Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Rajam Syarat Diterimanya Taubat? | rumahfiqih.com

Apakah Rajam Syarat Diterimanya Taubat?

Fri 19 April 2013 23:43 | Jinayat | 21.271 views

Pertanyaan :
Assalammu'alaikum

Ustadz, saya ingin bertanya. Saya telah mendengar dari perkataan dosen ushul fiqh saya, bahwasanya jikalau orang yang berzina itu tidak akan diampuni dosanya, terkecuali orang tersebut harus dirajam.

Dan tidak akan bisa diampuni oleh tebusan kebaikan apapun. Karena hukuman orang yang berzina itu dalam islam, tidak ada cara lain, yaitu harus dirajam. Yang sampai saat ini ada dipikiran saya, zaman sekarang bagaimana orang yang berzina bisa dihukum rajam, sedangkan bila hukuman itu terlaksana, itu akan melanggar HAM di indonesia saat ini?

Apakah benar, jalan satu-satunya agar dapat diampuni dosa orang berzina tersebut hanya dirajam saja ustadz? Dan bila org itu (yang berzina) tidak dirajam sampai sepeninggalnya, apakah ia akan mempunyai hutang di dunia dan tidak akan diampuni dosa berzinanya itu?

Mohon jawaban dari ustadz. Jazakumullahulakum katsiran. Rj

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Benar sekali bahwa hukuman buat orang yang berzina adalah rajam, yaitu hukuman mati dengan cara dilempari batu.

Namun walaupun demikian, perlu diketahui bahwa rajam bukan satu-satunya hukuman. Selain rajam, juga ada hukuman cambuk 100 kali buat pezina. Bahkan hukum cambuk malah didasari langsung dengan ayat Al-Quran :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali. Dan janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu dari menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman. (QS. An-Nuur : 2)

Sedangkan dasar masyru'iyah rajam kita dapati pada hadits Nabi :

وَاغْدُ يَا أُنَيْس عَلىَ امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا

Wahai Unais, datangi wanita itu dan bila dia mengaku zina maka rajamlah

Lalu kapan orang yang berzina itu dihukum rajam dan kapan dihukum cambuk?

Rajam adalah hukuman khusus buat orang yang berzina dengan status muhshan, yaitu sudah menikah. Sedangkan cambuk 100 kali adalah hukuman buat yang belum menikah. 

Baik rajam atau pun cambuk 100 kali, sama-sama disepakati oleh para ulama sebagai hukum hudud, yaitu hukuman yang cara dan bentuknya 100% ditetapkan oleh Allah SWT secara langsung.

Syarat Diterapkannya Hukum Rajam

Benar sekali bahwa orang yang terlanjur berzina, dia harus menjalani hukuman sesuai dengan ketentuan dari Allah SWT, yaitu dihukum rajam atau cambuk.

Namun untuk menjalankan hukum rajam dan cambuk itu, Allah SWT juga telah mengatur dan membuat syarat serta ketetapan yang wajib dilaksanakan. Salah satunya adalah mengharuskan hakim untuk menghindari keduanya, selama masih ada syubuhat. Rasulullah SAW bersabda :

اِدْرَؤُوا الحُدُودَ باِلشُّبُهَاتِ

Hindarilah hukum hudud dengan masih adanya syubuhat.

Ada beberapa syarat untuk dapat menerapkan hukum rajam dan hukum-hukum hudud lainnya, antara lain :

1. Wilayah Hukum Resmi

Hukum rajam dan hukum-hukum syariah lainnya harus diberlakukan secara resmi terlebih dahulu sebuah wilayah hukum yang resmi menjalankan hukum Islam.

Di dalam wilayah hukum itu harus ada masyarakat yang melek hukum syariah, sadar, paham, mengerti dan tahu persis segala ketentuan dan jenis hukuman yang berlaku. Ditambahkan lagi mereka setuju dan ridha atas keberlakuan hukum itu.

2. Adanya Mahkamah Syar'iyah

Pelaksanaan hukum rajam itu hanya boleh dijalankan oleh perangkat mahkamah syar'iyah yang resmi dan sah. Mahkamah ini hanya boleh dipimpin oleh qadhi yang ahli di bidang syariah Islam. Qadhi ini harus ditunjuk dan diangkat secara sah dan resmi oleh negara, bukan sekedar pemimpin non formal.

3. Peristiwa Terjadi di Dalam Wilayah Hukum

Kasus zina dan kasus-kasus jarimah lainnya hanya bisa diproses hukumnya bila kejadiannya terjadi di dalam wilayah hukum yang sudah menerapkan syariah Islam di atas.

Sebagai ilustrasi, bila ada orang Saudi berzina di Indonesia, tidak bisa diproses hukumnya di wilayah hukum Kerajaan Saudi Arabia. Dan sebaliknya, meski berkebangsaan Indonesia, tetapi kalau berzina di wilayah hukum Kerajaan Saudi Arabia, harus dijatuhi hukum rajam.

4. Terpenuhi Semua Syarat Bagi Pelaku Zina

Tidak semua pelaku zina bisa dijatuhi hukum rajam. Setidaknya-tidaknya dia harus seorang muhshan yang memenuhi syarat-syarat berikut, yaitu beragama Islam, usianya sudah mencapai usia baligh, sehat akalnya alias berakal, berstatus orang merdeka dan bukan budak, iffah dan sudah menikah (tazwij).

Bila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka hukum rajam batal demi hukum, tidak bisa dilaksanakan, malah hukumnya terlarang berdasarkan syariat Islam.

5. Kesaksian 4 Orang Atau Pengakuan Sendiri

Untuk bisa diproses di dalam mahkamah syar'iyah, kasus zina itu harus diajukan ke meja hijau. Hanya ada dua pintu, yaitu lewat kesaksian dan pengakuan diri sendiri pelaku zina.

Bila lewat kesaksian, syaratnya para saksi itu harus minimal berjumlah 4 orang, semuanya laki-laki, akil, baligh, beragama Islam, dan semuanya melihat langsung peristiwa masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan yang berzina, secara langsung dan bukan dengan rekaman, di waktu yang bersamaan.

Saking susahnya syarat kesaksian ini, maka dalam kenyataannya Rasulullah SAW sendiri belum pernah menjatuhkan hukum rajam pada kasus-kasus zina yang didasarkan pada kesaksian orang lain. Selama tiga kali kasus pezina dijatuhi hukuman rajam, semuanya didasarkan hanya pada pengakuan yang bersangkutan.

Maka kalau kita simpulkan, betapa sulitnya penerapan hukum rajam ini, bahkan Rasulullah SAW tidak bisa menerapkan hukuman ini seenaknya saja. Beliau pernah menolak wanita yang menyerahkan dirinya untuk dirajam, lantaran masih banyak syarat yang tidak terpenuhi.

Apakah Rajam Menjadi Syarat Diterimanya Taubat?

Maka kalau rajam ini dijadikan syarat diterimanya taubat, rasanya agak berlebihan. Agak kurang tepat kalau dikatakan bahwa dilaksanakannya hukuman ini bukan menjadi syarat  diampuninya dosa. Masalanya meski yang berzina rela dirajam, belum tentu hukum rajamnya bisa diterapkan.

Lantas apakah pelaku zina itu jadi tidak bisa diterima taubatnya, cuma gara-gara secara prosedur tidak dimungkinkan pelaksanaan hukuman rajam?

Jawabannya tentu tidak. Urusan ampunan itu tidak ada kaitannya langsung dengan pelaksanaan hukum rajam. Urusan ampunan itu ditentukan dari apakah pelakunya bertaubat atau tidak.

Jadi walaupun seorang pezina dijatuhi hukum rajam, tetapi bila di dalam dirinya sendiri dia tidak bertaubat, maka tidak akan diampuni. Sebaliknya, meski tidak diterapkan hukum rajam dengan berbagai problematikanya, asalkan seorang pezina sudah bertaubat, tentu Allah SWT Maha Pengampun. Kita tidak bilang pasti diterima taubatnya, namun kita tahu Allah SWT Maha Penerima taubat.

Tentu kita tetap wajib menegakkan hukum syariat, termasuk di dalamnya hukum rajam. Namun langkahnya harus runtut, yaitu mulai dari pendidikan hukum Islam di semua lini kehidupan. Kalau bangsa ini bisa kita cerdaskan, sehingga melek hukum syariah, amatlah mudah mendirikan wilayah hukum yang secara resmi menerapkan hukum Islam.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Benarkah Mentalak Istri Waktu Haid Haram Hukumnya?
18 April 2013, 18:13 | Nikah | 6.220 views
Hadits Ahad Bukan Hujjah Dalam Aqidah, Benarkah?
18 April 2013, 00:07 | Aqidah | 8.201 views
Bolehkah Menikah Tanpa Restu Orang Tua Pihak Lelaki?
16 April 2013, 22:40 | Nikah | 44.431 views
Bernyanyi di Karaoke Keluarga, Haramkah? (bag.2)
16 April 2013, 00:23 | Umum | 9.044 views
Bernyanyi di Karaoke Keluarga, Haramkah?
15 April 2013, 21:59 | Umum | 14.880 views
Pengantin Pria di Luar Negeri, Bisakah Akad Nikah?
14 April 2013, 23:00 | Nikah | 7.629 views
Bila Puasa Sudah Terlanjur Batal, Bolehkah Bersetubuh?
14 April 2013, 00:01 | Puasa | 32.173 views
Bolehkah Memutuskan Sesuatu Berdasarkan Undian?
13 April 2013, 04:51 | Kontemporer | 5.891 views
Hukum Shalat Tasbih, Bid'ahkah?
12 April 2013, 02:14 | Shalat | 16.798 views
Bercumbu dengan Isteri di Siang Hari Bulan Ramadhan
10 April 2013, 17:03 | Puasa | 7.076 views
Halalkah Makan dari Piring Non Muslim?
9 April 2013, 03:23 | Kuliner | 14.052 views
Sholat Jum'at di Negara Mayoritas Penduduknya Bukan Muslim
9 April 2013, 00:42 | Shalat | 6.083 views
Adakah Bangkai Yang Halal?
8 April 2013, 02:27 | Kuliner | 9.031 views
Tata Cara Shalat Taubat dan Doanya
7 April 2013, 23:35 | Shalat | 136.127 views
Mencukur Jenggot, Haramkah?
7 April 2013, 08:09 | Umum | 39.831 views
Uang Syubhat untuk Bayar Pajak?
5 April 2013, 21:19 | Muamalat | 6.130 views
Baca Al-Fatihah Sesudah Imam : Apa Tidak Terburu-buru?
4 April 2013, 23:47 | Shalat | 13.168 views
Memahramkan Anak Suami, Bisakah?
4 April 2013, 01:09 | Nikah | 6.497 views
Harta Isteri Menjadi Hak Isteri, Apa Dasarnya?
2 April 2013, 20:34 | Wanita | 8.177 views
Ragu Diundang Makan di Rumah Non Muslim
1 April 2013, 00:28 | Kuliner | 7.300 views

TOTAL : 2.289 tanya-jawab | 21,485,799 views