Fiqih dan Tafsir | rumahfiqih.com

Fiqih dan Tafsir

Sutomo Abu Nashr, Lc Sun 2 February 2014 04:12 | 3723 views

Bagikan via

Membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, -bulan yang Al-Quran diturunkan di dalamnya- merupakan salah satu ibadah utama yang menjadi tradisi umat Islam sejak dahulu kala. Diriwayatkan dalam banyak kitab Tarajum dan Thabaqat, bahwa Imam Syafi’i biasa menghatamkan Al-Quran di bulan mulia tersebut sebanyak 60 kali. Dan demikianlah tradisi salaf, mereka memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan lebih dari mereka membacanya di bulan lain. Maka tidak heran kemudian para ulama sering menyebut bulan tersebut dengan Syahr Al-Quran; Bulan Al-Quran.

Semangat membaca tersebut ternyata juga terwariskan hingga generasi kita saat ini. Meski dengan kualitas dan kuantitas yang jauh berbeda, kaum muslimin Indonesia saat ini juga cukup semarak menyambut hadirnya bulan Ramadhan dengan membaca dan berusaha menghatamkannya.

Bahkan saat ini -di luar bulan ramadhan- muncul semangat baru untuk membaca Al Qur’an secara lebih rutin seperti dalam program yang dikenal dengan ODOJ (One Day One Juz). Lebih dari itu, ada satu fenomena menarik yang patut kita syukuri dari sebagian kaum muslimin  saat ini; mereka juga sangat semangat mengajak saudara-saudara muslim yang lain untuk kembali kepada Al-Quran.

Cara Selamat Kembali Kepada Al Qur'an

Tentu saja gerakan kembali kepada Al-Quran adalah gerakan yang harus kita dukung bersama. Namun gerakan tersebut harus dipandu dan dikawal ketat oleh mereka yang faham betul bagaimana “kembali” kepada Al-Quran itu. Karena ‘kembali kepada Al-Quran’ bukanlah gerakan mudah. Ia butuh Imam yang membimbing, menuntun dan mengajarkan caranya. Sebab tanpa bimbingan Imam, bisa saja yang terjadi malah kita sedang meninggalkan ajaran Al-Quran, meski kita merasa atau menyebutnya sedang kembali kepadanya.

Kita sama sekali tidak berhak “kembali” secara mandiri hanya dengan bermodalkan semangat tanpa pengetahuan memadai. Modal pengetahuan bahasa Arab saja atau memahami melalui terjemah saja, sama sekali bukan jalan yang bisa dibenarkan. Bahkan orang Arab yang hidup di zaman Rasul, hidup bersama beliau dan sekaligus tumbuh bersama dengan turunnya wahyu pun tidak lantas kemudian ia dikatakan layak dan berhak sebagai rujukan pemahaman yang benar terhadap Al-Quran.
 
Itulah mengapa Abu Bakr mengatakan, “Langit mana yang menaungiku dan bumi mana yang membawaku, jika aku berkata tentang Al-Quran sesuatu yang tidak aku mengerti”  Ternyata, sekaliber sahabat besar Abu Bakr pun masih memiliki ketidakmengertian dalam beberapa hal dari kandungan Al-Quran. Dan beliau merasa sangat takut untuk memberikan jawabannya yang murni dengan pemahamannya semata.
 
Maka cara paling selamat agar kita tidak salah jalan saat kembali itu adalah dengan cara yang sudah diajarkan oleh Al-Quran itu sendiri. Yaitu bertanya dan berkonsultasi kepada Ahlu Ad Dzikr. Dalam konteks ini,  Ahlu Ad Dzikr adalah mereka yang memiliki otoritas memahami atau menafsiri Al-Quran. Atau bagi yang sudah sangat memahami bahasa arab secara matang bisa langsung membaca dan mengkaji kitab-kitab tafsir mereka. Dengan cara itulah, jalan kembali kita akan terbimbing.

Kita memang harus kembali kepada Al-Quran dalam segala hal. Karena di dalam kitab suci itulah segala persoalan kehidupan manusia akan menemukan jawabannya. Di dalam Al-Quran ada kisah umat terdahulu yang penuh ibrah dan inspirasi. Ada prinsip-prinsip Tauhid. Ada kumpulan pedoman berakhlak. Dan tentu saja ada aturan-aturan ibadah dan muamalah.

Ayat-Ayat Fiqih, Himpunan Besar Pijakan Hukum

Ayat-ayat yang berisikan aturan-aturan cara beribadah dan bermuamalah itulah yang setelah ditafsirkan akan menghasilkan produk bernama fiqih. Dan tidak ada satu kejadian atau peristiwa apapun di dunia ini kecuali di dalam Al-Quran terdapat pijakan hukum fiqihnya.

Allah SWT berfirman dalam ayat 89 dari surat An-Nahl,

 [وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ ]

“…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu..”

Ketika menafsiri frasa “menjelaskan segala sesuatu” pada ayat diatas, Imam Mujahid mengatakan, “semua perkara halal dan haram”. Dan sebagaimana dekenal dalam ushul fiqih, halal haram adalah bagian inti dari ahkam taklifiyah fiqih yang lima.

Imam Syafi’i -dalam kitab ushul fiqihnya Ar Risalah- mengatakan,

 [فليست تنزل بأحد من أهل دين الله نازلة إلا وفي كتاب الله الدليلُ على سبيل الهدى فيها ]

“Tidaklah ada satu kejadianpun yang menimpa pemeluk agama Allah, kecuali di dalam kitab-Nya pasti terdapat dalil  yang menunjukkan jalan penerang atas status hukumnya” 

Dari sinilah harus kita pahami bahwa fiqih yang merupakan panduan baku untuk semua jenis ibadah atau muamalah kita, bukanlah sekedar sekumpulan aturan yang dikarang manusia. Tapi fiqih adalah himpunan besar tafsir para mufassirin sekaligus fuqaha atas semua ayat-ayat yang berkaitan dengan semua jenis ibadah itu. Pada himpunan besar tafsir itulah, kita baru bisa mengamalkan Al Qur’an sesuai dengan pemahaman yang berlandaskan atas kaidah syariah yang benar.

Himpunan tafsir atas ayat-ayat yang berisikan aturan ibadah, muamalah dan jinayah itulah yang dikenal dalam lingkungan kajian tafsir dengan istilah Tafsir Fiqih. Dalam banyak referensi, Tafsir Fiqih juga dikenal dengan istilah Tafsir Ayat Ahkam atau Fiqh Al Kitab. Yaitu sebuah corak tafsir yang khusus mengurai dan menjelaskan ayat-ayat ahkam amaliyah. Sedangkan ahkam i'tiqadiyah dan khuluqiyah, yang juga termasuk unsur ahkam di dalam Al Qur’an, tidaklah menjadi objek pembahasan tafsir fiqih.

Tafsir Fiqih, Salah Satu Corak Tafsir

Tafsir fiqih memang merupakan salah satu corak tafsir. Selain corak ini, kita masih bisa menjumpai puluhan corak lain yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir para mufassirin. Ada tafsir yang lebih condong mengurai kebahasaan Al Qur’an. Ada tafsir yang sangat luas dalam mengupas aspek sejarah dan kisah dalam Al Qur’an. Ada tafsir yang lebih serius dalam mengungkap riwayat-riwayat mufassirin salaf. Dan lain-lain.

Bahkan ada tafsir yang hampir memasukkan semua jenis pengetahuan yang bagi beberapa ulama, pengetahuan-pengetahuan tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan dalam tafsir. Sehingga dengan nada sinis, mereka menilai tafsir tersebut dengan mengatakan, “di dalam kitab tafsirnya terdapat semua pengetahuan kecuali tafsir”. Penilaian kritis ini disanggah dengan sederhana oleh ulama yang hampir sezamannya dengan mengatakan, “di dalam kitab tafsirnya terdapat semua pengetahuan termasuk tafsir”

Diantara corak-corak tersebut, tafsir fiqih memiliki hampir semua pembahasan yang terdapat dalam corak-corak lain. Karena mentafsiri ayat-ayat ahkam amaliyah juga membutuhkan pengetahuan kebahasaan, pengetahuan sejarah, dan juga pengetahuan riwayat-riwayat fiqih ulama salaf.

Dengan semakin berkembangnya dunia pengetahuan syar’iyyah, corak tafsir juga mengalami perkembangan. Maka muncullah kemudian tafsir secara tematis. Ada tafsir politik, tafsir ekonomi, tafsir budaya, dan lain-lain. Pada jenis-jenis tema tersebut, kacamata fiqih juga bisa masuk dalam memandang aspek hukum syar’i nya terhadap masing-masing tema.

Tafsir Fiqih Kontemporer

Selama masih dilakukan oleh ulama yang memang memiliki otoritas tafsir, dan berjalan sesuai proses yang berlaku dalam kaidah tafsir, maka ayat-ayat Al Qur’an sebenarnya sangat boleh dikembangkan terus bentuk dan ragam tafsirannya. Karena sesuai dengan petunjuk nabawi, para ulama mengatakan bahwa Al Qur’an itu memang Dzulwujuuh. Secara bahasa diartikan memiliki banyak wajah.

Maksudnya, Al Qur’an memiliki sifat fleksible untuk ditafsiri sesuai dengan makna-makna yang seluas-luasnya. Karena itulah, dari abad ke abad kita masih bisa menjumpai banyak kitab-kitab tafsir bermunculan dengan wajahnya masing-masing.

Dan tafsir fiqih juga bisa mengalami hal yang sama. Karena fiqih, adalah salah satu ilmu dalam syariah islamiyah yang selalu mengalami perkembangan. Banyak kejadian, peristiwa dan penemuan-penemuan baru di masa ini yang tidak terdapat di masa lalu. Sehingga perlu penafsiran fiqih kontemporer atas ayat ahkam dalam Al Qur’an yang bisa menjawab setiap tantangan-tantangan baru itu di setiap zaman.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.346 views
Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 5.186 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.755 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.438 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 3.462 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 612 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.291 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 3.100 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.345 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.737 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 3.001 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 7.234 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.651 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 4.054 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.461 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 4.082 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 3.969 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 3.723 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.546 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 4.035 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 4.275 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.861 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 7.363 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 3.953 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 7.205 views