Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Haram Bila Meminta Mahar Yang Mahal? | rumahfiqih.com

Apakah Haram Bila Meminta Mahar Yang Mahal?

Wed 18 February 2015 01:00 | Nikah | 8.233 views

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Mohon izin ustadz untuk menyampaikan pertanyaan seputar nilai mahar.

Pertanyannya apakah dalam syariat Islam ini ada ketentuan bahwa nilai mahar itu harus murah dan kecil? Apakah berdosa bila pihak keluarga pengantin perempuan meminta nilai mahar yang agak lebih sesuai dengan tingkat sosial mereka? Bagaimana pandangan yang adil dan moderat dalam masalah ini, mohon penjelasan dari ustadz semoga berkenan.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang kita sering mendengar sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya terkait dengan anjuran untuk tidak membuat nilai mahar itu tinggi. Di antaranya adalah hadits berikut ini :

اِنَّ اَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً اَيْسَرُهُ مَئُوْنَةً

Dari ‘Aisyah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Nikah yang paling besar berkahnya yaitu yang paling ringan maharnya”. (HR. Ahmad)

Namun hadits ini tidak boleh dipahami secara ektrim sehingga justru malah menghilangkan hak-hak wanita dalam menetapkan mahar. Para wanita tetap punya hak 100% untuk menetapkan harga mahar yang sesuai dengan tingkat sosial dan kedudukan keluarga penganti wanita. Dan juga bukan berarti kita harus menghapuskan semua mahar kecuali yang murah-murah saja.

Hadits ini hanya sekedar mengantisipasi sebuah kecenderungan yang pernah terjadi di masa lalu, dimana muncul persaingan di atara para keluarga pengantin wanita dalam membuat 'tarif' mahar, sehingga angkanya menjadi melonjak gila-gilaan tidak terjangkau.

Para orang tua pengantin wanita akan saling membanggakan nilai mahar puteri-puteri mereka dalam perbincangan dengan sesama teman dan kolega. Siapa yang mendapatkan nilai mahar yang paling tinggi, namanya akan menjadi harum dan disebut-sebut orang dalam tiap pembicaraan.

Di sisi lain, di tengah para pengantin pria pun juga terjadi saling berlomba yang sama. Perlu diketahui bahwa pernikahan yang biasa mereka lakukan tidak seperti yang kita lakukan saat ini di negeri kita yang hanya sebatas pernikahan antara perjaka yang masih muda dengan calon istrinya.

Perkawinan yang mereka lakukan justru kebanyakannya malah poligami, dimana para pria dewasa yang sudah matang dan umumnya kaya raya serta sudah berkeluarga pula, berlomba-lomba menikah lagi menambah koleksi istri hingga memenuhi kuata maksimal empat orang.

Sehingga dalam persaingan dengan sesama rekan serta untuk menjaga gengsi masing-masing, mereka pun saling berlomba dalam tarif nilai mahar yang diberikan ketika menikah lagi itu.

Dan sudah menjadi 'urf atau kebiasaan yang dianggap wajar bila mereka pun juga saling membandingkan nilai mahar satu sama lain. Siapa yang maharnya tinggi maka dia akan merasa bangga di hadapan publik sekitarnya.

Perilaku seperti inilah yang kemudian diantisipasi dengan hadits di atas, yaitu keberkahan sebuah pernikahan itu bukan diukur semata-mata hanya berdasarkan seberapa besar nilai maharnya, justru tidak mengapa kalau tidak terlalu mahal tetapi yang penting keberkahannya. Kurang lebih demikian pesan yang ingin disampaikan hadits tersebut.

Selain masalah meluruskan tujuan pernikahan yang bukan semata-mata perlombaan mahal-mahalan nilai mahar, hadits di atas juga untuk mengantisipasi dampak lainya, yaitu agar para bujangan tidak semakin ciut nyalinya dalam menikah, lantaran selalu mendengar perbicaraan tentang harga-harga mahar yang terbilang mahal dan sama sekali tidak terjangkau.

Membatasi Nilai Maksimal Mahar Ternyata Bukan Solusi Yang Tepat

Amirul Mukminin Umar ibn Al-Khattab radhiyallahuanhu termasuk salah satu tokoh yang melihat betapa para wanita berlomba-lomba dalam nilai mahar dan berinisiatif memberikan batas maksimal. Maksudnya agar kecenderungan ini tidak sampai menjadi trend yang negatif.

Dalam pandangan Umar, lewat kekuasaannya sebagai Amirul mukminin barangkali beliau bisa mengintervensi dengan membuat batas tarif maksimal. Maka beliau pun naik  keatas mimbar dan menyebutkan bahwa dilarang berlomba dalam menetapkan nilai mahar. Kalau pun ada tawar menawar nilai mahar, Umar memberi toleransi bahwa maksimal mahar itu adalah 400 dirham.

Namun segera saja dia menerima protes dari seorang wanita yang tegas mengingatkannya :

يُعْطِينَا اللَّهُ وَتَمْنَعُنَا كِتَابُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَا سَمِعْتَ اللهَ يَقُولُ: وآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطاَراً فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا

Allah telah memberikan kita tetapi Anda mencegahnya? Tidakkah Anda pernah mendengar Allah SWT berfirman ,"Dan berikanlah istrimu itu qinthar (harta yang banyak). Dan janganlah kamu mengambil dari sebagiannya".

Umar pun tersentak kaget dan berkata,"Allahumma afwan, ternyata orang -orang lebih faqih dari Umar". Kemudian Umar kembali naik mimbar,"Sebelumnya aku melarang kalian untuk menerima mahar lebih dari 400 dirham, sekarang silahkan lakukan sekehendak Anda".

Maka pembatasan nilai maksimal mahar di masa Umar pun dengan sendirinya dibatalkan, karena rupanya cara itu bukan solusi yang benar.

Mahar Yang Dicicil

Salah satu titik temu antara jaminan syariah atas hak para wanita untuk mendapatkan nilai mahar yang sesuai dengan keinginannya, dengan tingkat kemampuan para perjaka miskin yang kurang berlimpah hartanya adalah dalam bentuk skema cicilan atau hutang dalam pemberian mahar.

Syariat Islam tegas membolehkan mahar yang dibayar secara hutang alias dicicil dan menyebutkan bahwa hal itu masyru' serta dijalankan oleh para shahabat nabi.

Kalau calon pengantin laki-laki tidak mampu membayar mahar yang diminta calon istrinya dengan sekali bayar, maka dia diberikan keringanan untuk mencicil tanpa bunga. Sebutlah misalnya mahar yang diminta saat akad nikah adalah uang senilai seratus juta. Kalau tabungan penganti pria tidak mencukupi untuk membayar mahar seratus juta sekaligus, maka dia boleh mencicilnya setiap sebulan sekali selama sekian tahun.

Tinggal dibreakdown saja, bila tiap bulan dia mampu menyisihkan uang untuk mencicil sebesar dua juta rupiah, maka cicilan maharnya akan lunas selama 50 bulan atau kurang lebih empat tahun satu bulan. Jadi skemanya tiap bulan, suami memberi nafkah dari gajinya kepada istri, lalu di luar itu suami masih memberi lagi dua juta rupiah sebagai uang cicilan mahar.

Tentu saja setoran mahar tiap bulan menjadi hak eksklusif istri sepenuhnya. Sebab yang namanya mahar itu memang pemberian yang menjadi hak istri.

Kurang Populer

Memang istilah mencicil mahar itu kurang populer di tengah kita bangsa Indonesia. Sebab umumnya kecenderungan umat Islam di Indonesia langsung main pangkas bahwa mahar itu sekedar formalitas belaka, sehingga semua orang kalau bayar mahar hanya sebatas seperangkat alat shalat yang nilainya tidak sampai seratus ribu perak.

Dengan nilai serendah itu, maka umumnya kita jadi tidak pernah mengenal istilah mahar yang dibayarkan secara hutang atau cicilan. Di negeri kita ini, biasanya mahar langsung dibayar secara tunai. Maka lafadz ijab kabul pada akad nikah pun seolah-olah sudah pasti berujung pada kata yang sama, yaitu .... tunai.

Bagaimana tidak tunai, lha wong nilainya tidak sampai seratus ribu perak. Nilai segitu di Jakarta hanya cukup untuk makan di warung tegal berempat sekali makan.

Nyaris kita tidak pernah mendengar ada akad nikah yang berujung pada kata-kata...hutang, cicil, kredit dan sejenisnya. Barangkali para hadirinnya malah akan kebingungan bercampur keheranan.

Padahal Nabi Musa alaihissalam pun mencicil maharnya ketika menikah salah satu puteri Nabi Syu'aib alaihimassalam. Bahkan temponya cukup lama, yaitu cicilan jangka panjang selama sepuluh tahun, dengan jalan bekerja (jasa) kepada mertuanya sendiri.

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia : "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah  dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS. Al-Qashash : 27)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Diundang Pernikahan Tetapi Tidak Hadir, Berdosakah?
17 February 2015, 00:01 | Nikah | 9.059 views
Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid?
16 February 2015, 17:52 | Aqidah | 6.223 views
Judi Yang Terlanjur Dianggap Bukan Judi
14 February 2015, 02:00 | Muamalat | 5.022 views
Perbuatan Apa Saja Yang Berakibat Batalnya Shalat Kita?
12 February 2015, 09:30 | Shalat | 69.736 views
Haramkah Perabotan Rumah Tangga Yang Terbuat Dari Emas Perak?
10 February 2015, 05:01 | Kuliner | 4.639 views
Haram Bermazhab Karena Taqlid Buta dan Memecah Belah?
9 February 2015, 10:04 | Ushul Fiqih | 12.468 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Mati Syahid?
8 February 2015, 10:00 | Umum | 14.585 views
Benarkah Ahli Waris Belum Tentu Menerima Harta Waris?
7 February 2015, 19:50 | Mawaris | 4.048 views
Hadis Terpecahnya Umat Hanya Satu Masuk Surga
6 February 2015, 10:45 | Hadits | 9.508 views
Menyembelih Aqiqah untuk Diri Sendiri, Boleh Apa Tidak?
5 February 2015, 06:05 | Qurban Aqiqah | 7.912 views
Aqiqah Bukan Hari Ketujuh, Sah Apa Tidak?
4 February 2015, 04:00 | Qurban Aqiqah | 6.045 views
Hukum Memakan Hewan Yang Mati Oleh Hewan Pemburu
3 February 2015, 10:43 | Kuliner | 8.970 views
Pernah Mengolok-olok Ayat Al-Quran, Apakah Diterima Taubatnya?
1 February 2015, 18:00 | Aqidah | 4.788 views
Vonis Murtad dan Mahkamah Syari'ah
28 January 2015, 08:24 | Jinayat | 5.550 views
Murtad : Hukuman Dan Konsekuensinya
27 January 2015, 10:21 | Jinayat | 5.993 views
Tiga Jenis Penyebab Murtadnya Seorang Muslim
26 January 2015, 09:19 | Aqidah | 19.210 views
Apakah Penyihir Itu Kafir Dan Wajib Dihukum Mati?
25 January 2015, 08:22 | Jinayat | 4.823 views
Menjual Makanan Tidak Ada Label Halal
23 January 2015, 08:15 | Kuliner | 6.561 views
Mengapa Inovasi dan Perluasan Zakat Modern Ditolak?
22 January 2015, 02:00 | Zakat | 4.688 views
Tujuh Wanita Yang Jadi Mahram Karena Sebab Persusuan
20 January 2015, 02:22 | Nikah | 4.490 views

TOTAL : 2.285 tanya-jawab | 21,004,066 views