Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Haruskah Meniatkan Puasa Secara Khsusus Untuk Tiap Hari Puasa Ramadhan? | rumahfiqih.com

Haruskah Meniatkan Puasa Secara Khsusus Untuk Tiap Hari Puasa Ramadhan?

Wed 8 April 2015 06:20 | Puasa | 6.193 views

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya ingin bertanya masalah niat puasa di bulan Ramadhan.

Ada yang bilang bahwa niat puasa itu harus dilakukan sendiri-sendiri setiap hari. Artinya untuk tiap hari puasa harus ada niatnya sendiri-sendiri. Pertanyaannya, haruskah kita berniat secara khusus untuk tiap satu hari puasa di bulan Ramadhan? Ataukah bolehkah niat itu dilakukan sekali saja di awal malam bulan Ramadhan, dimana kita berniat untuk 30 hari ke depan?

Mohon penjelasan dari ustadz tentang masalah ini agar puasa kita yang tinggal 3 bulan lagi bisa kita jalani dengan benar sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

Syukran dan wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mayoritas (jumhur) ulama mewajibkan untuk tiap hari puasa di bulan Ramadhan harus ada satu niat khusus tersendiri dan tidak bila niatnya sekaligus untuk 30 hari ke depan. Namun ada juga yang membolehkan satu kali niat saja di malam pertama Ramadhan untuk puasa 30 hari ke depan, yaitu mazbah Al-Malikiyah.

Berikut rinciannya :

1. Jumhur Ulama : Harus Setiap Malam

Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Satu niat tidak bisa digabungkan untuk satu bulan.

Logikanya adalah karena masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat untuk puasa di suatu hari dan bisa berniat tidak puasa di hari lainnya. Oleh karena itu, jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat tersendiri untuk setiap satu hari puasa yang dilakukan sejak malam harinya.

  • As-Sarakhsi (w. 483 H) salah satu ulama di dalam mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

أن صوم كل يوم عبادة على حدة ألا ترى أن فساد البعض لا يمنع صحة ما بقي وأنه يتخلل بين الأيام زمان لا يقبل الصوم، وهو الليل، وإن انعدمت الأهلية في بعض الأيام لا يمنع تقرّر الأهلية فيما بقي فكانت بمنزلة صلوات مختلفة فيستدعي كلّ واحد منهما نيةً على حدة

Bahwa puasa tiap harinya merupakan satu ibadah yang berdiri sendiri. Bukankah batalnya sebagian itu tidak menghalangi bagian yang lain? Dan diantara har-hari itu terselip masa yang tidak boleh berpuasa yaitu malam. Bila hilang ahliyah pada sebagian hari tidak menghalangi ahliyah di bagian yang lain. Maka hari-hari puasa itu seperti shalat-shalat yang berbeda. Tiap satu hari puasa membutuhkan satu niat tersendiri.[1]

  • An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq terbesar dalam mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

تجب النية كل يومٍ سواء رمضان وغيره وهذا لا خلاف فيه عندنا فلو نوى في أول ليلةٍ من رمضان صوم الشهر كله لم تصح هذه النية لغير اليوم الأول

Wajib niat untuk tiap-tiap hari, baik Ramadhan atau lainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam mazhab kami. Bila seseorang berniat di awal malam Ramadhan untuk puasa sebulan penuh, niatnya tidak sah kecuali hanya untuk niat malam pertama saja.[2]

  • Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama besar dalam mazhab Al-Hanabilah menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhgni sebagai berikut :

ولنا أنه صوم واجب فوجب أن ينوي كل يوم من ليلته، كالقضاء. ولأن هذه الأيام عبادات لا يفسد بعضها بفساد بعض ويتخللها ما ينافيها

Bagi kami itu adalah puasa wajib maka wajib berniat untuk tiap hari pada malamnya seperti puasa qadha'. Dan karena hari-hari ini merupakan ibadah yang tidak saling merusak satu dengan lainnya, dan diselingi hal-hal yang menghalanginya.[3]

2. Al-Malikiyah : Boleh Niat Untuk Satu Bulan

Sedangkan kalangan fuqaha dari Al-Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan hal itu. Bahkan bila mengacu kepada ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah untuk berniat puasa itu untuk satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari. Ayat yang dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah :

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“…Siapa diantara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan), maka berpuasalah...” (QS. Al-Baqarah : 185)

Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adalah isim untuk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu.

Dalam hal ini mereka membandingkannya dengan ibadah haji yang membutuhkan masa pengerjaan yang berhari-hari. Dalam haji tidak perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja seseorang berniat untuk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu.

  • Ibnu Abdil Barr ((w. 463 H) menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah sebagai berikut :

فتجزئه النية في أول ذلك كله دون تجديد نية لكل ليلة منه عند مالك

Dibolehkan niat pada awalnya saja tanpa harus memperbaharui niat pada tiap malamnya menurut Imam Malik.[4]

Oleh karena itulah kita sering menyaksikan di tengah masyarakat kita yang nota bene bermazhab As-Syafi'iyah pada malam-malam bulan Ramadhan, orang-orang melafadzkan bacaan niat seusai shalat tarawih. Barangkali tujuannya untuk mengingatkan para jamaah agar tidak lupa meniatkan puasanya untuk satu hari esoknya secara eksklusif, tidak secara borongan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 3 hal. 60

[2] An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 6 hal. 289

[3] Ibnu Qudamah, Al-Muhgni, jilid 3 hal. 111

[4] Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah, jilid 1 hal. 336


 


Baca Lainnya :

Mengapa Rumah Fiqih Selalu Menampilkan Perbedaan Pendapat?
7 April 2015, 05:05 | Ushul Fiqih | 9.735 views
Hukum Membaca Ushalli Dalam Shalat, Bid'ahkah?
6 April 2015, 11:33 | Shalat | 14.841 views
Delapan Perkara Yang Harus Dilakukan Ketika Bertaubat
5 April 2015, 05:15 | Umum | 10.593 views
Tata Cara Shalat Gerhana dan Ketentuannya
4 April 2015, 15:20 | Shalat | 269.549 views
Bersalaman Seusai Shalat : Antara Boleh Dan Haram, Mana Yang Benar?
3 April 2015, 05:38 | Shalat | 18.332 views
Kenapa Imam As-Sudais Membaca Basmalah Dengan Keras?
2 April 2015, 05:45 | Shalat | 25.609 views
Berdosakah Seorang Ibu Yang Tidak Membagi Harta Waris Suami Kepada Anak-anaknya?
31 March 2015, 10:53 | Mawaris | 35.614 views
Kapan Laki-laki Boleh Memakai Sutera?
30 March 2015, 09:49 | Umum | 6.340 views
Agar Terbebas Cambuk 80 Kali Karena Terlanjur Menuduh Orang Berzina
29 March 2015, 17:46 | Jinayat | 4.561 views
Kapankah Orang Yang Meninggalkan Shalat Itu Menjadi Kafir?
28 March 2015, 14:53 | Shalat | 15.562 views
Mazhab Manakah Yang Paling Benar Untuk Hari Ini?
26 March 2015, 09:18 | Ushul Fiqih | 16.733 views
Hal-hal Apa Saja Yang Dapat Membatalkan Tayammum?
25 March 2015, 11:22 | Thaharah | 17.160 views
Mana Yang Benar Waktu Shalat, Tangan di Dada Atau di Bawah Dada?
24 March 2015, 10:28 | Shalat | 23.903 views
Benarkah Jumhur Ulama Salaf Sepakat Tarawih 20 Rakaat?
23 March 2015, 10:10 | Shalat | 14.965 views
Mohon Rincian Khilafiyah Najisnya Anjing
20 March 2015, 10:01 | Thaharah | 5.977 views
Shalat Menggunakan Pakaian Bergambar Makhluk Bernyawa
18 March 2015, 05:15 | Shalat | 6.894 views
Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'
17 March 2015, 11:45 | Thaharah | 9.158 views
Tolok Ukur Untuk Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam
15 March 2015, 05:57 | Shalat | 9.024 views
Sebelas Konsekuensi Jima' Dalam Perspektif Syariah
13 March 2015, 10:45 | Nikah | 9.458 views
Mahar Berupa Hafalan Al-Quran, Bolehkah?
12 March 2015, 03:22 | Nikah | 60.344 views

TOTAL : 2.285 tanya-jawab | 21,043,981 views