Berlebihan Dalam Menjalankan Agama | rumahfiqih.com

Berlebihan Dalam Menjalankan Agama

Ahmad Sarwat, Lc., MA Mon 16 December 2013 12:56 | 7393 views

Bagikan via

Menjalankan agama dan mengamalkannya adalah perbuatan yang amat baik. Sebab agama itu wajib diamalkan agar kita bisa selamat dunia dan akhirat.

Akan tetapi kalau dalam menjalankan agama itu kita sampai berlebihan dan melewati batas, justru malah tidak baik dan berdosa. Sebab segala yang berlebihan dan melewati batas itu memang keliru.

Memakan makanan yang halalan tayyiban itu baik, tetapi bila berlebihan seperti menghabiskan nasi sampai habis lima piring sekaligus, tentu menjadi tidak baik. Selain kekenyangan, juga bisa muntah. Dan kalau sudah jadi budaya malah bisa jadi obesitas.

Berolahraga itu baik dan penting untuk menjaga kesehatan, tetapi bila berlebihan tentu menjadi tidak baik dan tidak sehat. Atlet yang berolahraga dengan melebihi ambang batas kemampuannya malah bisa cedera. Bahkan kalau sampai memompa jantungnya di luar kemampuannya malah bisa kena serangan jantung dan meninggal di tempat.

Begitu juga dengan menjalankan agama dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, meski niatnya baik tetapi bila dilakukan dengan cara berlebihan hingga melewati batas yang telah ditentukan, malah menjadi tidak baik. Bukannya mendapat ridha dari Allah tetapi malah menuai murka.

Adakah Perbuatan Berlebihan Dalam Beragama?

Mungkin ada yang bertanya, memangnya ada perbuatan yang termasuk berlebihan dalam beragama? Bukankah beragama itu selalu baik dan memang dianjurkan?

Jawabnya ada dan banyak sekali perbuatan menjalankan agama yang berlebihan dan justru malah menurunkan murka Allah SWT. Kita bisa menengok ke belakang, yaitu umat-umat terdahulu yang telah Allah runtuhkan, salah satunya karena mereka terlalu berlebihan dalam menjalankan agama.

Ada dua ayat yang berbeda namun satu lafafz, yaitu larangan kepada para ahli kitab untuk berlebihan dalam beragama. Pertama di surat An-Nisa ayat 171 dan kedua di surat Al-Maidah ayat 77.

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ

Wahai para ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian

Lalu apa contoh dari perbuatan yang berlebihan dalam agama itu?

Misalnya terlalu mencinta para nabi dan orang shalih, hingga akhirnya melampau batas. Selain itu juga sikap mengharamkan apa-apa yang telah Allah halalkan, sekedar karena sombong dan tinggi hati merasa mampu menjalankan agama dengan berat.

1. Menyembah Nabi dan Menjadikannya Anak Tuhan


Perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani di masa lalu berlebihan dalam mencintai nabi mereka. Sepeninggal nabi itu, dibuatkan patung, disucikan dan dikuduskan patung itu sedemikian rupa sehingga malah melewati batas. Akhirnya, patung para nabi dan orang-orang shalih itu malah disembah dan menjadikannya sebagai anak Allah.

Nabi Uzair adalah salah seorang utusan Allah kepada bangsa Yahudi, sepeninggal beliau justru dibuatkan patung dan disembah-sembah. Nabi Isa adalah seorang utusan Allah kepada orang-orang Nasrani, sepeninggal beliau malah dibuatkan patung dan disembah-sembah. Bahkan keduanya dikultuskan sehingga menjadi anak-anak Allah.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah". Dan orang-orang Nasrani berkata: "Al-Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknati Allah. Bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. A-Taubah : 30)

Orang-orang Arab Jahiliyah sebelum masa kenabian Muhammad SAW juga membuat patung Nabi Ibrahim alaihissalam dan menyembahnya, bahkan menyembelih hewan untuk dijadikan persembahan kepada patung itu. Dari 360 berhala yang ada di Ka'bah, salah satunya adalah patung Nabi Ibrahim yang disembah-sembah.

2. Mengharamkan Yang Allah Halalkan

Ahli kitab di masa lalu dimusnahkan Allah lantaran mereka telah berlebihan dalam menjalankan agama. Salah satunya karena mereka mengharamkan apa yang sebenarnya Allah halalkan.

Tetapi karena mereka merasa sebagai kelompok bangsa yang tinggi memelibihi bangsa lain, ada semacam kibir dan kesombongan di hati untuk memiliki agama yang tidak terlalu dimudah-mudahkan. Mereka seolah menantang Allah SWT agar diturunkan syariat yang lebih berat, lebih rumit dan lebih menyulitkan.

Tujuannya semata biar bisa berlaku angkuh dan sombong, karena punya agama yang lebih unik dan lebih ketat, dibandingkan dengan agama yang lain.

Ternyata sikap itu bukan sikap yang terpuji, malah Allah SWT mencela mereka, bahkan kemudian Allah SWT menghukum mereka dengan menurunkan syariat yang teramat sulit hingga mereka sendiri malah tidak mampu menjalankannya.

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللّهِ كَثِيرًا

Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. An-Nisa' : 160)

كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِـلاًّ لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلاَّ مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِن قَبْلِ أَن تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israel melainkan makanan yang diharamkan oleh Israel (Yakub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. (QS. Ali Imran : 93)

Awalnya Allah SWT tidak terlalu banyak mengharamkan makanan ini dan itu kepada Bani Israil. Tetapi kelakukan mereka yang suka mengharamkan ini dan itu, akhirnya makanan yang halal itu malah diharamkan.

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلاَّ مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُم بِبَغْيِهِمْ وِإِنَّا لَصَادِقُونَ

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku  dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (QS. Al-An'am : 146)

Kita sebagai umat Muhammad SAW dihalalkan memakan bagian mana saja dari hewan yang kita sembelih. Sedangkan untuk orang-orang yahudi, Allah SWT haramkan semua itu kecuali hanya dagingnya saja. Minyak atau lemaknya diharamkan, demikian juga dengan 'jeroan' serta bagian-bagian tubuh lainnya. 

Syariat Islam Banyak Diberi Kemudahan

Secara fitrah, Allah SWT menurunkan syariat yang amat mudah, ringan dan sederhana. Hampir semua beban berat yang dipikulkan di puncak yahudi dan nasrani, tidak dibebankan kepada umat Muhammad SAW. Barangkali ini merupakan jawaban dari doa Rasulullah SAW, dimana beliau SAW selalu meminta syariat yang dimudahkan dan mampu dengan sederhana dikerjakan.

لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.(QS. Al-Baqarah : 286)

Ada begitu banyak kemudahan syariat yang Allah turunkan, maka kita wajib mensyukurinya dan haram meminta yang lebih berat.

1. Syariat Shalat Yang Ringan

Syariat shalat yang berlaku buat kita adalah syariat yang paling mudah dan ringan, semua orang pasti bisa mengerjakannya. Maka janganlah kemudian ada yang berusaha membuatnya menjadi susah.

a. Hanya Lima Waktu

Awalnya kewajiban shalat buat kita 50 kali dalam sehari semalam, tetapi kemudian Allah mudahkan hanya menjadi 5 kali saja, tetapi pahalanya tetap sebanyak 50 kali.

b. Shalat Tidak Harus di Masjid

Khusus buat syariat Islam, shalat boleh dilakukan dimana saja, tidak harus di tempat khusus seperti masjid atau mushalla. Agama lain yang Allah turunkan sebelumnya tidak membolehkan shalat kecuali hanya di tempat-tempat khusus.

c. Shalat Boleh di Atas Tanah

Kalau tidak ada tempat khusus untuk shalat, kita boleh melakukannya atas tanah dimana saja. Bahkan masjid Nabawi di
masa Rasulullah SAW pun hanya berlantaikan tanah dan pasir.

d. Waktu Shalat Yang Fleksibel dan  Terbentang Panjang

Memang yang lebih utama shalat dikerjakan di awal waktu. Namun syariat Islam memberikan kelonggaran bahwa shalat tetap sah dilakukan di tengah atau pun di akhir waktu. Sehingga kalau tidak memungkinkan shalat di awal waktu, silahkan digeser waktunya hingga menjelang habisnya waktu.

Sementara Bani Israil di hari Sabtu harus sepanjang hari beribadah di dalam rumah ibadah dan tidak boleh bekerja mencari rizqi. Ketika ada yang melanggar ketentuan hari Sabtu itu, Allah SWT mengutuk mereka jadi kera yang hina.

e. Boleh Tayammum

Bila tidak ada air atau tidak mungkin menggunakan air,  entah karena sakit, takut atau terhalang, syariat Islam membolehkan shalat hanya dengan tayammum. Bahkan walaupun dalam keadaan berhadats besar sekalipun, kita bisa bertayammum dengan tanah.

Sedangkan umat terdahulu tidak pernah diberikan syariat tayammum. Maka akan jadi halangan besar ketika mereka mau wudhu atau mandi janabah tetapi tidak ada air.

f. Jamak dan Qashar


Syariat Islam mengenal istilah jamak dua shalat dalam satu waktu. Juga mengenal qashar, yaitu mengurangi jumlah rakaat dari empat menjadi dua. Tentu semua harus memenuhi ketentuannya.
2. Hukum Najis Yang Diringankan

Bagi yahudi, Allah menetapkan hukum najis yang sangat keras, ketat dan amat memberatkan. Lagi-lagi sebabnya adalah karena mereka sok merasa mampu dan menantang Allah untuk diberikan agama yang berat. Barangkali dalam logika mereka, semakin berat beban beragama, akan semakin tinggi derajat iman mereka di sisi Allah.

Padahal justru yang terjadi sebaliknya. Allah SWT lebih menyukai hamba-Nya menjalankan apa yang telah ditetapkannya, meski pun itu terasa ringan, ketimbang hamba yang takabbur, tinggi hati dan sok suci di hadapan-Nya, lalu meminta syariat yang memberatkan.

a. Boleh Menyentuh Najis

Dalam ketentuan syariat kita, terkena najis baik sengaja atau tidak sengaja hukumnya tidak berdosa. Namun dalam syariat mereka, terkena najis itu berdosa dan harus dihukum berat. Hukumannya adalah bagian tubuh yang terkena najis itu harus dipotong. Kalau pakaian terkena najis, harus dirobek dan dibuang.

b. Najis Ringan Dimaafkan

Najis yang tidak ada indikatornya, seperti tidak ada bau, warna dan rasa, hukumnya dimaafkan. Bahkan dalam mazhab Al-Hanafiyah, asalkan najis itu tidak melebihi lebar koin, tetap dimaafkan.

c. Tidak Ada Najis Yang Kekal


Syariat Islam tidak mengenal hukum kekekalan najis. Asalkan najis sudah dicuci dan hilang rasa, bau dan aromanya, maka kembali lagi menjadi suci. Sementara ahli kitab sangat memegang teguh hukum kekekalan najis. Dalam prinsip mereka, sekali najis tetap najis dan akan selamanya menjadi najis.

d. Bila Berubah Wujud Sudah Tidak Najis Lagi

Syariat Islam mengenal istihalah, yaitu proses berubahnya wujud benda yang najis menjadi benda yang lain, sehingga hukumnya ikut berubah menjadi suci.

Muslim Diharamkan Berlebihan Dalam Beragama

Pelajaran yang paling penting dari kesalahan umat terdahulu adalah mereka dihancurkan Allah akibat sifat berlebihan dalam agama. Apa yang sudah Allah halalkan, dengan sombong mereka haramkan. Akibatnya, Allah benar-benar mengharamkannya, sehingga mereka tidak mampu menjalankannya.

Kita pun saat ini bisa terjangkit penyakit mereka, yaitu apabila kita berlebihan dalam masalah agama. Syariat sudah turun dengan mudah, maka haram bagi kita membuat syariat itu menjadi sulit, dengan menambah-nambahi aturan yang datang dari diri kita sendiri.

Berlebihan Dalam Beragama : Menajiskan Yang Tidak Najis

Kita hidup di zaman yang penuh dengan orang-orang kurang berilmu tetapi sok beragama. Mereka ini adalah kelompok yang seringkali berurusan dengan najis tanpa ilmu. Sayang sekali mereka tidak pernah belajar ilmu fiqih, tidak mampu membedakan mana najis dan mana tidak najis. 

Cara mereka beragama hanya didasari oleh keragu-raguan, ketakutan, isu-isu yang tidak jelas, serta hasil jiplakan pendapat sesama orang kurang punya kompetensi juga. Dasar agamanya cuma berdasarkan 'katanya', semata-mata 100% taqlid buta kepada orang yang sama sekali tidak punya kapasitas untuk berfatwa.

Ilmunya sebatas hasil 'copy and paste' dari internet, yang mana sumbernya bukan ulama dan ahli syariah, hanya sekedar ilmuwan dan peneliti, tetapi bukan fuqaha yang punya kapasitas dalam ilmu syariah.

Maka wajar kalau dalam pandangan mereka, najis itu hukumnya jadi haram disentuh. Padahal syariat Islam tidak mengharamkan kita menyentuh najis. Syariat hanya mengharamkan bisa kita shalat terkena najis.

Dan wajar pula yang namanya najis dalam pandangan awam mereka bersifat abadi. Walapun sudah berubah menjadi benda lain, tetapi masih masih tetap dianggap najis. Semboyannya : "Sekali najis tetap najis, hidup najis!!"

1. Cuka Berasal Dari Khamar Tetapi Tidak Najis

Rasulullah SAW paling suka makan roti gandum dengan lauk cuka. Dan proses pembuatan cuka di masa itu hanya lewat fermentasi dari buah anggur dan kurma, yang kemudian sempat menjadi khamar dulu, kemudian terakhir baru berubah jadi cuka.

Cuka yang dimakan oleh beliau SAW itu pernah jadi khamar dan hukumnya najis. Tetapi ketika khamar sudah berubah jadi cuka, hukumnya sudah tidak najis lagi. Beliau bersabda :

نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ

Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka. (HR. Muslim)

2. Kulit Bangkai Yang Sudah Disamak Tidak Najis

Kulit bangkai yang najis itu apabila sudah disamak akan berubah kembali menjadi suci. Begitulah petunjuk Rasulullah SAW dan begitulah kata para ulama.

Rasulullah Saw bersabda :

إِذَا دُبِغَ الإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

Dari Abdullah bin Abbas dia berkata,"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,"Apabila kulit telah disamak, maka sungguh ia telah suci." (HR. Muslim)

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ

Semua kulit yang telah disamak maka kulit itu telah suci. (HR. An-Nasai)

Namun karena mereka tidak punya ilmu, masih saja mengatakan kulit bangkai itu najis. Ilmunya sebatas hanya apa yang mereka baca dalam bentuk terjemahan, tidak pernah merujuk langsung ke kitab-kitab fiqih yang muktamad.

3. Babi Gosong Jadi Garam : Suci

Kalau sempat baca kitab-kitab fiqih yang original, kita akan menemukan bahwa para ulama mengatakan bahkan bila ada babi yang terjatuh masuk ke dalam mallahah (ملاحة), maka garam yang dihasilkan itu suci tidak najis.

Mallahah adalah alat untuk membuat garam tradisional orang Arab di masa lalu. Bentuknya berupa tempat pembakaran, semua yang masuk mallahah itu akan dibakar dengan suhu tinggi, sehingga akan berubah jadi arang dan gosong. Semua sisa pembakarannya berubah jadi arang dan abu. Dari situ akan didapat kristal-kristal garam yang para ulama sepakat hukumnya suci dan tidak najis.

Memang kasus yang satu ini tidak disepakati oleh para ulama. Mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah masih kekeh bahwa pembakaran tidak mengubah najis.

Namun kalau kotoran babi digunakan buat pupuk tanaman, lalu tanaman itu berbuah, belum pernah ada yang mengharamkannya. Padahal secara alur logika, tanaman itu pasti mendapatkan zat-zat dari kotoran babi. Sepanjang yang saya tahu, belum ada satu ulama yang mengharamkan buah yang diberi pupuk kotoran babi.

Demikian juga daging ikan lele. Walaupun sepanjang sejarah hidupnya lele itu sangat jorok. Ikan lele itu adalah hewan pemakan najis, lele diberi makan berupa kotoran hewan, baik kotoran ayam, kambing, sapi bahkan termasuk juga kotoran babi dan kotoran manusia.

Namun ketika semua kotoran super najis itu sudah diolah kembali oleh perut lele dan dicerna sedemikian rupa berubah menjadi daging lele, belum pernah ada yang berfatwa haramnya lele. Padahal 100% dipastikan daging lele itu terbuat dari benda super najis yang amat najis.

Kalau masih ada yang mengharamkan daging lele, maka kita bisa sebut orang itu adalah orang yang berlebih-lebihan dalam beragama. Sebab apa yang hukumnya sudah tidak najis, ternyata masih saja dicari-cari kenajisannya.

Semoga Allah melindugi kita dari sifat paranoid najis, amien ya rabbal alamin.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 4.069 views
Adakah Qadha' Sholat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 14 December 2013, 05:36 | 9.980 views
Belajar Taqlid dari Ibnu Qudamah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2013, 12:56 | 6.216 views
Lupa Baca Bismillah Saat Menyembelih
Aini Aryani, Lc | 7 December 2013, 10:30 | 4.116 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.105 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 1.125 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 7.345 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 7.602 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 10.504 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.174 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 6.877 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.236 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 9.654 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 6.727 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 8.713 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 5.690 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.310 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.337 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 4.960 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 8.021 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 15.537 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 3.911 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.365 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 8.785 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.108 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.696 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.422 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.623 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 7.850 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 19.491 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 6.534 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 10.984 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.367 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.161 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.393 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.105 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 4.973 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.195 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 4.827 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 6.952 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 6.689 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.562 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.117 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.254 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.366 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 5.989 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 8.032 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.132 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.315 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 4.091 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 5.770 views