Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Pernah Mengolok-olok Ayat Al-Quran, Apakah Diterima Taubatnya? | rumahfiqih.com

Pernah Mengolok-olok Ayat Al-Quran, Apakah Diterima Taubatnya?

Sun 1 February 2015 18:00 | Aqidah | 4.353 views

Pertanyaan :
Assalammualaikum..

Mau nanya pa ustad jika kita memplesetkan ayat tanpa sadar apa hukum nya?

Sedang di ayat at-Jatsiyah : 35 -

Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.

Apa masih bisa diterima taubat nya?

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Para ulama sudah berijma' bahwa pada dasarnya selama manusia masih hidup di dunia ini, pintu taubat masih terbuka lebar. Apa pun jenis dan bentuk dosanya, bahkan termasuk dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah (syirik) sekalipun.

Yang penting taubat itu dilakukan sesuai ketentuannya, di antaranya datang dari lubuk hati yang paling dalam, serius bertaubat, ada rasa sesal selamanya, dan punya tekad kuat untuk tidak akan pernah kembali lagi dalam keadaan yang bagaimana pun.

Barangkali kita heran, kalau semua dosa ada pintu taubatnya, lalu bagaimana dengan ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan tentang orang-orang yang tidak diterima taubatnya? Bukankah banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan hal itu?

Salah satunya adalah lafadz yang terdapat pada ayat yang antum sebutkan di atas :

ذَلِكُم بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ
Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat. (QS. Al-Jatsiyah : 35)

Kalau kita membaca sekilas terjemahan versi Bahasa Indonesia, lafadz ayat Quran yang aslinya 'wa la hum yusta'tabun' itu diterjemahkan secara harfiyah menjadi : 'mereka tidak diberi kesempatan untuk bertaubat'.

Memang wajar saja kalau kita hanya semata mengandalkan terjemahan harfiyah ini lalu menarik kesimpulan bahwa hukuman bagi orang yang menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olok adalah tidak diterimanya taubat.  Sehingga muncul kesimpulan yang sederhana, sekali melakukan olo-olok, maka selamanya dosanya tidak akan diampuni.

Namun apa benar cara menarik kesimpulan macam itu? Benarkah ada dosa yang tidak bisa diampuni di dunia ini? Ibaratnya kita ini menganggap bahwa Allah SWT itu Tuhan yang kaku dan pendendam, sebab sekali saja melakukan kesalahan itu, maka Allah SWT jadi tersinggung dan tidak mau mengampuni.

Untuk itu mari kita buka beberapa kitab tafsir muktamad yang memang selama ini menjadi rujukan resmi para ulama dalam memahami Al-Quran.

1. Tafsir Ibnu Katsir

Terkait dengan makna wa la hum yusta'tabun, di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebagai berikut :
لا يطلب منهم العتبى  بل يعذبون بغير حساب ولا عتاب كما تدخل طائفة من المؤمنين الجنة بغير عذاب ولا حساب
Tidak dituntun dari mereka pertaubatan tetapi mereka diadzab tanpa hisab dan tanpa taubat. Hal itu sebagaimana ada sebagian mukiminin yang masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab.

2. Tafsir At-Thabari

Dalam Tafsir Ath-Thabari disebutkan bahwa maksud dari ayat itu adalah :
ولا هم يردون إلى الدنيا ليتوبوا ويراجعوا الإنابة مما عوقبوا عليه
Mereka tidak dikembalikan ke dunia untuk bertaubat dan mengembalikan taubat dari apa yang mereka dihukum.

3. Tafsir Al-Jami' li Ahkamil Quran

Demikian juga kalau kita buka Tafsir Al-Jami' li Ahkamil Quran, maka kita akan temukan penjelasan sebagai berikut :

ولا هم يستعتبون يعني يسترضون ، أي لا يكلفون أن يرضوا ربهم ; لأن الآخرة ليست بدار تكليف ، ولا يتركون إلى رجوع الدنيا فيتوبون
Mereka tidak dibebankan untuk mendapatkan ridha dari Tuhan mereka, karena akhirat itu bukan alam taklif. Dan mereka tidak dibiarkan untuk kembali ke dunia kemudian bertaubat.

Kesimpulan

Kalau kita perhatikan baik-baik ayat itu berikut tafsir dari para ulama di atas, kesimpulannya adalah bahwa ketika mereka sudah meninggal dunia dan memasuki alam akhirat, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat.

Dan hal ini memang sesuai dengan aqidah ahlusunnah wal jamaah, bahwa taubat sudah tidak lagi berguna ketika seseorang sudah meninggal dunia. Sedangkan ketika masih hidup lalu bertaubat dengan niat yang tulus, tentu masih ada kesempatan bertaubat.

Di dalam sabdanya, Rasulullah SAW menegaskan :
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَالَمْ يُغَرْغِرْ

 

“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hambaNya selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi).

Ayat-ayat Terkait Keluasan Ampunan Allah


إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. (QS. An-Najm : 32)


وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Dan kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu (QS. An-A'raf : 156)


وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِّلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan  bagi manusia sekalipun mereka zalim (QS. Ar-Ra'd : 6)

Dosa Syirik Tidak Diampuni?

Barangkali ada yang bertanya, bukankah di dalam Al-Quran ada ayat yang menyebutkan dosa syirik itu tidak diampuni?

Jawabnya memang benar ada ayat seperti itu, yaitu ayat berikut ini :
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari  itu. (QS. An-Nisa' : 48)

Namun lagi-lagi harus kita pahami bahwa dosa syirik yang tidak bisa diampuni adalah dosa yang dibawa mati. Maksudnya sampai mati dosa itu belum dihapuskan dengan cara bertaubat. Sehingga di akhirat sudah tidak bisa lagi dihapus.

Lain halnya bila seseorang pernah menjadi orang musyrik, lalu dia bertaubat dan mati dalam keadaan sudah bertaubat. Tentu dosa syirik yang pernah dilakukannya akan diampuni. Buktinya adalah para shahabat nabi ridhwanullahi alaihim sendiri. Rata-rata mereka adalah para penyembah berhala di masa jahiliyah. Jelas perbuatan mereka itu syirik.

Tetapi mereka bertaubat dan masuk Islam, maka keislaman mereka menghapus dosa-dosa sebelumnya. Lalu mereka mendapat gelar sebagai orang-orang yang diridhai Allah. Padahal pernah jadi orang musyrik.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Vonis Murtad dan Mahkamah Syari'ah
28 January 2015, 08:24 | jinayat | 5.213 views
Murtad : Hukuman Dan Konsekuensinya
27 January 2015, 10:21 | jinayat | 5.563 views
Tiga Jenis Penyebab Murtadnya Seorang Muslim
26 January 2015, 09:19 | aqidah | 16.823 views
Apakah Penyihir Itu Kafir Dan Wajib Dihukum Mati?
25 January 2015, 08:22 | jinayat | 4.469 views
Menjual Makanan Tidak Ada Label Halal
23 January 2015, 08:15 | kuliner | 6.175 views
Mengapa Inovasi dan Perluasan Zakat Modern Ditolak?
22 January 2015, 02:00 | zakat | 4.204 views
Tujuh Wanita Yang Jadi Mahram Karena Sebab Persusuan
20 January 2015, 02:22 | nikah | 4.082 views
Batalkah Wudhu Kita Bila Makan Daging Unta?
19 January 2015, 04:19 | thaharah | 5.077 views
Sepuluh Kriteria Yang Perlu Dipertimbangkan Ketika Memilih Istri
18 January 2015, 04:37 | nikah | 18.887 views
Bolehkah Melihat Langsung Calon Istri Dan Bagaimana Teknisnya?
17 January 2015, 16:00 | nikah | 6.449 views
Apakah Shalat Harus Pakai Sutrah?
16 January 2015, 18:00 | shalat | 16.395 views
Haruskah Mata Kaki Jamaah Saling Menempel Sepanjang Shalat?
15 January 2015, 09:06 | shalat | 13.259 views
Manusia Berasal dari Kera?
14 January 2015, 08:40 | aqidah | 12.867 views
Menjama' Shalat Karena Hujan, Bolehkah?
13 January 2015, 06:15 | shalat | 5.824 views
Membersihkan Diri dengan Kertas Toilet
12 January 2015, 03:59 | thaharah | 6.662 views

TOTAL : 2274 artikel 18986450 views