Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Menjatuhkan Hukum Mati Dalam Hukum Ta'zir? | rumahfiqih.com

Bolehkah Menjatuhkan Hukum Mati Dalam Hukum Ta'zir?

Mon 9 March 2015 11:15 | Jinayat | 3.984 views

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Allah. Kalau hukum hudud mengharuskan bentuknya hukuman mati, kita tentu harus menerima karena hukum hudud itu langsung ditetapkan oleh Allah.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana dengan hukum ta'zir yang mana bentuk hukumannya diserahkan kepada manusia, dalam hal ini hakim. Apakah boleh seorang hakim menjatuhkan hukuman mati dalam format hukum ta'zir?

Mohon penjelasan dari ustadz dan sebelumnya terima kasih.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada dasarnya hukuman ta’zir tidak boleh sampai kepada hukuman mati. Sebab pada dasarnya Islam mengharamkan penghilangan nyawa manusia, sebagaimana disebutkan di dalam nash.

وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan suatu yang benar. (QS. AL-Isra' : 33)

لاَ يَحِلُّ دَمِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانيِ وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ المـُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ .

Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah, kecuali karena salah satu dari tiga hal : tsayyib yang berzina, membunuh nyawa manusia dan orang yang meninggalkan agamanya keluar dari jamaah". (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun sebagian ulama ada yang membolehkan hukuman mati dalam ta’zir, yaitu hanya untuk kasus-kasus tertentu dengan dipenuhinya syarat-syarat tertentu. Itu pun para ulama berbeda pendapat dalam memilahnya.

1. Mata-mata

Salah satunya di antara ta’zir berbentuk hukuman mati yang dibolehkan menurut sebagian ulama adalah hukuman mati buat mata-mata yang bekerja untuk kepentingan musuh-musuh Islam.

Di antara para ulama yang membolehkannya adalah Al-Imam Malik dan sebagian dari ulama mazhab Al-Hanabilah.

Namun Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Asy-Syafi’i dan Abu Ya’la dari kalangan mazhab Al-Hanabilah tidak membenarkan hukuman ta’zir dengan hukuman mati, meski pun terhadap mata-mata sekalipun.

Sedangkan Al-Imam Ahmad bin Hanbal sendiri tawaqquf dalam hal ini.

2. Penyeru Bid’ah dan Penentang Al-Quran dan Sunnah

Orang yang mengajarkan perkara bid’ah dalam dasar-dasar aqidah termasuk mereka yang boleh dihukum ta’zir dengan cara dibunuh. Namun pelaku bid’ah yang dimaksud bukan seperti yang kita pikirkan, yaitu saling tuduh bid’ah yang sering dilakukan oleh mereka yang suka saling berdebat.

Selain itu yang boleh dibunuh adalah para penentang ketentuan yang tegas dan tidak multi tafsir atas esensi dasar Al-Quran dan As-Sunnah.

Namun perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan perbuatan bid’ah atau penentangan terhadap Al-Quran dan Sunnah dimaksud disini adalah penyimpangan mendasar dalam masalah aqidah, dimana seluruh umat Islam sepakat atas kesesatannya, penyimpangan dari kalangan Jahmiyah.

Yang berpendapat mereka boleh dibunuh secara ta’zir antara lain sebagian ulama murid-murid Al-Imam Malik dan murid-murid di kalangan Al-Imam Ahmad.

3. Penjahat Kambuhan

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa penjahat yang melakukan kejahatan yang sama berulang-ulang, alias penjahat kambuhan, termasuk mereka yang bisa dihukum mati lewat jalur ta’zir.

Syaratnya, kejahatan yang dilakukannya memang memungkinkan untuk dijatuhi hukuman mati, seperti melakukan perbuatan liwath (homoseksual), atau membunuh dengan palu.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa pembuat kerusakan hingga tidak bisa dicegah kerusakannya kecuali dengan cara dibunuh, maka bunuhlah orang itu.

Beliau berdalil dengan hadits shahih berikut ini :

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ

Orang yang datang ingin memecah-belah jamaah kalian, padahal kalian telah memiliki seorang pemimpin, maka bunuhlah dia (HR. Muslim)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Hukum Berburu Hewan, Halal atau Haram?
7 March 2015, 12:30 | qurban | 8.187 views
Rukun Khutbah Jumat Versi Empat Mazhab
6 March 2015, 09:16 | shalat | 16.262 views
Hukum Berijtihad di Masa Sekarang, Apakah Masih Diperbolehkan?
5 March 2015, 01:00 | ushul | 10.059 views
Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe
4 March 2015, 10:00 | kuliner | 5.129 views
Hukum Jual Beli Padi Non Tunai
3 March 2015, 06:40 | muamalat | 3.935 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Hukum Qishash dan Perbedaannya Dengan Jinayat dan Hudud
2 March 2015, 06:40 | jinayat | 10.701 views
Sudah Mampu Tapi Tidak Mendaftar Haji : Kafirkah?
1 March 2015, 23:45 | haji | 4.193 views
Bolehkah Makan dan Minum di dalam Masjid?
27 February 2015, 10:13 | kuliner | 17.671 views
Benarkah Riba Tidak Haram Kalau Tidak Berlipat Ganda?
26 February 2015, 06:18 | muamalat | 5.349 views
Bolehkah Jual Barang Secara Kredit Seperti Ini?
25 February 2015, 10:24 | muamalat | 6.521 views
Menjawab Tuduhan Kejamnya Syariat Islam
23 February 2015, 01:00 | jinayat | 6.026 views
Perbedaan Antara Ghanimah, Fai, Jizyah, Nafl dan Salab
22 February 2015, 06:01 | umum | 19.072 views
Perbedaan Tanda Baca Dua Mushaf, Apakah Bukti Al-Quran Dipalsukan?
20 February 2015, 01:00 | quran | 6.173 views
Empat Pertanyaan Terkait Ijab Kabul Dalam Pernikahan
19 February 2015, 01:00 | nikah | 32.559 views
Apakah Haram Bila Meminta Mahar Yang Mahal?
18 February 2015, 01:00 | nikah | 7.327 views

TOTAL : 2273 artikel 18493251 views