Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kapan Peran Ayah sebagai Wali Nikah Boleh Digantikan? | rumahfiqih.com

Kapan Peran Ayah sebagai Wali Nikah Boleh Digantikan?

Sat 30 July 2016 23:00 | Nikah | 12.588 views

Pertanyaan :

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Ustadz yang baik, mohon tulis nama saya dengan sebutan Ukhti saja untuk menghindari kesalahpahaman atau menjaga kebaikan seseorang. Syukron.

Ustadz, jika seorang ayah masih hidup dan masih sehat, bisakah perannya sebagai wali digantikan oleh orang lain karena beliau tidak menyetujui calon suami anaknya? Kalau boleh, dalam kondisi seperti apa yang membolehkan dan siapa yang boleh menggantikan? Adakah landasan hukum yang kuat untuk hal ini?

Jazakallahu khairan katsira,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Izin dari seorang wali itu memang harus didapat dan tidak boleh didapat dengan cara merampasnya begitu saja. Ketidak-setujuan orang ayah kandung untuk menikahkan puterinya dengan seseorang perlu dihormati sepenuhnya.

Bukan apa-apa, sebab di dalam syariah Islam, kedudukan ayah kandung itu memang sangat tinggi, mulia dan 'berkuasa mutlak'. Dan hal itu wajar kalau kita merunut ke belakang, bukankah seorang puteri tidak akan pernah lahir ke dunia ini kalau bukan dari benih sang ayah kandung? Mau diapakan pun, tetap saja darah yang mengalir di tubuh seorang wanita itu adalah darah sang ayah.

Bahkan DNA yang dimilikinya sesuai dengan DNA sang Ayah, di mana DNA itu tidak mungkin diganti atau ditukar selamanya.

Jadi wajar bila di dalam syariah, kedududkan ayah kandung sebagai wali sudah sangat kuat dan mutlak. Apalagi mengingat bahwa yang berkewajiban secara syar'i untuk memberi nafkah, melindungi, menemani dan mendidikannya pun juga si ayah itu.

Tidak ada celah sedikit pun buat seorang wanita untuk menikah dengan siapapun kecuali atas wewenang sang ayah. Salah besar bila orang menafikan kedudukan ayah dalam urusan pernikahan. Bahkan idealnya, seorang wanita tidak boleh mencari pasangan hidup sendiri, kecuali setelah berdiskusi dengan ayahnya. Kalau sampai secara diam-diam seorang wanita menjalin hubungan dengan laki-laki, lalu ternyata sang ayah tidak setuju, maka kewajiban anak itu adalah patuh kepada sang ayah.

Dia harus melepaskan calon pilihannya dan ikut dengan kehendak ayah. Semua itu adalah salahnya sendiri, sebab seorang wanita dalam Islam tidak pernah berada dalam kapasitas menentukan pasangan hidupnya kecuali atas izin dan kerelaan sang ayah. Paling tidak, ayah punya nilai share yang tidak bisa dinafikan.

Ibarat dua orang memiliki benda secara sharing, maka salah satu pihak tidak boleh secara sepihak menjual benda itu atau menyewakannya kepada orang lain. Kecuali setelah ada kesepakatan antara keduanya.

Contoh lainnya yang juga bisa mendekatnya persoalan misalnya, seperti seorang tinggal di rumah orang tuanya. Meski dia berhak tinggal di situ, tetapi biar bagaimana pun rumah itu milik orang tuanya. Si anak tidak bisa secara sepihak tiba-tiba menawarkan rumah itu kepada orang lain untuk dijual. Kalau sampai ada orang tertarik untuk membeli rumah itu, lalu si ayah sebagai pemilik rumah tidak setuju, si anak tidak punya hak untuk memaksa menjual. Sebab rumah itu milik si ayah, bukan milik si anak. Kalau sengketa ini dibawa ke pengadilan, sudah pasti anak dan calon pembelinya kalah, bahkan bisa dipenjara. Karena menjual barang yang bukan haknya.

Demikian juga dalam kasus wali nikah, kalau si puteri memaksa kawin lari dengan laki-laki pilihannya dan menginjak-injak wewenang sang ayah, dia sudah berdosa sekaligus durhaka kepada ayahnya. Dan yang penting, pernikahannya itu tidak sah dalam hukum Islam. Kalau melakukan hubungan suami istri, itu adalah zina dengan dosa yang sangat besar dan wajib dirajam/cambuk.

Maka sejak dini seorang wanita harus tahu bahwa kedudukan sang ayah bagi dirinya memang sangat mutlak. Maka ajaklah, dekatilah, ikutilah dan turutilah beliau sejak awal mula memilih calon suami, agar jangan sampai beliau menolak di tengah jalan.

Wali Selain Ayah

Wali selain Ayah kandung bisa saja dilaksanakan, asalkan dilakukan lewat satu dari beberapa cara, antara lain :

1. Ayah Kandung Mewakilkan Kewaliannya Kepada Orang Lain

Bila seorang Ayah kandung dengan sepenuh keridhaannya memberikan wewenang kepada orang lain untuk menjadi wakilnya atas anak kandung puterinya, maka dalam hal ini yang menjadi wali nikah boleh orang lain yang menjadi wakil itu.

Tidak ada syarat apa pun kecuali memang syarat yang berlaku sebagai wali, yaitu muslim, akil, baligh, laki-laki, merdeka dan adil. Adil disini maksudnya bukan orang fasik yang mengerjakan dosa besar secara terang-terangan di muka publik.

Sedangkan apakah harus ada hubungan darah, maka hal itu bukan syarat untuk menjadi wakil dari wali yang asli. Jadi bisa saja siapapun menjadi wakil atas ayah kandung.

Syarat yang paling utama adalah adanya penyerahan wewenang dari ayah kandung kepada dirinya. Tanpa adanya mandat ini, maka posisinya sebagai wakil tidak sah.

2. Ayah Kandung Wafat

Ketika seorang meninggal dunia, tentu saja dirinya tidak bisa menjadi wali atas anak gadisnya yang menikah.

Kalau sebelum wafat almarhum sempat berpesan untuk menunjuk seseorang menjadi wakil atas dirinya, maka orang yang diwasiatkan itulah yang menjadi wali berikutnya.

Namun apabila tidak ada wasiat atau pesan apapun, maka yang menjadi wali adalah urutan wali yang berikutnya dari nasab sang ayah.

Dan bila sama sekali tidak ada satu pun yang tersisa dari nasab ayah untuk menjadi wali, maka yang menjadi wali adalah kepala negara dan jajarannya, sebagai wakil dari pemerintahan yang sah.

3. Ayah Kandung Kehilangan Hak Kewaliannya

Seorang ayah kandung akan gugur wewenangnya sebagai wali apabila dia kehilangan syarat dasar dari seorang wali. Syarat dasar yang harus dimiliki oleh seorang wali nikah adalah 

a. Muslim

Bila ayah kandung bukan muslim, maka posisinya sebagai wali dengan sendirinya gugur. Dalam hal ini yang menjadi wali adalah urutan wali berikutnya dari nasab ayah, tentunya yang juga memenuhi syarat dasar seorang wali. Bila tidak ada satu pun, maka walinya adalah pemerintah yang sah.

b. Akil

Ayah kandung yang gila atau tidak waras tentu kehilangan haknya untuk menjadi wali. Sebab orang gila tidak paham apa yang sedang dilakukannya.

c. Baligh

Ayah kandung sebenarnya tidak mungkin belum baligh. Syarat ini berlaku untuk orang yang akan menjadi pengganti atau wakil dari ayah kandung.

d. Laki-laki

Syarat seorang wali nikah harus laki-laki. Dan seorang ayah sudah pasti laki-laki, setidaknya ketika menikahi istrinya dan bisa berhasil punya anak.

Namun seandainya sang ayah suatu hari melakukan operasi ganti kelamin dan dinyatakan sah sebagai perempuan secara syar'i, otomatis dia kehilangan hak dan wewenangnya sebagai wali.

e. Merdeka

Budak di masa lalu tidak berhak untuk menjadi wali atas anak gadisnya sendiri

f. Adil

Syarat ini sebenarnya agak sedikit menjadi khilaf para ulama, namun umumnya para ulama menyebutkan bahwa setidaknya seorang wali nikah itu tidak boleh seorang pendosa besar yang secara terang-terangan menentang agama Allah.

Urutan Wali Nikah

Adapun siapa saja orang yang termasuk dalam daftar urutan wali nikah, sudah pernah saya tuliskan artikelnya, silahkan lihat disini http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1142501333&title=urutan-wali-nikah

Wallahu a'lam bishshawab wasslamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Sulit Memahami Terjemahan Al-Quran
29 July 2016, 10:24 | | 9.760 views
Bagaimana Ketentuan dan Tata Cara Mengqadha' Shalat?
27 July 2016, 16:30 | | 101.130 views
Tidak Ada Air Untuk Wudhu Tidak Ada Tanah Untuk Tayammum
22 July 2016, 06:20 | | 6.497 views
Makna Iedul Fithri dan Hubungannya Dengan Tradisi
16 July 2016, 19:59 | | 2.348 views
Apakah Bayi Wafat Karena Keguguran Harus Dishalati?
4 July 2016, 05:15 | | 7.358 views
Apakah Harta Bisa Kena Zakat Dua Kali?
3 July 2016, 09:12 | | 9.440 views
Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah?
1 July 2016, 04:35 | | 12.929 views
Sesama Pendukung Zakat Profesi Masih Beda Pendapat
28 June 2016, 08:00 | | 8.862 views
Puasa Sudah Batal, Apakah Masih Wajib Berimasak Menahan Diri Dari Makan dan Minum?
22 June 2016, 13:21 | | 6.880 views
Tukar Uang Receh Menjelang Lebaran, Ribakah?
21 June 2016, 02:34 | | 13.105 views
Puasalah Kamu Akan Sehat, Ternyata Hadits Palsu?
16 June 2016, 02:19 | | 16.846 views
Zakat untuk Janin
14 June 2016, 15:22 | | 5.215 views
Junub dalam Keadaan Puasa Dapat Membatalkan Puasa?
8 June 2016, 02:00 | | 7.324 views
Menikahi Wanita Hamil, Haruskah Nikah Ulang Pasca Kelahiran?
7 June 2016, 02:47 | | 70.613 views
Doa Buka Puasa Allahumma Laka Shumtu Bukan Hadits Shahih?
6 June 2016, 08:45 | | 12.187 views
Amalan Nisfu Syaban
22 May 2016, 02:20 | | 26.773 views
Hadits Tentang Nisfu Sya'ban dan Dalil-Dalilnya
21 May 2016, 05:05 | | 299.706 views
Hukum Hadiah dari Suatu Perlombaan yang Berasal dari Uang Pendaftaran
18 May 2016, 05:00 | | 20.423 views
Benarkah Hukum Imunisasi Mutlak Haram?
14 May 2016, 04:50 | | 46.179 views
Metode Hisab Untuk Penetapan Ramadhan & Syawwal
11 May 2016, 06:15 | | 7.652 views
Haruskah Kita Berobat Dengan Pengobatan Nabawi?
9 May 2016, 07:00 | | 9.434 views
Bolehkah Menjamak Shalat Tanpa Sebab Safar, Takut atau Hujan
7 May 2016, 08:45 | | 14.596 views
SMS Berhadiah PILDACIL, Haramkah?
29 April 2016, 16:36 | | 5.067 views
Mengapa Zakat Hadiah Tidak Bisa Diqiyas Dengan Zakat Rikaz
28 April 2016, 18:00 | | 5.140 views
Mereka Yang Diharamkan Berfatwa
24 April 2016, 20:22 | | 7.699 views
Memanggil 'Mama' untuk Isteri Termasuk Zhihar?
23 April 2016, 08:01 | | 10.884 views
Benarkah Zakat Profesi Itu Cuma Hasil Ijtihad?
22 April 2016, 06:41 | | 16.726 views
Perawat Wanita Pegang Pasien Pria, Bolehkah?
21 April 2016, 07:55 | | 7.633 views
Mengapa Anak Usia di Bawah Tujuh Tahun Belum Dianjurkan Diajak ke Masjid?
20 April 2016, 04:30 | | 32.656 views
Bolehkah Belajar Ilmu Fiqih Hanya Lewat Buku?
19 April 2016, 01:00 | | 5.770 views
Pengertian Air Mustakmal Menurut Empat Mazhab Apakah Berbeda-beda?
18 April 2016, 03:40 | | 3.387 views
Uang Muka Hangus, Haramkah Hukumnya?
16 April 2016, 12:11 | | 13.470 views
Bagaimana Cara Kita Memahami Ayat-ayat Sain di dalam Al-Quran?
15 April 2016, 18:40 | | 2.944 views
Khamar dan Alkohol Apakah Najis?
14 April 2016, 14:30 | | 3.084 views
Makanan Halal
13 April 2016, 01:31 | | 5.789 views
Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama?
12 April 2016, 11:01 | | 12.145 views
Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan
11 April 2016, 11:10 | | 2.567 views
Benarkah Aisyah Bolehkan Laki-laki Dewasa Menyusu Pada Wanita Biar Jadi Mahram?
10 April 2016, 04:02 | | 17.765 views
Menikahkan Wanita Hamil, Ayahnya Tidak Merestui
9 April 2016, 01:45 | | 7.244 views
Jual Beli Online Haramkah?
8 April 2016, 04:09 | | 8.449 views
Hukum Menjual Dropshipping, Apakah Halal?
6 April 2016, 05:04 | | 107.529 views
Islam Dituduh Haus Darah, Bagaimana Menjawabnya?
2 April 2016, 14:42 | | 8.254 views
Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh
24 March 2016, 17:00 | | 10.161 views
Apakah Anak Hasil Zina Dapat Warisan?
23 March 2016, 02:56 | | 8.102 views
Benarkah Yang Dimakan Nabi Adam adalah Buah Khuldi?
22 March 2016, 06:01 | | 8.265 views
Habis Wudhu, Mana Lebih Utama Dilap Atau Dibiarkan?
18 March 2016, 11:55 | | 43.553 views
Mau Belanja Online Bolehkah Pinjam Kartu Kredit Milik Teman?
16 March 2016, 11:30 | | 3.376 views
Catatan 8 Kali Gerhana di Masa Nabi SAW
10 March 2016, 00:01 | | 3.152 views
Jakarta Mengalami Gerhana Cuma 88% Persen, Masihkah Disyariatkan Shalat Gerhana?
7 March 2016, 11:30 | | 7.350 views
Istilah Quran Yang Beda Antara Makna Harfiyah dan Maksudnya
1 March 2016, 11:00 | | 4.536 views

TOTAL : 2.278 tanya-jawab | 20,466,636 views