Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah | rumahfiqih.com

Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah

Hanif Luthfi, Lc Thu 14 February 2013 16:45 | 9486 views

Bagikan via

Mungkin banyak yang belum mengetahui perbedaan dua kitab ini. Ada yang menganggap kedua kitab ini sama, ada juga yang menyangka kitab Shahih Fiqih Sunnah adalah penyempurna dari Fiqih Sunnah. Padahal kedua kitab ini sebenarnya berbeda.

Kedua kitab ini bisa dikatakan sama-sama terkenal dan penting. Kitab Fiqih Sunnah lebih dikenal di kalangan teman-teman Ikhwanul Muslimin, sedangkan Kitab Shahih Fiqih Sunnah lebih banyak dikenal teman-teman Salafy. Kedua kitab diatas bukanlah kitab Turats, artinya kitab diatas dikarang oleh Ulama’ zaman ini.

KITAB FIQIH SUNNAH

Pengarang: Sayyid Sabiq. Beliau adalah salah seorang Ulama’ lulusan al-Azhar fakultas Syari’ah. Beliau lahir di Mesir pada tahun 1335 H/1915 M. Beliau wafat pada tahun 1420 H/ 2000 M.

Pada awalnya beliau memulai menulis makalah ringkas tentang Fiqih terkhusus bab Thaharah pada Majalah mingguan al-Ikhwanu al-Muslimun. Dalam tulisannya itu, beliau sering mengutip kitab-kitab hadits ahkam, seperti Subulu as-Salam karya As-Shan’ani (w. 1182 H) yang mensyarah kitab Bulughu al-Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Nailu al-Authar karya as-Syaukani syarah Muntaqa al-Akhbar karya Ibnu Taymiyyah al-Jadd (w. 652 H). Sampai akhirnya kegiatan menulis Fiqih itu beliau teruskan menjadi sebuah buku.

Jilid pertama Fikih Sunnah diterbitkan pada tahun 1365 H di Mesir atau sekitar tahun 1949 M, dan pada muqaddimahnya diberi sambutan oleh pemimpin al-Ikhwan al-Muslimun, Syeikh Hasan al-Banna (w. 1949 H).

Jilid kedua Fiqih Sunnah ini mengupas mengenai masalah zakat, puasa, jenazah dan hal-hal yang berkaitan dengannya, haji, hingga masalah pernikahan.

Kemudian dilanjutkan dengan jilid ketiga, yang berisikan berbagai hal seputar pernikahan (wali dan kedudukannya, hak dan kewajiban suami-istri, nafkah, akad nikah, walimah, dan sebagainya), serta berbagai hal yang berkaitan dengan hudud/hukuman.

Terakhir ia menulis jilid keempat, yang merupakan jilid terakhir dari kitab Fiqih Sunnah. Jilid terakhir ini mengupas mengenai jihad, perang, jizyah, ghanimah, kafarat sumpah, hukum jual-beli, riba, pinjaman, gadai, mudharabah, dan utang. Mungkin setiap percetakan akan beda dalam jumlah jilidnya.

Beberapa karangan beliau yang lain: Mashadir al-Quwwah fi al-Islam, ar-Riba wa al-Badil, al-Aqaid al-Islamiyyah, Islamuna.

ISI KITAB

Dalam pembukaan kitab Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq memulai kitabnya dengan menjelaskan universalitas ajaran Islam.Kemudian beliau juga menjelaskan sejarah tasyri’ hukum islam secara ringkas. Baru kemudian beliau memulai kitabnya dari bab Thaharah.

Sebagaimana namanya; Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq sering mengemukakan hukum fiqihnya terlebih dahulu, baru kemudian beliau kuatkan dengan dalilnya baik dari al-Qur’an maupun dari as-Sunnah. Seperti dalam bab Thaharah, Sayyid Sabiq sebutkan macam-macam air, setelah itu beliau sebutkan dalil naqlinya.

Sayyid Sabiq lebih cenderung menjauhi perdebatan madzhab yang panjang, dan menyebutkan ikhtilaf diantara para Ulama’ pada hal-hal yang memang perlu disebutkan saja. Tujuan beliau adalah mempermudah bagi para pembaca untuk memahami kitabnya. Kitab beliua ini juga tidak berafiliasi kepada satu Madzhab tertentu.

KITAB TA’LIQ TERHADAP FIQIH SUNNAH

Kitab Fiqih Sunnah ini juga tak lepas dari kritik dari Ulama’ lain, karena memang masing-masing Ulama berijtihad yang sangat mungkin hasil Ijtihad itu berbeda satu sama lain. Kitab yang mengkritik kitab Fiqih Sunnah adalah kitab “Tamamu al-Minnah fi at-Ta’liq ‘ala Fiqhi as-Sunnah” karya Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1999 M).

Inti dari kritik dalam kitab Tamamu al-Minnah ini, kalo bisa saya simpulkan menjadi dua tema besar:

Pertama, berkenaan dengan hadits yang dipakai berasal dari buku para ulama terdahulu. Sayyid Sabiq tidak men-tahqiq atau memilahnya lebih jauh, karena berprinsip pada kaidah “Setiap ilmu yang diambil dari ahlinya bisa diterima”. Sebagai contoh Syaikh Al Albani berbeda pendapat dengan Syaikh Sayyid Sabiq dalam hadits tentang kewajiban zakat perdagangan. Menurut Syaikh Al Albani hadits tersebut dhaif.

Kedua, perbedaan sumber fiqih antara keduanya. Syaikh Al Albani cenderung mengikuti makna tersurat (zhahiru an nash) dari teks hukum, sedangkan Syaikh Sayyid Sabiq lebih dekat pada maqashid nash (tujuan makna nash -red). Syaikh Al Albani tidak segan berbeda pendapat dengan jumhur ulama terdahulu, seperti dalam pengharaman emas bagi wanita, sedangkan Syaikh Sayyid Sabiq biasanya menghormati pendapat jumhur ulama.

Mengkritik hasil karya Ulama lain bukanlah hal barudalam dunia Islam.

KITAB SHAHIH FIQIH SUNNAH

Nama lengkap kitabnya adalah Shahih Fiqih Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzahibi al-Aimmah.
Pengarang: Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim
Ta’liq: Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syeikh bin Baz, Syeikh Ibnu Utsaimin.

Saya merasakan kesulitan dalam mencari biografi dari Syeikh Abu Malik Kamal bin Salim ini. Ada yang mengatakan bahwa beliau asalnya dari Mesir, lalu pindah ke Saudi Arabia pada tahun 1420 H/2002 M. Asalnya beliau adalah seorang Insinyur, lalu akhirnya menekuni bidang syariah.

Ketika di Mesir, Syeikh Abu Malik ini merupakan murid dari Syeikh Musthafa al-Adawi yang termasuk murid dari Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (1932-2001 H) dari Yaman. Syeikh Musthafa al-Adawi ini juga dahulunya lulusan tekhnik mesin, lalu menekuni bidang Syariah.

Yang pasti, Syeikh Abu Malik Kamal bin Salim sekarang memang telah menjadi Ulama’ Saudi Arabia. Jika ingin lebih mengetahui kajian beliau, bisa klik di: [Video:http://ar.islamway.com/videos/scholar/1524] atau [audio: http://ar.islamway.com/lessons/scholar/1524].

Karya lain: Fiqhu as-Sunnah li an-Nisa’, al-Fiqhu al-Mushaffa,

ISI KITAB

Sebagaimana kitab Fiqih Sunnah, kitab Shahih Fiqih Sunnah bisa dikategorikan pula dalam kitab perbandingan Madzhab. Abu Malik mengawali kitabnya dengan menyebutkan sejarah Ilmu Fiqih. Begitu juga beliau kemukakan pula sejarah kitab-kitab fiqih dari turats sampai modern.

Abu Malik menyebutkan keistimewaan dan sekaligus kekurangan metode penulisan kitab-kitab itu. Misalnya dalam penyusunan bab, ushlub yang digunakan suatu kitab, sampai dalam bab isi dari kitab itu. Sampai akhirnya, Abu Malik merasa menemukan metode yang pas dan cocok untuk beliau tulis saat ini.

Abu Malik juga menyebutkan pertentangan antara Ulama’ Ahli Hadits dengan Ahli Fiqih pada zaman dahulu, sehingga Abu Malik merasa perlu untuk mengarang kitab yang mencakup keduanya, baik Fiqih maupun Hadits.

Tak lupa Abu Malik mencantumkan pula sejarah terjadinya ikhtilaf para Ulama’, sejarah kemunculan taqlid dalam madzhab serta perkembangan madzhab.

Keistimewaan lain dari kitab ini adalah adanya tarjih/ pilihan pendapat yang lebih kuat dari para Ulama’ ketika terjadi khilaf. Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa banyak teman-teman Salafy menggunakan kitab ini.

Meski diakui pula oleh penulis sendiri, bahwa pen-terjihan suatu pendapat oleh beliau hanyalah sesuai dengan keilmuan yang telah beliau dapatkan dan ketahui, dan beliau tidak mengharuskan orang lain untuk mengikuti tarjih beliau.

PENUTUP

Kedua kitab ini memiliki nama yang hampir sama. Meski Pengarangnya memang berbeda. Bisa dikatakan bahwa kedua kitab ini tidak beraflisiasi kepada salah satu madzhab tertentu, bahkan cenderung menjauhkan diri dari madzhab.

Yang menjadi beda adalah tarjih atau pemilihan pendapat yang dianggap kuat. Tentu setiap penulis memiliki metode masing-masing dalam pen-tarjihan suatu hukum syar’i. 

Intinya, mari kita baca kedua-duanya. 
waAllahu a'lamu bisshawab

Oleh: Luthfi Abdu Robbihi

Bagikan via


Baca Lainnya :

Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | 12 February 2013, 14:15 | 3.963 views
Keistimewaan Ilmu Faraidh
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 February 2013, 10:31 | 4.409 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 3.958 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.515 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
Aini Aryani, Lc | 7 February 2013, 09:01 | 4.265 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.633 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 1.001 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.904 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.812 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.489 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.194 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.352 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.251 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.775 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.961 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 5.048 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.840 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.714 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.790 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 5.081 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 6.128 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.275 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.641 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.956 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.992 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.959 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.319 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.821 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.438 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.332 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.753 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.672 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.770 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 4.024 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.877 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.334 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.374 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.432 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.596 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.517 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.880 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.519 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.243 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.840 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.444 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.756 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.531 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 4.046 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.727 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 10.012 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.640 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.714 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.727 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 6.113 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.359 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.134 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.486 views