmu fiqih, kita butuh guru yang ahli di bidang ilmu fiqih, kuliahnya secara formal memang di fakultas syariah, kitab-kitab yang dijadikan rujukan memang asli kitab fiqih. Dan ilmu itu tidak bisa disampaikan lewat apa yang ditulis semata, tetapi harus melalui interaksi antara guru dan murid.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Pengertian Air Mustakmal Menurut Empat Mazhab Apakah Berbeda-beda?
18 April 2016, 03:40 | Thaharah | 16.167 views
Uang Muka Hangus, Haramkah Hukumnya?
16 April 2016, 12:11 | Muamalat | 28.214 views
Bagaimana Cara Kita Memahami Ayat-ayat Sain di dalam Al-Quran?
15 April 2016, 18:40 | Quran | 6.461 views
Khamar dan Alkohol Apakah Najis?
14 April 2016, 14:30 | Kuliner | 9.586 views
Makanan Halal
13 April 2016, 01:31 | Kuliner | 8.456 views
Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama?
12 April 2016, 11:01 | Nikah | 20.426 views
Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan
11 April 2016, 11:10 | Muamalat | 8.702 views
Menikahkan Wanita Hamil, Ayahnya Tidak Merestui
9 April 2016, 01:45 | Nikah | 10.866 views
Jual Beli Online Haramkah?
8 April 2016, 04:09 | Muamalat | 13.424 views
Hukum Menjual Dropshipping, Apakah Halal?
6 April 2016, 05:04 | Muamalat | 193.321 views
Islam Dituduh Haus Darah, Bagaimana Menjawabnya?
2 April 2016, 14:42 | Aqidah | 11.693 views
Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh
24 March 2016, 17:00 | Wanita | 15.276 views
Apakah Anak Hasil Zina Dapat Warisan?
23 March 2016, 02:56 | Mawaris | 13.507 views
Benarkah Yang Dimakan Nabi Adam adalah Buah Khuldi?
22 March 2016, 06:01 | Aqidah | 21.834 views
Habis Wudhu, Mana Lebih Utama Dilap Atau Dibiarkan?
18 March 2016, 11:55 | Thaharah | 81.240 views
Mau Belanja Online Bolehkah Pinjam Kartu Kredit Milik Teman?
16 March 2016, 11:30 | Muamalat | 7.102 views
Catatan 8 Kali Gerhana di Masa Nabi SAW
10 March 2016, 00:01 | Umum | 6.234 views
Jakarta Mengalami Gerhana Cuma 88% Persen, Masihkah Disyariatkan Shalat Gerhana?
7 March 2016, 11:30 | Shalat | 10.330 views
Istilah Quran Yang Beda Antara Makna Harfiyah dan Maksudnya
1 March 2016, 11:00 | Quran | 12.418 views
LGBT : Operasi Ganti Kelamin, Haramkah?
15 February 2016, 10:23 | Kontemporer | 15.178 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,532,587 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:40 | Ashar 15:04 | Maghrib 17:55 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img