Dokter, Perawat dan Tukang Obat | rumahfiqih.com

Dokter, Perawat dan Tukang Obat

Ahmad Sarwat, Lc., MA Wed 7 August 2013 14:38 | 7134 views

Bagikan via

Dulu saya agak kesulitan untuk menjelaskan dengan mudah kalau ditanya apa perbedaan ulama mujtahid dengan para  penceramah kondang. Dan yang merasakan kesulitan serupa agaknya bukan saya sendiri, berjuta umat Islam yang awam juga kebingungan membedakannya.

Sebab keduanya sering memakai kostum dan atribut yang serupa. Padahal kalau cuma dibedakan berdasarkan seragam, nyaris jadi tidak ada bedanya. Mana yang ulama dan mana yang bukan, susah buat kita untuk membedakannya.

Lebih parahnya lagi, para penceramah kondang ini sering berceramah di berbagai pengajian dan majelis taklim, sehingga sering diberi gelar ustadz, da'i, bahkan kadang disebut juga sebagai ulama. Wah, makin kabur saja perbedaannya.

Para penceramah itu harus diakui sebagai tokoh agama, tentunya apa yang mereka ceramahkan berguna buat para jamaah, dan pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Dalam hal ini kita tidak perlu menghujat mereka dan aktifitas mereka, toh mereka punya niat yang baik, materi ceramahnya secara umum pasti mengajak kepada kebaikan.

Kenapa Harus Dibeda-bedakan?

Lalu kenapa kita harus membeda-bedakan, mana ulama mujtahid dan mana penceramah? Apakah kita merasa iri dan dengki dengan nasib para penceramah itu? Dan apakah profesi sebagai penceramah itu melanggar agama?

Jawabnya tentu saja tidak. Kita justru harus bersyukur bahwa di zaman kerusakan moral ini telah muncul banyak sekali para penceramah, yang menyirami umat dengan nasihat dan ceramah-ceramah mereka. Terus terang, pemandangan dimana ada banyak penceramah sesemarak ini tidak kita temukan di era tahun 80-an.

Lalu kenapa kita harus bedakan antara ulama mujtahid dengan penceramah?

Penjelasannya begini, bahwa ulama mujtahid itu bekerja berdasarkan disiplin ilmu yang dimilikinya. Dan agama itu pada dasarnya harus dibangun dengan ilmu yang lurus dan benar.Tolok ukur kebenaran dan hukum halal dan haram yang menjadi urat nadi agama Islam, harus sejajar dengan disiplin ilmu.

Para penceramah itu bukannya tidak berilmu, tetapi dengan latar belakang pendidikan yang hanya nyaris rata-rata, mereka bukan tempat rujukan dalam ilmu agama, khususnya ilmu syariah dan hukum-hukumnya.

Sementara umat terlanjur menganggap mereka sebagai tokoh agama. Dan dianggap sebagai rujukan dalam ilmu syariah. Tiap ada masalah syariah dan hukum-hukumnya, para penceramah ini pasti dijadikan rujukan, bahkan dijadikan tolok ukur kebenaran.

Kalau penceramahnya rada tawadhu' dan tahu diri, lalu mengelak dengan halus untuk berfatwa hukum, tentu malah jadi baik. Sayangnya, yang bisa tawadhu' itu jarang-jarang adanya. Entah karena gengsi malu kalau dibilang ilmunya cetek, atau karena memang terlalu lugu, atau juga karena tidak tahu, seringkali para penceramah ini berfatwa, bicara hukum halal haram, bicara ketentuan syariah, tetapi tanpa landasan ilmu.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu, dimana muncul tokoh-tokoh yang jahil tapi rajin berfatwa. Mereka bukan mengajarkan agama tetapi malah menjauhkan orang dari agama.

إِنّ الله لا يقْبِضُ العِلْم اِنْتِزاعًا ينْتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِنْ يقْبِضُ العِلْم بِقبْضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبْقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفْتوْا بِغيْرِ عِلْمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan bahwa umat Islam pada akhir masa nanti akan kehilangan para ulama, lantas mereka menjadikan para pemimpin yang bodoh dan tidak punya ilmu sebagai tempat untuk merujuk dan bertanya masalah agama.

Alih-alih mendapat petunjuk, yang terjadi justru mereka semakin jauh dari kebenaran, bahkan sesat dan malah menyesatkan banyak orang.

Dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu rasanya sangat tepat kalau kita sebut bahwa hari ini benar-benar sedang terjadi. Dan lebih tepat lagi kalau kita sebut lokasinya adalah Indonesia, sebuah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi sedikit sekali orang yang berkapasitas ulama.

Sangat jauh perbedaan antara mereka dengan ulama mujtahid yang yang memang ahli di bidang ilmu-ilmu syariah. Dalam disiplin ilmu syariah, sebenarnya mereka memang bukan mujtahid dan juga belum sampai derajatnya sebagai pakar ilmu syariah.

Analogi Mujtahid dengan Dokter

Akhirnya saya menemukan analogi sederhana yang sedikit banyak bisa membantu mendekatkan kita pada duduk permasalahan di benak kita.

Dan saya sering menggunakan analogi dengan dunia kedoteran. Ilmu kedokteran bisa disandingkan dengan ilmu syariah, dimana keduanya dibangun di atas dasar sain yang begitu ilmiyah, penuh dengan pengujian yang eksak dan tentunya profesional. Baik ilmu syariah ataupun ilmu kedokteran sudah menjelma menjadi disiplin ilmu yang baku dan diajarkan di seluruh dunia lewat jenjang kuliah S-1, S-2 dan S-3 serta pendidikan spesialisasi lainnya.

Cuma bedanya, dalam dunia kedokteran, kita dengan mudah bisa membedakan mana dokter dan mana yang bukan dokter. Sedangkan dalam disiplin ilmu fiqih dan syariah, banyak orang yang sama sekali tidak mengerti membedakan ulama ahli fiqih dengan ustadz dan sejenisnya.

Siapakah Dokter itu?

Mari kita bicara tentang siapakah dokter dan apa saja syaratnya agar bisa jadi dokter.

Dokter adalah lulusan SMA pintar yang berhasil menjebol seleksi ketat Fakultas Kedokteran di Universitas tertentu. Lalu dia dengan tekun mengikuti perkuliahan yang berat dan bertahun-tahun lama, hingga akhirnya dinyatakan lulus.

Begitu lulus, dia belum jadi dokter tetapi baru sekedar menjadi Sarjana Kesehatan. Untuk itu dia kemudian diharuskan untuk menempuh berbagai proses lagi, hingga akhirnya mendapatkan surat izin praktek. Dan jadilah dia seorang dokter umum seperti yang banyak kita kenal.

Dokter Spesialis

Barangkali buat orang awam, semua dokter itu sama saja. Padahal para dokter ini pun punya hirarki keilmuan dan juga spesialisasi yang berbeda-beda.

Hirarki yang paling rendah adalah dokter umum. Mereka boleh buka praktek secara umum, tetapi manakala pasien terindikasi punya penyakit yang rada berat, misalnya sakit jantung, paru, ginjal, atau kanker, maka harus ditangani oleh dokter spesialis yang hirarkinya di atas dokter umum.

Tugas dokter umum ini memberikan rujukan ke rumah sakit tertentu, dimana disana ada dokter spesialis ahli di bidang penyakit tertentu.

Untuk bisa menjadi seorang dokter spesialis, maka dokter umum harus balik lagi ke kampus mengambil kuliah spesialis. Kalau dokter umum ini sukses menempuh perkuliahan spesialisasinya, barulah dia jadi dokter spesialis.

Tapi ingat, di atas hirarki para dokter spesialis, masih ada lagi keahlian yang lebih tinggi lagi dan yang lebih tinggi lagi.

Ulama Mujtahid Ibarat Dokter

Para ulama mujtahid ini bisa kita analogikan sebagai para dokter. Ada yang cuma dokter umum, tetapi ada yang dokter spesialis dan seterusnya. Namun yang pasti, tidak mungkin ada ulama mujtahid kecuali dia sudah menghabiskan hampir seluruh usianya untuk kuliah, belajar dan mendalami ilmu syariah.

Untuk menjadi ulama mujtahid tentu tidak cukup hanya sekedar mengenakan seragam gamis panjang dengan jenggot lebat plus sorban melingkari kepala dan tasbih diputar-putar.

Dan untuk menjadi ulama mujtahid tidak cukup hanya namanya dicantumkan dalam daftar pengurus suatu lembaga yang berlabel ulama, atau berlabel fatwa, tarjih dan sejenisnya. Maksudnya, tidak mentang-mentang seseorang duduk jadi pengurus di suatu lembaga fatwa pada suatu organisasi, otomatis dia langsung jadi ahli syariah. Tidak sama sekali.

Karena jabatan dan keilmuan itu dua hal yang sangat berbeda. Seorang yang bodoh dan tidak paham agama bisa saja tiba-tiba dicantumkan namanya menjadi pejabat di suatu lembaga fatwa, cukup dengan punya koneksi dan kedekatan dengan tokoh tertentu. Dan bisa saja ulama yang betulan tiba-tiba namanya dicoret begitu saja dari suatu lembaga fatwa tertentu. 

Untuk jadi ulama, mereka harus menempuh jenjang pendidikan berkuatas yang lama dan panjang, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah, hingga meneruskan ke jenjang perguruan tinggi, mulai dari Strata-1, Strata-2 dan hingga Strata-3.

Lulus pendidikan khusus, tidak otomatis mereka jadi mujtahid. Sebab mereka harus hidup bergelut di dunia keilmuan, serta mengabdikan diri demi perkembangan ilmu yang telah dipelajarinya.

Untuk menjadi ulama betulan, seorang murid yang belajar ilmu syariah harus mengaji, mengaji, dan mengaji tidak pernah berhenti. Berguru kemana-mana menuntut ilmu, kalau perlu meninggalkan tanah kelahiran untuk terus menerus menimba ilmu syariah. Dan ciri yang mudah untuk dikenal apabila ilmunya sudah banyak, keluar sikap tawadhu' dan rendah hatinya. Dia tidak pernah merasa pintar, apalagi mengaku-ngaku sebagai ahli ijtihad.

Para Mujtahid Pun Berjenjang

Para mujtahid di masa lalu punya hirarki berjenjang. Ada mujtahid mutlak macam para pendiri mazhab yang empat, yaitu Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah. Mereka adalah soko guru utama yang menciptakan rumus dan kaidah ilmu istimbath hukum secara lengkap dan tidak terbantahkan sepanjang zaman.

Di bawah keempat mujtahid mutlak itu ada level-level yang lebih rendah. Langsung di bawah para mujtahid mutlak adalah level mujtahid mutlak ghairu mustaqil. Di bawahnya ada lagi level mujtahid yang disebut dengan mujtahid muqayyad, mujtahid tarjih dan mujtahid fatwa. Masing-masing dengan spesifikasi, kapasitas ilmu dan kewenangannya. Tidak mungkin dirinci secara detail dalam tulisan singkat ini.

Profesi Yang Dekat Dengan Dunia Kesehatan

Di luar profesi para dokter, kita mengenal adanya orang-orang yang juga bekerja terkait dengan dunia kesehatan. Sebutlah misalnya ada perawat, apoteker, ahli farmasi dan juga ahli gizi.

Mereka juga harus kuliah panjang dan lama agar mencapai profesi itu. Meski berpendidikan tinggi dan lama, tetapi mereka jelas bukan dokter, sehingga kedudukannya tidak bisa disejajarkan begitu saja dengan para dokter.

Seorang perawat meski bisa menyuntik, memasang alat infus atau merawat luka, tetapi harus bekerja di bawah arahan dokter ahli. Dokterlah yang menentukan obat apa yang harus disuntikkan ke dalam tubuh pasien. Tidak boleh seorang perawat main suntik pasien begitu saja seenak perutnya, tanpa izin dari dokter.

Seorang apoteker tidak boleh mengobati pasien secara langsung, walaupun dia bekerja di ruangan yang penuh dengan obat. Apoteker bekerja berdasarkan resep dari dokter untuk meracikkan obat bagi pasien. Maka seorang apoteker tidak boleh langsung memberi obat kepada pasien, tetapi harus lewat dokter dulu. Kalau dia melanggar, maka pasti dipersalahkan karena tidak sesuai prosedur.

Apalagi kalau sok melakukan pembedahan cesar buat ibu hamil yang bayinya terlibat tali pusat, pasti sudah masuk penjara. Kenapa? Karena seorang apoteker bukan ahli bedah kandungan, walaupun masih bau-bau dunia kesehatan.

Seorang ahli gizi memang mengerti jenis makanan apa saja yang cocok untuk kesehatan pasien. Tetapi dia tidak boleh melakukan tindakan medis yang menjadi preogratif profesi dokter. Ahli gizi tidak boleh membedah perut pasien, karena hal itu di luar kewenangannya, disebabkan memang ilmu dan kemampuannya bukan di bidang itu.

Nah sekarang mari kita analogikan, orang-orang yang berprofesi di dunia kesehatan yang bukan dokter ini sebagai para ulama juga, tetapi bukan ulama mujtahid ahli syariah. Sebab ilmu yang mereka pelajari hanya bersifat parsial dan merupakan potongan-potongan kecil dari ilmu fiqih yang besar.

Lalu siapa contohnya?

Kita bisa masukkan misalnya para ulama hadits atau muhadditsin besar, seperti Al-Imam Bukhari, Al-Imam Muslim, Al-Imam At-Tirmizy, Al-Imam Al-Baihaqi dan banyak lagi yang lainnya. Ilmu mereka tentu tinggi, tetapi bukan di bidang istimbath hukum. Ilmu yang mereka bidangi hanya bagian kecil dari sebuah proses istimbath hukum, yaitu sebatas pada memastikan keshahihan suatu hadits.

Keshahihan suatu hadits hanya salah satu unsur dari lusinan unsur dalam pekerjaan mujtahid dan fuqaha. Tetapi untuk menentukan hukum suatu masalah, tentu bukan tugas dan wewenang para ahli hadits.

Jadi status mereka memang bukan mujtahid dan bukan fuqaha, tetapi mereka sekedar meneliti suatu hadits, apakah shahih atau tidak. Kalau sudah berhasil mengidentifikasi hukum suatu hadits, peran mereka pun selesai sudah.

Secara hukum syariah, para ahli hadits ini bukan mujtahid, sehingga mereka tetap harus berittiba' kepada para mujtahid. Maka jangan kaget kalau Al-Bukhari dan Muslim ternyata bermazhab Syafi'i. Demikian juga dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang merupakan muttabi' dalam mazhab yang sama.

Tukang Obat

Ajaibnya, di luar profesi dokter, perawat, apoteker dan ahli gizi di atas, di tengah masyarakat kita juga menemukan sosok 'aneh' yang suka banyak bicara tentang kesehatan, yaitu tukang obat. Tukang obat ini banyak sekali bicara tentang obat, karena tujuan mereka memang berjualan obat. Kebanyakan dari mereka berjualan obat di pinggir jalan dengan membuat kerumunan massa..

Dan menariknya, untuk menjadi tukang obat, ternyata tidak dibutuhkan pendidikan atau keahlian khusus. Tidak ada fakultasnya, tidak ada jenjang perkuliahan S-1 hingga S-3.

Apalagi untuk jadi tukang obat di perempatan jalan, seseorang cukup melatih bakat  berpidato di depan massa. Semakin menarik pidatonya, semakin banyak kerumunan orang-orang yang merubungnya. Dan tentunya semakin laris obat jualannya.

Untuk itu mereka terbiasa bikin atraksi panggung yang menghibur, walaupun bisa jadi penuh tipu-tipu. Misalnya, ada temannya yang pura-pura jadi orang sakit. Begitu pakai obat jualannya, langsung sembuh seketika. Dan tersihirlah kerumunan massa dan dagangannya langsung laris manis habis tidak bersisa.

Tetapi ada juga jenis tukang yang lebih maju. Mereka tidak mangkal di perempatan jalan, tetapi buka praktek klinik pengobatan. Untuk itu mereka rajin pasang iklan yang heboh, baik di koran atau internet. Terigur keuntungan, tidak sedikit dari mereka berani pakai modal besar untuk beriklan di TV. Maka orang-orang akan datang berduyun-duyun ke kliniknya.

Kadang biar rada keren dan meyakinkan pasein, para tukang obat modern ini pakai baju yang dimirip-miripkan dengan baju dokter, yaitu seragam putih-putih juga, lengkap dengan stateskop melingkar di leher. Bahkan boleh jadi suka bicara dengan mengutip istilah-istilah kedokteran modern.

Kita yang awam bisa dipastikan tertipu mentah-mentah dengan penampilannya.

Sekedar Penceramah Hanya Beda Tipis Dengan Tukang Obat

Nah, di tengah rimba dunia panggung dakwah dan ceramah, kita seringkali menemukan para tokoh 'tukang obat' ini. Mereka memang pandai ceramah dan pidato, lihai menyihir jamaah dengan memainkan kata, sehingga semua ikut tertawa, menangis, bahkan bertakbir.

Saya sendiri kagum luar biasa dengan kemampuan pidato dan atraksi panggung mereka. Sampai acara pengajiannya bisa jadi tontonan kolosal, dihadiri ribuan masa, bahkan sampai dikontrak oleh stasiun televisi rutin tiap hari menyapa pemirsa.

Tetap kita syukuri keberadaan mereka. Tetapi mohon maaf, jangan sampai mereka mengambil alih wilayah yang bukan otoritas mereka. Sebab kalau kita teliti dengan jujur latar belakang ilmu dan spesialisi pendidikannya, yang terjadi malah sebaliknya. Ternyata mereka tidak pernah melewati jenjang pendidikan ilmu syariah. Sehingga tentu saja mereka bukan sosok ulama mujtahid yang berlimpah ilmu pengetahuan agama. Mereka lebih merupakan sosok aktor panggung yang pandai retorika menyihir massa.

Oleh karena itu jangan heran kalau seringkali mereka butuh atribut buat manggung, mulai dari kostum baju koko khas, peci, dan asesoris lainnya. Bahkan mereka butuh yel-yel khas yang biasa dipakai oleh para trainer motivator. Yah, namanya juga atraksi panggung, harus menghibur dong.

Tidak Pernah Melewati Jenjang Kuliah Ilmu Syariah

Faktanya mereka sama sekali tidak pernah duduk di jenjang perkuliahan fakultas syariah untuk tekun mempelajari berbagai cabang ilmu syariah.

Tidak Bisa Bahasa Arab : Kalau kita telusuri riwayat belajar agamanya, ternyata mereka tidak pernah belajar bahasa Arab dengan benar, tidak pernah mendalami ilmu nahwu, ilmu sharaf, balaghah, badi', bayan apalagi mantiq. Jadi kalau kita tes untuk membaca kitab gundul, sudah bisa dipastikan tidak akan mampu. Jangankan kitab yang gundul, kitab yang gondrong dan kribo saja pun tidak akan berbunyi.

Tidak Belajar Ilmu Al-Quran : Mereka juga tidak pernah belajar Al-Quran dengan semua cabang ulumul quran, seperti ilmu tafsir, naskh dan mansukh, muthlaq muqayyad,  'aam dan khash, manthuq dan mafhum, dan juga tentangasbabun nuzul.  Dan pastinya mereka tidak pernah belajar ilmu qiraat dan sanad-sanadnya.

Tidak Belajar Ilmu Hadits : Mereka juga tidak pernah belajar ilmu hadits dengan beragam cabangnya semacam ilmu al-jarh wa at-ta'dil, rijalul hadits, takhrij dan al-hukmu alal hadits dan seterusnya.

Tidak Belajar Fiqih dan Ushul Fiqih : Mereka juga tidak pernah belajar ilmu fiqih sejak dasar lewat guru fiqih yang benar. Sehingga tidak tahu siapa saja para ulama dan mujtahid dalam tiap jenjangnya dalam tiap-taip mazhab-mazhab. Dan mereka tidak mengerti karya-karya emas para fuqaha itu yang bisa dijadikan rujukan.

Dan mereka juga tidak pernah belajar bagaimana sebuah kesimpulan hukum itu diistimbath dengan menggunakan kaidah yang benar. 

Mereka juga tidak pernah diajari bagaimana perbedaan pendapat dan perbandingan mazhab (muqaranatul mazahib) di kalangan ulama itu bisa terjadi. Akibatnya mereka juga tidak tahu sikap dan tindakan apa yang harus diambil ketika terjadi perbedaan pendapat itu.

Dengan kapasitas yang seadanya itu, tentu keliru besar kalau kita menjadikan para penceramah itu sebagai rujukan dalam ilmu syariah. Orang yang tidak punya apa-apa, tentu tidak bisa memberikan apa-apa.

Lalu Posisi Penulis Ada Dimana?

Setelah panjang lebar bikin peta analogi, mungkin pembaca ada yang bertanya tentang kedudukan penulis sendiri, ada dimana dari tiga profesi di atas?

Terus terang penulis dan juga para pembaca semua tidak masuk dalam salah satu dari tiga profesi di atas. Kita semua ini bukan dokter, bukan apoteker, bukan perawat, bukan ahli gizi dan tentunya juga bukan tukang obat.

Kita semua ini adalah umat yang awam, masuk dalam tataran rakyat jelata. Sebab ilmu yang kita miliki terlalu sedikit dibandingkan dengan ilmu yang dipelajari para dokter dan juga para perawat. Dan tentunya kita pun tidak jualan obat di pinggir jalan.

Kita cukup menjadi pasien yang baik, mendengarkan nasehat dokter, kalau kurang mengerti, tentu bertanya kepada dokter, agar dapat informasi yang benar, valid dan akurat. Kita tidak perlu sok merasa jadi dokter, padahal cuma jadi tetanganya dokter. Sampai kapan pun tetangga dokter tidak akan pernah jadi dokter, kecuali dia kuliah dulu di fakultas kedokteran.

Kalau ada orang yang punya sikap dan gaya hidup kurang sehat, dan kita tahu mereka keliru, memang sih tidak ada salahnya kalau kita ingatkan kepada mereka bahwa menurut dokter hal itu tidak sehat. Misalnya, kalau ada orang minum air sumur tanpa dimasak, atau makan makanan yang tercemar, kadaluarsa atau beracun, kita wajib ingatkan bahwa hal itu membahayakan kesehatan. Tetapi tetap saja bahwa nasehat kita karena kita punya akses informasi yang valid dokter.

Dan sebagai tetangga dokter, kita tidak boleh beli obat sembarangan dari tukang obat di perempatan jalan. Apalagi sampai mempercayai bulat-bulat semua jurus ngibulnya. Tentu pak dokter sendiri akan malu kalau mengetahui bahwa ada tetangganya masih saja belum tercerahkan wawasannya.

Semoga kita bisa menyiapkan anak-anak kita menjadi dokter syariah, kalau perlu jadi dokter spesialis di masa mendatang. Kalau tidak jadi dokter, minimal menjadi pasien yang tercerahkan. Amien ya rabbal alamin.

Wallahu a'lam bishshawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 6.878 views
Belum Qadha' Puasa Hingga Ramadhan Berikutnya, Bagaimana Hukumnya?
Aini Aryani, Lc | 3 August 2013, 16:50 | 4.452 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.755 views
Suara Wanita Aurat, Masak Sih?
Aini Aryani, Lc | 30 July 2013, 08:59 | 4.869 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 7.050 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 1.369 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 7.748 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 7.841 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 10.837 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.348 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 7.078 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.501 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 9.856 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 6.902 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 8.890 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 5.856 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.489 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.524 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 5.143 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 8.233 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 15.819 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 4.091 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.533 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 8.953 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.281 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.823 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.589 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.770 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 8.002 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 19.860 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 6.771 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 11.237 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.508 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.339 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.579 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.299 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 5.178 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.371 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 5.011 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 7.134 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 6.878 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.728 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.323 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.474 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.525 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 6.176 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 8.192 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.307 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.542 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 4.257 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 6.009 views