Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2) | rumahfiqih.com

Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)

Hanif Luthfi, Lc Thu 27 February 2014 06:00 | 4596 views

Bagikan via

Sebab-Sebab Perbedaan Muhadditsin

Sebenarnya banyak hadits yang ulama sepakat akan keshahihannya, sebagaimana banyak juga hadits yang ulama sepakat juga ke-dhaif-annya. Diantara itu, ada hadits yang memang masih diperselisihkan derajatnya.

Sangat penting mengetahui sebab perbedaan ulama muhaddits dalam menetapkan suatu hadits. Agar taklidnya tidak begitu parah.

Diantara sebab-sebab perbedaan itu adalah:

1. Perbedaan penerapan kaidah minor.

Para Muhadditsin, disamping berpegang kepada kaidah-kadiah umum yang disepakati (kaidah mayor), mempunyai visi dan kekhasan tersendiri dalam operasionalnya (kaidah minor).

Operasional ketersambungan sanad (ittishal as-Sanad) misalnya, antara al-Bukhari dan Muslim terdapat perbedaan. Al-Bukhari mensyaratkan seorang murid (rawi kedua) pernah bertemu langsung dengan guru (rawi pertama) walaupun hanya sekali [1].

Sedangkan menurut Muslim, sanad dinilai bersambung jika terdapat indikasi bahwa kedua rawi itu pernah bertemu, karena ditemukan bukti bahwa keduanya hidup sezaman (Mu’asharah).

Dengan demikian, konsep hadits mu’an’an (hadits yang diterima menggunakan lafadz ‘an) antara al-Bukhari dan Muslim berbeda. Perbedaan ini akan terlihat lebih jelas, dengan adanya statement dalam ilmu Hadits ‘ala Syarth al-Bukhari dan ‘ala Syarth Muslim.

2. Perbedaan al-Jarh dan at-Ta’dil

Syarat rawi hadits shahih haruslah ‘adil dan dhabith. Tetapi pertanyaannya, siapakah yang berhak menilai keadilan seorang rawi? Siapakah yang berhak memberikan test hafalan seorang rawi? Apakah ada tes masuk bagi calon rawi sebagaimana fit and propertest?.

Semua itu adalah ijtihad ulama al-Jarh wa at-Ta’dil. Al-Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) berkata [2]:

وَقد اخْتلف الْأَئِمَّة من أهل الْعلم فِي تَضْعِيف الرِّجَال كَمَا اخْتلفُوا فِي سوى ذَلِك من الْعلم

Ulama telah berbeda pendapat dalam menilai lemah seseorang, sebagaimana mereka juga berbeda pendapat dalam Ilmu lainnya.

Perbedaan pendapat dalam al-Jarh wa at-Ta’dil ini sangat mempengaruhi dalam penilain suatu hadits.

Perbedaan kriteria orang yang memberikan penilaian (al-Mujarrih dan al-Mu’addil), perbedaan sikap dalam al-Jarh wa at-Ta’dil antara ulama satu dengan lainnya, perbedaan shighat antar ulama al-Jarh wa at-Ta’dil, turut menyumbang perbedaan dalam penilaian terhadap seorang rawi.

Sebagai contoh, Sebagaimana dikatakan oleh Abu Hatim ar-Razi (w. 227 H), dinukil dalam kitab Tahrir Ulum al-Hadits [3]:

ونقل أبو حاتم الرازي عن هشام بن يوسف الصنعاني قوله في (عبد الله بن معاذ بن نشيط صاحب معمر): " هو صدوق، وكان عبد الرزاق يكذبه " ثم قال أبو حاتم: " أقول: هو أوثق من عبد الرزاق

Dinukil dari Abu Hatim ar-Razi dari Hisyam bin Yusuf as-Shan’ani dalam penilaiannya terhadap Abdullah bin Mu’adz: Dia orang yang shaduq. Sedangkan Abdurrazaq menilai: Dia seorang yang bohong. Abu Hatim menjawab: (justru) Dia (Abdullah bin Mu’adz) itu lebih tsiqah daripada Abdurrazaq [4].

Maka, para ulama al-Jarh wa at-Ta’dil ada yang bersifat tasyaddud, tawasuth dan tasahul [5] . Cukup banyak perbedaan ulama al-Jarh dan at-Ta’dil dalam menilai satu rawi. Kadang satu rawi dianggap lemah oleh ulama, tapi oleh ulama lain dianggap tsiqah atau shaduq.

Disinilah seorang yang akan meneliti derajat suatu hadits dituntut ketelitian, keluasan ilmu, pemahaman yang mendalam terhadap istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama, juga terbebas dirinya dari hawa nafsu dan kepentingan tertentu.

Jangan sampai seorang peneliti hadits, jika matan hadits itu sesuai dengan keinginan dan pendapatnya, maka dicarilah penilain yang baik terhadap rawi-rawinya. Tapi jika matan hadits bertentangan dengan pendapatnya, maka akan dicari penilaian yang negatif terhadap rawi.

3. Perbedaan dalam menerima ‘an’anah dalam Sanad

Imam Nawawi dalam Mukaddimah Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa Hadits mu’an’an [6] oleh jumhur ulama dihukumi muttashil/ tersambung sanadnya, meskipun ada juga yang menganggap bahwa hadits mu’an’an masuk kategori mursal. Syaratnya Hadits mu’an’an tidak diriwayatkan oleh rawi mudallis dan dimungkinkan bertemu antara rawi pertama dengan rawi kedua[7] .

Sedangkan untuk mengetahui dimungkinkannya bertemu, muhaddits berbeda pendapat. Sebagaian muhaddits hanya mensyaratkan pernah bertemu saja, Imam Nawawi (w. 676 H) menyebutkan bahwa ini pendapat Ali bin Madini, al-Bukhari, Abu Bakar as-Shairafi. Sebagian muhaddits mensyaratkan thul as-Shuhbah/ lama dalam berguru, ini adalah pendapat Abu al-Mudhaffar as-Syafi’i. Ada sebagian Muhaddits yang mensyaratkan rawi kedua itu sudah terkenal banyak meriwayatkan dari rawi pertama, ini adalah pendapat Abu Umar al-Muqri.

Rawi mudallis jika terbukti seorang rawi melakukan tadlis dalam Isnad [8] , maka para ulama’ berbeda pendapat tentang status rawi tersebut. Sebagian ulama’ Ahli Hadits menolak periwayatan orang tersebut secara muthlak. Tetapi yang lebih shahih menurut al-Imam an-Nawawi [9] (w. 676 H) dan diikuti oleh al-Imam as-Suyuthi [10] (w. 911 H) adalah ditafshil/diperinci.

Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam kitab Thabaqat al-Mudallisin membagi tingkatan mudallis menjadi 5 tingkatan. Pada tingkatan ketiga, yaitu Orang-orang yang sering melakukan tadlis, maka para ulama tidak mengambil hadits darinya kecuali jika orang tersebut menjelaskan bahwa dia mendengar langsung dari rawi atasnya (Tahammul dan Ada’ dengan shighat sama’/mendengar). Seperti: Abu az-Zubair al-Makkiy [11].

Tentu masih ada beberapa sebab perbedaan lain para muhaddits dalam menilai suatu hadits.

Khilafiyyah Dalam Menilai Derajat Hadits

Semua sepakat bahwa hadits yang shahih menjadi salah satu sumber utama dalam penetapan hukum Islam. Iya, semua sepakat.

Tapi dalam menetapkan keshahihan suatu hadits, para muhaddits pun mereka berbeda pendapat. Karena penetapan derajat hadits sifatnya ijtihady, dan ijtihad seorang ulama itu bisa benar dan bisa saja salah.

Salah satu faktor perbedaan para ulama dalam suatu hukum syariat adalah perbedaan mereka dalam menilai derajat suatu hadits. Ibnu Rusyd (w. 595 H) mencontohkan: perbedaan masalah gaji muadzin [12], Ijtihad dalam menetapkan arah qiblat[13],sutrah/ pembatas dalam shalat [14], berhenti sebentar setelah membaca surat dalam shalat [15], sah tidaknya shalat sendirian di belakang shaf [16], zakat madu [17], hukuman orang yang berkhianat dalam harta rampasan perang [18], sembelihan janin dalam perut hewan [19] dan lain sebagainya.

Perbedaan ini masih dalam tataran tsubut tidaknya suatu hadits. Setelah suatu hadits sudah benar-benar berasal dari Nabi, maka selanjutnya masuk kepada dalalah-nya; apakah qath’iy ataukah dzanniy, am dan khashnya, muthlaq dan muqayyadnya, nasikh dan mansukhnya, asbab wurud-nya. Disinilah peran Ushul Fiqih bermain.

Sayangnya, kita temui ada beberapa kalangan yang baru tahu hadits shahih dari pengajian mingguan, sudah berani menyalah-nyalahkan ijtihad Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik, dan imam-imam yang lainnya, dengan berdalih kembali kepada sunnah. Memangnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i tidak tahu sunnah? Maka, Ahli Hadits tidak boleh buta ushul fiqih. WaAllahua’lam bis shawab



[1] Ibnu Hajar Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar, Nuzhat an-Nadzar fi Taudhih Nukhbat al-Fikr, (Damskus: Mathba’ah as-Shabah, 1421 H), hal. 63

[2] At-Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Dhahhak Abu Isa (w. 279 H), al-Ilal as-Shaghir, (Baerut: Daar Ihya at-Turats al-Arabi, t.t), hal. 756

[3] Abdullah bin Yusuf al-Judai’, Tahrir Ulum al-Hadits, (Baerut: Muassasah ar-Rayyan, 1424 H), juz 1, hal. 519

[4] Lebih lengkapnya, baca: Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad bin Idris bin al-Mundzir at-Tamimi al-Handzali ar-Razi ibn Abi Hatim (w. 327 H), al-Jarh wa at-Ta’dil, (India: Majlis Dairat al-Ma’arif al-Utsmaniyyah, 1271 H), juz 5, hal. 173

[5] Tasyaddud, tawasuth dan tasahul merupakan sikap Ulama’ dalam menilai periwayat (rijal). Tasyaddud artinya keras atau ketat,tawasuth artinya sedang atau moderat, tasahul artinya mudah atau longgar. Bahkan dalam menilai Ulama’ tergolongmutasyaddid, mutawasith ataupun mutasahil, terjadi perbedaan pendapat. Diantara Ulama’ yang terknela mutasyaddin adalah Abu Zakariyya Yahya bin Ma’in (w. 233 H), Abu Hatim ar-Razi (w. 277 H), yang terkenal mutasahil diantaranya al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H), Abdullah bin Shalih bin Muslim al-Ajili. Ulama’ yang terkenal mutawasith diantaranya: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (w. 241 H), ad-Daraquthni (w. 385 H), Malik bin Anas (w. 179 H)

[6] Hadits Mu’an’an adalah hadits yang menggunakan shighat ‘an dalam tahammul dan ada’nya. Lihat: Zainuddin Abu Yahya Zakariyya bin Muhammad bin Zakariyya al-Anshari (w. 926 H), Fathu al-Baqi bi Syarhi Alfiyati al-Iraqi, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1422 H), Tahqiq Abdullathif Hamim, juz 1. Hal. 208

[7] An-Nawawi Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf (w. 676 H), Muqaddimah al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Hajjaj, (Baerut: Daar Ihya’ at-Turats al-Arabi, 1392 H), hal. 32

[8] Tadlis menurut bahasa artinya menyembunyika aib dalam dagangan. Dalam Ilmu Mushtalah Hadits diartikan bahwa menyembunyikan aib dalam sanad dan menampilkan kebaikannnya saja. Tadlis dibagi menjadi dua; tadlis Isnad dan tadlis Syuyukh.

Tadlis Isnad adalah jika seorang Rawi meriwayatkan hadits dari orang yang hidup sezaman dengannya, padahal hadits itu tidak ia dapatkan darinya, dengan lafadz yang seolah-olah menandakan ittishal/bersambung, seperti “عَنْ”, dan “أَنَّ” atau dengan lafadz “قال” Tadlis Isnad adalah jika seorang Rawi meriwayatkan hadits dari orang yang hidup sezaman dengannya, padahal hadits itu tidak ia dapatkan darinya, dengan lafadz yang seolah-olah menandakan ittishal/bersambung, seperti “عَنْ”, dan “أَنَّ” atau dengan lafadz “قال”. Lihat: Abu Hafsh Mahmud bin Ahmad bin Mahmud at-Thahhan an-Nu’aimi, Taisir Mushtalah Hadits, (Kairo: Maktabah al-Ma’arif, 1425 H), hal. 96

[9] Yahya bin Syarah an-Nawawi (w. 676 H), at-Taqrib wa at-Taisir li Ma’rifati Sunani al-Basyir an-Nadzir, hal. 4

[10] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, hal. 164

[11] Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-Asqalani as-Syafi’i (w. 852 H), Thabaqat al-Mudallisin, (Umman: Maktabah al-Manar, 1983 M), Cetakan I, Tahqiq Dr. Ashim bin Abdullah al-Quryuti, hal. 13

[12] Ibnu Rusyd Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi (w. 595 H), Bidayat al-Mujtahid, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H), juz 1, hal. 116

[13] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 119

[14] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 121

[15] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 132

[16] Ibnu Rusyd, juz 1, hal. 159

[17] Ibnu Rusyd, juz 2, hal. 14

[18] Ibnu Rusyd, juz 2, hal. 158

[19] Ibnu Rusyd, juz 2, hal. 205

Bagikan via


Baca Lainnya :

Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.150 views
Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 February 2014, 09:19 | 5.901 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.392 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.656 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.034 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.100 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 522 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.432 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.389 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.015 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 2.792 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 23.632 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 4.472 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.425 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.643 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.670 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.462 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.426 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.344 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.701 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.702 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 7.929 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.153 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.580 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.626 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.373 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.017 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.488 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.105 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 3.990 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.344 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.289 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.383 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.708 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.549 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 5.924 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 5.947 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.091 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.219 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.181 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.596 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.150 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 4.946 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.495 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.067 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.415 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.110 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.699 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.367 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.459 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 22.997 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.344 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.347 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.767 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.024 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 4.753 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 8.979 views