Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih | rumahfiqih.com

Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih

Ahmad Zarkasih, Lc Tue 25 February 2014 09:19 | 6515 views

Bagikan via

Seperti memakaikan sepatu dengan ukuran kaki sendiri untuk kaki orang lain. Dan sepeti juga memaksa orang lain yang berbeda bentuk tubuh dan besarnya untuk memakai baju dengan ukuran badannya sendiri. Ya, kira-kira seperti itu perilaku aneh yang dilakukan oleh para pengkritik madzhab fiqih belakangan ini.

Mereka sering kali mengkritik pendapat-pendapat madzhab fiqih yang berbeda dengan pendapatnya, bahkan sampai mengatakan bahwa ulama mazhab telah keliru dalam mengambil hadits sebagai dalil, karena berdalil dengan hadits dhaif. Padahal boleh jadi yang dibilang dhaif itu cuma dhaif menurut versi dirinya sendiri.

Perbedaan dalam ranah hukum fiqih sesungguhnya bukan sesuatu yang berbahaya, karena memang perbedaan itu ada dan bukan diada-adakan. Keberadaan yang merupakan sebuah keniscayaan.

Sayangnya para pengkritik itu tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu dengan apa yang menjadi dasar manhaj (metode) pengambilan hukum (istinbath). Yang mereka tahu hanya satu metode saja, yaitu bahwa kebenaran hukum itu semata-mata berdasarkan hadits yang shahih. Sedangkan yang tidak sejalan dengan hadits shahih ini, maka dianggap telah menyalahi sunnah. Terlalu sederhana.

Padahal kalau saja mereka pernah belajar ilmu metodologi istimbath hukum, tentunya tidak sesederhana itu duduk masalahnya.

Parahnya lagi mereka sering mengklaim bahwa hanya metode mereka itu saja satu-satunya medote yang benar, sedangkan metode yang lain akan selalu diposisikan sebagai metode yang salah, keliru dan sesat. Seolah-olah hanya mereka saja yang berilmu dan yang lain itu jahil, bodoh dan awam.

Memang agak parah cara pemahaman seperti ini.

Modal Pengkritik

Seseorang yang ingin mengkritik, apapun ranah keilmuannya, mestinya mengerti dulu metodologi yang digunakan. Minimal mengetahui dulu apa dasar pengambilan hukum dan konsepnya.

Seorang kritikus tidak boleh hanya mengenal metodenya sendiri. Dia juga dituntut untuk benar-benar paham metode dan konsep yang dipakai, agar kritiknya menjadi objektif dan tidak terkesan asal kritik.

Kalau tidak paham konsep yang dipakai oleh lawan bicaranya, tentu bukan kritikus namanya. Dalam hal ini dia hanya menjadi penyimak yang salah kamar. Jadi mestinya yang dia kerjakan cukup hanya menyimak saja, tapi perlu mengkritik.

Dalam masalah hukum fiqih khususnya, sebelum seseorang mengkritik pendapat salah satu madzhab tertentu, dia harus pahami dulu metode yang dipakai oleh madzhab tersebut. Ketahui, pahami, pelajari dan teliti konsep pengambilan hukumnya.

Jangan hanya karena belajarnya satu metode, dan mengira bahwa hanya metode itu yang shahih dan yang lain yang tidak bermetode seperti itu dikritik dan dianggap keliru dalam mengambil hukum. Tidak seperti itu.

Melihat ada ayat yang jelas-jelas mengandung makna bla bla bla, menurutnya, lalu ada madzhab yang mengambil hukum berbeda dengan kandungan ayat yang ia pahami. Jangan dulu kritik, lihat dulu bagaimana konsep pengambilan hukum madzhab tersebut terhadap ayat Al-Quran.

Boleh saja suatu suatu hadits itu berderajat shahih, tapi bila ada madzhab tertentu yang pendapatnya bertentangan dengan zahir hadits tersebut, tidak boleh langsung dituduh sebagai mukhalifussunah (menyelisih sunnah). Tidak demikian ketentuanny.

Kita wajib mempelajari dan melihat dulu, apa kira-kira konsep madzhab tersebut dalam mengambil hukum dari sebuah hadits. Apa hanya sanadnya yang shahih ataukah punya perhitungan lain?

Pengambilan Hukum dari Ayat

Dalam pengambilan ayat misalnya, ternyata kedua madzhab ushul-fiqh di kalangan ahlu-sunnah berbeda masing-masing. Madzhab Mutakallimun, yang merupakan madzhab ushul-nya jumhur madzhab fiqih (Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah) itu punya konsep yang berbeda dengan madzhab Al-Fuqaha’, madzhab ushul-nya Al-Hanafiyah.

Dalam hal al-‘aam wa al-khash (ayat umum dan ayat khusus) contohnya. Jumhur pada posisi bahwa segala ayat dalam Al-Quran yang mengandung makna ‘aam (umum), harus ditangguhkan terlebih dahulu dan dicari apakah ada ayat khash (khusus) dalam masalah ini?

Kalau ada ayat khash-nya, maka hukum yang terkandung dalam ayat umum itu dibawa ke dalam ayat khusus. Jadi ayat khusus yang dijadikan pengambilan hukum, bukan ayat umum.

Berbeda dengan madzhab Al-fuqaha’ (Al-Hanafiyah), mereka tidak melihat apakah ayat itu umum atau khusus. Mereka melihat waktu turunnya ayat tersebut, mana yang turun duluan dan mana yang belakangan.

Jadi konsepnya, ayat yang turun terakhir itulah yang menjadi hujjah dan ayat yang turun lebih awal, kandungan hukumnya digiring ke ayat yang turun terakhir itu, seperti ditutup oleh ayat yang turun terakhit itu, walaupun ayatnya umum.

Kedua konsep di atas adalah konsep yang amat kuat dan sah dalam metodologi istimbath hukum yang telah diakui oleh seluruh ulama sepanjang zaman. Kita tentu tidak dalam posisi untuk menjatuhkan salah satunya. Sebaliknya, kita harus paham, mengerti dan menghormati keduanya sekaligus.

Nasikh dan Mansukh

Belum lagi ada yang disebut dengan istilah Nasikh wa Al-Mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus). Dan tidak sedikit dalam litelatur fiqih kita temukan para ulama berselisih paham dalam menentukan mana yang nasikh (menghapus) dan mana yang di-mansukh (dihapus).

Konsep pengambilan hukum dari Al-Quran saja sudah berbeda, ya wajar kalau terus kemudian muncul perbedaan pendapat. Ini contoh kecil saja. Ternyata kalau kita teliti lebih dalam, konsep pengambilan hukum dari Al-Quran yang dipakai oleh para ahli ushul itu sangat luas pembahasannya. Seperti menentukan mana yang disebut nash? Lalu bagaimana dengan istilah dzahirunnash? Apa pula yang dikatakan ihtimal?

Pengambilan Hukum dari Hadits

Metodologi istimbath hukum dari hadits lebih rumit lagi. Bukan hanya madzhab mutakalimun dan madzhab al-fuqaha yang berselisih konsep dalam mengambil hukum dari hadits. Masing-masing madzhab fiqih, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah, dan Al-Hanabilah punya konsep yang berbeda-beda dalam hadits untuk dijadikan sandaran dalil hukum.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam prakteknya mazhab Al-Hanafiyah tidak mengambil hadits kecuali itu bila hadits itu mutawatir. Sedangkan hadits Ahad, itu diperlakukan berbeda oleh madzhab ini.

Sebelum menerima hadits ahad, mereka teliti dulu, bagaimana perawi haditsnya? Kalau perawi haditsnya ternyata menyelisih apa yang diriwayatkan, hadits ini tidak lolos fit and proper test dalam madzhab Al-Hanafiyah untuk dijadikan dalil hukum.  

Bukan hanya itu, kalau perawinya tidak menyelisih, hadits ahad ini tidak langsung diterima. Masih ada tes lagi yang diujikan, yaitu apakah kandungannya menyelisih kandungan nash qath’iy (ayat Quran dan hadits Mutawatir) atau tidak?

Kalau itu menyelisihi, maka –ma’dzirotan wa afwan-, hadits itu tidak diterima, walaupun hadits itu diangap shahih menurut kalangan lain. Nash-nash Qath’iy yang dipakai jika begitu ceritanya. Begitu ketatnya Al-Hanafiyah dalam hadits ahad.

Jadi hadits ahad yang bisa diterima oleh madzhab Al-Hanfiyah ialah hadits yang perawinya tidak menyelisih dan hadits itu tidak bententangan dengan nash-nash yang qath’iy.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Yang paling menonjol dalam madzhab Imam Malik bin Anas ini ialah pengaruh ‘amalu ahlil Madinah (perilaku penduduk Madinah). Hadits ahad dalam madzhab ini tidak asal langsung diterima, walaupun derajatnya shahih menurut para ulama hadits.

Hadits ahad itu mesti melewati tes terlebih dahulu, yaitu dikomparasi dengan ‘amalu ahli Madinah. Kalau kandungan hadits ahad ini bertentangan dengan perilaku penduduk madinah, maka yang dipakai dan diakui dalam madzhab ini ialah bukan hadits ahad itu, melainkan perilaku penduduk Madinah.

Menurut madzhab ini, ‘amalu ahlil Madinah itu diriwayatkan oleh jumlah orang yang banyak sekali, yaitu mereka yang menjadi penduduk kota Madinah. Sedangkan hadits ahad bisa saja hanya diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingkatan sanad. Lalu mana yang lebih kuat, satu atau satu negeri?

3. MAzab Asy-Syafi’iyyah

Madzhab Asy-Syafi'iyah memang sering sekali ‘dituduh’ selalu menggunakan hadits dhoif dalam pengambilan hukumnya. Seolah-olah Al-Imam Asy-Syafi'i dan seluruh ulama di dalamnya dianggap goblok dan tolol dalam ilmu krtik hadits, sehingga masih saja menggunakan hadits dhaif.

Tetapi apa benar tuduhan semacam ini? Mungkinkah kemampuan ilmu hadits ulama sekelas mujtahid mutlak mustaqil semacam Al-Imam Asy-Syafi'i kalah oleh anak-anak yang baru kemarin sore mengaji hadits?

Yang jadi pertanyaan balik untuk pengkritik madzhab ini ialah : kalau memang hadits yang dipakai oleh mazhab Asy-Syafi'i itu dianggap dhaif, siapa yang mendhaifkan? Dhoif menurut siapa?

Setiap hadits itu pasti terdiri dari banyak jalur periwayatan. Memang bisa saja suatu hadits menjadi dhoif bila dilihat dari satu jalur. Sedangkan jika meniliti dari jalur berbeda yang digunakan oleh madzhab Imam Syafi’i ini ternyata haditsnya dalam derajat yang shahih.

Lihat saja kepada musnad Imam Syafi’i, jalurnya sanadnya banyak yang meyakinkan, bahkan sangat amat meyakinkan sekali keshahihnya. Tapi kalau melihat dari jalur imam hadits lainnya memang bisa saja jadi berbeda lagi statusnya. Dan jalur riwayat Imam Syafi’i ini yang dijadikan sebagai hujjah-hujjah-nya Al-Syafi’iyyah.

Diakui atau tidak, label status shahih menurut para ahli hadits pun berbeda, mereka masih berselisih dengan kriteria hadits shahih. Satu hadits bisa saja punya 3 status sekaligus; shahih, hasan, dhaif. Tinggal kita lihat siapa yang memberi status itu, imam hadits yang mana?

4. Al-Hanabilah

Ada juga beberapa kalangan yang mengkritik madzhab Imam Ahmad ini dengan sebutan madzhab yang plin-plan, karena banyaknya riwayat qaul yang muncul dalam satu masalah. bahkan dalam satu masalah, Imam Ahmad bisa punya riwayat 8 sampai 10 fatwa.

Perlu dipahami, ini bukan karena Imam Ahmad tidak punya konsep dalam hadits, bagaimana bisa dikatakan tidak punya konsep hadits padahal beliau Imam Ahlu Hadits?

Ternyata memang Imam Ahmad semasa hidupnya tidak menulis fatwa-fatwa fiqih, beliau lebih concern dengan periwayatan hadits. Dan beliau pun melarang muridnya untuk menulis fatwanya ketika beliau hidup. Barulah ketika beliau meninggal, murid-muridnya merasa penting untuk menuliskan fatwa-fatwa Imam Ahmad.

Dan kita tahu dalam satu majlis, murid-murid itu tidak berada satu pemahaman yang sama; karena perbedaan pemahaman itulah akhirnya banyak riwayat Imam Ahmad yang berbeda-beda dalam satu masalah. terlebih lagi para muridnya itu tidak menulis ketika Imam Ahmad hidup, karena memang dilarang, mereka menulis setelah wafatnya sang Imam dengan kekuatan ingatan mereka ketika duduk di majlis Imam Ahmad. Akhirnya muncul banyak riwayat yang dinisbatkan kepada sang Imam dari murid-muridnya yang berbeda.

Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak konsep-konsep pengambilan hukum oleh para Imam madzhab fiqih, bukan hanya dari Al-Quran dan Sunnah. Hanya saja kedua konsep yang disebutkan di atas itu yang sering menjadi bahan dan objek kritikan terhadap para imam-imam mulia itu. Dan sepertinya menjadi penting untuk diluruskan.

Jadi, kalau memang ingin menjadi pengkritik madzhab fiqih, maka pahami dulu konsep pengambilan hukum masing-masing madzhab, sebelum mengkritik. bukan hanya paham konsep sendiri yang belum tentu diakui oleh ulama ushul.

Jangan paksakan sepatu anda untuk kaki orang lain yang beda ukuran!

Jadi, itu pentingnya belajar Ushul Al-Madzahib.

Wallahu a’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.882 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 5.197 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.433 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 3.975 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 5.032 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kalau Awam Boleh Ijtihad
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 September 2017, 08:03 | 834 views
Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 1.261 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 December 2016, 17:36 | 1.732 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 4.038 views
Kalau Ada Pertanyaan 'Mana Dalil?'
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 January 2016, 06:01 | 5.418 views
Dilema 'Mujtahid' Kekinian
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 January 2016, 06:56 | 7.422 views
Muslim itu Yang Baik Sosialnya, Bukan Hanya Yang Rajin Ibadah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2015, 06:28 | 4.160 views
Nabi SAW Tidak Anti Kepada Non-Muslim
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 November 2015, 05:26 | 3.538 views
Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 4.999 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 7.004 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 10.965 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 4.334 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 4.199 views
Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2015, 06:36 | 5.641 views
Nabi Tidak Mengerjakan, Berarti Itu Haram?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2015, 06:31 | 11.090 views
Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 January 2015, 14:02 | 5.456 views
Satu Kampung Hanya Boleh Ada Satu Jumat, Begitukah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 9 January 2015, 08:37 | 4.997 views
Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 November 2014, 10:24 | 7.340 views
Shalat untuk Menghormati Waktu, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 October 2014, 08:36 | 10.041 views
Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 7.516 views
Kawin Paksa, Masih Zaman?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 August 2014, 04:53 | 4.266 views
Puasa Syawal Hukumnya Makruh, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 July 2014, 22:32 | 13.015 views
Kenapa Sahabat Melakukan Dosa, Padahal Mereka Generasi Terbaik?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2014, 05:40 | 7.336 views
Miskin Ilmu Jago Ngambek
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2014, 08:02 | 8.376 views
Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 5.535 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 4.687 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 6.397 views
Merubah Kelamin, Bagaimana Jatah Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 June 2014, 08:27 | 3.723 views
Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20 | 39.964 views
Kanibalisasi Madzhab
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 May 2014, 09:31 | 4.838 views
Mau Ikut Nabi apa Ikut Ulama?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 May 2014, 20:00 | 11.624 views
Tarjih Antara 2 Hadits Yang Bertentangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 May 2014, 21:40 | 5.183 views
Lawan Tapi Mesra
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 April 2014, 12:48 | 5.275 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 4.223 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 5.997 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 7.001 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 March 2014, 06:31 | 4.520 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 4)
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 March 2014, 07:02 | 3.908 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 March 2014, 05:09 | 4.312 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 March 2014, 06:14 | 4.525 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 March 2014, 07:59 | 5.044 views
Pendapat Awam Tidak Masuk Hitungan
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 March 2014, 05:51 | 4.164 views
Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 6.828 views
Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 February 2014, 09:19 | 6.515 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 5.032 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 February 2014, 09:24 | 3.344 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2014, 08:33 | 4.697 views
Lumbung Tanpa Padi
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 February 2014, 05:52 | 3.809 views
Ijtihadnya Orang Awam
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 February 2014, 06:59 | 6.293 views
Membangun Keluarga Ahli Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2014, 06:31 | 4.139 views
Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 4.384 views
Ulama Juga Harus Mengerti Sains
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 February 2014, 06:19 | 4.052 views
Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 5.414 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 3.664 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 4.299 views
Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 January 2014, 18:21 | 6.061 views
Meninggal Bersama dalam Kecelakaan, Bagaimana Pembagian Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 January 2014, 16:25 | 3.427 views
Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 January 2014, 05:01 | 5.002 views
Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 7.781 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 5.477 views
Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 December 2013, 06:44 | 4.121 views
Adakah Qadha' Sholat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 14 December 2013, 05:36 | 10.361 views
Belajar Taqlid dari Ibnu Qudamah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2013, 12:56 | 6.522 views
Fiqih Dulu dan Sekarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 November 2013, 18:42 | 4.763 views
Mayit Diadzab Karena Tangisan Keluarganya, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 November 2013, 05:56 | 5.914 views
Menantang Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 November 2013, 08:44 | 5.932 views
Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 November 2013, 16:54 | 10.013 views
Sholat di Masjid Yang Ada Kuburannya
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 October 2013, 18:23 | 7.352 views
Nikah Punya Banyak Hukum
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 October 2013, 06:59 | 4.851 views
Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 4.913 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 7.450 views
Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 September 2013, 14:03 | 10.120 views
Tidak Bersedih Dengan Kematian Ulama Berarti Munafiq?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 September 2013, 10:10 | 5.888 views
Fatwa, Apakah Wajib Ditaati?
Ahmad Zarkasih, Lc | 6 September 2013, 09:22 | 4.696 views
Korupsi Bukan Pencurian, Tak Usah Potong Tangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 September 2013, 08:05 | 4.990 views
Hukum Mengambil Upah Dakwah
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 August 2013, 15:42 | 6.599 views
Sholat Jumat Tapi Tidak Mendengarkan Khutbah
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2013, 08:52 | 4.739 views
Syubhat Bukan Haram
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 August 2013, 05:50 | 5.260 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 7.177 views
Al-Tanaazul (Turun Tahta) Dalam Kajian Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 July 2013, 06:31 | 3.690 views
Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 July 2013, 08:49 | 5.569 views
Makna Jauf (Rongga) Dalam Pengertian Fiqih Puasa
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 July 2013, 10:19 | 5.501 views
Apakah Ada Istilah "Tajil" Dalam Syariah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2013, 05:36 | 4.670 views
Tarawih 4 Rokaat 1 Salam, Boleh atau Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 July 2013, 14:29 | 6.443 views
Setan Dibelenggu, Kenapa Masih Ada Yang Maksiat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2013, 14:20 | 5.725 views
Yang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:37 | 4.353 views
Siapa Yang Wajib Puasa Ramadhan?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:22 | 3.898 views
Dilema Punuk Unta
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 July 2013, 05:40 | 15.131 views
Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 June 2013, 13:47 | 8.493 views
Almarhum Bukan Gelar
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2013, 05:22 | 4.911 views
Teka-Teki Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 June 2013, 08:04 | 7.081 views
Ustadz Anonim di Medsoc
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 June 2013, 06:09 | 4.405 views
Keanehan Hukum Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 May 2013, 19:12 | 5.614 views
Dokter dan Apoteker
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 May 2013, 09:30 | 5.147 views
Siapa Salah, Siapa Kena Getahnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2013, 20:45 | 4.719 views
Matang Sebelum Waktunya
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 May 2013, 11:47 | 5.686 views
Masjid Kok Dikunci?
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 April 2013, 01:44 | 5.239 views
Buku Fiqih Yang Tidak Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 April 2013, 06:41 | 7.037 views
Galaunya Para Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 April 2013, 17:40 | 5.385 views
Pengkhianat Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 April 2013, 05:00 | 4.640 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 3.823 views
Hukum Beli Barang Black Market
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 March 2013, 07:00 | 7.785 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 4.454 views
Ulama Pesanan
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2013, 08:01 | 4.439 views
Keistimewaan Ilmu Faraidh
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 February 2013, 10:31 | 4.662 views
Ulama-ulama Bujang
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2013, 06:03 | 6.547 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Galih Maulana, Lc10 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan