Nikah Punya Banyak Hukum | rumahfiqih.com

Nikah Punya Banyak Hukum

Ahmad Zarkasih, Lc Sun 20 October 2013 06:59 | 4757 views

Bagikan via

Walaupun hukum asli pernikahan itu sunnah muakkadah sesuai kandungan ayat 3 surat An-Nisa, akan tetapi para ulama dalam kitab-kitab mereka berpendapat bahwa nikah itu tidak berdada dalam satu hukum taklif saja, akan tetapi nikah berada pada lima hukum taklif

Artinya nikah itu bisa jadi wajib, bisa juga jadi sunnah, malah bisa jadi haram, bisa juga makruh atau bisa saja jadi mubah/boleh-boleh saja. Dan ini pedapat yang dipegang mayoritas ulama sejagad.

1. Wajib:

Nikah menjadi wajib hukumnya bagi mereka terpenuhi dua syaratnya, yaitu dikhawatirkan jatuh ke dalam zina dan seorang yang sudah mampu secara finansial. Orang yang sudah mampu saja sudah dikategorikan sebagai orang yang "recommended" banget oleh syariat ini untuk nikah. 

Ditambah lagi ia yang dikhawatirkan akan jatuh pada perzinahan karena pergaulan yang sudah terlalu jauh, pokoknya Cuma nikah satu-satunya jalan ia selamat dari nikah. Nah orang yang seperti ini "wajib" untuk menikah dan tidak ada penundaan lagi.

Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut serta terbuka kemungkinan untuk tertimpa resiko zina pada dirinya.

Madzhab Al-Hanafiyah menyebut orang yang dalam keadaan seperti ini dengan istilah [التوقان] Al-Tawaqon. Keadaan dimana seseorang sudah sangat besar syahwatnya, namun ia tidak punya jalur kemana harus menyalurkan itu kecuali dengan menikah.

Karena kalau tidak menikah, di depannya sangat terbuka lebar kesempatan untuknya melakukan perzinahan. Dia punya uang untuk membayar pelacur, atau juga dia hidup di tengah lingkungan yang buruk, sehingga kemungkinan perzinahan sangat dekat sekali dan sanat mungkin terjadi.

Kalau sudah begini, tidak ada kata lain untuknya kecuali mencari pendamping yang halal.

Mungkin kalau sekarang itu ya –maaf- para pesohor itu yang sering nongol di televisi, kemana-mana gandengan dengan non-mahrom padahal bukan istrinya, kenapa tidak dihalalkan saja?

Atau juga mereka para borjuis yang punya kemampuan finansial sangat mapan, namun kerap sekali dalam kesehariannya kurang mampu menjaga diri dari karena selalu saja bersentuhan dengan lawan jenis.

2. Sunnah:

Tidak sampai diwajibkan untuk menikah, mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif.

Orang yang punya kondisi seperti ini hanya disunnahkan saja untuk menikah, tapi sunnahnya sunnah muakkad. Dan akan menjadi sangat baik sekali kalau dia segera menikah. Karena bagaimanapun menyegerakan ibadah adalah suatu yang dianjurkan.

Dan itu lebih baik daripada dia terus menyendiri. Bukankah nikah itu penyempurnaan bagi setengah agama?

Imam 4 Madzhab fiqih mengatakan jika seseorang sudah punya roghbah (kemauan) kecenderungan untuk menikahi seorang gadis yang disukainya, ini sudah cukup menjadikan dirinya masuk dalam kategori sunnah muakkadah untuk menikah.

Ini adalah ketentuan nikah yang umum yang berlaku untuk setiap orang. Karena memang kondisinya seperti yang dikatakan diatas, keadaan mampu, tapi masih dalam taraf aman dari fitnah-fitnah yang membahayakan diri.

3. Haram: 

Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah:

·         Pertama, tidak mampu memberi nafkah.

·         Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual.

Dalam hal ini, ulama sering memberikan contoh seperti orang idiot, yang dalam bahasa Arab disebut dengan istilah [سفيه] Safiih. Safiih adalah orang yang sama sekali tidak bisa mengurus hidupnya sendiri. Semua kebutuhan hidupnya bergantung kepada orang sekitarnya, karena memang ia sendiri tidak mampu melakukan itu.  

Haram juga kalau dia ingin menikah dengan wanita yang telah bersuami, atau malah ingin menikahi wanita yang merupakan mahromnya, entah itu karena keturunan atau sesusuan. 

4. Makruh:

Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, dengan kedua ini hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan Karahiyah (Makruh).

Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami. 

Madzhab Al-Hanafiyah dan Syafiiyah menjadikan ketidakmampuan berhubungan sebagai Illat (sebab) sebuah pernikahan menjadi makruh. Ketidakmampuannya bisa disebabkan karena penyakit, baik itu penyakit yang bisa disembuhkan atau juga penyakit yang permanen.

Karena sejatinya, menikah itu bertujuan untuk memberika keturunan, maka ketika tujuan pernikahan itu sendiri tidak tercapai, ini menjadi sebuah kedzaliman bagi salah satu pihak, entah suami atau istri.

5. Mubah:

Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya.

Jangan Salah Sasaran

Nah karena memang hukum nikah itu sendiri bermacam-macam sesuai kondisi si orangnya itu, maka tidak elok juga kalau kita mengenalisir satu hukum nikah untuk semua orang, karena setiap orang berbeda kondisinya dengan yang lain. Dan layaknya lah kita harus bijak.

Karena belakangan, justru ada orang atau kelompok yang sangat gigih supaya orang-orang terdekat atau anggota di bawahnya itu untuk menikah, seakan-akan menikah adalah suatu kewajiban untuk semua orang. Menikah jadi hukum pokok buat dia, "pokoknya nikah!"

Padahal tidak bisa mengeneralisir seperti itu, kondisi masing-masing orang berbeda-beda. Pun Rasul dalam haditsnya, mememerintahkan manikah untuk mereka yang sudah mampu, kalau belum mampu nikah ya puasa jalan keluarnya.

Jadi tidak ada "pokoknya nikah" di syariat ini, semua sudah diatur dan memang ada aturannya. Jangan akhirnya kita mewajibkan perkara yang pada dasarnya bukan wajib, wah itu mengada-ada namanya.  

Orang yang sedang menempuh belajar (kuliah) atau malah baru lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah, tidak bisa dipaksa menikah. Mereka tidak punya kemampuan finansial untuk itu, padahal kemampuan finansial adalah syarat nikah itu bisa jadi wajib. Dan juga syahwatnya Alhamdulillah masih terjaga dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang agamis dan relegius.

Dan akan menjadi dilemma bagi dia, mengikuti orang tua yang menginginkan ia pulang dengan "gelar" akademis, atau ikut dengan teman atau ketua kelompoknya yang sama sekali tidak pernah melahirkannya, tidak menyusuinya, tidak merawatnya sejak kecil, tidak memberikannya finansial, tidak juga selalu peduli dengannya. Berbeda dengan orangtua yang sampai kapanpun, cintanya tidak akan luntur. 

Dan sudah pasti orang tua menginginkan yang terbaik buat anak tersayangnya itu.

Orang yang masih mengekor kepada orang tua bukan termasuk orang yang dikatakan mampu untuk menikah. Walaupun memang kalau dia menikah yaa tidak ada keburukan disitu, malah sempurna setengah agamanya.

Ingat, dalam wajibnya nikah itu kondisi seseorang berada dalam taraf [التوقان] Al-Tawaqon. Keadaan dimana seseorang sudah sangat besar syahwatnya, namun ia tidak punya jalur kemana harus menyalurkan itu kecuali dengan menikah. Kalau tidak dengan menikah pasrtilah kemungkinan perzinahan sangat mungkin terjadi.

Kalau dikatakan kepada seorang pemuda yang memang dalam lingkungan baik dan kondusif, aktifitasnya berkutat pada buku dan diktat kuliah, lalu pulang pergi masjid karena aktif sebagai pemuda masjid, kurang masuk akal kalau dikatakan “khawatir jatuh pada perzinahan”.

Bagaimana bisa? Toh berinteraksi dengan lawan jenis saja sangat hati-hati sekali, frekuensi pertemuannya sangat terjaga, kalau pun bertemu pastila didampingi dengan teman atau mahrom. Jangankan untuk berzina, memikirkannya pun tidak kesampean, bagaimana bisa seorang yang seperti ini dikatakan “khawatir jatuh pada perzinahan”.

Semua orang tidak layak dilabeli “khawatir jatuh pada perzinahan”, label ini diberikan kepada mereka yang sangat dekat sekali dengan prkatek itu.

Sebaliknya!

Namun lebih parah lagi kalau malah kita mengenalisir kepada semua orang bahwa hukum nikah itu tidak wajib, atau sunnah, atau malah mubah. Kita harus lihat dulu siapa yang kita ajak bicara tentang nikah ini.

Jangan semuanya dibilang tidak wajib, padahal ia adalah orang yang sudah mampu dan setiap harinya ia bergumul dengan para wanita. Malah berganti-ganti pasangan setiap harinya, dan itu fitnah. Dan kemungkinan menuju kemaksiatan atau bahkan perzinahan sangat dekat.

Apa masih dikatakan nikah itu tidak wajib, bagi seorang berkemampuan finansial cukup, dan setiap harinya bergaul dengan wanita mana saja. Pegang sini pegang sana, yang akhirnya buka sini buka sana?

Jadi harusnya memang kita lebih bijak dalam syariat ini, harus bisa melihat kondisi siapa dan bagaimana.

Wallahu A'lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 14:38 | 4.142 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 11:37 | 4.836 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.359 views
Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 4.845 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 7.346 views

more...

Semua Tulisan Penulis :