Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas | rumahfiqih.com

Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas

Ahmad Sarwat, Lc., MA Fri 10 January 2014 08:04 | 5550 views

Bagikan via

Walaupun pada prinsipnya Islam tidak membeda-bedakan derajat manusia, namun tetap saja dalam kriteria tertentu, Al-Quran masih membedakan kelas-kelas manusia. Ada yang kelas manusia kafir dan ada kelas muslim. Yang muslim masih ada pembagian lagi, ada kelas yang punya ilmu dan ada kelas yang tidak punya ilmu.

Ketika Al-Quran menyebutkan bahwa tidak sama antara orang-orang yang mengetahui dan mereka yang tidak tahu, para ulama menarik kesimpulan bahwa ayat itulah yang menjadi dasar untuk membedakan umat Islam ini menjadi dua kelas. Ada kelas muslim yang berilmu dan ada kelas yang tidak berilmu. Dan keduanya memang berbeda. Tegas sekali ayat ini memilah jenis manusia.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang- orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar : 9)

Kelas yang berilmu tentu saja lebih tinggi dari kelas yang tidak berilmu. Sebab Allah SWT sengaja meninggikan kelas mereka yang berilmu ini menjadi beberapa derajat di atas kelas yang tidak berilmu.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah : 11)

Ketika jihad dianggap amal yang amat tinggi dan orang-orang yang mati di dalam jihad dijanjikan mati syahid, namun Al-Quran tetap mengharuskan sebagian shahabat untuk tekun mendalami ilmu agama. Al-Quran melarang semua orang turun ke lapangan jihad, meskipun rata-rata mereka semua sangat rincu mati syahid.

وَمَا كاَنَ الْمُؤْمِنُون لِينْفِرُوا كآفّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقةٍ مِنْهُمْ طاَئِفةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذاَ رَجَعُوا إِليْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون

Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)

Kalau jihad itu punya kedudukan sangat mulia di dalam agama Islam, maka belajar mendalami ilmu agama ternyata juga punya kedudukan yang juga mulia, setidaknya kurang lebih sejajar.

Ayat ini jelas-jelas membandingkan antara kewajiban berjihad di jalan Allah yang pahalanya begitu besar di satu sisi, dengan kewajiban untuk menuntut ilmu agama di sisi yang lain.

Kalau mereka yang mati syahid di dalam jihad itu dijanjikan masuk surga tanpa hisab, maka mereka yang berusungguh-sungguh menuntut ilmu pun mendapat balasan yang sebanding, yaitu mereka dijanjikan akan dimudahkan masuk surga. Kurang lebih setara antara keduanya.

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلىَ الجنّةِ

Orang yang meniti jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)

Bahkan orang-orang yang berilmu mendapatkan tambahan nilai yang unik, yaitu semua makhluk Allah sibuk memintakan ampunan atas semua dosa mereka.

وَإِنَّ العاَلِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لهُ مَنْ فيِ السّمواتِ وَمَنْ فيِ الأرْضِ وَالحِيْتانِ فيِ جَوْفِ المـَاءِ

Dan orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh semua makhluk Allah yang ada di sekian banyak langit dan bumi, termasuk ikan-ikan yang ada di kedalaman lautan ikut memintakan ampun. (HR. Muslim)

Tentu yang dimaksud dengan berilmu ini jangan sekali-kali disejajarkan dengan IQ, tingkat kecerdasan, apalagi raport sekolah dan IPK di kampus.

Sebab ketika menyinggung orang yang berilmu, Al-Quran tidak sedang membicarakan anugerah kecerdasan manusia yang memang sengaja dibikin berbeda.

Tetapi Al-Quran sedang bicara tentang perbedaan mereka yang belajar dan menuntut ilmu dengan serius hingga mengorbankan segala sesuatunya, khususnya di bidang ilmu syariah, dengan mereka yang tidak pernah bersungguh-sungguh belajar dan berkurban demi mendapatkan ilmu.

Karena itulah ketika para shahabat yang telah dikader menjadi ulama bertahun-tahun dengan banyak ilmu dibunuh oleh suatu kaum, meledaklah marah Rasulullah SAW. Beliau sampai mendoakan kehancuran kaum itu dalam lima waktu shalatnya selama sebulan lamanya. Sebab nilai sumber daya manusia yang dibunuh itu tidak main-main.

Dari sanalah kemudian kita mengenal doa qunut nazilah. Urusannya bukan sekedar karena shahabat dibunuh dengan licik, tetapi nilai tiap- tiap shahabat itu tidak bisa dihitung lagi, saking berharganya. Kalau yang dibunuh cuma prajurit biasa, Rasulullah SAW sudah sering mengalaminya. Dalam lusinan perang yang selama ini berlangsung, sudah pasti jatuh korban nyawa menjadi syahid.

Tetapi kalau yang dibunuh adalah rombongan para ulama yang diundang dengan berpura-pura mau belajar agama Islam, dan ternyata sampai disana semua dibunuh, ini jelas-jelas sebuah kerugian yang amat besar.

Di akhir zaman, ketika umatnya banyak yang mengalami kesesatan, Rasulullah SAW secara tidak langsung sudah menyebutkan penyebabnya, yaitu ketika kaderisasi para ulama tidak berjalan, ulama yang tua-tua sudah dipanggil Allah SWT, lalu muncul lapisan tokoh-tokoh yang menyamar sebagai 'ulama', padahal mereka tidak pernah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk menjadi ulama.

إِنّ الله لا يقْبِضُ العِلْم اِنْتِزاعًا ينْتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِنْ يقْبِضُ العِلْم بِقبْضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبْقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفْتوْا بِغيْرِ عِلْمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama 'gadungan' inilah yang kemudian mengisi banyak forum umat Islam, baik di mihrab masjid, pengajian, majelis taklim, bahkan hingga radio dan televisi. Mereka disebut oleh Rasulullah SAW sebagai "ru'usan juhhala', para tokoh yang bodoh alias tidak berilmu.

Mereka inilah yang kemudian dijadikan rujukan umat untuk bertanya masalah agama. Dan mereka menjawab tanpa ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan.

Kenapa?

Karena ulama dan bukan ulama itu tetap saja tidak sama. Beda kelas...

Bagikan via


Baca Lainnya :

English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.400 views
Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 January 2014, 05:01 | 4.888 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.457 views
Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 7.653 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 5.391 views

more...

Semua Tulisan Penulis :