Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali | rumahfiqih.com

Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali

Wed 5 August 2015 09:13 | Nikah | 6.270 views

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya menikah di luar negeri tanpa wali nasab (karena orangtua bercerai) sudah diusahakan mencari wali nasab tetapi tidak dapat ditemukan. Alhasil dinikahkan oleh ayah tiri (yang selama ini mengasuh).

Sebelumnya petugas KUA telah mempersilakan menikah di luar negeri tanpa ada kehadiran petugas KUA. Sesampainya di Indonesia, petugas KUA membuatkan buku nikah sesuai form catatan pernikahan yang telah diberikan.

Bagaimana status hukum pernikahannya?

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jumhur ulama dari tiga mazhab besar sepakat bahwa salah satu rukun nikah yang tidak bisa dinafikan adalah adanya wali yang menikahkan seorang wanita. Agak berbeda dengan ketiga mazhab, mazhab Al-Hanafiyah memang tidak menjadikan wali sebagai rukun nikah.

Namun tata aturan hukum yang berlaku di hampir semua mazhab selain Al-Hanafiyah tegas sekali bahwa tidak sah sebuah pernikahan kalau tidak ada walinya.

Wali Nasab

Adapun istilah wali nasab, maksudnya tidak lain adalah wali itu sendiri, dimana yang berhak menjadi wali tidak lain adalah ayah kandung, kakek, saudara laki-laki, dan seterusnya sebagaimana sudah ditentukan syariat Islam. Penyebutan istilah 'wali nasab' sebagai pembeda dengan istilah wali hakim. Yang dimaksud dengan wali hakim adalah pemerintah yang turun tangan menjadi wali ketika seorang wanita tidak punya wali nasab.

Ketika seorang wanita menikah, yang secara otomatis menjadi wali adalah ayah kandungnya. Ini merupakan hak preogratif seorang ayah kandung. Satu-satu orang yang dibenarkan untuk menikahkan seorang wanita cuma beliau seorang. Bila beliau masih hidup dan beragama Islam, dimana pun di dunia ini beliau berada, maka hanya beliau saja yang berhak menjadi wali.

Keluarga yang lain, termasuk kakek, kakak, adik, paman, keponakan atau saudara sepupu, meskipun mereka bisa menjadi wali, namun selama masih diketahui keberadaan ayah kandung dalam keadaan hidup dan muslim, maka mereka belum berhak menjadi wali begitu saja.

Urutan Wali Nasab

Secara urutan, para wali nasab bagi seorang wanita adalah sebagai berikut :

  1. Ayah kandung
  2. Kakek, atau ayah dari ayah
  3. Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah dan se-ibu
  4. Saudara (kakak/ adik laki-laki) se-ayah saja
  5. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah dan se-ibu
  6. Anak laki-laki dari saudara yang se-ayah saja
  7. Saudara laki-laki ayah
  8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu)
Wali Mujbir

Di dalam mazhab Asy-syafi'iyah, ada istilah wali mujbir, yaitu ayah kandung dan ayahnya ayah yaitu kakek.

Posisi ayah kandung ini sangat tinggi kedudukannya dalam hal pernikahan puterinya. Bahkan saking tingginya posisi sang ayah, maka sampai-sampai ayah kandung itu berhak menikahkan puterinya tanpa harus disyaratkan persetujuan dari sang puteri. Lepas dari apakah puterinya tahu atau tidak tahu, setuju atau tidak setuju, ketika sang ayah menikahkan puterinya, maka secara hukum sudah sah pernikahan itu.

Dalam litertaur fiqih posisi yang istimewa ini istilahnya adalah wali mujbir. Bila ayah sudah wafat tetapi kakek atau ayahnya ayah masih hidup, maka kakek menjadi wali mujbir. Dan hanya ayah dan kakek saja yang punya posisi istimewa ini.

Dalam prakteknya, selama seorang wanita masih punya ayah kandung yang hidup dan muslim, maka tidak ada cerita bagi wanita itu menikah tanpa kewalian dari beliau.

Wali Hakim

Adapun yang dimaksud dengan wali hakim sebenarnya tidak lain adalah pemerintah yang menjadi representasi dari wali atas rakyatnya. Ketika seorang wanita masih punya ayah, kakek dan para wali nasab yang lainnya, maka tidak ada istilah wali hakim.

Pemerintah baru bisa turun tangan menjadi wali atas seorang wanita manakala wanita itu benar-benar sendirian, tidak ada ayah, kakek, dan semua keluarga lainnya. Yang dimaksud dengan istilah 'tidak ada' disini tidak harus sudah meninggal dunia. Bisa saja semua masih hidup, tetapi tak satupun dari mereka yang memenuhi syarat sebagai wali.

Salah satu syarat untuk menjadi wali dalam sebuah pernikahan adalah status keislaman. Seandainya semua keluarganya non muslim, sementara wanita itu sendiri beragama Islam, maka wanita itu dianggap tidak punya wali. Dalam kasus ini, barulah pemerintah turun tangan untuk menjadi wali atas wanita tersebut.

Wakil Wali

Wakil wali adalah orang yang ditunjuk oleh seorang wali untuk bertindak mewakili dirinya menjadi wali atas puterinya. Syariat Islam membolehkan adanya orang yang ditunjuk ini, meski pun bukan termasuk wali nasab, bahkan bukan termasuk anggota keluarga. Yang penting syarat sebagai orang wali sudah terpenuhi pada diri si wakil itu, yaitu harus muslim, aqil, baligh, laki-laki, merdeka dan adil.

Untuk memberikan wewenang kepada seseorang yang akan menjadi wakilnya, cukup dengan lisan saja tanpa perlu harus tertulis. Dan juga tidak harus pakai saksi segala. Jadi misalnya ayah kandung tidak bisa hadir, asalkan beliau memberikan mantan kepada seseorang untuk wakili dirinya, maka wakil itu boleh menikahkan sang puteri meski tanpa kehadiran ayah kandung.

Nikah seperti ini bukan nikah jarak jauh, tetapi nikah jarak dekat alias nikah dalam satu majelis. Namun akadnya bukan antara wali dan calom mantu melainkan antara wakil wali dan calon menantu. Baik akad dilakukan langsung oleh wali ataupun oleh wakilnya wali, keduanya tetap sah hukumnya dalam pandangan syariat.

Kasus Anda

Sebenarnya kalau mau merujuk ke dalam aturan syariah yang benar, yang bertindak sebagai wali adalah ayah kandungnya. Bila ayah kandung tidak ada, sudah wafat, non muslim atau menghilang tidak jelas rimbanya, maka KUA akan menetapkan siapa yang berhak untuk menjadi wali berikutnya. Seandainya masih ada kakeknya, maka kakeknya itulah yang menjadi wali. Dan bila tidak ada juga, maka wali para urutan berikutnya dan begitulah seterusnya.

Namun bila semua sudah tidak ada lagi, jadilah KUA yang melaksanakan akad nikah. Dalam hal ini, kedudukan KUA sebagai wali hakim, lantaran pengantin wanita sama sekali sudah tidak punya wali dari wali nasab.

Bila pernikahan terjadi di luar negeri, maka prosedurnya lewat Kedutaan Besar RI atau Konsuler Perwakilan RI di negeri tersebut. Pada prinsipnya, prosedur  pelaksanaan pernikahan di luar negeri sama saja dengan prosedur pelaksanaan pernikahan di dalam negeri. Bagi warga Negara Indonesia yang akan melangsungkan pernikahan di luar negeri, diawasi dan dilakukan pencatatan pada bagian konsuler Perwakilan RI di Negara tempat pernikahan dilangsungkan.

Untuk urusan wali yang tidak ada, maka bisa saja ditunjuk seseorang yang kemudian menjadi wakil wali.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Apa Yang Dibaca Pada Saat Sujud Dan Ketentuannya
2 August 2015, 03:12 | | 84.450 views
Haramkah Gaji Satpam di Bank Konvensional?
1 August 2015, 08:10 | | 17.460 views
Fasakh dan Talak : Perbedaan dan Persamaannya
31 July 2015, 06:45 | | 8.088 views
Teknis Rujuk Setelah Menjatuhkan Talaq, Haruskah Ada Saksi?
30 July 2015, 16:05 | | 9.362 views
Haruskah Jadi Ulama Dulu Baru Boleh Dakwah?
29 July 2015, 07:13 | | 16.924 views
Terlanjur Menikahi Pacar Ternyata Dahulu Pernah Berzina
28 July 2015, 07:18 | | 63.091 views
Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut?
19 July 2015, 23:15 | | 11.780 views
Persamaan dan Perbedaan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha
17 July 2015, 02:02 | | 9.373 views
Bolehkah Kami Yang Domisili di Jepang Shalat Id di Rumah Tanpa Khutbah?
16 July 2015, 17:20 | | 5.371 views
Benarkah Ada Kewajiban Zakat Atas Madu?
14 July 2015, 08:11 | | 4.557 views
Shalat Ied dan Shalat Jumat Dalam Satu Hari
14 July 2015, 02:57 | | 9.296 views
Perluasan Makna Fi Sabilillah Sebagai Mustahiq Zakat
13 July 2015, 00:09 | | 23.113 views
Nishab Zakat Uang, Ikut Nishab Emas atau Nishab Perak?
11 July 2015, 02:00 | | 4.463 views
Teknis Menghitung Zakat Uang
10 July 2015, 11:00 | | 6.831 views
Asal-Usul Anjuran Berbuka Puasa Dengan Yang Manis-manis
9 July 2015, 00:01 | | 9.663 views
Mohon Diterangkan Apa Perbedaan Antara Zakat Infaq dan Sedekah?
8 July 2015, 03:38 | | 45.183 views
Zakat Penghasilan Tidak Sampai Nisab, Bagaimana Zakat Profesinya?
7 July 2015, 08:23 | | 11.807 views
Mohon Ciri-ciri Lailatul Qadar Sesuai Hadits Nabi
4 July 2015, 14:08 | | 12.836 views
Zakat Lewat Amil Kurang Mantab Rasanya?
3 July 2015, 13:17 | | 11.103 views
Mengapa Para Ulama Masih Berbeda Pendapat Dalam Zakat Profesi?
30 June 2015, 06:16 | | 17.878 views
Mencabut Kemaluan Menjelang Shubuh Keluar Mani di Luar, Batalkah Puasanya?
28 June 2015, 01:02 | | 8.550 views
Kebetulan Suami Istri Tidak Puasa Karena Musafir, Kalau Jima Apa Tetap Kena Kaffarat?
27 June 2015, 13:46 | | 8.376 views
Apa Benar Talak Yang Langsung Dirujuk Sebelum Iddah Belum Terhitung Talak Satu?
25 June 2015, 02:00 | | 4.831 views
Diberi Kelebihan Saat Pembayaran Hutang, Apakah Tetap Riba Hukumnya?
24 June 2015, 08:15 | | 7.989 views
Puasa Tetapi Tidak Shalat, Apakah Puasanya Sah?
22 June 2015, 09:12 | | 7.680 views
Shalat Witir Tiga Rakaat Pakai Tahiyat Awal, Bolehkah?
20 June 2015, 14:20 | | 11.729 views
Tradisi Bermaafan Sebelum Puasa, Ada Syariatnya Atau Hanya Tradisi?
18 June 2015, 10:35 | | 15.726 views
Apakah Bayi Dalam Kandungan Dapat Harta Waris?
15 June 2015, 18:12 | | 4.518 views
Mengapa Tulisan di Situs Ini Tidak Dilengkapi Tarjih dan Kajian Haditsnya?
13 June 2015, 07:00 | | 12.276 views
Awal Puasa Berbeda Apakah Berpengaruh Pada Lailatul Qadarnya?
11 June 2015, 06:28 | | 4.650 views
Pembagian Waris Untuk Para Cucu Ketika Orang Tua Mereka Wafat Lebih Dulu
10 June 2015, 20:00 | | 19.554 views
Keliru Mengira Sudah Maghrib Langsung Makan, Batalkah Puasa Saya?
9 June 2015, 10:50 | | 6.433 views
Bagaimana Puasanya Umat Sebelum Kita?
8 June 2015, 17:25 | | 20.676 views
Metode Penetapan Ramadhan & Syawwal Yang Resmi
7 June 2015, 05:01 | | 7.186 views
Merenggangkan Gigi Haram, Maksudnya Bagaimana?
4 June 2015, 07:22 | | 11.027 views
Masbuk Mengganti Rakaat Yang Mana?
3 June 2015, 10:50 | | 15.149 views
Jihad di Jalan Allah Wajibkah Minta Izin?
1 June 2015, 11:00 | | 5.271 views
Bolehkah Berzakat untuk Pembuatan Film Dakwah?
30 May 2015, 08:53 | | 3.365 views
Benarkah Wanita Haidh dan Nifas Tetap Wajib Mengganti Shalatnya?
25 May 2015, 10:05 | | 7.455 views
Wajibkah Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Fithri?
23 May 2015, 07:50 | | 5.236 views
Shalat Dua Rakaat, Duduk Tasyahudnya Tawarruk atau Iftirasy?
20 May 2015, 10:26 | | 23.302 views
Terlambat ke Masjid Bolehkah Ikut Jamaah Gelombang Kedua?
19 May 2015, 07:32 | | 7.697 views
Baca Quran Langgam Jawa, Haramkah?
18 May 2015, 10:39 | | 122.604 views
Benarkah Hukuman Buat Muslim Yang Minum Khamar Dicambuk 80 Kali?
15 May 2015, 10:30 | | 3.869 views
Kapankah Jatuhnya Puasa Hari Syak dan Haramkah Hukumnya?
13 May 2015, 08:02 | | 6.767 views
Shalat Saat Melintasi Daerah Beda Zona Waktu
11 May 2015, 02:10 | | 7.314 views
Sembilan Orang Anggota Keluarga Terdekat Namun Ternyata Bukan Ahli Waris
10 May 2015, 16:11 | | 6.561 views
Benarkah Haram Menyentuh Mushaf Quran Tanpa Wudhu?
9 May 2015, 07:50 | | 10.724 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Menggambar Nabi Muhammad SAW?
8 May 2015, 06:30 | | 13.959 views
Bolehkah Kita Makan Benda Yang Terbuat Dari Najis
6 May 2015, 10:50 | | 4.973 views

TOTAL : 2.278 tanya-jawab | 20,466,625 views