Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih | rumahfiqih.com

Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih

Ahmad Zarkasih, Lc Tue 25 February 2014 09:19 | 6889 views

Bagikan via

Seperti memakaikan sepatu dengan ukuran kaki sendiri untuk kaki orang lain. Dan sepeti juga memaksa orang lain yang berbeda bentuk tubuh dan besarnya untuk memakai baju dengan ukuran badannya sendiri. Ya, kira-kira seperti itu perilaku aneh yang dilakukan oleh para pengkritik madzhab fiqih belakangan ini.

Mereka sering kali mengkritik pendapat-pendapat madzhab fiqih yang berbeda dengan pendapatnya, bahkan sampai mengatakan bahwa ulama mazhab telah keliru dalam mengambil hadits sebagai dalil, karena berdalil dengan hadits dhaif. Padahal boleh jadi yang dibilang dhaif itu cuma dhaif menurut versi dirinya sendiri.

Perbedaan dalam ranah hukum fiqih sesungguhnya bukan sesuatu yang berbahaya, karena memang perbedaan itu ada dan bukan diada-adakan. Keberadaan yang merupakan sebuah keniscayaan.

Sayangnya para pengkritik itu tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu dengan apa yang menjadi dasar manhaj (metode) pengambilan hukum (istinbath). Yang mereka tahu hanya satu metode saja, yaitu bahwa kebenaran hukum itu semata-mata berdasarkan hadits yang shahih. Sedangkan yang tidak sejalan dengan hadits shahih ini, maka dianggap telah menyalahi sunnah. Terlalu sederhana.

Padahal kalau saja mereka pernah belajar ilmu metodologi istimbath hukum, tentunya tidak sesederhana itu duduk masalahnya.

Parahnya lagi mereka sering mengklaim bahwa hanya metode mereka itu saja satu-satunya medote yang benar, sedangkan metode yang lain akan selalu diposisikan sebagai metode yang salah, keliru dan sesat. Seolah-olah hanya mereka saja yang berilmu dan yang lain itu jahil, bodoh dan awam.

Memang agak parah cara pemahaman seperti ini.

Modal Pengkritik

Seseorang yang ingin mengkritik, apapun ranah keilmuannya, mestinya mengerti dulu metodologi yang digunakan. Minimal mengetahui dulu apa dasar pengambilan hukum dan konsepnya.

Seorang kritikus tidak boleh hanya mengenal metodenya sendiri. Dia juga dituntut untuk benar-benar paham metode dan konsep yang dipakai, agar kritiknya menjadi objektif dan tidak terkesan asal kritik.

Kalau tidak paham konsep yang dipakai oleh lawan bicaranya, tentu bukan kritikus namanya. Dalam hal ini dia hanya menjadi penyimak yang salah kamar. Jadi mestinya yang dia kerjakan cukup hanya menyimak saja, tapi perlu mengkritik.

Dalam masalah hukum fiqih khususnya, sebelum seseorang mengkritik pendapat salah satu madzhab tertentu, dia harus pahami dulu metode yang dipakai oleh madzhab tersebut. Ketahui, pahami, pelajari dan teliti konsep pengambilan hukumnya.

Jangan hanya karena belajarnya satu metode, dan mengira bahwa hanya metode itu yang shahih dan yang lain yang tidak bermetode seperti itu dikritik dan dianggap keliru dalam mengambil hukum. Tidak seperti itu.

Melihat ada ayat yang jelas-jelas mengandung makna bla bla bla, menurutnya, lalu ada madzhab yang mengambil hukum berbeda dengan kandungan ayat yang ia pahami. Jangan dulu kritik, lihat dulu bagaimana konsep pengambilan hukum madzhab tersebut terhadap ayat Al-Quran.

Boleh saja suatu suatu hadits itu berderajat shahih, tapi bila ada madzhab tertentu yang pendapatnya bertentangan dengan zahir hadits tersebut, tidak boleh langsung dituduh sebagai mukhalifussunah (menyelisih sunnah). Tidak demikian ketentuanny.

Kita wajib mempelajari dan melihat dulu, apa kira-kira konsep madzhab tersebut dalam mengambil hukum dari sebuah hadits. Apa hanya sanadnya yang shahih ataukah punya perhitungan lain?

Pengambilan Hukum dari Ayat

Dalam pengambilan ayat misalnya, ternyata kedua madzhab ushul-fiqh di kalangan ahlu-sunnah berbeda masing-masing. Madzhab Mutakallimun, yang merupakan madzhab ushul-nya jumhur madzhab fiqih (Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah) itu punya konsep yang berbeda dengan madzhab Al-Fuqaha’, madzhab ushul-nya Al-Hanafiyah.

Dalam hal al-‘aam wa al-khash (ayat umum dan ayat khusus) contohnya. Jumhur pada posisi bahwa segala ayat dalam Al-Quran yang mengandung makna ‘aam (umum), harus ditangguhkan terlebih dahulu dan dicari apakah ada ayat khash (khusus) dalam masalah ini?

Kalau ada ayat khash-nya, maka hukum yang terkandung dalam ayat umum itu dibawa ke dalam ayat khusus. Jadi ayat khusus yang dijadikan pengambilan hukum, bukan ayat umum.

Berbeda dengan madzhab Al-fuqaha’ (Al-Hanafiyah), mereka tidak melihat apakah ayat itu umum atau khusus. Mereka melihat waktu turunnya ayat tersebut, mana yang turun duluan dan mana yang belakangan.

Jadi konsepnya, ayat yang turun terakhir itulah yang menjadi hujjah dan ayat yang turun lebih awal, kandungan hukumnya digiring ke ayat yang turun terakhir itu, seperti ditutup oleh ayat yang turun terakhit itu, walaupun ayatnya umum.

Kedua konsep di atas adalah konsep yang amat kuat dan sah dalam metodologi istimbath hukum yang telah diakui oleh seluruh ulama sepanjang zaman. Kita tentu tidak dalam posisi untuk menjatuhkan salah satunya. Sebaliknya, kita harus paham, mengerti dan menghormati keduanya sekaligus.

Nasikh dan Mansukh

Belum lagi ada yang disebut dengan istilah Nasikh wa Al-Mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus). Dan tidak sedikit dalam litelatur fiqih kita temukan para ulama berselisih paham dalam menentukan mana yang nasikh (menghapus) dan mana yang di-mansukh (dihapus).

Konsep pengambilan hukum dari Al-Quran saja sudah berbeda, ya wajar kalau terus kemudian muncul perbedaan pendapat. Ini contoh kecil saja. Ternyata kalau kita teliti lebih dalam, konsep pengambilan hukum dari Al-Quran yang dipakai oleh para ahli ushul itu sangat luas pembahasannya. Seperti menentukan mana yang disebut nash? Lalu bagaimana dengan istilah dzahirunnash? Apa pula yang dikatakan ihtimal?

Pengambilan Hukum dari Hadits

Metodologi istimbath hukum dari hadits lebih rumit lagi. Bukan hanya madzhab mutakalimun dan madzhab al-fuqaha yang berselisih konsep dalam mengambil hukum dari hadits. Masing-masing madzhab fiqih, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Al-Syafi’iyyah, dan Al-Hanabilah punya konsep yang berbeda-beda dalam hadits untuk dijadikan sandaran dalil hukum.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Dalam prakteknya mazhab Al-Hanafiyah tidak mengambil hadits kecuali itu bila hadits itu mutawatir. Sedangkan hadits Ahad, itu diperlakukan berbeda oleh madzhab ini.

Sebelum menerima hadits ahad, mereka teliti dulu, bagaimana perawi haditsnya? Kalau perawi haditsnya ternyata menyelisih apa yang diriwayatkan, hadits ini tidak lolos fit and proper test dalam madzhab Al-Hanafiyah untuk dijadikan dalil hukum.  

Bukan hanya itu, kalau perawinya tidak menyelisih, hadits ahad ini tidak langsung diterima. Masih ada tes lagi yang diujikan, yaitu apakah kandungannya menyelisih kandungan nash qath’iy (ayat Quran dan hadits Mutawatir) atau tidak?

Kalau itu menyelisihi, maka –ma’dzirotan wa afwan-, hadits itu tidak diterima, walaupun hadits itu diangap shahih menurut kalangan lain. Nash-nash Qath’iy yang dipakai jika begitu ceritanya. Begitu ketatnya Al-Hanafiyah dalam hadits ahad.

Jadi hadits ahad yang bisa diterima oleh madzhab Al-Hanfiyah ialah hadits yang perawinya tidak menyelisih dan hadits itu tidak bententangan dengan nash-nash yang qath’iy.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Yang paling menonjol dalam madzhab Imam Malik bin Anas ini ialah pengaruh ‘amalu ahlil Madinah (perilaku penduduk Madinah). Hadits ahad dalam madzhab ini tidak asal langsung diterima, walaupun derajatnya shahih menurut para ulama hadits.

Hadits ahad itu mesti melewati tes terlebih dahulu, yaitu dikomparasi dengan ‘amalu ahli Madinah. Kalau kandungan hadits ahad ini bertentangan dengan perilaku penduduk madinah, maka yang dipakai dan diakui dalam madzhab ini ialah bukan hadits ahad itu, melainkan perilaku penduduk Madinah.

Menurut madzhab ini, ‘amalu ahlil Madinah itu diriwayatkan oleh jumlah orang yang banyak sekali, yaitu mereka yang menjadi penduduk kota Madinah. Sedangkan hadits ahad bisa saja hanya diriwayatkan oleh satu orang di setiap tingkatan sanad. Lalu mana yang lebih kuat, satu atau satu negeri?

3. MAzab Asy-Syafi’iyyah

Madzhab Asy-Syafi'iyah memang sering sekali ‘dituduh’ selalu menggunakan hadits dhoif dalam pengambilan hukumnya. Seolah-olah Al-Imam Asy-Syafi'i dan seluruh ulama di dalamnya dianggap goblok dan tolol dalam ilmu krtik hadits, sehingga masih saja menggunakan hadits dhaif.

Tetapi apa benar tuduhan semacam ini? Mungkinkah kemampuan ilmu hadits ulama sekelas mujtahid mutlak mustaqil semacam Al-Imam Asy-Syafi'i kalah oleh anak-anak yang baru kemarin sore mengaji hadits?

Yang jadi pertanyaan balik untuk pengkritik madzhab ini ialah : kalau memang hadits yang dipakai oleh mazhab Asy-Syafi'i itu dianggap dhaif, siapa yang mendhaifkan? Dhoif menurut siapa?

Setiap hadits itu pasti terdiri dari banyak jalur periwayatan. Memang bisa saja suatu hadits menjadi dhoif bila dilihat dari satu jalur. Sedangkan jika meniliti dari jalur berbeda yang digunakan oleh madzhab Imam Syafi’i ini ternyata haditsnya dalam derajat yang shahih.

Lihat saja kepada musnad Imam Syafi’i, jalurnya sanadnya banyak yang meyakinkan, bahkan sangat amat meyakinkan sekali keshahihnya. Tapi kalau melihat dari jalur imam hadits lainnya memang bisa saja jadi berbeda lagi statusnya. Dan jalur riwayat Imam Syafi’i ini yang dijadikan sebagai hujjah-hujjah-nya Al-Syafi’iyyah.

Diakui atau tidak, label status shahih menurut para ahli hadits pun berbeda, mereka masih berselisih dengan kriteria hadits shahih. Satu hadits bisa saja punya 3 status sekaligus; shahih, hasan, dhaif. Tinggal kita lihat siapa yang memberi status itu, imam hadits yang mana?

4. Al-Hanabilah

Ada juga beberapa kalangan yang mengkritik madzhab Imam Ahmad ini dengan sebutan madzhab yang plin-plan, karena banyaknya riwayat qaul yang muncul dalam satu masalah. bahkan dalam satu masalah, Imam Ahmad bisa punya riwayat 8 sampai 10 fatwa.

Perlu dipahami, ini bukan karena Imam Ahmad tidak punya konsep dalam hadits, bagaimana bisa dikatakan tidak punya konsep hadits padahal beliau Imam Ahlu Hadits?

Ternyata memang Imam Ahmad semasa hidupnya tidak menulis fatwa-fatwa fiqih, beliau lebih concern dengan periwayatan hadits. Dan beliau pun melarang muridnya untuk menulis fatwanya ketika beliau hidup. Barulah ketika beliau meninggal, murid-muridnya merasa penting untuk menuliskan fatwa-fatwa Imam Ahmad.

Dan kita tahu dalam satu majlis, murid-murid itu tidak berada satu pemahaman yang sama; karena perbedaan pemahaman itulah akhirnya banyak riwayat Imam Ahmad yang berbeda-beda dalam satu masalah. terlebih lagi para muridnya itu tidak menulis ketika Imam Ahmad hidup, karena memang dilarang, mereka menulis setelah wafatnya sang Imam dengan kekuatan ingatan mereka ketika duduk di majlis Imam Ahmad. Akhirnya muncul banyak riwayat yang dinisbatkan kepada sang Imam dari murid-muridnya yang berbeda.

Kesimpulan

Sebenarnya masih banyak konsep-konsep pengambilan hukum oleh para Imam madzhab fiqih, bukan hanya dari Al-Quran dan Sunnah. Hanya saja kedua konsep yang disebutkan di atas itu yang sering menjadi bahan dan objek kritikan terhadap para imam-imam mulia itu. Dan sepertinya menjadi penting untuk diluruskan.

Jadi, kalau memang ingin menjadi pengkritik madzhab fiqih, maka pahami dulu konsep pengambilan hukum masing-masing madzhab, sebelum mengkritik. bukan hanya paham konsep sendiri yang belum tentu diakui oleh ulama ushul.

Jangan paksakan sepatu anda untuk kaki orang lain yang beda ukuran!

Jadi, itu pentingnya belajar Ushul Al-Madzahib.

Wallahu a’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 5.226 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 5.542 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.728 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 4.361 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 5.344 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kalau Awam Boleh Ijtihad
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 September 2017, 08:03 | 1.854 views
Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 1.738 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 December 2016, 17:36 | 2.212 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 4.533 views
Kalau Ada Pertanyaan 'Mana Dalil?'
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 January 2016, 06:01 | 6.228 views
Dilema 'Mujtahid' Kekinian
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 January 2016, 06:56 | 7.879 views
Muslim itu Yang Baik Sosialnya, Bukan Hanya Yang Rajin Ibadah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2015, 06:28 | 5.350 views
Nabi SAW Tidak Anti Kepada Non-Muslim
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 November 2015, 05:26 | 4.009 views
Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 5.534 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 7.516 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 11.479 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 4.967 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 4.562 views
Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2015, 06:36 | 6.083 views
Nabi Tidak Mengerjakan, Berarti Itu Haram?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2015, 06:31 | 11.677 views
Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 January 2015, 14:02 | 5.869 views
Satu Kampung Hanya Boleh Ada Satu Jumat, Begitukah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 9 January 2015, 08:37 | 5.416 views
Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 November 2014, 10:24 | 7.854 views
Shalat untuk Menghormati Waktu, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 October 2014, 08:36 | 10.592 views
Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 7.884 views
Kawin Paksa, Masih Zaman?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 August 2014, 04:53 | 4.663 views
Puasa Syawal Hukumnya Makruh, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 July 2014, 22:32 | 13.487 views
Kenapa Sahabat Melakukan Dosa, Padahal Mereka Generasi Terbaik?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2014, 05:40 | 7.703 views
Miskin Ilmu Jago Ngambek
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2014, 08:02 | 8.845 views
Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 5.923 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 4.968 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 6.754 views
Merubah Kelamin, Bagaimana Jatah Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 June 2014, 08:27 | 4.070 views
Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20 | 40.565 views
Kanibalisasi Madzhab
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 May 2014, 09:31 | 5.211 views
Mau Ikut Nabi apa Ikut Ulama?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 May 2014, 20:00 | 12.175 views
Tarjih Antara 2 Hadits Yang Bertentangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 May 2014, 21:40 | 5.622 views
Lawan Tapi Mesra
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 April 2014, 12:48 | 5.628 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 4.559 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 6.340 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 7.453 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 March 2014, 06:31 | 4.865 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 4)
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 March 2014, 07:02 | 4.197 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 March 2014, 05:09 | 4.640 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 March 2014, 06:14 | 4.906 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 March 2014, 07:59 | 5.396 views
Pendapat Awam Tidak Masuk Hitungan
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 March 2014, 05:51 | 4.494 views
Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 7.177 views
Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 February 2014, 09:19 | 6.889 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 5.344 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 February 2014, 09:24 | 3.686 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2014, 08:33 | 4.982 views
Lumbung Tanpa Padi
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 February 2014, 05:52 | 4.052 views
Ijtihadnya Orang Awam
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 February 2014, 06:59 | 6.657 views
Membangun Keluarga Ahli Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2014, 06:31 | 4.476 views
Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 4.783 views
Ulama Juga Harus Mengerti Sains
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 February 2014, 06:19 | 4.450 views
Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 5.813 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 4.031 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 4.657 views
Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 January 2014, 18:21 | 6.447 views
Meninggal Bersama dalam Kecelakaan, Bagaimana Pembagian Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 January 2014, 16:25 | 3.756 views
Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 January 2014, 05:01 | 5.403 views
Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 8.313 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 5.926 views
Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 December 2013, 06:44 | 4.492 views
Adakah Qadha' Sholat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 14 December 2013, 05:36 | 10.718 views
Belajar Taqlid dari Ibnu Qudamah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2013, 12:56 | 6.828 views
Fiqih Dulu dan Sekarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 November 2013, 18:42 | 5.135 views
Mayit Diadzab Karena Tangisan Keluarganya, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 November 2013, 05:56 | 6.283 views
Menantang Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 November 2013, 08:44 | 6.309 views
Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 November 2013, 16:54 | 10.379 views
Sholat di Masjid Yang Ada Kuburannya
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 October 2013, 18:23 | 7.793 views
Nikah Punya Banyak Hukum
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 October 2013, 06:59 | 5.184 views
Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 5.206 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 7.860 views
Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 September 2013, 14:03 | 10.580 views
Tidak Bersedih Dengan Kematian Ulama Berarti Munafiq?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 September 2013, 10:10 | 6.295 views
Fatwa, Apakah Wajib Ditaati?
Ahmad Zarkasih, Lc | 6 September 2013, 09:22 | 5.047 views
Korupsi Bukan Pencurian, Tak Usah Potong Tangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 September 2013, 08:05 | 5.384 views
Hukum Mengambil Upah Dakwah
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 August 2013, 15:42 | 7.002 views
Sholat Jumat Tapi Tidak Mendengarkan Khutbah
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2013, 08:52 | 5.192 views
Syubhat Bukan Haram
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 August 2013, 05:50 | 5.643 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 7.478 views
Al-Tanaazul (Turun Tahta) Dalam Kajian Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 July 2013, 06:31 | 4.020 views
Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 July 2013, 08:49 | 5.963 views
Makna Jauf (Rongga) Dalam Pengertian Fiqih Puasa
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 July 2013, 10:19 | 5.864 views
Apakah Ada Istilah "Tajil" Dalam Syariah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2013, 05:36 | 5.073 views
Tarawih 4 Rokaat 1 Salam, Boleh atau Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 July 2013, 14:29 | 6.818 views
Setan Dibelenggu, Kenapa Masih Ada Yang Maksiat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2013, 14:20 | 6.126 views
Yang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:37 | 4.768 views
Siapa Yang Wajib Puasa Ramadhan?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:22 | 4.251 views
Dilema Punuk Unta
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 July 2013, 05:40 | 15.569 views
Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 June 2013, 13:47 | 9.127 views
Almarhum Bukan Gelar
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2013, 05:22 | 5.197 views
Teka-Teki Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 June 2013, 08:04 | 7.623 views
Ustadz Anonim di Medsoc
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 June 2013, 06:09 | 4.781 views
Keanehan Hukum Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 May 2013, 19:12 | 5.952 views
Dokter dan Apoteker
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 May 2013, 09:30 | 5.625 views
Siapa Salah, Siapa Kena Getahnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2013, 20:45 | 5.074 views
Matang Sebelum Waktunya
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 May 2013, 11:47 | 6.047 views
Masjid Kok Dikunci?
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 April 2013, 01:44 | 5.624 views
Buku Fiqih Yang Tidak Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 April 2013, 06:41 | 7.457 views
Galaunya Para Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 April 2013, 17:40 | 5.787 views
Pengkhianat Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 April 2013, 05:00 | 4.992 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 4.224 views
Hukum Beli Barang Black Market
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 March 2013, 07:00 | 8.185 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 4.878 views
Ulama Pesanan
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2013, 08:01 | 4.759 views
Keistimewaan Ilmu Faraidh
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 February 2013, 10:31 | 5.021 views
Ulama-ulama Bujang
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2013, 06:03 | 6.929 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA12 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan