Moderasi Islam dalam Ibadah | rumahfiqih.com

Moderasi Islam dalam Ibadah

Dr. Isnan Ansory, Lc, MA Sat 22 February 2014 06:00 | 3033 views

Bagikan via

Ibadah dalam arti ketundukan dan penghambaan kepada sang maha pencipta merupakan ajaran yang sangat urgen pada setiap agama. tidak ada satu pun agama dan kepercayaan di muka bumi ini kecuali pasti di dalamnya terdapat sebuah ajaran tentang ibadah.

Karena pada hakikatnya fitrah manusia akan selalu menggiring mereka untuk meyakini keberadaan zat yang pasti ada (al maujud) dan selalu dibutuhkan manusia khusus pada kondisi-kondisi yang amat krusial, sekalipun oleh penganut atheis. Hanya saja dalam perkembangannya, hanya mereka yang mendapatkan hidayah Allah lah yang akan berada dalam kondisi beribadah yang benar sesuai kehendak sang maha pencipta, Allah SWT.  

Menurut para ulama tujuan tertinggi dari eksistensi manusia di dunia adalah merealisasikan ibadah. Di mana ibadah dalam Islam adalah setiap aktivitas kebaikan yang dengannya manusia menghadap Allah swt.[1]

 

Moderasi Islam dalam Ibadah

Dalam kaca mata Islam, satu-satunya ibadah yang diridhoi dan diakui Allah SWT adalah ibadah yang berdasarkan wahyu yang diterima oleh nabi Muhammad SAW. ini merupakah bagian dari dasar agama Islam yang asasi (qath’i), di mana secara global dengan datangnya risalah nabi Muhammad SAW maka terhapuslah (mansukh) segenap ajaran nabi-nabi terdahulu.

Rasulullah SAW bersabda:

والله لو كان موسى حيا بين أظهركم ما حل له إلا أن يتبعني

Demi Allah seandainya nabi Musa AS hidup diantara kalian, tidaklah ia diperkenankan (mengikuti ajaran apapun) kecuali mengikuti ajaranku.[2]

Di antara karakteristik mendasar ibadah dalam Islam adalah sifat moderatnya (wasathiyyah). Terkait karakteristik ini, ash Shalabi menyimpulkan sejumlah ketentuan al Qur’an terkait konsepsi wasathiyyah (moderasi) Islam dalam aspek ibadah sebagaimana berikut:

 

Pertama, ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan penyelewengan ibadah kepada Allah dari yang semestinya.

Seperti firman Allah, “Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(QS. al Maidah/5: 76. Ayat-ayat yang semisal di antaranya: QS. az Zumar/39: 3, 64, QS. an Naml/27: 43, QS. al Hajj/22: 11).

 

Kedua, ayat-ayat yang menunjukkan perintah beribadah hanya semata kepada Allah (kalimat sawa’).

Seperti firman Allah, “Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allahal." jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Ali Imran/3: 64. Ayat-ayat yang semisal di antaranya: QS. al Hijr/15: 99, QS. al A’raf/7: 59).

 

Ketiga, ayat-ayat yang menunjukkan beragam bentuk ibadah, yang selaras dengan karakteristik moderasinya serta jauh dari perilaku ekstrim.

Seperti larangan Allah atas rahbaniah (kerahiban) dalam firman-Nya, “…Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS. al Hadid/57: 27).

Atau sikap acuh terhadap ibadah, sebagaimana firman-Nya, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam/19: 59).

Kemudian setelah menerangkan tentang larangan bersikap ekstrim dalam ibadah dalam kedua bentuknya di atas, al Qur’an menjelaskan konsepsi wasathiyyah (moderasi) Islam dalam ibadah, seperti firman-Nya, “…Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”( QS. al Isra’/17: 110).[3]

Konsepsi ibadah dalam Islam ini sangat berbeda dengan konsepsi ibadah kaum Yahudi dan kaum Nashrani, yang kedua-duanya mangambil jalan ekstrim. Jika kita melihat konsep ibadah kaum Yahudi dengan kacamata al Qur’an, kita mendapati bahwa konsepsi ibadah mereka adalah adalah berangkat dari dasar kebendaan (al mâddah) dan keduniawian (materialisme) bahkan dasar ini mereka terapkan pula terkait pengatahuan seorang hamba kepada tuhannya (ma’rifatullâh).

Mereka (kaum Yahudi) berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada Kami dengan nyata” (QS. an Nisa/4: 153). “Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang.”( QS. al Baqarah/2: 55). [4]

Oleh sebab itu Allah memerintahkan kita untuk berlindung kepada-Nya dari sikap kaum Yahudi tersebut dalam setiap aktifitas shalat kita, firman-Nya, “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai (ghair al maghdhûb ‘alaihim).” (QS. al Fatihah/1: 7).

Sedangkan sikap ekstrim kaum Nashrani dalam aspek ibadah dapat terlihat dari sikap kependetaan (rahbâniyyah) mereka sebagai bentuk bid’ah yang tidak pernah sama sekali diajarkan oleh Nabi Isa as. Oleh sebab itu Allah memerintahkan kita untuk berlindung pula kepada-Nya dari sikap kaum Nashrani tersebut dalam setiap aktifitas ibadah kita, firman-Nya, “Bukan mereka yang sesat (wa lâ adh dhâllîn).”

Tentang rahbaniyyah kaum nashrani ini, az Zuhaili menyatakan bahwa konsep kependetaan (rahbaniyyah) kaum nashrani memiliki dua sisi; pemikiran dan penerapan.

Sisi pemikiran konsep ini bersandar pada pemutusan hubungan terhadap manusia hanya untuk beribadah, mengasingkan diri dari manusia dan dunia, zuhud dari keduniawiaan dan harta, mengosongkan diri dari hal-hal yang baik dan lezat serta menghalangi jiwa dari keinginan-keinginan syahwat dan insting-insting, terutama insting seksual sehingga mereka mengharamkan nikah bagi pendeta.

Sedangkan dari sisi penerapannya, maka berjalan secara berlawanan dengan pemikiran di atas. Hal itu terjadi karena para pendeta sesuai dengan hirarki jabatan kependetaan tidak mau meneruskan pemikiran tentang pengasingan diri dan pemutusan hubungan dari kehidupan. Mereka tidak berdiri begitu saja dengan bersedekap tangan dalam urusan politik dan kekuasaan. Mereka mengambil manfaat dari penguasaan manusia bagi geraja dan kekuatan emosi keagamaan. Maka mereka membentuk kekuasaan tertinggi yang dapat mengontrol raja-raja dan mengatur jalannya perpolitikan di Eropa dan lainnya. Mereka memperdalam hubungan dengan pemerintahan pada masa feudal. Merekalah yang menentukan penarikan harta-harta dan penyerahan pajak-pajak dari dan kepada raja-raja dan rakyat. Juga menentukan pemberian-pemberian para raja yang berlebihan dan jaminan mendapatkan suap/pemberian menjadi uang muka bagi keberlangsungan mereka dalam jabatannya.[5]

Ibadah menurut Islam bukanlah semata-mata bertujuan untuk meraih kebahagiaan di akhirat serta tidak pula menafikan sama sekali kebutuhan manusia atas pemenuhan kebutahan-kebutuhan jasmaniah mereka di dunia. Namun ibadah dalam Islam merupakan ibadah yang bersifat proporsional dalam rangka menghadirkan kebahagiaan dan ketenangan hidup di dunia dan akhirat.

Bahkan menurut Sayyid Quthb moderasi Islam dalam ibadah yang mengakomodir dua kebutuhan manusia (ritual ibadah dan pemenuhan kebutuhan jasmani) sekaligus, dapat melahirkan jiwa profesionalitas dalam bekerja dan ketinggian mutu dalam kehidupan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid dalam tafsirnya atas Q.S. Hud/11: 52.

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52)

“Dan (dia (Hud) berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud/11: 52).

Dalam ayat ini, Sayyid membuat sebuah korelasi antara perintah beristighfar dan bertaubat dan bertambahnya kekuatan dan mutu kehidupan, untuk menjelaskan keserasian dan keseimbangan antara dasar-dasar keimanan dan kebutuhan materi. Sayyid Quthb berkata:

“Hal ini (diturunkannya hujan yang lebat dan bertambahnya kekuatan mereka), merupakan perkara-perkara yang berlaku padanya sunnatullah sesuai dengan aturan yang ditetapkan untuk alam. yaitu, ciptaan dan kehendak Allah terhadap tabiat alam. Maka, apakah hubungan istighfar dan taubat dengan hal ini?.

Mengenai tambahan kekuatan, maka hal ini merupakan sesuatu yang dekat (bisa dialami) dan mudah, bahkan merupakan suatu realitas yang dapat dilihat. Karena kebersihan hati dan melakukan amal shalih di muka bumi ini akan dapat menambah kekuatan bagi orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.

Perbuatannya akan menambah kesehatan tubuh dengan pola hidup sederhana dan merasa cukup dengan rizki yang baik-baik saja. Juga menjadikan hati tenang dan tentram, dapat mengendorkan urat saraf, dan menjadikan hati mantap dan percaya kapada rahmat Allah yang bisa datang setiap saat. Kebersihan hati dan amal shalih itu juga menambah kekuatan mereka dalam kehidupan bermasyarakat di bawah bimbingan syariah Allah yang bijak yang melepaskan manusia menjadi orang-orang merdeka dan terhormat.

Juga membebaskan kemampuan dan potensi manusia untuk bekerja dan berproduksi serta menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi, dengan tidak disibukkan dengan symbol-simbol ketuhanan terhadap tuhan-tuhan buatan. Selain itu, juga melepaskan pengaruh dupa dan bunyi genderang, dan untuk mengisi fitrah manusia yang kosong dari Tuhan yang Maha Besar.” [6]

Wallahua'lam bi ash shawab

Isnan Ansory, Lc., M.A

Peneliti dan Dosen Kampus Syariah (Rumah Fiqih Indonesia)

 



[1] Syaikhul Islam Ibn Taimiah, Majmû’ al Fatâwâ, (t.t: Dar al Wafa’, 1426/2005), cet. ke-3, juz. X, hal. 149, Ibn Qayyim al Jauziyyah, Madârij as Sâlikîn, hal. 74, Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al Qur’ân, jilid. I, hal. 189, Yusuf al Qaradhawi, al Ibâdah fî al Islâm, (Beirut: Mu’assasah ar Risalah, 1409/1989), cet. ke-12, hal. 31

[2] HR. Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman (No. 179), Ad Dailami (No. 7469), Ahmad (No. 14672), Abu Ya’la (No. 2135) dan Abu Nashr As Sajzi dalam Al Ibanah dari Jabir bin Abdullah.

[3] Ali Muhammad Muhammad ash Shalabi, al Washatiyyah fî al Qur’ân, hal. 389-396

[4] Ali Muhammad Muhammad ash Shalabi, al Washatiyyah fî al Qur’ân, hal. 381

[5] Muhammad az Zuhaili, Indahnya Islam: Di tengah Tarikan Kaum Ekstrim dan Liberal, hal. 14-15

[6] Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al Qur’ân, jilid. IV, hal. 1897.