Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Makna Iedul Fithri dan Hubungannya Dengan Tradisi | rumahfiqih.com

Makna Iedul Fithri dan Hubungannya Dengan Tradisi

Sat 16 July 2016 19:59 | Puasa | 2.811 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum Wr. wb

Ustadz yang dirahmati Allah, mohon izin bertanya :

1. Apa makna sebenarnya dari istilah Idul Fithri? Apa benar maknanya adalah kembali kepada fitrah atau kesucian?

2. Apa saja yang Rasulullah SAW kerjakan dalam rangka merayakan Idul Fithri? Mohon dalilnya disertakan ya ustadz.

Demikian wassalam

Jawaban :

A. Makna Idul Fithr

Makna lafadz Idul Fithri memang bukan kembali menjadi suci. Meskipun memang ada sedikit kemiripan dari dua kata itu, namun sebenarnya keduanya punya makna yang lain.

Justru karena kemiripan inilah makanya banyak orang silap dan keliru memaknainya. Bahkan para reposter televisi nasional kita pun latah ikut-ikutan keliru juga. Malah tidak sedikit para ustadz dan penceramah yang ikut-ikutan menyebarkan kekeliruan massal ini ini tanpa tahu ilmu dan sumbernya.

1. Makna 'Ied' Bukan Kembali

Kata 'Ied' (ÚíÏ) dalam Iedul Fithri sama sekali bukan kembali. Dalam bahasa Arab, Ied (ÚíÏ) berarti hari raya. Bentuk jamaknya a'yad (ÃÚíÇÏ). Maka setiap agama punya Ied atau hari raya sendiri-sendiri.

Dalam bahasa Arab, hari Natal yang dirayakan umat Nasrani disebut dengan Iedul Milad (ÚíÏ ÇáãíáÇÏ), yang artinya hari raya kelahiran. Maksudnya kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Mereka merayakan hari itu sebagai hari raya resmi agama mereka.

Hari-hari kemerdekaan suatu negeri dalam bahasa Arab sering disebut dengan Iedul Wathan (ÚíÏ ÇáæØä). Memang tidak harus selalu hari kemerdekaan, tetapi maksudnya itu adalah hari besar alias hari raya untuk negara tersebut.

Lalu kenapa banyak orang mengartikan Ied sebagai 'kembali'?

Nah itulah masalahnya. Banyak orang kurang mengerti bahasa Arab, sehingga bentuk sharf dari suatu kata sering terpelintir dan terbolak-balik tidak karuan.

Dalam bahasa Arab, kata kembali adalah 'aada - ya'uudu -'audatan (ÚÇÏ - íÚæÏ - ÚæÏÉ). Memang sekilas hurufnya rada mirip, tetapi tentu saja berbeda jauh maknanya dari 'ied. Jadi kalau maksudnya mau bilang kembali, jangan sebut 'ied tetapi sebutlah 'audah.

Sayangnya, banyak ustadz, kiyai dan penceramah yang rada gegabah dalam masalah ini. Sudah salah dan keliru, bicaranya di layar kaca pula, ditonton jutaan pasang mata orang awam. Maka kekeliruan itu pun terjadi secara 'masif, terstruktur dan sistematis'.

2. Makna Kata Fithri Juga Bukan Suci

Dalam bahasa Arab kita mengenal dua kata yang nyaris mirip tetapi berbeda, yaitu fithrah (ÝØÑÉ) dan fithr (ÝØÑ).

a. Makna Fithrah

Yang pertama adalah kata fithrah (ÝØÑÉ). Jumlah hurufnya ada empat yaitu fa', tha', ra' dan ta' marbuthah. Umumnya fithrah diartikan oleh para ulama sebagai kesucian atau juga bermakna agama Islam. Seperti hadits berikut ini :

ÚóÔúÑñ ãöäó ÇáúÝöØúÑóÉö ÞóÕøõ ÇáÔøóÇÑöÈö æóÅöÚúÝóÇÁõ ÇááøöÍúíóÉö æóÇáÓøöæóÇßõ æóÇÓúÊöäúÔóÇÞõ ÇáúãóÇÁö æóÞóÕøõ ÇáÃúÙúÝóÇÑö æóÛóÓúá ÇáúÈóÑóÇÌöãö æóäóÊúÝõ ÇáÅúÈúØö æóÍóáúÞõ ÇáúÚóÇäóÉö æóÇäúÊöÞóÇÕõ ÇáúãóÇÁö

Ada sepuluh hal dari fitrah (kesucian), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

Dan juga bermakna agama Islam, sebagimana hadits berikut ini :

ãóÇ ãöäú ãóæúáõæÏò ÅöáÇøó æõáöÏó Úóáìó ÇáÝöØúÑóÉö ÃóÈóæóÇåõ íõåóæöøÏóÇäöåö æóíõäóÕøöÑóÇäöåö æóíõãóÌöøÓóÇäöåöåö

Tidak ada kelahiran bayi kecuali lahir dalam keadaan fitrah (muslim). Lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim)

b. Makna Fithr

Sedangkan kata fithr (ÝØÑ) sangat berbeda maknnya dari kata fithrah. Memang sekilas keduanya punya kemiripan. Tetapi coba perhatikan baik-baik, ternyata kata fithr itu hurufnya cuma ada tiga saja, yaitu fa', tha' dan ra', tanpa tambahan huruf ta' marbuthah di belakangnya.

Apakah perbedaan huruf ini mempengaruhi makna?

Jawabnya tentu saja mempengaruhi makna. Keduanya punya makna yang berbeda dan amat jauh perbedaannya.

Dalam bahasa Arab, kata fitrh (ÝØÑ) bermakna makan atau makanan dan bukan suci ataupun keislaman. Pembentukan kata dasar ini bisa menjadi makan pagi, yaitu fathur (ÝØæÑ), dan juga bermakna berbuka puasa, yaitu ifthar (ÅÝØÇÑ). 

Disinilah banyak orang yang rancu dan kurang bisa membedakan makna. Dikiranya fithr itu sama saja dengan fithrah. Sehingga dengan ceroboh diartinya seenaknya menjadi kembali kepada fitrah.

Coba perhatikan, betapa banyak kita menyaksikan kekeliruan demi kekeliruan yang dipajang dengan bangga, padahal keliru. Baliho yang dipasang, kartu ucapan selamat, bahkan SMS yang dikirimkan, termasuk televisi nasional ramai-ramai menganut kekeliruan massal ini, tanpa pernah teliti dan bertanya kepada ahlinya.

c. Makna Idul Fithr

Kalau kita jujur dengan istilah aslinya, sesungguhnya kata 'Idul Fithri' itu bukan bermakna kembali kepada kesucian. Tetapi yang benar adalah Hari Raya Makanan.

Dan hari raya Islam yang satunya lagi adalah Idul Adha, tentu maknanya bukan kembali kepada Adha, sebab artinya akan jadi kacau balau. Masak kembali kepada hewan qurban? Idul Adha artinya adalah hari raya qurban (hewan sembelihan).

Bahwa setelah sebulan berpuasa kita harus kembali menjadi suci, mencusikan hati, mensucikan pikiran dan mensucikan semuanya, tentu memang harus. Cuma, jangan kemudian main paksa istilah yang kurang tepat. Mentang-mentang kita harus kembali suci, lalu ungkapan 'Idul Fithri' dipaksakan berubah makna menjadi 'kembali suci'.

Hari Raya Makan?

Ya memang sejatinya pada hari itu umat Islam diwajibkan untuk makan dan haram untuk berpuasa. Berpuasa para tanggal 1 Syawwal justru haram dan berdosa bisa dilakukan.

Dan sunnahnya, makan yang menjadi ritual itu dilakukan justru sebelum kita melaksanakan shalat Idul Fithri.

Dan oleh karena itulah kita mengenal syariat memberi zakat al-fithr, yang maknanya adalah zakat dalam bentuk makanan. Tujuannya sudah jelas, agar tidak ada yang tersisa dari orang miskin yang berpuasa hari itu dengan alasan tidak punya makanan. Dengan adanya zakat al-fithr, maka semua orang bisa makan di hari itu.

Dan hari raya umat Islam disebut dengan 'Iedul Fithr, yang secara harfiyah bermakna hari raya untuk makan.

B. Idul Fithr Versi Nabi SAW

Ada beberapa hal yang termasuk disunnahkan untuk dilakukan ketika kita mengerjakan shalat Idul Fithri, antara lain :

1. Mandi

Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat ke tempat shalat Idul Fithri atau Idul Adha. Dasarnya adalah atsar yang dilakukan oleh Umar radhiyallahuanhu.

Ãóäóø ÚóÈúÏó Çááóøåö Èúäó ÚõãóÑó ßóÇäó íóÛúÊóÓöáõ íóæúãó ÇáúÝöØúÑö ÞóÈúáó Ãóäú íóÛúÏõæó Åöáóì ÇáúãõÕóáóøì

Bahwa Abdullah Ibnu Umar ibnul Khattab radhiyallahuanhu mandi pada hari raya fithri sebelum berangkat shalat.

Dasar ini memang tidak langsung dari Rasulullah SAW, namun dari praktek shahabat Nabi. Namun Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengomentari bahwa atsar di atas adalah atsar yang shahih, sebagaimana tercantum dalam kitab beliau, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab. [1]

Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mandi pada dua hari raya, oleh sebagian ulama dikatakan sebagai hadits yang lemah.

Úóäö ÇÈúäö ÚóÈÇøóÓò t ÞÇóáó:ßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááåö r íóÛúÊóÓöáõ íóæúãó ÇáúÝöØúÑö æóíóæúãó ÇáÃóÖúÍóì

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW mandi pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Hibban)

Di antara yang mendhaifkan hadits di atas adalah Al-Albani.[2]

2. Berparfum

Disunnahkan bagi yang melakukan shalat Ied untuk memakai parfum dan wewangian. Salah satu hikmah karena akan bertemu dengan khalayak banyak dalam kesempatan itu.

3. Berpakaian Terbaik

Disunnahkan untuk mengenakan pakaian dan perhiasan yang terbaik di hari Raya, khususnya pada saat datang ke tempat shalat.

ßóÇäó áöáäøóÈöíøö ÌõÈøóÉ íóáúÈóÓõåóÇ Ýíö ÇáÚöíúÏóíúäö æóíóæúãö ÇáÌõãõÚóÉö

Dari Jabir radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW memiliki jubah yang dikenakannya pada saat dua hari raya dan hari Jumat. (HR. Al-Baihaqi)

4. Makan atau Puasa Sebelum Shalat

Disunnahkan untuk makan pagi atau sarapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat Idul Fithri. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

Úóäú ÃóäóÓò tßóÇäó ÑóÓõæáõ Çááøóåö r  áÇó íóÛúÏõæ íóæúãó ÇáúÝöØúÑö ÍóÊøóì íóÃúßõáó ÊóãóÑóÇÊò

Dari Anas bin Malik radliyallahuanhu berkata, “Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fithri hingga beliau memakan beberapa kurma. (HR. Bukhari)

Perlu dipahami bahwa kalau disebutkan Rasulullah SAW memakan kurma, maka yang dimaksud tidak lain adalah makan yang sebenarnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW sebelum berangkat shalat Idul-Fithr sarapan atau makan pagi terlebih dahulu.

Kurma adalah salah satu bahan makanan pokok sehari-hari orang Madinah, dan bukan sekedar makanan cemilan yang dimakan sebutir dua butir.

Khusus shalat Idul Adha, disunnahkan sebelum berangkat atau mulai shalat, untuk makan terlebih dahulu. Kesunnahan itu didasarkan pada hadits berikut ini :

Úóäú ÈõÑóíúÏóÉó t ÞÇá: ßóÇäó ÇáäøóÈöíøõ r áÇó íóÎúÑõÌõ íóæúãó ÇáÝöØúÑö ÍóÊøóì íóØúÚóãó æóíóæúãó ÇáäøóÍúÑö áÇó íóÃúßõáõ ÍóÊøóì íóÑúÌöÚó ÝóíóÃúßõáó ãöäú äóÓöíßóÊöåö

Dari Buraidah -radliyallahu’anhu- berkata, “Nabi SAW tidak keluar pada Idul Fithri hingga makan terlebih dahulu. Adapun pada Idul Adha beliau tidak makan hingga pulang dari makan dari daging kurban sembelihannya.

Dalam hal ini Al-Imam Asy-Syafi'i berfatwa dalam kitab Al-Umm :

æäÍä äÃãÑ ãä ÃÊì ÇáãÕáì Ãä íÃßá æíÔÑÈ ÞÈá Ãä íÛÏæ Åáì ÇáãÕáì  ÝÅä áã íÝÚá ÃãÑäÇå ÈÐáß Ýí ØÑíÞå Ãæ ÇáãÕáì Åä Ããßäå  ÝÅä áã íÝÚá Ðáß ÝáÇ ÔíÁ Úáíå æíßÑå áå Ãä áÇ íÝÚá

Kami memerintahkan bagi yang mendatangi tempat shalat Ied untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum mendatangi tempat shalat. Bila tidak makan, kami perintahkan untuk makan di jalan atau di tempat shalat bila memungkinkan. Namun bila tidak, tentu tidak berdosa tetapi hukumnya makruh bila tidak dikerjakan. [3]

5. Bertakbir

Disunnahkan buat orang yang melaksanakan shalat Idul Fithri dan Idul Adha untuk bertakbir. Masyru'iyahnya ada pada Al-Quran Al-Karim.

Selain itu juga ada masyru'iyah dari sunnah nabawiyah :

ßóÇäó ÇáäøóÇÓõ íõßóÈøöÑõæäó Ýíö ÇáÚöíúÏö Íöíäó íóÎúÑõÌõæäó ãöäú ãóäóÇÒöáöåãú ÍóÊøóì íóÃúÊõæÇ ÇáãÜõÕóáøöì æóÍóÊøóì íóÎúÑõÌõ ÇáÅöãóÇãõ ÝóÅöÐóÇ ÎóÑóÌó ÇáÅöãÇóãõ ÓóßóÊõæÇ ÝóÅöÐóÇ ßóÈøóÑó ßóÈøöÑõæÇ

Dahulu orang-orang bertakbir di hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka hingga sampai di tempat shalat, sampai imam keluar, maka mereka pun diam. Bila imam bertakbir maka mereka pun bertakbir.

6. Beda Jalan Pergi dan Pulang

Disunnahkan untuk mengambil rute yang berbeda antara jalan pergi dan pulangnya.

7. Bertahniah

Disunnahkan untuk bertahniah pada hari Raya Fithr dan Adha, karena keduanya merupakan hari yang dirayakan. Waktunya setelah pelaksanaan shalat Ied sebagaimana diriwayatkan dari Jubair bin Nufair radhiyallahuanu, dia berkata:

“Para sahabat Nabi SAW apabila bertemu di hari raya (Ied) sebagian dari mereka berkata kepada yang lain: “Taqabballahu Minnaa Wa Minkum (Semoga Allah menerima ibadah kita semua)” (HR Al-Muhamili)

C. Idul Fithri Versi Tradisi

1. Pulang Mudik

Pulang mudik yang hiruk pikuk pada setiap bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fithr, sebenarnya kalau dicarikan dalil yang memerintahkan secara langsung, tidak akan bisa ditemukan.

Kalau sekedar berkumpul bersama keluarga, menyambung tali silaturrahim, bisa saja dilakukan di luar kesempatan bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fithr.

Namun begitulah, orang-orang sudah terlanjur menganggap bahwa pulang mudik yang melelahkan itu sebagai bagian dari agama. Padahal sebenarnya pulang mudik itu lebih merupakan tradisi.

Rasulullah SAW selama pindah dari Mekkah ke Madinah, tidak punya tradisi pulang mudik tiap lebaran. Kalau pun beliau sempat pulang ke Mekkah, kesempatan itu bukan di hari Raya Idul Fithri, melainkan karena peristiwa Fathu Mekkah atau karena akan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah. Itu pun tidak dilakukan secara ritual setiap tahun.

Tetapi mari kita lihat apa yang secara rutin dikerjakan oleh bangsa Indonesia yang muslim ini. Tiap tahun mereka berlelah-lelah, bermacet-macet, berdesak-desak, serta bersusah-payah ingin pulang ke kampung halaman. Rasanya seperti ada yang hilang, bila lebaran tidak pulang ke kampung halaman. Dan istilah mudik sudah menjadi istilah tersendiri, yang boleh jadi hanya ada di dalam kosa kata bangsa Indonesia.

Jadi pulang mudik itu tidak ada perintah secara khusus datang dari nash Al-Quran atau As-Sunnah, melainkan lebih merupakan tradisi. Hukumnya tentu saja mubah, asalkan dilaksanakan dengan cara yang tidak melanggar ketentuan syariah. Jangan sampai pulang mudik itu dikerjakan sambil meninggalkan shalat wajib, atau melanggar tata aturan syariah yang lain.

2. Saling Bermaaf-maafan

Tradisi untuk saling bermaaf-maafan adalah tradisi yang sangat baik. Sebab jarang-jarang kita memiliki suasana dimana semua orang siap dan secara terbuka tidak malu-malu untuk meminta maaf kepada orang lain. Dan tidak setiap saat orang-orang mau memaafkan kesalahan orang lain dengan rela dan ikhlas.

Sebenarnya meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain adalah pekerjaan yang sangat dianjurkan dalam agama. Semua ulama sepakat akan hal ini, termasuk yang membid’ahkannya bila dilakukan menjelang Ramadhan atau di hari Raya Fithr.

Syariat Islam sangat kaya dengan dalil-dali yang bersifat umum, yang memerintahkan kita untuk saling bermaafan. Allah SWT berfirman :

ÎõÐö ÇáúÚóÝúæó æóÃúãõÑú ÈöÇáúÚõÑúÝö æóÃóÚúÑöÖú Úóäö ÇáúÌóÇåöáöíäó

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS Al-A’raf: 199)

ÝóÇÕúÝóÍö ÇáÕøóÝúÍó ÇáúÌóãöíáó

Maka maafkanlah dengan cara yang baik. (QS Al-Hijr: 85)

æóáúíóÚúÝõæÇ æóáúíóÕúÝóÍõæÇ ÃóáÇó ÊõÍöÈøõæäó Ãóä íóÛúÝöÑó Çááøóåõ áóßõãú æóÇááøóåõ ÛóÝõæÑñ ÑøóÍöíãñ

Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An-Nuur: 22)

ÇáøóÐöíäó íõäÝöÞõæäó Ýöí ÇáÓøóÑøóÇÁ æóÇáÖøóÑøóÇÁ æóÇáúßóÇÙöãöíäó ÇáúÛóíúÙó æóÇáúÚóÇÝöíäó Úóäö ÇáäøóÇÓö æóÇááøåõ íõÍöÈøõ ÇáúãõÍúÓöäöíäó

Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

æóáóãóä ÕóÈóÑó æóÛóÝóÑó Åöäøó Ðóáößó áóãöäú ÚóÒúãö ÇáÃõãõæÑö

Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS Asy-Syura: 43)

Rasulullah SAW bersabda :

ãóäú ßóÇäóÊú áóåõ ãóÙúáóãóÉ áÃöóÎöíúåö ãöäú ÚöÑúÖöåö Ãóæú ÔóíúÁñ ÝóáúíóÊóÍóáøóáóåõ ãöäúåõ Çáíóæúãó ÞóÈúáó Ãóäú áÇó íóßõæäó ÏöíäóÇÑ æóáÇó ÏöÑúåóã Åöäú ßóÇäó áóåõ Úóãóáñ ÕóÇáöÍñ ÃóÎóÐó ãöäúåõ ÈöÞóÏúÑö ãóÙúáóãóÊöåö æóÅöäú áóãú Êóßõäú áóåõ ÍóÓóäóÇÊñ ÃõÎöÐó ãöäú ÓóíöøÆóÇÊö ÕóÇÍöÈöåö ÝóÍóãøóáó Úóáóíúåö

“Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari)

Momentum Untuk Saling Memaafkan

Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadhan atau Idul Fithri. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana.

Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu.

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia?

Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya.

Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadhan, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja.

Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.

Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid’ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.

Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i’tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?

Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid’ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?

Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa nabi?

Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata-mata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.

Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid’ah. Insya Allah niat baik mereka baik dan luhur.

3. Saling Berkunjung

Budaya dan tradisi saling bersilaturrahim dengan saling berkujung dengan sesama keluarga, teman, kerabat adalah budaya yang amat baik. Sebab dengan bermuwajahah (bertemu muka), segala hal yang mengganjal akan segera hilang dan sirna, berganti dengan keberkahan.

Bagi sebagian keluarga di negeri ini, budaya saling mengunjungi, baik menjelang Ramadhan atau pun pada Hari Raya Idul Fithr adalah budaya yang sudah sangat melekat.

Ada banyak nash-nash syariat Islam yang menganjurkan dan memerintahkan kita untuk mengerjakannya, namun dari semua itu tidak ada satu pun yang langsung terkait dengan momentum Ramadhan atau Idul Fithr.

Kesimpulannya, berkunjung itu adalah bagian dari ibadah yang pastinya mendatangkan pahala dan kebaikan. Namun tradisi ini seyogyanya tidak hanya dikhususkan untuk dikerjakan menjelang bulan Ramadhan atau Idul Fithr saja. Yang terakhir ini tidaklah lebih dari sekedar budaya.

Ada pun dalil-dalil yang bersifat umum tentang berkunjung untuk mempererat silaturrahim ada banyak, di antaranya :

æóÇÊóøÞõæÇ Çááåó ÇáóøÐöí ÊóÓóÂÁóáõæäó Èöåö æóÇúáÃóÑúÍóÇãó Åöäóø Çááåó ßóÇäó Úóáóíúßõãú ÑóÞöíÈðÇ

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An-Nisa’ :1).

Juga sabda Rasulullah SAW :

ãóäú ÃóÍóÈóø Ãóäú íõÈúÓóØó áóåõ Ýöí ÑöÒúÞöåö æóÃóäú íõäúÓóÃó áóåõ Ýöí ÃóËóÑöåö ÝóáúíóÕöáú ÑóÍöãóåõ

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR. Bukhari)

ãóäú ßóÇäó íõÄúãöäõ ÈöÇááåö æóÇáúíóæúãö ÇúáÂÎöÑö ÝóáúíóÕöáú ÑóÍöãóåõ.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari)

Dengan bersilaturahmi, Allah akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur kita. Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturahmi, Allah akan sempitkan rezekinya atau tidak diberikan keberkahan pada hartanya.

Adapun haramnya memutuskan silaturahmi telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

áÇó íóÏúÎõáõ ÇáúÌóäøóÉó ÞóÇØöÚñ.

"Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi". (HR. Bukhari)

4. Saling Bertukar Hadiah

Sudah menjadi salah satu tradisi bangsa kita untuk saling bertukar hadiah, khususnya menjelang datangnya bulan Ramadhan atau Idul Fithri. Walau pun kita tidak menemukan dalil yang secara khusus memerintahkan bertukar hadiah menjelang Ramadhan atau Idul Fithri tersebut.

Yang ada hanya dalil-dalil secara umum bahwa kita dianjurkan kapan saja, tanpa harus menunggu Ramadhan atau Idul Fithri untuk melakukannya.

Di antara dalil yang mendasarinya adalah sabda Rasulullah SAW yang masyhur berikut ini :

ÊóåóÇÏóæúÇ ÊóÍóÇÈøõæÇ

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai” (HR Al-Bukhari)

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW sangat mendorong agar para shahabat saling memberi hadiah, bahkan meski hadiah itu secara materi nilainya kecil. Beliau berkata, “…meski sebuah tungkai kambing.”

Karena itu, dalam hal saling menghadiahi ini, yang harus dilihat adalah nilai maknawinya, bukan nilai materinya; yaitu dipandang sebagai pemberian tulus, ungkapan dari kedekatan, persahabatan dan kecintaan. Dengan begitu, hadiah tersebut apapun bentuknya, betapapun kecilnya, dan berapapun nilainya akan bisa membangkitkan keridhaan, kecintaan dan kasih sayang dan sebaliknya, akan menjauhkan permusuhan.

Namun terkadang tradisi memberi hadiah ini dikotori dengan sikap-sikap yang kurang terpuji, di antaranya :

a. Bertujuan Menyogok Pejabat

Sebagian pengusaha yang curang sering memanfaatkan momentum hadiah Ramadhan dan Idul Fithri ini untuk melakukan tindakan tidak terpuji, yaitu menyogok atau menyuap pejabat, dengan menyamarkannya sebagai hadiah. Padahal perbuatan yang kemudian dikenal dengan gratifikasi itu sudah ditetapkan sebagai tindakan yang terlarang oleh undang-undang.

Ciri dari sogok ini adalah nilai hadiah itu tidak lazim. Kalau sekedar memberi hadiah buku, souvenir, atau parcel makanan, barangkali masih wajar. Tapi kalau hadiah Ramadhan itu berupa mobil keluaran terbaru, tentu nilainya tidak main-main.

Tentu di balik dari apa yang disebut sebagai ‘hadiah’ ini, ada harapan yang diinginkan dan tentunya hal itu terlarang dalam syariah Islam.

b. Parcel Kadaluarsa

Fenomena yang agak memalukan tapi rasanya sudah seperti tradisi yang sulit dihilangkan adalah tradisi mengirim parcel makanan dan minuman.

Awalnya, tradisi ini masih baik, namun akhir-akhir ini muncul tindakan yang kurang terpuji, yaitu sebagian kalangan secara curang memasukkan makanan atau minuman kemasan yang sudah kadaluarsa. Padahal tindakan itu jelas berbahaya untuk kesehatan, karena bisa beresiko kematian.

Kalau memang tidak mampu mengirim parcel sebagai hadiah, sebaiknya tidak usah dilakukan, dari pada mengirim parcel yang sudah lewat tanggal kadaluarsanya.

Namun yang lebih sering terjadi adalah tindak curang itu dilakukan oleh pihak penjual parcel, dimana mereka sudah mengemas dalam bentuk yang sudah jadi dan siap dikirim, dengan mencopot atau menghilangkan label tanda batas kadaluarsanya. Tindakan ini jelas sebuah penipuan yang haram hukumnya.

c. Balada Geplak Lebaran

Budaya orang Betawi di masa lalu adalah berkunjung di hari Lebaran dengan membawa buah tangan berupa kue Geplak. Oleh tuan rumah, kue itu tidak dimakan tetapi disimpan, dengan niat kalau nanti mereka berkunjung berlebaran ke tetangga, Geplak itu akan dibawa sebagai oleh-oleh dan buah tangan.

Dan begitu lah kemudian Geplak itu berpindah-pindah tuan, dari satu rumah ke rumah yang lain. Semua yang menerima buah tangan Geplak itu tidak ada yang memakannya, hanya disimpan sebentar untuk kemudian dibawa lagi sebagai oleh-oleh bertamu ke rumah tetangga.

Lucunya, dalam satu RT terkadang Geplak itu bisa kembali lagi ke rumah yang pertama. Hal itu ketahuan, karena sebelum dibungkus, kue itu diberi tanda tertentu. Dan setelah beberapa hari berpindah-pindah, akhirnya Gemplak itu pun kembali lagi ke rumah asal. Ahlan wa sahlan ya Geplak.

Tapi kondisinya sudah mengenaskan, Geplak itu sudah tidak enak lagi dimakan, alias sudah bau tengik. Sangat boleh jadi kondisi tengik itu sudah berhari-hari dialami Geplak itu, sambil berputar-putar berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

Inilah balada Geplak lebaran yang akhirnya tidak ada yang memakannya, akibat basa-basi yang sudah basi. Dan akhirnya basi betulan.

5. Saling Mengucapkan Tahniah

Tradisi saling mengucapkan tahniah atau ucapan selamat selama bulan Ramadhan dan Idul Fithri  sudah sangat populer di masyarkat kita. Entah siapa yang lebih dahulu memulainya. Yang jelas budaya itu bermanfaat karena tahniah itu biasanya berupa salam penghormatan, doa dan sekaligus dikemas dalam bentuk permohonan maaf, masih ditambah dengan kata lahir dan batin.

Zaman dahulu, kita sering menggunakan kartu yang dikirim via pos. Tapi di zaman celuler ini, umumnya orang lebih banyak menggunakan pesan singkat alias SMS.

Kalau kita telusuri dalil-dalil yang secara khusus tentang anjuran berkirim tahniah ini setiap menjelang bulan Ramadhan atau Idul Fithri, tentu sulit kita mendapatkannya, atau malah bahkan tidak ada.

Tetapi ucapan salam dan tahniah secara umum memang dianjurkan, tanpa harus menunggu even tertentu. Misalnya firman Allah SWT berikut ini :

æóÅöÐóÇ ÍõíøöíúÊõã ÈöÊóÍöíøóÉò ÝóÍóíøõæÇú ÈöÃóÍúÓóäó ãöäúåóÇ Ãóæú ÑõÏøõæåóÇ Åöäøó Çááøåó ßóÇäó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÍóÓöíÈÇð

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu . Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (QS. An-nisa’ : 86)

Namun juga perlu diperhatikan ucapan tahniah ini agar jangan salah kaprah, jangan sampai malah bikin malu. Seringkali orang mengucapkan selamat lebaran dengan didahului kalimat : minal aidin wal faidzin (ãä ÇáÚÇÆÏíä æÇáÝÇÆÒíä), kemudian diteruskan dengan kalimat lain : mohon maaf lahir dan batin.

Arti kalimat minal aidin wal faidzin itu sebenarnya bukan mohon maaf lahir dan batin. Minal aidin wal faidzin sebenarnya adalah penggalan dari doa, yang lengkapnya adalah :

ÌóÚóáóäóÇ Çááåõ ÌóãöíúÚðÇ ãöäó ÇáÚóÇÆöÏöíúäó æóÇáÝóÇÆöÒöíúäó

Semoga Allah SWT berkenan menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang kembali dan menjadi orang-orang yang menang.[4]

Namun entah bagaimana, barangkali karena terlalu sering digandeng menjadi satu, akhirnya banyak orang mengira bahwa lafadz minal aidin wal faidzin ini adalah bahasa arabnya dari kalimat mohon maaf lahir dan batin. Sehingga ada orang yang ketika bersalaman sambil meminta maaf, dia bilang,” Saya mohon minal aidin wal faidzin, ya pak”. Maksudnya, saya minta maaf lahir dan batin.

Lucunya ketika acara lebaran di kantor Lurah, pak Lurah kemudian dalam sambutannya berpidato, ”Mari kita saling minal aidin wal faizin dengan sesama warga”.

 


[1] Al-Imam An-Nawawi, Al-Majmu' Sharah Al-Muhadzdzab, jilid 5 hal. 6

[2] Al-Albani, Dhaif Sunan Ibnu Majah,

[3] Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Umm, jilid 1 hal. 266

[4] Lafadz doa ini tidak ada rujukannya dari hadits Nabi SAW, sehingga bukan termasuk sunnah atau ritual ibadah.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Bayi Wafat Karena Keguguran Harus Dishalati?
4 July 2016, 05:15 | Shalat | 8.272 views
Apakah Harta Bisa Kena Zakat Dua Kali?
3 July 2016, 09:12 | Zakat | 10.066 views
Puasa Syawwal atau Bayar Qadha Dulu
1 July 2016, 20:43 | Puasa | 13.870 views
Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah?
1 July 2016, 04:35 | Shalat | 15.865 views
Sesama Pendukung Zakat Profesi Masih Beda Pendapat
28 June 2016, 08:00 | Zakat | 9.524 views
Puasa Sudah Batal, Apakah Masih Wajib Berimasak Menahan Diri Dari Makan dan Minum?
22 June 2016, 13:21 | Puasa | 7.482 views
Tukar Uang Receh Menjelang Lebaran, Ribakah?
21 June 2016, 02:34 | Muamalat | 14.083 views
Puasalah Kamu Akan Sehat, Ternyata Hadits Palsu?
16 June 2016, 02:19 | Hadits | 17.610 views
Zakat untuk Janin
14 June 2016, 15:22 | Zakat | 5.714 views
Junub dalam Keadaan Puasa Dapat Membatalkan Puasa?
8 June 2016, 02:00 | Puasa | 7.935 views
Menikahi Wanita Hamil, Haruskah Nikah Ulang Pasca Kelahiran?
7 June 2016, 02:47 | Nikah | 81.774 views
Doa Buka Puasa Allahumma Laka Shumtu Bukan Hadits Shahih?
6 June 2016, 08:45 | Hadits | 13.129 views
Amalan Nisfu Syaban
22 May 2016, 02:20 | Puasa | 27.495 views
Hadits Tentang Nisfu Sya'ban dan Dalil-Dalilnya
21 May 2016, 05:05 | Hadits | 302.393 views
Hukum Hadiah dari Suatu Perlombaan yang Berasal dari Uang Pendaftaran
18 May 2016, 05:00 | Muamalat | 25.173 views
Benarkah Hukum Imunisasi Mutlak Haram?
14 May 2016, 04:50 | Kontemporer | 54.730 views
Metode Hisab Untuk Penetapan Ramadhan & Syawwal
11 May 2016, 06:15 | Puasa | 8.286 views
Haruskah Kita Berobat Dengan Pengobatan Nabawi?
9 May 2016, 07:00 | Kontemporer | 10.371 views
Bolehkah Menjamak Shalat Tanpa Sebab Safar, Takut atau Hujan
7 May 2016, 08:45 | Shalat | 15.310 views
SMS Berhadiah PILDACIL, Haramkah?
29 April 2016, 16:36 | Muamalat | 5.594 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,460,897 views