Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga | rumahfiqih.com

Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga

Ahmad Sarwat, Lc., MA Fri 14 February 2014 05:19 | 8222 views

Bagikan via

Saking bencinya dengan perbuatan taqlid yang terlanjur diberi status haram mutlak, banyak orang awam yang merasa risi dengan statusnya sendiri. Mereka tidak terima kalau tata cara beragamanya selama ini dianggap sebagai taqlid. Dan lebih tidak suka lagi kalau dirinya disebut sebagai muqallid.

Sebab dalam cara berpikir mereka, yang namanya bertaqlid dengan segala bentuknya haram hukumnya. Doktrinasinya, menjadi muqallid itu selain perbuatan hina sekaligus berdosa.

Entah dari mana didapat pemahaman menyimpang seperti ini. Barangkali kerangka berpikirnya mengikuti ijtihad satu dua tokoh semacam Ibnu Abdil Barr (w. 463), Ibnul Qayyim (w. 751) dan Asy-Syaukani (w. 1250 H). Ketiga tokoh ini memang menegaskan bahwa bertaqlid itu haram dan berdosa, tetapi tidak serta merta mereka bilang bahwa semua orang awam itu berdosa. Tentu ada penjelasan dan klasifikasinya yang harus dipahami secara cermat.

Tetapi apa mau dikata, sudah terlanjur memusuhi taqlid dan muqallid, maka untuk itu mereka gunakan istilah baru yang agak lebih keren, bukan taqlid tetapi ittiba'. Orangnya disebut dengan muttabi'.

Dalam rangking yang mereka buat itu, kedudukan muttabi' berada satu lapis di atas orang yang taqlid. Muttabi' sudah tidak taqlid lagi, kata mereka.

Namun kalau dibilang sebagai mujtahid, tentu saja bukan. Tetap saja mereka mengakui bahwa kedudukannya masih di bawah mujtahid. Jadi dengan mengaku sebagai muttabi', setidaknya mereka sudah mereka terlepas dari level taqlid. Intinya, cuma tidak mau dibilang muqallid, tetapi masih tahu diri untuk tidak mengaku-ngaku sebagai mujtahid.

Memang para ulama ushul agak berbeda pendapat ketika menjelaskan level mujtahid dan bukan mujtahid.

Sebagian dari mereka membagi manusia itu hanya ada dua saja, yaitu mujtahid dan bukan mujtahid. Dan yang bukan mujtahid itu adalah muqallid, posisinya ada di level taqlid, tanpa membedakan apakah dia termasuk muqallid atau muttabi'.

Tetapi memang ada juga barisan ulama yang menambahkan satu 'kasta' lagi di tengah-tengah, yaitu muqallid. Keyakinannya, yang termasuk di dalamnya berarti sudah bukan lagi muqallid, walaupun juga belum sampai ke level mujtahid.

Kita tentu bukan berada pada posisi untuk memperdebatkan masalah klasik ini. Kita pun tidak keberatan kalau ada penambahan posisi di tengah-tengah antara mujtahid dan muqallid.

Hanya saja yang jadi masalah, jangan sampai taqlid dibilang haram dan muqalliad dituduh berdosa semua. Karena tidak semua orang bisa menjadi muttabi', apalagi mujtahid.

Beda Muqallid dan Muttabi'

Lantas, apa beda antara orang yang berada di level muqallid dengan yang berada di level muttabi'? Apa yang menyebabkan seseorang bisa 'naik kelas', dari kelas muqallid menjadi muttabi'?

Kalau saya tanyakan kepada para pendukung keberadaan muttabi', umumnya mereka menjawab bahwa muttabi' itu adalah orang mengikuti suatu pendapat tetapi dengan mengetahui dalilnya. Sedangkan muqallid, cuma ikut saja tanpa pernah tahu dalilnya.

Jadi kurang lebih yang membedakan antara muqallid dan muttabi' adalah sekedar tahu atau tidak tahu dalilnya. Kalau menjalani agama tanpa tahu dalilnya, dia disebut muqallid. Tetapi begitu dia tahu dalilnya, maka tiba-tiba dia naik kelas langsung jadi muttabi'.

Wah, ternyata gampang juga ya menjadi muttabi'. Pokoknya asal tahu dalilnya, kita bisa langsung naik kelas.

Tetapi apa teori seperti ini benar di tataran implementasi? Apa benar kalau saya beribadah tanpa tahu dalil, berarti saya berdosa karena saya cuma taqlid? Dan kalau saya tahu dalilnya, tiba-tiba saya naik pangkat menjadi muttabi' dan sudah tidak lagi berdosa?

Misalnya begini. Waktu shalat tadi imam melakukan sujud tilawah di tengah bacaan Al-Quran. Saya sebagai makmum, tidak tahu dali hadits yang menerangkan tentang sujud tilawah. Lalu apa yang harus saya lakukan saat imam sujud? Ikut sujud bersama imam atau saya tetap berdiri saja?

Kalau ikut sujud bersama imam, berarti saya sudah bertaqlid. Sebab saya mengerjakan sesuatu yang saya tidak tahu haditsnya. Apakah saya berdosa saat ikut imam?

Dan kalau saya tidak ikut sujud bersama imam karena takut tidak mau taqlid, apakah tindakah saya dibenarkan? Sah atau tidak shalat saya saat tidak ikut imam sujud?

Seharusnya kan saya ikut sujud bersama imam, urusan tahu atau tidak tahu dalilnya, tidak jadi masalah. Sebab kalau saya tidak ikut sujud bersama imam, maka otomatis shalat saya batal dengan sendirinya.

Haramkah Bertaqlid?

Kalau ada orang yang bilang, haram bertaqlid, haram menjadi muqallid dan wajib menjadi muttabi'. Tetapi apa benar cara pandang seperti ini?

Jawabannya sederhana saja. Para ulama yang sudah sampai level mujtahid sekalipun, kadang dalam kondisi tertentu lebih memilih untuk bertaqlid kepada imam lain. Itu berarti tidak selamanya taqlid itu haram.

Mari kita dengarkan perkataan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau sesungguhnya seorang mujtahid mutlaq mustaqil, tetapi dalam beberapa hal ternyata masih bertaqlid.

إِذَا سُئِلْتُ عَنْ مَسْأَلَةٍ لَمْ أَعْرِفْ فِيهَا خَبَرًا أَفْتَيْتُ فِيهَا بِقَوْلِ الشَّافِعِيِّ لأَنَّهُ إِمَامٌ عَالِمٌ مِنْ قُرَيْشٍ

Bila Aku ditanya tentang masalah yang aku tidak tahu dalilnya, maka aku berfatwa dengan menggunakan perkataan Asy-Syafi'i. Karena beliau seorang alim dari kalangan Quraisy.

Ungkapan Al-Imam Ahmad di atas bisa kita baca dalam kitab Mathalib Ulin Nuha fi Syarhi Ghayatil Muntaha jilid 6 halaman 448. Yang dimaksud dengan 'tidak tahu dalilnya' adalah bahwa Imam Ahmad tidak menemukan nash hadits, baik marfu atau yang mauquf. Dan saat itu beliau malah bertaqlid kepada guru beliau sendiri, yaitu Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah.

Pertanyaannya, apakah tindakan Al-Imam Ahmad itu berdosa, lantaran telah bertaqlid kepada orang lain? Apakah beliau tiba-tiba turun derajat menjadi muqallid lagi gara-gara bertaqlid kepada orang lain?

Jawabnya tentu saja tidak. Sebab tidak selamanya seorang mujtahid itu tahu jawaban semua masalah. Dan tidak semua mereka tahu dalil-dalil atas suatu masalah. Sehingga halal-halal saja bagi seorang mujtahid ketika tidak tahu suatu hukum dan tidak tahu dalilnya untuk bertaqlid kepada mujtahid lain.

Kalau mujtahid yang sudah sangat ahli itu saja masih boleh bertaqlid, kenapa orang awam yang tidak bisa baca Al-Quran, tidak tahu hadits, tidak mengerti bahasa Arab, tidak mengerti ushul fiqih, qawaid fiqhiyah, kok harus dipaksa berijtihad sendiri dan kenapa harus tahu semua dalil?

Tahu Dalil Tetap Saja Taqlid

Dan yang paling penting untuk dicatat, bahwa tidak mentang-mentang seseorang sudah tahu suatu dalil, lantas dia terbebas dari taqlid.

Mengapa demikian?

Sebab keabsahan dalil yang dia gunakan itu kan masih dipertanyakan juga, shahih apa tidak dalil itu. Sebab kalau tidak shahih kan percuma saja. Haram hukumnya kita berdalil dengan dali yang tidak shahih.

Terus, dari mana kita tahu bahwa dalil yang kita pakai itu shahih?

Jawabannya tentu dari ulama hadits yang ahli di bidang penshahihan hadits. Misalnya dari pendapat Al-Bukhari atau Al-Imam Muslim, yang dituliskan di dalam dua kitab shahih mereka.

Berarti dalam hal keshahihan dalil yang digunakan, ternyata kita masih bertaqlid dengan orang lain, yaitu Bukhari dan Muslim. Tidak berijtihad sendiri, tidak melakukan pengecekan sendiri, tidak melakukan penelitian sendiri.

Inilah yang dikatakan bahwa meski mengaku sebagai muttabi', ternyata masih taqlid-taqlid juga.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Ijtihadnya Orang Awam
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 February 2014, 06:59 | 6.376 views
Membangun Keluarga Ahli Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2014, 06:31 | 4.204 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 8.331 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 20.218 views
Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 4.466 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 1.729 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 8.114 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 8.121 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 11.202 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.565 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 7.295 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.824 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 10.057 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 7.117 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 9.092 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 6.028 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.693 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.780 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 5.335 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 8.501 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 16.082 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 4.305 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.739 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 9.176 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.446 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.989 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.755 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.949 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 8.222 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 20.218 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 7.019 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 11.554 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.712 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.550 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.748 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.533 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 5.397 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.577 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 5.206 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 7.330 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 7.072 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.954 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.538 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.730 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.714 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 6.358 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 8.390 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.509 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.785 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 4.446 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 6.249 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan