Ustadz Jadi Apa? | rumahfiqih.com

Ustadz Jadi Apa?

Hanif Luthfi, Lc., MA Tue 28 January 2014 07:28 | 5537 views

Bagikan via

Kalo semuanya jadi ustadz; tukang sulap jadi ustadz, tukang bubur jadi ustadz, dukun jadi ustadz, penjual obat jadi ustadz, tukang copi-paste artikel jadi ustadz, insinyur konstruksi bangunan jadi ustadz, insinyur teknik kimai jadi ustadz, mantan model jadi ustadz, mantan artis jadi ustadz, lantas ustadz sendiri jadi apa dong?

Ya, ustadz jadi banyak lah. Kan semua sudah jadi ustadz, alhamdulillah.

Tapi, bukankah kalo begitu akan memperburuk citra “ustadz”? Banyak yang mengaku ustadz agar laris perdukunannya. Banyak yang mengaku ustadz agar dipilih dalam pilkada, karena dikiranya ustadz tidak mungkin korupsi. Banyak yang dipanggil ustadz hanya gara-gara pakaiannya. Tak jarang karena sudah terlanjur dipanggil ustadz, malu jika ditanya hukum tak bisa jawab. Akhirnya, jawab sekenanya dan ngawur.

Nah, sekarang yang perlu digaris bawahi adalah apakah gelar “ustadz” itu sebagai standar kendali mutu akan pengetahuan agama atau hanya sekedar gelar penghormatan saja?

Asal Kata Ustadz

Kalo mau, cobalah sekali-kali iseng tanya kepada para ustadz itu. Tanyanya begini, “Ustadz! Kalo boleh tau fi’il madhi dari kata ustadz itu apa ya?”

Kalo jawabnya, astadza-yustidzu! Wah, berarti benar-benar ustadz beliau itu. Bahkan lebih hebat dari orang Arab, benar-benar ustadz ngawur.

Menelisik asal kata “ustadz”, ternyata kata itu bukan murni dari Bahasa Arab. Makanya jarang atau mungkin tidak pernah kita dengar istilah ustadz dalam hadits Nabi. Kalaupun ada, maka itu bukan ustadz tapi astadz, Maimun bin Astadz; nama seorang perawi hadits [1].

Lebih tepatnya kata “ustadz” termasuk kata mu'arrabah atau non Arab yang masuk ke dalam bahasa Arab [2]. Karena mu'arrabah, maka tidak musytaq;  tidak ada fi’il dan mashdar-nya.

Menurut Muhammad al-Fayyumi (w. 770 H), dalam bahasa Arab, huruf ta’ [ت] dan dzal [ذ] itu tak pernah bertemu dalam satu kalimat [3], kalaupun ada itu bukan asli Bahasa Arab. Kata Ustadz menurut beberapa riwayat datangnya dari bahasa Farsi, masuk lewat Iraq lalu menyebar ke kawasan Arab.

Makna Ustadz sendiri secara umum adalah orang yang pintar dalam sesuatu yang besar, sebagaimana diungkapkan Muhammad Murtadha az-Zabidi (w. 1205 H)[4] dalam al-Mu’jam al-Wasith [5]:

(الْأُسْتَاذ) الْمعلم (مَعَ) والماهر فِي الصِّنَاعَة يعلمهَا غَيره ولقب علمي عَال فِي الجامعة (ج) أساتذة وأساتيذ

 Ustadz adalah orang yang mahir dalam produksi dan mengajarkannya kepada orang lain, ustadz juga gelar keilmuan akademik dalam universitas.

Bahkan lebih luas dari itu, Dr. Ahmad Mukhtar Abdul Hamid (w. 1424 H) dalam Mu’jam al-Lughat al-Arabiyyah al-Mu’ashirah [6] menjelaskan, ustadz saat ini maksudnya adalah:

  1. Muallim atau guru
  2. Gelar akademik universitas
  3. Gelar kehormatan
  4. Orang yang mahir dalam sesuatu
  5. Musiqar atau musisi

Kesemuanya bisa disebut ustadz. Kita bisa menyebut ustadz Umar Bakri, karena beliau mengajar ngaji di TPA. Kita bisa juga menyebut Ustadz Doktor Murad Mahmud Haidar dalam arti profesor. Bahkan barangkali kita bisa menyebut Ustadz Roma Irama atau Ustadz Ahmad Dhani, karena keduanya musiqar alias  musisi.

Tapi akan aneh jika kita terapkan dalam konteks ke-Indonesia-an. Karena kata ustadz sudah terkadung berkonotasi pada orang yang paham ilmu agama dengan baik. Tak berbeda jauh dengan ustadz, adalah kata kyai.

Kyai dengan Ustadz

Kyai menurut asal-usulnya dipakai untuk ketiga jenis gelar yang saling berbeda:

  1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat; umpamanya, “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang berada di keraton Jogjakarta.
  2. Gelar kehormatan untuk orang tua pada umumnya.
  3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama islam yang biasanya memimpin pesantren atau mengajar mengaji [7].

Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu “Ki” dan “Yai”. “Ki” tah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua. Sedang “Yai” adalah kata yang asalnya dari dialek daerah-daerah asia tenggara Indochina, yang terpengaruh bahasa sanskrit dan Pali. “Yai” artinya besar, luas, atau agung.

Kata ini masih digunakan di Thailand, Burma, Kamboja, dan Jawa Kuno. Maka, jika digabung, Kiyai berarti seorang laki-laki yang dihormati, dalam segala kapasitas dan bukan hanya bidang “agama” saja.

Walaupun sekarang ini kata "kyai" lebih condong untuk menyebut orang yang ahli dalam agama islam. Kasusnya tak jauh berbeda dengan ustadz.

Bedanya, seakan-akan ustadz lebih Islami, karena lebih beraroma Arab. Kyai lebih beraroma non-Islam, Jawa Hindu yang Sinkretis. Padahal sesungguhnya sama-sama dari non-Arab juga, terlebih malah kata “ustadz” berasal dari Persia yang terkenal berkeyakinan Majusi.

Kyai dan Ustadz Bukan Standar Keilmuan

Jika ada ustadz ditanya hukum fiqih tapi jawabnya ngawur, bisa saja itu hal yang sangat wajar. Bila ada ustadz tapi menafsiri al-Qur’an sekehendak akalnya, bisa saja itu ada. Bila ada ustadz tapi tidak paham mana klenik mana bukan, itu sangat mungkin banyak jumlahnya.

Jangan heran, karena gelar ustadz sebenarnya bukan standar suatu kualitas keilmuan.

Dalam literatur sejarah keilmuan ulama Islam, gelar ulama menunjukkan kapasitas keilmuannya. Jika orang itu ahli fiqih, maka biasa disebut faqih atau fuqaha’, ahli qiraat al-Qur’an disebut qari’ atau qurra’, ahli tafsir disebut mufassir, ahli hadits disebut muhaddits, ahli sastra disebut adib atau udaba’ dan fushaha’, ahli grammar disebut nahwiy atau prularnya nuhat [8].

Bahkan dalam ilmu hadits, ada gelar tertentu yang menunjukkan tingkatan keilmuan; seperti amir al-mu’minin, al-hafidz, al-hujjah, al-muhaddits dan lain sebagainya.

Maka, untuk lebih baiknya jika ingin belajar ilmu tafsir, belajarlah kepada ustadz yang mufassir. Jika ingin bertanya tentang hukum islam, bertanyalah kepada ustadz yang ahli fiqih.

Ustadz Shahafi

Dalam bab adab mencari ilmu, ada satu istilah cukup menarik dari ulama salaf, yaitu shahafi. Ulama salaf memberikan  warning untuk tidak mengambil ilmu dari seorang shahafi.

Shahafi dalam pengertian modern artinya wartawan, sedangkan maksud dari shahafi oleh para ulama salaf adalah orang yang mendapat ilmu hanya dari shahifah saja bukan dari ulama’ [9]. Shahafi dari kata shahifah yang artinya lembaran-lembaran kertas.

al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), al-Faqih wa al-Mutafaqqih menyebutkan [10]:

«لا تقرءوا القرآن على المصحفين، ولا تأخذوا العلم من الصحفيين»

 “Janganlah kalian belajar membaca al-Qur’an dari mushhafiyyin, dan janganlah kalian mengambil ilmu dari shahafiyyin”

Mushafi berasal dari kata mushaf, artinya dia tidak belajar al-Qur’an dari Ahli Qira’at melainkan hanya dari mushaf saja. Kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang otodidak belajar al-Qur'an dari mushaf.

Sebagaimana kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang hanya belajar dari shahifah dan buku-buku saja. Barangkali termasuk juga mengambil ilmu hadits dari orang yang hanya belajar dari perpustakaan saja.

Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyaAllahu anhu, ketika memberikan pesan kepada para pencari ilmu, beliau berkata [11]:

...ورفيقه صحبة الأخيار، ويكون قد أخذ فقهه من أفواه العلماء، لا من الصحف...

..Teman orang-orang yang mencari ilmu adalah shuhbah (pent: menemani) orang-orang pilihan, yang mengambil ilmu dari mulut pada ulama bukan dari shahifah/ buku..

Hal itu cukup beralasan, orang yang hanya belajar dari buku saja maka ada hal penting yang terabaikan; tak ada yang mengingatkan jika salah. Ketika sudah tidak ada lagi yang mengingatkan, maka seolah apa yang didapat dari buku semuanya adalah benar.

Ketika seseorang hanya belajar dari buku, maka dia tidak punya guru untuk dihormati. Rasa hormat kepada guru inilah yang menumbuhkan sikap tawadhu’ terhadap ulama. Sehebat apapun seseorang, selama dia masih punya guru maka dia akan merasa masih ada orang yang lebih utama.

Maka kecenderungan orang yang hanya berguru dari buku, mereka dengan berani mengkritik orang yang mungkin sangat jauh kapasitas keilmuannya dari orang tersebut, dan juga enteng menyalahkan sana-sini. Tak pelak, frasa “hum rijal wa nahnu rijal” pun disalahgunakan.

Nah, para ulama salaf melarang kita mengambil ilmu dari ustadz-ustadz model shahafi ini. Apalagi mengambil ilmu dari akun dunia maya yang tak jelas siapa orangnya. Karena ternyata menjadi “ustadz” di dunia maya itu tak sesulit ustadz betulan. Pasang saja photo profil ustadz, copy-paste selalu tulisan islami, maka sebentar lagi akan ada orang yang memanggil ustadz.

Karena mencari ilmu itu sampai ke liang lahat, maka shuhbah dengan ustadz yang benar-benar alim pun harusnya sampai ajal menjemput. Yuk, cari ustadz untuk mengaji yang bener-bener alim dibidangnya, dan bukan ustadz shahafi. Wabillahi at-taufiq wa al-hidayah.

Footnote: 

[1] Maimun bin Astadz adalah seorang rawi hadits dari kalangan Tabi’in, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H), at-Tarikh al-Kabir, (Haidarabad: Dairat al-Ma’arif al-Utsmaniyyah, t.t), hal. 7/ 339

[2] Lihat: Zainuddin bin Muhammad Abdurraouf (w. 1031 H), at-Tauqif ala Muhimmat at-Ta’arif, (Kairo: Daar Alam al-Kutub, 1410 H), hal. 47

[3] Ahmad bin Muhammad al-Fayyumi (w. 770 H), al-Mishbah al-Munir, (Baerut: al-Maktabah al-Ilmiyyah, t.t), hal. 14 

[4] Muhammad Murtadha az-Zabidi (w. 1205 H), Tajul ‘Arus, (Mesir: Daar al-Hidayah, t.t), hal. 9/ 418

[5] Majma’ al-Lughat al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasith, (Kairo: Daar ad-Dakwah, t.t), hal.1/ 17

[6] Ahmad Mukhtar Abdul Hamid (w. 1424 H), Mu’jam al-Lughat al-Arabiyyah al-Muashirah, (Kairo: Daar Alam al-Kutub, 1429 H), hal. 1/ 89

[7] Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 2011), hal. 93

[8] Sebagai contoh adalah kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H). ad-Dzahabi ketika menyebutkan sejarah seorang alim, beliau biasanya memulai dengan gelar untuk menunjukkan kepakaran dalam suatu bidang.

[9] Majma’ al-Lughat al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasith, hal.1/ 508

[10] Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), al-Faqih wa al-Mutafaqqih, (Riyadh: Daar Ibn al-Jauzi, 1421 H), hal. 2/ 194

[11] Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), al-Faqih wa al-Mutafaqqih, hal. 2/ 192

Bagikan via


Baca Lainnya :

KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 3.584 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 January 2014, 12:23 | 4.849 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 4.207 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 January 2014, 05:45 | 9.685 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.750 views

more...

Semua Tulisan Penulis :