Ustadz Jadi Apa? | rumahfiqih.com

Ustadz Jadi Apa?

Hanif Luthfi, Lc Tue 28 January 2014 07:28 | 5306 views

Bagikan via

Kalo semuanya jadi ustadz; tukang sulap jadi ustadz, tukang bubur jadi ustadz, dukun jadi ustadz, penjual obat jadi ustadz, tukang copi-paste artikel jadi ustadz, insinyur konstruksi bangunan jadi ustadz, insinyur teknik kimai jadi ustadz, mantan model jadi ustadz, mantan artis jadi ustadz, lantas ustadz sendiri jadi apa dong?

Ya, ustadz jadi banyak lah. Kan semua sudah jadi ustadz, alhamdulillah.

Tapi, bukankah kalo begitu akan memperburuk citra “ustadz”? Banyak yang mengaku ustadz agar laris perdukunannya. Banyak yang mengaku ustadz agar dipilih dalam pilkada, karena dikiranya ustadz tidak mungkin korupsi. Banyak yang dipanggil ustadz hanya gara-gara pakaiannya. Tak jarang karena sudah terlanjur dipanggil ustadz, malu jika ditanya hukum tak bisa jawab. Akhirnya, jawab sekenanya dan ngawur.

Nah, sekarang yang perlu digaris bawahi adalah apakah gelar “ustadz” itu sebagai standar kendali mutu akan pengetahuan agama atau hanya sekedar gelar penghormatan saja?

Asal Kata Ustadz

Kalo mau, cobalah sekali-kali iseng tanya kepada para ustadz itu. Tanyanya begini, “Ustadz! Kalo boleh tau fi’il madhi dari kata ustadz itu apa ya?”

Kalo jawabnya, astadza-yustidzu! Wah, berarti benar-benar ustadz beliau itu. Bahkan lebih hebat dari orang Arab, benar-benar ustadz ngawur.

Menelisik asal kata “ustadz”, ternyata kata itu bukan murni dari Bahasa Arab. Makanya jarang atau mungkin tidak pernah kita dengar istilah ustadz dalam hadits Nabi. Kalaupun ada, maka itu bukan ustadz tapi astadz, Maimun bin Astadz; nama seorang perawi hadits [1].

Lebih tepatnya kata “ustadz” termasuk kata mu'arrabah atau non Arab yang masuk ke dalam bahasa Arab [2]. Karena mu'arrabah, maka tidak musytaq;  tidak ada fi’il dan mashdar-nya.

Menurut Muhammad al-Fayyumi (w. 770 H), dalam bahasa Arab, huruf ta’ [ت] dan dzal [ذ] itu tak pernah bertemu dalam satu kalimat [3], kalaupun ada itu bukan asli Bahasa Arab. Kata Ustadz menurut beberapa riwayat datangnya dari bahasa Farsi, masuk lewat Iraq lalu menyebar ke kawasan Arab.

Makna Ustadz sendiri secara umum adalah orang yang pintar dalam sesuatu yang besar, sebagaimana diungkapkan Muhammad Murtadha az-Zabidi (w. 1205 H)[4] dalam al-Mu’jam al-Wasith [5]:

(الْأُسْتَاذ) الْمعلم (مَعَ) والماهر فِي الصِّنَاعَة يعلمهَا غَيره ولقب علمي عَال فِي الجامعة (ج) أساتذة وأساتيذ

 Ustadz adalah orang yang mahir dalam produksi dan mengajarkannya kepada orang lain, ustadz juga gelar keilmuan akademik dalam universitas.

Bahkan lebih luas dari itu, Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid (w. 1424 H) dalam Mu’jam al-Lughat al-Arabiyyah al-Mu’ashirah [6] menjelaskan, ustadz saat ini maksudnya adalah:

  1. Muallim atau guru
  2. Gelar akademik universitas
  3. Gelar kehormatan
  4. Orang yang mahir dalam sesuatu
  5. Musiqar atau musisi

Kesemuanya bisa disebut ustadz. Kita bisa menyebut ustadz Umar Bakri, karena beliau mengajar ngaji di TPA. Kita bisa juga menyebut Ustadz Doktor Murad Mahmud Haidar dalam arti profesor. Bahkan barangkali kita bisa menyebut Ustadz Roma Irama atau Ustadz Ahmad Dhani, karena keduanya musiqar alias  musisi.

Tapi akan aneh jika kita terapkan dalam konteks ke-Indonesia-an. Karena kata ustadz sudah terkadung berkonotasi pada orang yang paham ilmu agama dengan baik. Tak berbeda jauh dengan ustadz, adalah kata kyai.

Kyai dengan Ustadz

Kyai menurut asal-usulnya dipakai untuk ketiga jenis gelar yang saling berbeda:

  1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat; umpamanya, “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang berada di keraton Jogjakarta.
  2. Gelar kehormatan untuk orang tua pada umumnya.
  3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama islam yang biasanya memimpin pesantren atau mengajar mengaji [7].

Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu “Ki” dan “Yai”. “Ki” tah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua. Sedang “Yai” adalah kata yang asalnya dari dialek daerah-daerah asia tenggara Indochina, yang terpengaruh bahasa sanskrit dan Pali. “Yai” artinya besar, luas, atau agung.

Kata ini masih digunakan di Thailand, Burma, Kamboja, dan Jawa Kuno. Maka, jika digabung, Kiyai berarti seorang laki-laki yang dihormati, dalam segala kapasitas dan bukan hanya bidang “agama” saja.

Walaupun sekarang ini kata "kyai" lebih condong untuk menyebut orang yang ahli dalam agama islam. Kasusnya tak jauh berbeda dengan ustadz.

Bedanya, seakan-akan ustadz lebih Islami, karena lebih beraroma Arab. Kyai lebih beraroma non-Islam, Jawa Hindu yang Sinkretis. Padahal sesungguhnya sama-sama dari non-Arab juga, terlebih malah kata “ustadz” berasal dari Persia yang terkenal berkeyakinan Majusi.

Kyai dan Ustadz Bukan Standar Keilmuan

Jika ada ustadz ditanya hukum fiqih tapi jawabnya ngawur, bisa saja itu hal yang sangat wajar. Bila ada ustadz tapi menafsiri al-Qur’an sekehendak akalnya, bisa saja itu ada. Bila ada ustadz tapi tidak paham mana klenik mana bukan, itu sangat mungkin banyak jumlahnya.

Jangan heran, karena gelar ustadz sebenarnya bukan standar suatu kualitas keilmuan.

Dalam literatur sejarah keilmuan ulama Islam, gelar ulama menunjukkan kapasitas keilmuannya. Jika orang itu ahli fiqih, maka biasa disebut faqih atau fuqaha’, ahli qiraat al-Qur’an disebut qari’ atau qurra’, ahli tafsir disebut mufassir, ahli hadits disebut muhaddits, ahli sastra disebut adib atau udaba’ dan fushaha’, ahli grammar disebut nahwiy atau prularnya nuhat [8].

Bahkan dalam ilmu hadits, ada gelar tertentu yang menunjukkan tingkatan keilmuan; seperti amir al-mu’minin, al-hafidz, al-hujjah, al-muhaddits dan lain sebagainya.

Maka, untuk lebih baiknya jika ingin belajar ilmu tafsir, belajarlah kepada ustadz yang mufassir. Jika ingin bertanya tentang hukum islam, bertanyalah kepada ustadz yang ahli fiqih.

Ustadz Shahafi

Dalam bab adab mencari ilmu, ada satu istilah cukup menarik dari ulama salaf, yaitu shahafi. Ulama salaf memberikan  warning untuk tidak mengambil ilmu dari seorang shahafi.

Shahafi dalam pengertian modern artinya wartawan, sedangkan maksud dari shahafi oleh para ulama salaf adalah orang yang mendapat ilmu hanya dari shahifah saja bukan dari ulama’ [9]. Shahafi dari kata shahifah yang artinya lembaran-lembaran kertas.

al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), al-Faqih wa al-Mutafaqqih menyebutkan [10]:

«لا تقرءوا القرآن على المصحفين، ولا تأخذوا العلم من الصحفيين»

 “Janganlah kalian belajar membaca al-Qur’an dari mushhafiyyin, dan janganlah kalian mengambil ilmu dari shahafiyyin”

Mushafi berasal dari kata mushaf, artinya dia tidak belajar al-Qur’an dari Ahli Qira’at melainkan hanya dari mushaf saja. Kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang otodidak belajar al-Qur'an dari mushaf.

Sebagaimana kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang hanya belajar dari shahifah dan buku-buku saja. Barangkali termasuk juga mengambil ilmu hadits dari orang yang hanya belajar dari perpustakaan saja.

Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyaAllahu anhu, ketika memberikan pesan kepada para pencari ilmu, beliau berkata [11]:

...ورفيقه صحبة الأخيار، ويكون قد أخذ فقهه من أفواه العلماء، لا من الصحف...

..Teman orang-orang yang mencari ilmu adalah shuhbah (pent: menemani) orang-orang pilihan, yang mengambil ilmu dari mulut pada ulama bukan dari shahifah/ buku..

Hal itu cukup beralasan, orang yang hanya belajar dari buku saja maka ada hal penting yang terabaikan; tak ada yang mengingatkan jika salah. Ketika sudah tidak ada lagi yang mengingatkan, maka seolah apa yang didapat dari buku semuanya adalah benar.

Ketika seseorang hanya belajar dari buku, maka dia tidak punya guru untuk dihormati. Rasa hormat kepada guru inilah yang menumbuhkan sikap tawadhu’ terhadap ulama. Sehebat apapun seseorang, selama dia masih punya guru maka dia akan merasa masih ada orang yang lebih utama.

Maka kecenderungan orang yang hanya berguru dari buku, mereka dengan berani mengkritik orang yang mungkin sangat jauh kapasitas keilmuannya dari orang tersebut, dan juga enteng menyalahkan sana-sini. Tak pelak, frasa “hum rijal wa nahnu rijal” pun disalahgunakan.

Nah, para ulama salaf melarang kita mengambil ilmu dari ustadz-ustadz model shahafi ini. Apalagi mengambil ilmu dari akun dunia maya yang tak jelas siapa orangnya. Karena ternyata menjadi “ustadz” di dunia maya itu tak sesulit ustadz betulan. Pasang saja photo profil ustadz, copy-paste selalu tulisan islami, maka sebentar lagi akan ada orang yang memanggil ustadz.

Karena mencari ilmu itu sampai ke liang lahat, maka shuhbah dengan ustadz yang benar-benar alim pun harusnya sampai ajal menjemput. Yuk, cari ustadz untuk mengaji yang bener-bener alim dibidangnya, dan bukan ustadz shahafi. Wabillahi at-taufiq wa al-hidayah.

Footnote: 

[1] Maimun bin Astadz adalah seorang rawi hadits dari kalangan Tabi’in, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H), at-Tarikh al-Kabir, (Haidarabad: Dairat al-Ma’arif al-Utsmaniyyah, t.t), hal. 7/ 339

[2] Lihat: Zainuddin bin Muhammad Abdurraouf (w. 1031 H), at-Tauqif ala Muhimmat at-Ta’arif, (Kairo: Daar Alam al-Kutub, 1410 H), hal. 47

[3] Ahmad bin Muhammad al-Fayyumi (w. 770 H), al-Mishbah al-Munir, (Baerut: al-Maktabah al-Ilmiyyah, t.t), hal. 14 

[4] Muhammad Murtadha az-Zabidi (w. 1205 H), Tajul ‘Arus, (Mesir: Daar al-Hidayah, t.t), hal. 9/ 418

[5] Majma’ al-Lughat al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasith, (Kairo: Daar ad-Dakwah, t.t), hal.1/ 17

[6] Ahmad Mukhtar Abdul Hamid (w. 1424 H), Mu’jam al-Lughat al-Arabiyyah al-Muashirah, (Kairo: Daar Alam al-Kutub, 1429 H), hal. 1/ 89

[7] Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 2011), hal. 93

[8] Sebagai contoh adalah kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H). ad-Dzahabi ketika menyebutkan sejarah seorang alim, beliau biasanya memulai dengan gelar untuk menunjukkan kepakaran dalam suatu bidang.

[9] Majma’ al-Lughat al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasith, hal.1/ 508

[10] Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), al-Faqih wa al-Mutafaqqih, (Riyadh: Daar Ibn al-Jauzi, 1421 H), hal. 2/ 194

[11] Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), al-Faqih wa al-Mutafaqqih, hal. 2/ 192

Bagikan via


Baca Lainnya :

KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 3.357 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.628 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 3.970 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.373 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.554 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.459 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 850 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.749 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.677 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.308 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.047 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.173 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.027 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.636 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.839 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.913 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.696 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.620 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.682 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.964 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.989 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.169 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.454 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.832 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.865 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.816 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.221 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.713 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.325 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.227 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.631 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.562 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.664 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.915 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.761 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.196 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.218 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.300 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.465 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.416 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.778 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.389 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.142 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.732 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.306 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.628 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.373 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.920 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.611 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.812 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.465 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.594 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.600 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.983 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.249 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.005 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.330 views