Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri | rumahfiqih.com

Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Sat 1 February 2014 06:00 | 4253 views

Bagikan via

Dalam dunia fiqih seseorang baru disebut mukallaf (orang yang beri beban) jika sudah sampai umur dan berakal, maka anak-anak dan orang gila yang akalnya tidak waras pada dasarnya tidak terikat dengan beban kehidupan, mereka bisa hidup bebas, bahkan sebebas-bebasnya, tanpa harus peduli kiri maupun kanan.

Orang-orang mukallaf ini dalam hubungannya dengan hukum syariah dan dalil terbagi dalam dua kelompok besar; Kelompok yang bisa menyimpulkan suatu hukum dari dalil yang ada dengan usahanya (ijtihad), dan kelompok yang tidak bisa atau belum mampu untuk menyimpulkan hukum sendiri.

Kelompok yang pertama dikenal dengan istilah mujtahid dan yang kedua disebut muqallid. Kedua kelompok ini wajib mengetahui hukum syariat dan mengamalkannya sesuai dengan kemampuan yang mereka punya. Kelompok yang pertama dibebankan untuk berijtihad sesuai dengan keilmuan yang mereka punya, sedangkan kelompok yang kedua diperintahkan untuk mengikut petunjuk yang pertama (taqlid).

Ibarat bepergian dari Ragunan ke Pasar Senen Jakarta, bagi yang memiliki kendaraan bolehlah mereka menggunakan kedaraannya untuk sampai ke tujuan dengan selamat, tapi bagi yang tidak memiliki kendaraan, mustahil rasanya kita paksa mereka untuk membeli kendaraan.

Ada baiknya dan memang sepantasnya mereka yang tidak memiliki kendaraan bergabung bersama mereka yang memiliki kendaraan, atau bisa menggunakan jasa angkutan umum; Kopaja, mikrolet, busway, atau taxi, dan lain sebagainya, terlebih jika mereka yang tidak memiliki kendaraan ini baru datang dari kampung halaman, buta dengan Jakarta.

Ijtihad Haknya Mujtahid

Sesuai dengan tuntutan seorang mujtahid, maka dalam beramal mereka diminta untuk berusaha mencapai suatu pemasalahan dengan langsung melihat dalil-dalil yang ada agar dengannya mereka bisa menyimpulkan sebuah hukum.

Bahwa kesimpulan yang didapatkan tidak bisa mengikat mujtahid lainnya, itu artinya dalam kode etiknya sesama mujtahid tidak boleh meng-copy paste hasil ijtihad dari mujathid lainnya, hasil itu harus benar-benar murni dari usahanya.

Jikapun terpaksa harus melihat hasil ijtihad mujtahid lainnya, maka kode etik berikutnya adalah bahwa mereka harus mencamtumkan foot note (catan kaki), atau menjelaskan kepada halayak ramai bahwa apa yang disampaikan itu adalah hasil ijtihadnya Imam Syafii, Imam Ahmad, atau imam mujtahid lainnya. Minimal tidak mengklaim bahwa itu adalah hasil ijtihadnya.

Inilah lebih kurang pesan yang ingin disampaikan oleh Ibnu Qudamah dalam Raudhah An-Nazhir ketika membahas bab ijtihad. Imam Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa para ulama sepakat seorang mujtahid tidak boleh mengikut mujtahid lainnya [ المجتهد إذا اجتهد فغلب على ظنه الحكم، لم يجزْ له تقليد غيره ].

Dan mereka boleh menyampaikan pendapat imam madzhablainnya kepada halayak, namun tidak boleh mengklaim bahwa itu adalah hasil ijtihadnya padahal dia hanya taqlid kepada mujtahid lainnya:[ولكن يجوز له أن ينقل للسمتفتي مذهب الأئمة، كأحمد والشافعي، ولا يفتي مِنْ عند نفسه بتقليد غيره]

Orang Awam Wajib Mengikut (Taqlid)

Para ulama ushul menilai bahwa sepanjang syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk sampai pada level mujtahid belum ada, maka pada dasarnya mereka adalah awam. Karena pada dasarnya orang awam tidak mempunyai cukup syarat untuk berijtihad, maka disini mereka hanya diperintahkan untuk mengikut saja, ber-taqlid, tentunya mengikut para ulama mujtahid. Bahkan dengan tegas Ibnu Qudamah mengatakan wajib hukumnya bertaqlid kepada para ulama mujtahid.

Taqlid artinya mengambil pendapat mujtahid dalam suatu masalah tanpa mengetahui dalilnya, atau tanpa mengetahui dalilnya dengan sempurna. Ada awam yang memang benar-benar buta dengan pengetahuan akan dalil, tapi ada ada juga yang tahu sedikit tentang cara berdalil namun masih sangat kurang untuk menyimpulkan sendiri, keduanya sama awam, walau ada sedikit perbedaan.

Jika dalam satu negri ada banyak mujtahid maka mereka yang awam berhak untuk mengikut siapa saja dari ulama mujtahid yang ingin mereka ikuti [للعاميِّ أن يقلد من شاء من المجتهدين], kaidah ini masyhur dikalangan ulama ushul,  bahkan sebagian menganggap perkara ini sudah ada konsensusnya (ijma’).

Untuk itu kita mengenal istilah bahwa orang awam itu pada dasarnya tidak mempunyai madzhab khusus yang mengikat, madzhab mereka adalah madzhab ustadnya (mufti) [العامي لا مذهب له، بل مذهبه مذهب مفتيه].

Hal ini dikuatkan oleh Imam Nawawi dalam Raudhah At-Thalibin bahwa orang awam tidak harus berpegang teguh dengan satu madzhab tertentu, namun mereka boleh meminta fatwa kepada ulama yang mereka kehendaki, tanpa adanya niat dengan sengaja untuk mencari yang mudah saja[الذي يقتضيه الدليل أنه لا يلزمه التمذهب بمذهب، بل يستفتي من شاء، أو من اتفق من غير تلقط للرخص]

Sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut:

 

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Tinggal lagi permaslahan berikutnya adalah menentukan dan memilih siapa saja dari ulama kita yang masuk dalam level mujtahid. Ini penting untuk diketahui karena pada dasarnya sangat jelas bedanya antara ulama mujtahid, ulama yang belum sampai pada derajat mujtahid, ustadz, artis, pelawak dan dukun. Jangan sampai istilah ini menjadi bias, hanya karena media yang selalu menghadirkan mereka di televisi.

Jika kita adalah awam, sekiranya tidak ada kehiaan sama sekali dengan menyadari keawaman kita, dan setinggi-tingginya level awam tetap saja kita bukan mujtahid yang mempunyai hak utuh untuk berbicara dalil dengan sangat vokal, apalagi jika seandainya kita adalah awam pada level akut.

Proses belajar melalui majlis taklim, pesantren akhir pekan, melalui website, setidaknya menjadi awal dari bagaimana menyadarkan diri agar kita tahu bahwa sebenarnya selama ini kita tidak tahu, dengan pembelajaran seperti itu setidaknya kita bisa menaikkan level awam kita agar tidak berada pada posisi starata paling bawah, berharap sedikit demi sedikit kita juga mulai membaca dalil-dalil yang mereka gunakan.

Keberadaan awam dalam kehidupan ini tidaklah sehina yang dibayangkan, bahwa salah satu unsur stabiltas kehidupan justru karena adanya peran mereka yang awam. Keberadaan para pedagang yang sepanjang hari tidak pernah tahu dengan kitab-kitab ushul, fiqih, tafsir, hadits dan lainnya sudah membantu masyarat ini memenuhi hajat hidup mereka. Para sopir angkot, taxi, yang sepanjang hari berada di dalam mobilnya juga sudah membuat roda kehidupan berjalanan. Petani sawah dan kebun yang sudah menanam padi, buah dan sayur tidak kalah pentingnya, sehingga dengan izin Allah kita makan dengan hasil penjualan mereka. Dan begitu seterusnya, yang ada justru sebenarnya hidup ini akan kacau jika semua orang diwajibkan untuk menjadi mujtahid.

Taqlid Bertentangan Dengan Pesan Ulama?

Sekilas bahwa pesan yang sering kita dengar dari para ulama bahwa: “Jika benar suatu hadits maka itulah madzbku atau pendapatku” haruslah difahami secara proporsional. Pesan ini sebenarnya ditujukan untuk para ulama mujtahid, bukan untuk selain mereka.

Bagaimana mungkin orang awam akan mengetahui bahwa ada pendapat mujtahid yang bertentangan dengan Al-Quran maupun Hadits sedang mereka tidak pernah tahu dan tidak pernah selesai membaca semua kitab yang ditulis oleh ulama tersebut, dan buta dengan metodelogi mereka dalam menyimpulkan sebuah hukum.

Ini yang kadang membuat kita tambah bingung, bagaimana mungkin orang awam mengahakimi ulama yang sudah sampai pada level mujtahid dengan mengatakan bahwa pendapatnya bertetangan dengan Al-Quran dan tidak sejalan dengan Hadits?

Jika pernyataan itu didapat lewat keterangan sebagian ustad, maka pada umumnya apalagi ustad di negri kita ini belum sampai pada level mujtahid, jadi menentangkan pendapat mereka dengan pendapat para mujtahid menjadi tidak relevan.

Jikapun pernyataan  bahwa ada pendapat satu mujtahid yang bertentang dengan Al-Quran atau Hadits didapat melalui ulama besar dari negri Timur Tengah sana, maka keyakinan kita dengan pendapat ulama ini juga disebut dengan taqlid, lantas apa bedanya taqlid kita kepada ulama ini dengan ulama itu? Dan taqlid kita kepada ulama yang yang satu tidaklah lebih utama ketimbang taqlid kepada selainnya, karena tetap saja keduanya adalah taqlid.

Jadi permasalahan ini hanya akan relevan untuk sesama mujtahid, karena sedari awal sudah kita jleaskan bahwa hanya merekalah yang berhak berijtihad, dan bahwa hasil ijtihadnya tidak mengikat untuk ulama lainnya.

Jadi mari kita dudukkan permasalahan ini pada tempatnya. Dalam hal ini kita butuh membuka dua kitab; Kitab percaya diri dan kitab tahu diri. Untuk para ulama bolehlah mereka membuka kitab percaya diri dengan usaha yang sudah mereka lakukan, tapi buat kita yang masih awam mari membuka kitab tahu diri, bahwa sebenarnya kita hanya diminta untuk mengikut saja, tanpa harus menyalahkan pengikut lainnya.

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 5.057 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.647 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.310 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 3.360 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.630 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 952 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.685 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.687 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 1.856 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.231 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.708 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.248 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 2.076 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.584 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.351 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.269 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 1.941 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.254 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.499 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 1.872 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.637 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 4.124 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 3.997 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.256 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 4.988 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.112 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 2.829 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 2.971 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.153 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 5.025 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.214 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.195 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 5.002 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.501 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.959 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.982 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.544 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.603 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.911 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 7.921 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.239 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.253 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.647 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.555 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.205 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 4.071 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.787 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 4.925 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 14.046 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.140 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.593 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.447 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.938 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.527 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.619 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.611 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.987 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.260 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.682 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.180 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.347 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.588 views