Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa? | rumahfiqih.com

Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Fri 2 August 2013 08:03 | 3517 views

Bagikan via

As-safar atau melakukan perjalanan adalah bagian dari hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita di dunia ini. Setiap kita sudah barang tentu membutuhkannya. Ada yang melakukan perjalanan untuk kebutuhan dunia, ada juga yang meakukan perjalanan karena agama, juga ada yang melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, berobat, dan sebagainya.

Tidak kalah pentingnya ada juga yang melakukan perjalanan hanya untuk bersilaturrahim dengan kerabat, atau hanya sebatas berjalan mengisi liburan keluarga, mengunjungi berbagai negara untuk kebutuhan riset, juga mudik atau pulang kampung yang biasanya dilakukan oleh penduduk negri ini.

Karena perjalan ini adalah bagian dari kehidupan, maka Islam juga melalui syariatnya sangat memperhatikan masalah ini, karenya juga Islam banyak memberikan keringanan bagi mereka yang melakukan perjalanan, baik dalam hal thoharoh, sholat, maupun puasa.

Kebolehan Berbuka

            Diantara keringan yang Islam berikan kepada mereka yang melakukan perjalanan (safar) adalah kebolehan untuk berbuka, hal ini didasari dari dali-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun dari hadits Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya:

Firman Allah SWT:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” [QS. Al-Baqarah : 184].

Hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

حدثنا يحيى بن يحيى. أخبرنا أبو خيثمة عن حميد. قال: سئل أنس رضي الله عنه عن صوم رمضان في السفر ؟ فقال: سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان. فلم يعب الصائم على المفطر ولا المفطر على الصائم.

Anas radliyallaahu ‘anhu pernah ditanya tentang puasa Ramadlaan ketika safar, maka ia menjawab : “Kami pernah bersafar bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. Maka, orang yang berpuasa tidaklah mencela orang yang berbuka. Begitu pula orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1118].

Safar dengan Trasportasi Moderen

            Sebagian dari masyarakat kita mencoba untuk berfilsafat bahwa perjalanan sekarang berbeda dengan perjalanan mereka yang hidup dimasa lalu., bahwa perjalanan dimasa sangat menyusahkan dan melelahkan, jadi sangat wajar jika mendapat keringan untuk tidak berpuasa (berbuka), namun yang demikian tidak didapat dari perjalan sekarang.

            Pesawat terbang, bus besar, kereta api, kapal laut, mobil mewah dan sebagianya adalah jenis transportasi moderen yang sangat memberikan kenyamanan dalam perjalanan, sehingga ada anggapan bahwa keringan yang diberikan untuk berbuka itu sudah tidak berlaku lagi. Padahal apa yang ada dalam pikiran mereka tidak bisa langsung dibenarkan.

            Dalam tradisi fiqih yang menjad sentral hukum itu adalah dalil, dan bahwa hukum yang berkaitan dengan ibadah itu bersifat tetap, sampai ada dalil yang menghapus keberlakuannya. Dan bahwa suatu hukum tidak bisa dihapuskan oleh hanya dengan standar ‘logika’ semata.

            Kebolehan untuk berbuka itu sangat jelas landasannya, Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya menyebutkan bahwa kebolehan berbuka itu atas alasan (illah) perjalanan (safar), dan perjalanan yang dimaksud tidak mengharuskan perjalanan yang memberatkan (masyaqqah), karena dalam teori illah, Ibnu Qudamah dalam kitabnya Raudah an-Nazhir menyebutkan bahwa perjalanan (safar) itu sendiri yang disebutkan oleh Al-Qur’an dan Hadits itu sudah masuk dalam katagori illah yang darinya bersumber banyak kemaslahatan (mansya’ al-hikmah), walaupun mungkin disana tidak terdapat sesuatu yang memberatkan atau menyusahkan.

            Jadi perjalanan dengan sistem tranportasi moderen sekarang ini tidak menggugurkan keberlakuan ayat serta hadits yang membolehkan bagi mereka yang melalukan perjalanan untuk berbuka.

            Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya jilid 25 halaman 210 juga menuliskan [يجوز الفطر للمسافر باتفاق الأمة، سواء كان قادرًا على الصيام، أو عاجزًا، وسواء شق عليه الصيام أو لم يشق ] bahwa kebolehan untuk berbuka  bagi mereka yang melakukan perjalanan itu sudah mendajadi kesepakatan semua ulama, baik bagi mereka yang mampu untuk berpuasa maupun bagi mereka yang lemah untuk itu, baik pejalanannya memberatkan maupun perjalanan yang tidak memberatkan.        

Bagusnya Berbuka atau Puasa?

            Jadi berbuka atau tetap berpuasa itu hukum dasarnya adalah boleh, bukan wajib. Jika memang demikian, mana yang lebih utama untuk kita lakukan, berbuka saja atau tetap berpuasa?

            Dalam hal ini setidaknya para ulama kita terbagi dalam tiga pendapat besar; Puasa lebih utama, berbuka lebih utama, mana yang paling memudahkan itulah yang utama. Pendapat pertama adalah pendapat mazhab Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i, yang demikian teruntuk bagi mereka yang kuat untuk berpuasa. Alasannya adalah bahwa Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya ketika melakukan perjalanan lebih banyak berpuasa ketimbang berbuka, dan Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melakukan sesuatu kecuai yang utama untuk dilakukan.

            Pendapat kedua, dimana berbuka lebih utama adalah pendapat dari Imam Ahmad, Al-Auza’i, Ishaq dan lainnya, karena keringanan (rukhsah) yang diberikn oleh Allah SWT itu lebih utama untuk diambil ketimbang diabaikan. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إن الله يحب أن تؤتى رخصة كما يكره أن تؤتى معصيته

Sesungguhnya Allah menyukai dilaksanakan rukhshah (keringanan)-Nya, sebagaimana Dia membenci dilaksanakan maksiat kepada-Nya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/108; shahih].

            Imam Muslim dalama riwatnya menyebutkan bahwa dulunya ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan beliau melihat segerombolan orang yang berkumpul mengerumuni seseorang yag sepertinya dalam kelelahan, lalu tiba-tiba Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menanyakan perihalnya, dan mereka menjawab bahwa dia yang mereka kerumuni itu dalam keadaan berpuasa, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس من البر أن تصوموا في السفر

Tidak ada kebaikan berpuasa ketika safar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1115].  

            Pendapat Ketiga adalah pendapat Umar bin Abdul Aziz, Mujahid dan Qatadah bahwa yang paling utama itu adalah yang paling ringan diantara keduanya. [أفضلهما أيسرهما ]. Landasan dasarnya adalah karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah dihadapkan diantara dua hal kecuali beliau memilih yang paling mudah.

            Maka ilustrasinya seperti ini, jika badan kuat dan perjalanan tidak terlalu memberatkan sedang mengqodho puasa adalah hal yang menyulitkan, karena kita berpuasa disa’at semua orang berbuka, maka dalam hal ini berpuasa lebih utama, sedang jika badan lemah dan perjalanan juga memberatkan dan mengqodho puasa lebih mudah bagi kita walaupun pada waktu itu nanti semua orang berbuka, maka dalam hal ini berbuka lebih utama untuk diakukan.

            Jadi pendapat yang ketiga ini membedakan kondisi kapan kita lebih baik berpuasa dan kapan pula kondisi dimana kita lebih baik berbuka.

Puasa lebih utama ketika kita khawatir lalai dalam mengganti puasa, atau bagi musafir yang tidak mendapati kelelahan dalam perjalanannya, apalagi jika perjalanan dilakukan dengan alat transportasi moderen seperti sekarang ini, atau juga bagi mereka yang hidupnya selalau dalam perjalanan; sopir bus antar kota antara provinsi, pilot, pramugari, masinis, nakhoda kapal, dan lainnya, mereka ini baiknya berpuasa saja, jika memang perjalanannya tidak memberatkan.

            Akan tetapi sebaliknya jika memang perjalanan memberatkan, dan kondisi badan lemah, seperti mereka yang sekarang ini sering mudik dengan menggunakan sepeda motor karena mungkin tidak punya cukup ongkos, asalkan memang benar-benar tidak kuat untuk berpuasa, maka dalam hal ini berbuka lebih baik.

            Hanya saja yang juga harus diperhatikan bagi mereka yang memilih berbuka agar sedikit bersembunyi ketika makan atau minum, ini demi menjaga kehormatan bulan puasa juga menghormati mereka yang sedang berpuasa. Juga yang perlu diperhatikan untuk segera menggantinya ketika nanti bulan puasa sudah berakhir, hal ini karena Allh SWT berfirman:

  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” [QS. Al-Baqarah : 184].

Jika Memilih Berbuka, Kapan Berbukanya?

            Safar memang termasuk alasan yang dengannya kita dibolehkan untuk berbuka, akan tetapi tidak serta-merta ketika ada niat untuk melakukan perjalanan kita sudah boleh berbuka. Tidak.  setidaknya ada beberapa hal yang harus terpebuhi barulah kita boleh berbuka:

Keluar Rumah atau Keluar Batas Kota

            Jadi tidak benar jika seandainya hanya dengan alasan safar, lalu dengan sengaja sebelum keluar rumah kita sudah sarapan pagi, ngopi, negeteh, makan nasi uduk, dan lain sebagainya. ini sangkaan yang salah dalam memahami perihal kebolehan untuk tidak berpuasa ini.  

            Tetap saja bahwa kita dianjurkan untuk makan sahur seperti biasa, dan paginya tetap berpuasa, lalu kemudian packing dan perjalananpun dimulai dan kita masih dalam keadaan berpuasa, barulah setelah kita keluar rumah dan setelah kita melewati batas kota berlaku kebolehan untuk berbuka, itu pun jika perjalanan yang kita lakukan itu memenuhi jarak minimal perjalanan.

            Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’-nya menegasan bahwa seseorang itu barulah dinamakan musafir jika dia sudah melakukan perjalanan yang biasanya dimulai dengan keluar rumah dan sudah melewati batas kota.

Jarak Minimal

            Para ulama berbeda pendapat dalam batasan berapa jarak mininal perjalanan yang membolehkan kita untuk berbuka, perbedaan ini sama perisis dengan perbedaan para ulama dalam membatasi batasan minimal perjalanan yang membolehkan kita untuk  menjama’ atau mengqoshor sholat.

             Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islmi wa Adillatuh menyebutkan bahwa myoritas ulama mensyaratkan perjalanan itu berjarak lebih kurang 89 km, atau detailnya adalah 88, 704 km.

Akan tetapi kalangan Hanabilah tidak mensyaratkan jarak, asalkan perjalanan itu masuk secara katagori safar secara urf (budaya), sepertinya mereka mengaminkan pendapat Ibnu Qudamah dalam Kitabnya Al-Mughni Jilid 2 halaman 257, lagipula Al-Qur’an secara redaksional tidak menyebutkan jarak, Al-Qur’an hanya menyebutkan katagori safar saja, maka disinilah peran urf dalam membtasi mana yang seara budaya masuk dalam katagori safar dan mana yang tidak.  

            Mudik, berbuka atau tetap berpuasa? Adalah pertanyaan yang kita sendirilah bisa menjawabnya setelah kita semuanya mengetahui segala hal yang terkait dengannya. Semoga Allah SWT meberikan keselamat bagi kita semua para pemudik lebaran, dan pada waktunya bisa berkumpul bersama keluarga tercinta dalam keberkahan Ramadhan dan Idul Fitri.

Wallahu A'lam Bisshowab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Suara Wanita Aurat, Masak Sih?
Aini Aryani, Lc | 30 July 2013, 08:59 | 4.607 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 6.747 views
Al-Tanaazul (Turun Tahta) Dalam Kajian Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 July 2013, 06:31 | 3.298 views
Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 July 2013, 08:49 | 5.121 views
Makna Jauf (Rongga) Dalam Pengertian Fiqih Puasa
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 July 2013, 10:19 | 5.087 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 850 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.611 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.592 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 1.769 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.163 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.627 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.171 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 1.984 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.495 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.244 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.175 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 1.861 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.176 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.398 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 1.791 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.537 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 3.994 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 3.898 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.179 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 4.906 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.048 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 2.748 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 2.899 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.076 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 4.934 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.127 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.112 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 4.923 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.426 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.874 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.909 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.470 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.532 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.830 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 7.847 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.156 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.172 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.546 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.488 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.133 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 3.979 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.703 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 4.866 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 13.939 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.080 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.517 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.371 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.865 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.453 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.538 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.524 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.919 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.178 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.586 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.106 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.233 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.505 views