Hak Waris Anak Dalam Kandungan | rumahfiqih.com

Hak Waris Anak Dalam Kandungan

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Fri 11 October 2013 07:49 | 3992 views

Bagikan via

Tidak ada perbedaan diantara ulama bahwa anak yang berada dalam kandungan dalam pernikahan yang sah berhak untuk mendapatkan warisan dari kerabatnya yang meninggal dunia.

Hanya saja para ulama memberikan dua persyaratan khusus sehingga anak yang berada dalam kandungan ini mendapatkan hak warisnya;

  • Pertama: Bayi tersebut sudah berada dalam kandungan dihari meninggalnya pewaris, walaupun baru berbentuk segumpal darah.
  • Kedua: Bayi ini terlahir ke dunia dengan selamat.

Jika dua syarat ini terpenuhi maka meskipun bayi ini masih belum mengerti apa-apa, tetap saja haknya tidak boleh diambil. Landasan dari permasalahan ini adalah sabda Rasulullah SAW berikut:

إذا استهل المولود ورث

“Jika anak yang terlahir itu menangis maka dia mendapat waris” (HR. Abu Daud)

Kata istahalla pada hadits diatas diartikan dengan menangis, bersin, tangan atau kakinya bergerak, dan semisalnya, yang memungkinkan bagi kita untuk mengatakan bahwa anak ini lahir dengan selamat.

Karena jika sudah ada tanda-tanda kehidupan, maka seketika bayi ini mendapatkan hak warisnya. Jika tidak ada tanda kehidupan atau bahkan anak yang terlahir ini meninggal, maka sebaliknya hak warisnya terhapus dengan sendirinya.

Bayi Belum Lahir, Tapi Harta Sudah Mau Dibagi

Setelah para ulama sepakat tentang hak waris anak yang masih dalam kandungan, maka permasalahan berikutnya adalah bolehkah harta warisan tersebut dibagi disaat bayi belum terlahir ke dunia.

Mungkin kita menganggap ini sebagai hal yang aneh, karena mungkin permasalahan seperti ini jarang terjadi di masyarakat kita atau bahkan tidak sama sekali. Jangankan pembagian seperti ini, pembagian biasa saja sangat jarang dilakukan oleh masyarakat kita, penulis sendiri tidak tahu persis alasan mereka apa, hanya saja sepertinya ketidaktahuan akan perkara ini menjadi sebab dominan.

Para ulama berbeda pendapat dalam perkara ini, setidaknya terbagi dalam dua pendapat berikut:

A. Tidak Boleh Dibagi


Ini adalah salah satu pendapat yang dari Imam Syafi’i, juga pendapat Imam Malik. Alasan sederhananya adalah karena kita tidak mengetahui kondisi anak yang berada dalam kandungan ini kedepannya.

Apakah bayi ini terlahir dengan selamat atau malah sebaliknya, apakah anak yang terlahir laki-laki atau perempuan, apakah terlahir kembar atau tidak, jika kembar apakah kembarnya laki-laki semua atau ada perempuannya juga>

Atas dasarnya ini harta warisan tersebut tidak bisa dibagi hingga jelas kondisi bayi yang berada dalam kandungan tersebut.

Pendapat ini lumayan kuat, karena pada hakikatnya bagaimana mungkin kita akan membagi harta warisan disaat ada salah satu ahli waris yang belum jelas kondisinya. Karena keberadan ahli waris yang berada dalam kandungan ini bisa merubah komposisi siapa saja yang mendapatkan waris, atau bisa juga merubah bagian atau hak yang akan didapatkan oleh ahli warisnya.

Jika tetap dibagi kemungkinan akan terjadi beberapa kesalahan yang bisa menimbulkan adanya kezholiman dalam pembagian ini, bisa jadi yang terzholimi itu adalah dia yang berada dalam kandungan, atau juga justru yang akan terzholimi itu adalah ahli waris yang sudah ada itu.

B. Boleh Dibagi


Pendapat ini memang berseberangan dengan pendapat yang pertama, ini adalah pendapat ulama dari mazhab Hambali, juga pendapat para ulama dari mazhab Hanafi. Pendapat ini setidaknya bisa kita temukan pada kitab Al-Mughi, juz 7, hal. 194-195, juga dalam kitab Hasyiah Ibnu ‘Abidin, juz 5, hal. 510-511.

Dalam kondisi tertentu mungkin ahli waris yang sudah ada ini sangat memerlukan sejumlah harta untuk kebutuhan hidup mereka, apalagi misalnya ada diantara mereka yang yang sudah ditagih hutangnya, dan sudah diancam jika dalam waktu tertentu hutangnya belum dilunasi, sehingga tidak ada jalur lain kecuali dengan jalur warisan.

Kondisi seperti ini dan semisalnya membuat para ulama dalam mazhab ini berpendapat bahwa sah-sah saja harta warisan itu dibagi walaupun bayi tersebut masih dalam kandungan.

Dan para ulama ini bisa memastikan bahwa mereka akan mampu membagikan harta ini dengan cara yang luar biasa, dimungkinkan tidak ada satupun yang terzholimi dengan pembagian harta tersebut.

Hal seperti ini akan sangat membantu ahli waris yang memang sangat membutuhkan sejumlah harta, terlebih jika mereka adalah orang-orang miskin dan usia kehamilan masih sangat muda, sehingga butuh berbulan-bulan untuk menunggu bayi tersebut lahir, itupun jika bayi itu terlahir dengan selamat, jika tidak maka mungkin mereka semua akan satu kata: Kenapa tidak dibagi dari dulu saja?

Cara Pembagian

            Bagi mereka yang berpendapat bahwa harta warisan tersebut boleh dibagi walaupun bayi masih berada dalam kandungan, mereka akan membaginya dengan cara yang unik sekali. Mula-mula mereka akan membagi harta tersebut dalam enam kemungkinan:

  1. Kemungkinan pertama adalah jika kondisi meninggal dunia
  2. Kemungkinan kedua adalah jika yang lahir adalah laki-laki
  3. Kemungkinan ketiga adalah jika bayi yang lahir adalah perempuan
  4. Kemungkinan keempat adalah jika bayi yang lahir dua laki-laki
  5. Kemungkinan kelima adalah jika bayi yang lahir dua perempuan
  6. Kemungkinan keenam adalah jika yang lahir kembar laki-laki dan perempuan.

Setelah dilakukan pembagian dengan enam kemungkinan diatas, maka kiranya perlu memperhatikan tiga kaidah berikut:

  • Kaidah Pertama: Jika dari enam kemungkinan ini ada ahli waris yang sesekali mendapatkan bagian yang sedikit dan sekali waktu mendapatkan bagian yang banyak, maka kita akan memberikan dia bagian yang sedikit.
  • Kaidah Kedua: Jika dari enam kemungkinan ini ada ahli waris yang mendapatkan bagian yang sama dari keenam kemungkinan itu, maka kita akan berikan bagiannya tersebut.
  • Kaidah Ketiga: Jika dari enam kemungkinan ada ahli waris yang sesekali mendapat warisan, dan sesekali tidak mendapat warisan karena mungkin terhalang oleh keberadaan bayi yang lahir, maka dalam hal ini kita tidak akan memberikan bagian apa-apa kepada mereka.

            Sisa dari harta yang belum dibagikan kita simpan dulu, hingga nanti bayi yang ditunggu lahir. Sisa ini bisa jadi bagian bayi, bisa jadi bagian ahli waris yang sudah ada, dan bisa jadi milik keduanya.

            Bisa jadi yang tadinya mendapat sedikit akan bertambah pendapatannya setelah jelas kondisi bayi yang lahir, dan bisa jadi mereka yang tidak mendapatkan warisan kita berikan haknya karena ternyata setelah bayi terlahir dia juga mendapat warisan, begitu seterusnya.

            Jadi metode pembagian ini adalah kita memberikan kemungkinan terkecil dari yang terjadi setelah kita membaginya kedalam enam kemungkinan tadi. Dan memang dalam prakteknya kita tidak akan menemukan kezholiman disini, karena yang kita berikan adalah kemungkinan terkecil.

            Jika ada bagian yang belum diambil, akan kita kasihkan nanti setelah bayi lahir, dan dalam pembagian ini tidak ada kata salah, lalu tiba-tiba ada yang ahli waris yang sudah kita kasih, akan tetapi setelah bayi lahir rupanya mereka bukan ahli waris.

            Kesalahan hanya terjadi jika kita yang ceroboh dalam membaginya. Jangan salahkan metodenya, salahkan saja dia yang tidak faham dalam menggunakan metode ini.

Contoh Kasus

            Seseorang meninggal dunia dengan ahli waris istri yang sedang hamil, ibu, dan paman. Jika pembagian harta warisannya dilakukan sebelum bayi tersebut lahir bagaimana cara pembagiannya, dan berapakah bagian masing-masing?

1. Kemungkinan bayi yang lahir meninggal dunia, maka dalam hal ini bagian istri adalah seperempat, ibu sepertiga, dan paman mendapat sisa.

2. Kemungkinan kedua bayi yang lahir laki-laki, maka bagian istri  seperdelapan, sedang ibu mendapat seperenam, dan paman tidak mendapatkan apa-apa, karena terhalang oleh bayi laki-laki yang lahir. Posisi bayi yang lahir itu adalah anak dari al-marhum, dan paman akan terhalang bagiannya karena keberadaan anak laki-laki. Maka bayi laki-laki tadi mendapat sisa (ashobah).

3. Kemungkinan ketiga bayi lahir adalah perempuan, maka bagian istri tetap seperdelapan, sedang ibu juga tetap seperenan, dan paman mendapat sisa, sedang bayi perempuan tadi mendapat setengah.

4. Kemungkinan keempat, bayi yang lahir dua laki-laki, maka bagian istri seperdelapan, ibu seperenam, paman tidak mendapatkan apa-apa, dan dua bayi laki-laki tadi mendapat sisa.

5. Kemungkinan kelima bayi yang lahir dua perempuan, maka bagian istri tetap seperdelapan, ibu seperenam, paman mendapat sisa, dan dua bayi perempuan tadi mendapat duapertiga.

6. Kemungkinan keenam bayi yang lahir laki-laki dan perempuan, maka bagian istri masih seperdelapan, ibu juga masih seperenam, paman tidak mendapat apa-apa, dan dua bayi tadi mendapat sisa, hanya saja dalam pembagian sisa ini bayi laki-laki mendapat dua kali lipat dari bayi perempuan.

Disetiap kemungkinan diatas yang kita lakukan adalah mencari bagian masing-masing ahli waris dengan cara yang sudah masyhur, maka singkat cerita hasilnya nanti akan seperti ini:

Istri:
Disetiap kemungkinan tersebut istri akan mendapatkan angka yang sama yaitu 3, maksudnya istri mendapat 3 bagian.

Ibu:
Ibu juga seperti itu, dalam enam kemungkinan itu ibu akan mendapat bagian yang sama juga, ibu akan mendapatkan 4 bagian.

Paman:
Dari enam kemungkinan tersebut sesekali paman mendapatkan sisa, dan sesekali paman tidak mendapatkan apa-apa karena terhalang dengan kemungkinan bayi yang lahir adalah anak laki-laki, maka dalam hal bagian paman belum kita bagikan, sampai nanti bayi yang berada dalam kandungan terlahir.

Sisa harta
yang belum dibagi akan kita simpan terlebih dahulu. Sisa harta itu bisa jadi untuk bayi, atau juga juga tambahan ahli waris yang sudah mendapatkan bagiannya sekarang, atau juga untuk paman yang pada kesempatan ini belum mendapatkan apa, hingga nanti perkara akan lebih jelas dengan kelahiran bayi yang berada dalam kandungan

Ribet ya?


Pembagian ini dilakukan jika memang sepertinya tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah kecuali dengan cara membaginya sekarang, namun akan lebih baik jika semua ahli waris bersabar menunggu hingga bayi yang berada dalam kandungan terlahir di bumi.

Sehingga dalam pembagiannya nanti akan jelas, dan terang benderang, serta pembagiannya dilakukan hanya satu kali saja, serta harta yang dibagi bisa langsung habis, tidak ada yang disimpan dulu.

Jika memang demikian maka pendapat pertama memungkinkan juga untuk dipakai, dimana saat bayi masih berada dalam kandungan jangan dulu dibagi, bagaimanapun kondisinya.

Akan tetapi pilihan ada di ahli waris, jika masih tetap ngotot mau dibagi sekarang, maka ambil pendapat yang kedua, dan perhatikan juga cara pembagiannya agar tidak terjadi kesalahan yang fatal.

Wallahu A’lam Bisshowab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 4.497 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 6.744 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.144 views
Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 September 2013, 14:03 | 9.494 views
Tidak Bersedih Dengan Kematian Ulama Berarti Munafiq?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 September 2013, 10:10 | 5.225 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 714 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.504 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.466 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 1.648 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.084 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.534 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.051 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 1.851 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.345 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.144 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.075 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 1.747 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.065 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.286 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 1.701 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.421 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 3.903 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 3.783 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.065 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 4.782 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 1.957 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 2.654 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 2.820 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 3.997 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 4.812 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.039 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.018 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 4.803 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.351 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.781 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.819 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.372 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.447 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.723 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 7.751 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.037 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.095 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.416 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.399 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.048 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 3.882 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.613 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 4.807 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 13.813 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 3.992 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.411 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.265 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.774 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.348 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.436 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.410 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.832 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.071 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.487 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.013 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.046 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.421 views