Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid | rumahfiqih.com

Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Sat 28 December 2013 01:01 | 4403 views

Bagikan via

Ide besar kelompok Qadariyah dan Ahlu Az-Zhahir yang yang mewajibkan kepada seluruh ummat Islam untuk melihat dalil dalam perkara furu’ (baca: fiqih) dan tidak boleh sama sekali mengikut (taqlid) saja kepada pendapat para ulama sepertinya mendapat tantangan yang keras dari mayoritas ulama sejagad.

Betapa tidak, karena akhir dari pendapat ini mewajibkan setiap muslim sampai pada derajat mujtahid. Semua saja, tanpa membedakan anatara Arabiy (Arab) dan A’jamiy (non Arab) dimana hanya para mujtahidlah yang berhak berbicara dalil secara utuh, disaat mereka yang awam tidak memiliki hak itu.

Ide ini besar dari dua kelompok ini diungkap oleh Al-Khattab dalam kitabnya At-Tamhid seperti yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Raudhah An-Nazhir dalam pembahasan bab At-Tqlid.  

Mujatahid

Secara bahasa kata mujtahid itu adalah ism fa’il (bentuk subyek) dari fi’il (kata kerja) ijtahada-yajtahidu-ijtihad yang berarti mencurahkan semua kemampuan dan usaha dalam suatu pekerjaan [بذل المجهود واستفراغ الوسع في فعل]

Maka mujtahid adalah orang yang mengeluarkan segala kemampuan dan usahanya dalam suatu pekerjaan. Dari sini kita bisa menilai bahwa mereka yang hanya membawa ranting kayu yang kecil dan ringan itu tidak bisa disebut sebagai mujtahid, berbeda dengan mereka yang membawa tumpukan karung beras atau semen yang membutuhkan tenaga maksimal.

Dalam fiqih term mujtahid ini digunakan untuk menyebut mereka yang sudah mengeluarkan segala usaha dan kemampuannya untuk mengetahui hukum-hukum syariat, sampai pada keyakinan bahwa sudah tidak ada kekuatan setelah itu [أن يبذل الوسع في الطلب إلى أن يحس من نفسه بالعجز عن مزيد طلب]. Ini adalah definisi yang diberikan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Mustashfa, dan definisi ini mempunyai kemiripan dengan definisi yang digambarkan oleh Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam.

Syarat Mujtahid

Tentunya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang sebelum akhirnya dia mencoba untuk mencurahkan segala kemampuannya dalam mengetahui hukum-hukum syariat, dimana ketika syarat ini belum terpenuhi maka seberapapun usaha yang dia lakukan tetap saja belum masuk dalam katagori mujtahid.

Ibarat bekerja, maka hanya mereka yang memenuhi syarat sajarah yang akan diberikan kesempaan untuk bekerja, itupun setelah melalui berbagai penilain dari banyak hal. Jika tidak memenuhi kualifikasi, dengan sadar biasanya mereka akan mundur sendiri, tidak ngeyel dengan berteriak sesukanya dengan teriakan yang mengganggu tidur siang.

Hampir disetiap kitab-kitab Ushul Fiqih para ulama berbicara masalah ini, ada yang menuliskan secara panjang lebar, namun ada juga yang memberikan pandangannya secara singkat. Namun jika disimpulkan, kira-kira hampir semua ulama akan sepakat dengan beberapa poin berikut:

  • Bahwa seorang mujtahid harus menguasai semua sumber hukum, baik sumber yang disepakati (al-muttafaq) seperti: Al-Quran, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas, maupun sumber yang diperselisihkan (al-mukhtalaf) seperti: Al-Istishab, Al-Istihsan, Mashalih Al-Mursalah, Al-Urf, Qaul As-Shahabi, Syar’u Man Qablana, Sadd Az-Dzari’ah, Amal Ahli Al-Madinah, dan seterusnya.
  • Seorang mujtahid harus menguasai kesemuanya itu detail, bukan setengah-setengah. Terhadap Al-Quran misalnya, maka seorang mujtahdi harus menguasai seluruh ayat yang berbicara masalah hukum, dan mampu mengahdirkannya dalam waktu yang tidak lama.
  • Terhadap sunnah juga seperti itu, setidaknya seorang mujtahid mampu menghadirkan hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum, juga mengerti masah periwayatan dan status hadits, setidaknya terhadap kitab-kiab hadits yang sekarang sudah dibukukan sudah menguasainya dan bisa menghadirkan hadits dari sumber-sumber tersebut.
  • Mengetahui perkara ijma’, mana saja perkara yang sudah ada kata sepakat dari semua ulama (ijma’), baik ijma’ sharih mapun ijma’ sukutiy, setidaknya seorang mujtahid harus tahu bahwa perkara yang sedang dibahas sudah ada ijma’nya, atau masuk dalam ranah khilaf, atau itu masuk kajian kontemporer.
  • Seorang mujtahid juga mengerti bagaimana cara menggunakan dalil, karena yang terpenting dalam membahas sebuah perkara itu bukan hanya dalil, namun cara menggunakannya dalil tersebut juga tidak kalah pentingnya. Misalnya mengerti masalah pendalilan secara bahasa, mengetahui mana dalil yang sudah dihapus keberlakuannya dan mana pula dalil yang menghapusnya, apakah dalil Al-Quran boleh dihapus keberlakuannya oleh hadits, semua ini dibahas pada ilmu nasikh dan mansukh, faham mana dalil yang umum (‘am) dan khusus (khas), mengerti mana dalil yang mutlak (mutlaq) dan terikat (muqayyad), faham mana dalil nash dan mana pula dalil mafhum, dan seterusnya.
  • Tentunya kesemuanya itu tidak bisa dilakukan jika seorang yang ingin menjadi mujtahid tidak mengerti bahasa Arab. Maka penguaaan bahasa Arab menjadi keharusan bagi mujtahid.  Sehingga seorang mujtahid memang benar-benar bisa membedakan antara lafazh shorih dan kinayah, zhohir dan mujmal, haqiqah dan majaz, ‘am dan khash, , mutlaq dan muqayyad, nash dan fahwa, dan seterusnya.

Ini adalah gambaran umum tentang syarat mujtahid, lebih detailnya penjelasan seperti ini bisa didapat dalam banyak kitab ushul seperi: Kitab Al-Mustashfa, Raudhah An-Nazhir, Kasy Al-Asrar, Nihayah As-Sul, Al-Mahsul, Al-Ihkam, Irsyad Al-Fuhul, Syarh Tanqih Al-Fushul.

Dengan mengetahui standar dalam pencapaian starata mujtahid tersebut maka barulah bisa kita simpulkan bahwa mereka yang tidak atau belum sampai pada penguasaan syarat-syarat tersebut belum bisa kita sebut sebagai seorang mujtahid, dan umumnya yang bukan mujtahid itu disebut dengan awam.

Penolakan Dari Jumhur

Ternyata tidak mudah mencapai level mujtahid, dan memang seperti itulah seharusnya, bahwa agama ini harus dibawa oleh mereka yang benar-benar menjadi pilihan. Dengan syarat yang sedemikian rupa maka mustahil rasanya jika semua orang dimuka bumi ini diharuskan untuk sampai derajat tersebut, maka inilah alasan pertama yang membuat mayoritas ulama membantah pendapat yang mengharuskan semua muslim sampai pada derajat mujtahid dan tidak boleh bertaqlid kepada selain mereka.

Butuh keseriusan dalam hal ini, dan butuh pembelajaran tingkat tinggi, mungkinkah gerangan orang-orang yang di Pasar Minggu Jaksel sini bisa sampai pada derajat mujtahid, disaat dalam kesehariannya mereka habiskan waktunya di pasar, menyediakan makanan beras, sayuran dan buahan?

Mampukah para sopir angkot dan metro mini belajar semua hal di atas, sehingga mereka juga kelak akan sampai pada derajat mujtahid? Disaat pikiran mereka disetiap harinya memikirkan setoran sewa angkot, juga memikirkan makan untuk anak istri.

Mampukah para pembelajar fisika, kimia, biologi, tehnik, menyediakan waktunya untuk belajar keilmuan syariah sehingga mereka juga sampai pada derajat mujtahid? Disaat sebagian besar diantara mereka tidak fasih membaca Al-Quran dan tidak bisa sama sekali bahasa Arab.

Lalu bagaimana nasib para pekerja kantor yang kesehariannya bergelut dengan dengan laporan-laporan kerjanya, pergi subuh pulang malam, kapankah mereka belajar bahasa Arab sebingga bisa menyimpulkan hukum dari Al-Quran dan Hadits?

Kenyataan di atas adalah bantahan kedua dari mayoritas ulama atas ide yang dilontarkan oleh mereka yang menghendaki semua kita sampai pada derajat mujtahid. Dan bahwa ternyata justru bumi ini akan tidak stabi jika semua kita menjadi mujtahid, disinilah hikmahnya bahwa sebagian kita dijadikan awam, karena kehadiran mereka justru membawa kestabilan hidup di bumi.

Orang Awam Wajib Mengikut (Taqlid)

Jika memang seperti itu maka tidak ada pilihan lain bagi mereka yang awam kecuali hanya mengikut saja. Mengikut para ulama mujtahid khususnya dalam perkara furu’, dimana sebagian besar masalah fiqih masuk dalam ranah furu’. Bahkan dengan tegas Ibnu Qudamah mengatakan wajib hukumnya bertaqlid kepada para ulama mujtahid.

Jika dalam satu negri ada banyak mujtahid maka mereka yang awam berhak untuk mengikut siapa saja dari ulama mujtahid yang ingin mereka ikuti [للعاميِّ أن يقلد من شاء من المجتهدين], kaidah ini masyhur dikalangan ulama ushul,  bahkan sebagian menganggap perkara ini sudah ada konsensus (ijma’).

Tinggal lagi permaslahan berikutnya adalah menentukan dan memilih siapa saja dari ulama kita yang masuk dalam level mujtahid. Ini penting untuk diketahui karena pada dasarnya sangat jelas bedanya antara ulama mujtahid, ulama yang belum sampai pada derajat mujtahid, ustadz, artis, pelawak dan dukun. Jangan sampai istilah ini menjadi bias, hanya karena media yang selalu menghadirkan mereka di televisi.

Jika kita adalah awam, sekiranya tidak ada kehiaan sama sekali dengan menyadari keawaman kita, dan setinggi-tingginya level awam tetap saja kita bukan mujtahid yang mempunyai hak utuh untuk berbicara dalil dengan sangat vokal, apalagi jika seandainya kita adalah awam pada level akut.

Proses belajar melalui majlis taklim, pesantren akhir pekan, melalui website, setidaknya menjadi awal dari bagaimana menyadarkan diri agar kita tahu bahwa sebenarnya selama ini kita tidak tahu, dengan pembelajaran seperti itu setidaknya kita bisa menaikkan level awam kita agar tidak berada pada posisi starata paling bawah, berharap sedikit demi sedikit kita juga mulai membaca dalil-dalil yang mereka gunakan.

Tidak Ada Paksaan dan Tidak Boleh Memaksa

Memang kebenaran dalam ranah fiqih hanya ada satu, namun tidak ada yang mengetahui secara pasti mana yang satu itu, kebenaran yang satu itu hanya ada disisi Allah.

Ulama mujtahid hanya ditugaskan untuk berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan seluruh kemampaunnya untuk mengetahui hukum dari sebuah perkara, atas usaha yang maksima ini mereka mendapat satu kebaikan, dan jika usaha itu bertepatan dengan apa yang ada disisi Allah SWT maka mereka mendapat satu kebaikan lagi.

Inilah yang membedakan antara keduanya, jika hasil ijtihad mereka benar mereka mendapatkan dua kebaikan dan jika hasil ijtihad mereka salah mereka mendapatkan satu kebaikan, dan inilah satu-satunya kesalahan yang tidak berdosa.

Dalam adabnya seorang mujtahid tidak boleh memaksakan hasil ijtihadnya kepada mujtahid lainnya, karena hasil ijtihad mujtahid yang satu tidak lebih utama dari hasil ijtihad mujtahid yang lainnya, jika mereka saja tidak boleh memaksakan, maka sudah barang tentu sesama awam juga tidak boleh saling memaksakan pendapat yang dikuti dengan awam lainya.

Apalagi sesama awam sampai saling memusuhi, membid’ahkan, atau malah mengkafirkan awam lainnya, hanya karena mereka berbeda dalam pilihan dalam wilayah furu’. Dan perlu juga diketahui bahwa dalam masalah aqidah juga ada ranah furu’nya, dimana khilaf pada ranah furu’ aqidah sama seperti khilaf dalam ranah furu’ fiqih.   

Oleh karenanya kita sering mendengar ungkapan yang sangat bijak dari para pendahulu kita: “Pendapat saya benar, namun bisa jadi salah, dan pendapat yang lain salah, akan tetapi mungkin saja benar”.

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 7.588 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 5.319 views
Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 December 2013, 06:44 | 3.957 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.576 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 4.275 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 1.183 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.844 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.878 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 2.050 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.399 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.899 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.430 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 2.319 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.848 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.590 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.518 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 2.158 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.440 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.653 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 2.042 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.849 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 4.330 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 4.264 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.417 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 5.181 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.262 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 3.023 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 3.131 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.339 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 5.276 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.434 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.392 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 5.186 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.654 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 11.184 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 5.151 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.693 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.793 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 5.067 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 8.118 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.403 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.411 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.822 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.716 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.403 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 4.275 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.947 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 5.093 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 14.325 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.321 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.755 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.684 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 4.085 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.680 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.783 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.800 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 4.171 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.439 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.829 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.364 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.599 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.775 views