Label Halal Makanan, Pentingkah? | rumahfiqih.com

Label Halal Makanan, Pentingkah?

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Mon 3 March 2014 06:20 | 4535 views

Bagikan via

Asal segala sesuatu itu boleh [الأصل في الأشياء الإباحة  ], ini adalah kaidah fiqih yang sangat penting untuk diketahui. Kebolehan yang dimaksud pada kaidah diatas dikhususkan untuk sesuatu yang sifatnya non ibadah, seperti makanan, minuman, muamalah, adat, dst, karena untuk urusan ibadah ritual punya kaidanya sendiri yang berlawanan dengan kaidah diatas.

Dalam hal ini menurut Imam Ahmad (w. 241) dan ulama ahli hadits lainnya, seperti yang nukil oleh Imam Ibnu Taimiyah (w. 728) dalam kitabnya Al-Fatawa Al-Kubro jilid 4, hal. 13:

أن الأصل في العبادات التوقيف

“Asal dari segala ibadah itu sifatnya tauqif (perintah Allah)”

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengungkapkan dari dua kaidah ini setidaknya bisa disimpulkan agar tidak beribadah kecuali dengan apa yang sudah disyariatkan oleh Allah, dan tidak mengharamkan selainnya kecuali apa yang sudah Allah haramkan.

Imam As-Suyuthy (w. 911) dalam kitabnya Al-Asybah wa An-Nazhair hal. 60 menjelaskan bahwa kebolehan tersebut didasarkan pada banyak dalil, seperti hadits Rasulullah SAW berikut:

مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ، فَاقْبَلُوا مِنْ اللَّهِ عَافِيَتَهُ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا

“Apa yang Allah halalkan maka ia halal (hukumnya) dan apa yang Allah haramkan maka ia haram (hukumnya) dan apa yang Allah diamkan maka ia dimaafkan, maka terimalah maafNya karena Allah tidak pernah melupakan sesuatu apapun” (HR. Al-Bazzar dan Thabroni)

 

وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِي ثَعْلَبَةَ «إنَّ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَنَهَى عَنْ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ، فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا

“Sesungguhnya Allah sudah mewajibkan perkara yang wajib maka janganlah kalian menghilangkannya, dan Allah sudah melarang sesuatu maka janganlah kalian melanggarnya, dan Allah mendiamkan sesuatu bukan karena lupa karenanya janganlah kalian sibuk mencari-cari (hukumnya)” (HR. Thabroni)

 

وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ سَلْمَانَ: " أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ الْجُبْنِ وَالسَّمْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ: «الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»

“(Sesuatu) yang halal itu adalah apa yang sudah Allah halalkan dalam kiabNya, dan (sesuatu) yang haram itu adalah apa yang sudah Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa yang Allah diamkan maka itu bagian yang sudah dimaafkan” (HR. Turmudzi)

Jadi wilayah halal ternyata jauh lebih luas ketimbang wilayah haram yang jumlahnya sangat terbatas, inilah satu dari sekian banyak rahmat Allah SWT kepada makhluknya, apalagi dengan kenyatannya bahwa bumi ini beserta isinya memang diciptakan Allah dan disiapkan untuk hambaNya, rasanya tidak mungkin jika apa yang sudah disiapkan malah diharamkan.

Allah berfirman:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (Al-Jatsiyah: 13)

Tidak Hanya Makanan

Kebolehan yang dimaksud dalam kaidah ini tidak hanya khusus untuk makanan, walaupun kaidah ini sering digunakan oleh para ulama ketika berbicara mengenai makanan dan minuman, karenanya adat-istiadat dan berbagai bentuk muamalah dalam dunia bisnis maupun sosial bisa masuk dalam keumuman kaidah ini.

Masalah makan dan minum, muamalah harian, dan adat-istiadat ini memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita, maka sedari awal sebanarnya manusia dengan akalnya bisa menentukan sendiri bagaimana cara mereka hidup, Tuhan tidak banyak mengatur disini, Tuhan hanya meluruskan apa yang kiranya butuh diluruskan.

Untuk itu kita akan melihat bahwa dalam tiga masalah ini; makanan, muamalah dan adat, syariat Islam tidak mengaturnya dengan sangat detail seperti syariat mengatur masalah waris, syariat hanya mengaturnya secara global, bahwa silahkan berkreasi dalam tiga hal ini asal tidak melanggar atura-aturan umum yang Allah berikan.

Masalah makanan misalnya maka aturan umumnya hanya sedikit dan umum sekali, untuk makanan non hewani asal tidak terkena najis, tidak memabukkan, dan tidak membawa mudhorat lainnya, maka sudah boleh dimakan.

Dan untuk hewan, asalkan bukan babi dan anjing, bangkai, hewan buas, hewan dua alam, hewan yang memakan kotoran, dan hewan yang diperintah untuk dibunuh dan tidak dibunuh, maka ia sudah boleh dimakan, yang pasti setelah disembelih terlebih dahulu.

Batasan-batasan ini pun ada yang masih diperselisihkan anatara ulama, artinya batasan ini pun masih bisa didiskusikan, dan tidak mengikat secara pasti, ini membuktikan bahwa sebenarnya wilayah halal itu sangat luas sekali.

Untuk muamalah misalnya, asalkan tidak ada unsur riba, tidak ada tipu-menipu, dan tidak ada kezholiman lainnya maka malamalah seperti itu sudah boleh dilakukan.

Pun begitu dengan adat dan tradisi masyarakat dalam menjalani kehidpan harian mereka, bahwa asal tidak bertentangan dengan syariat, membawa maslahat, berlaku pada banyak orang, sudah berlaku lama, maka tradisi seperti ini boleh dilakukan.

Wajib Memakan yang Halal

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah: 168).

Dari satu ayat ini dan ayat-ayat lainnya Allah hendak menyatakan kepada kita agar memakan makanan yang halal, dan untuk itulah Allah SWT sudah menyiapkannya, bahkan tidak tanggung, hampir saja seluruh yang ada di bumi ini halal, saking banyaknya yang halal.

Sepertinya tidak  ada pilihan lain kecuali memilih yang halal, seharusnya memang seperti itu adanya, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk dijual agar dikonsumsi oleh orang lain semuanya harus halal, kecuali ada kondisi darurat yang membuat makanan yang haram boleh untuk dikonsumsi, bukan karena yang haram berubah menjadi halal, melainkan ini hanya keringanan yang sifatnya kondisional.

Mungkin dahulunya tidak terlalu sulit untuk menilai makanan yang halal, karena justru yang lebih dikenal itu adalah makanan yang haram, ini karena jenis makanan yang ada tidak beragam, dan pencampuran makanan yang ada pada waktu itu masih jarang, kalaupun ada pencampurannya masih bersifat alami.

Berbeda dengan apa yang terjadi sekarang, justru hadir ditengah-tengah kita beragam jenis zat yang dihasilkan melalui proses kimiawi yang belum dikenal oleh orang-orang terdahulu, dan kehadirannya tetap membutuhkan status; Apakah zat-zat tersebut halal atau sebaliknya?

Walaupun perkembangan teknologi secanggih sekarang, namun makanan halal tetap menjadi pilihan wajib untuk dikonsumsi oleh masyarakat muslim Indonesia dan dunia pada umumnya.   

Zat Aditif Kimia (Food Aditiva)

Aditif makanan adalah bahan tambahan makanan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan. Bahan tambahan makanan tersebut ada dua jenis, ada yang alami dan ada yang sifatnya buatan. Untuk yang pertama sudah dikenal dari dulu, namun untuk yang kedua baru dikenal belakangan seiring perkembangan teknologi di dunia.

Penambahan zat Aditif kimia yang berkembangan belangan ini digunakan untuk banyak hal, diantaranya: Sebagai penguat rasa, pemanis, pengawet (agar makanan bertahan lama), pewarna, pengental, dan lain sebagainya.

Dalam kenyataanya zat-zat tersebut tidak semuanya halal secara mutlak, ada banyak zat yang statusnya diragukan kehalalannya atau bahkan tidak halal, dan yang seperti ini juga tidak boleh diangap remeh, karena jika memang zat tersebut haram bagaimana mungkin kita menghalalkan yang haram.

Setidaknya menurut wekipedia [http://id.wikipedia.org/wiki/Aditif_makanan] diantara zat aditif yang diragukan kehalalannya sebagai berikut:

  • Potasium nitrat (E252)
  • L-asam tartarat (E334)
  • Turunan asam tartarat E335, E336, E337, E353 (dari E334)
  • Gliserol/gliserin (E422)
  • Asam lemak dan turunannya, E430, E431, E433, E434, E435, E436
  • Pengemulsi yang dibuat dari gliserol dan/atau asam lemak (E470 – E495)
  • Edible bone phosphate (E542)
  • Asam stearat
  • L-sistein E920
  • Wine vinegar dan malt vinegar

Label Halal MUI, Pentingkah?

Awalnya, menurut penuturan Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lukmanul Hakim, bahwa keterlibatan MUI dalam labelisasi produk halal merupakan respon atas isu lemak babi pada pelezat makanan yang merebak 24 tahun silam.

Mulanya Presiden Soeharto melalui Mentri Agamanya yang pada waktu itu dijabat oleh Tarmizi Taher menemui MUI untuk meminta agar MUI memberikan penjealasan kepada masyarakat Indonesia mengenai beberapa makanan yang didalamnya mengandung zat babi, dan ternyata tugas seperti itu berlanjut hingga sekarang.

Setidaknya walaupun MUI adalah lembaga swasta sebagaimana layaknya lembaga sertifikasi mutu lainnya, namun di Indonesia MUI-lah yang mempunyai konstribusi paling besar dalam masalah ini yang sudah mendapat kepercayaan dimata publik, karena kehadiran MUI setidaknya lebih membuat masyarakat nyaman dalam mengkonsumsi produk-produk baru terutama makanan dan minuman impor.

Kehadiran ragam zat aditif kimawi khususnya dalam makanan dan minuman yang belakangan ini sudah menjadi tren dalam ratusan produk setidaknya menjadi alasan mengapa label halal itu diperlukan, karena mau tidak mau zat-zat tersebut juga harus tersentuh hukum halal-haram.

 Hal ini menjadi tidak terlalu penting untuk generasi terdahulu, karena memang makanan dan minuman yang ada masih bersifat alami, tidak banyak pencampuran, jikapun ada maka pencampuran yang mereka lakukan dulunya juga masih tergolong alami, terlebih karena memang sebagian makanan dan minuman yang ada sekarang ini dalam proses produksinya  tidak didampingi oleh dewan syariah.

Jikapun harus husnu zhon (berbaik sangka) dengan hasil produksi pabrik sah-sah saja, namun tidaklah menjadi aib jika dengan niat kehati-hatian dan agar lebih aman serta mereasa lebih nyaman dengan apa yang dikonsumsi kita membutuhkan label halal dari sebuah institusi tertentu.

Belum lagi dalam kenyataannya bahwa makanan dan minuman yang ada di negri mayorits muslim ataupun minoritas tidak jauh berbeda. Sebagaimana label halal ini sangat baik adanya pada negri minoritas, ia juga baik keberadaannya pada negri mayoritas.

Berbeda halnya dengan hasil masakan isrtri, tetangga, warteg, warung Padang dan lainnya yang dimasak oleh orang-orang Islam yang bukan hasil olahan pabrik maka tidak ada pilihan kecuali berbaik sangka dengan mereka. Cukuplah keimanan mereka kepada Allah SWT yang menjadi jaminan kehalalan makanan yang mereka hidangkan kepada kita.

Bukan Berarti Haram

Namun ada hal yang juga perlu disadari bersama bahwa bukan berarti jika suatu produk makanan tidak ada label halalnya dengan serta merta ia menjadi haram, atau ia adalah makanan haram yang tidak boleh didekati, karena label halal yang dimaksud bahwa makanan tersebut sudah diperiksa yang hasilnya bahwa makanan hasil produksi tersebut sudah halal menurut institusi yang menelitinya.

Tentunya penilaian yang diberikan akan sangat subyektif menurut lembaga yang menilai, hal ini mirip dengan apa yang terjadi dalam dunia madzhab fiqih, bahwa akan ada perbedaan (khilaf) dalam ranah menentukan batasan halal-haram sebuah makanan dan minuman, ada yang sangat ketat dan ada juga yang terkesan longgar, namun ada juga yang pertengahan.

Sebagai contoh misalnya, apakah hukum membaca basmalah atau menyebut nama Allah ketika menyembelih hewan sembelihan? Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat lebih kurang terbagi ke dalam tiga pendapat besar; wajib mutlak, wajib ketika ingat, dan sunnah mukkadah.

Jika kita mengambil pendapat bahwa mengucap basmalah ketika menyembelih humumnya wajib mutlak, maka apapun alasannya jika hewan yang disembelih tidak disebut nama Allah maka hewan tersebut dihukumi bangkai yang sudah pasti haram dimakan.

Namun jika kita memakai pendapat yang kedua, hewan sembelihan itu akan tetap halal dengan alasan meninggalkan basmalah ketika menyembelih karena lupa, bukan disengaja. Dan ia akan menjadi haram ketika dengan sengaja dan sadar meninggalkan basmalah, padahal yang menyembelih bukan orang yang bisu.

Pun begitu dengan pendapat yang menilai bahwa mengucap basmalah ketika menyembelih itu dihukumi hanya sebatas sunnah muakkadah, karenanya ia masuk pada adab-adab menyembelih, karena alasan ini juga kita boleh memakan sembelihan ahli kitab walaupun dalam kenyataannya mereka tidak mengucap basmalah ketika menyembelih.

Hal ini dikuatkan lagi oleh hadits Rasulllah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah ra, bahwa ada beberapa orang datang kepada Rasulullah SAW menayakan perihal kedatangan daging dari suatu kaum yang mereka tidak mengetahui apakah hewan tersebut disembelih dengan menyebut nama Allah atau tidak, maka Rasulullah SAW menjawab:

فقال: سموا عليه أنتم وكلوه   

“Baca saja bismillah atasnya, lalu makanlah (daging tersebut)” (HR. Bukhari)

Semoga Tetap Istiqomah

Keberadaan lembaga semisal MUI ini melalui LPPOM tidak bisa dipungkiri manfaatnya, jikapun negara ingin mengambil alih tugas ini melalui RUU Jaminan Produk Halal silahkan saja, toh yang kita butuhkan bukan siapa yang memegang, tapi hasil kerja yang bagus.

Terkait pemberitaan yang beredar belakangan ini tentang komersialisai label halal 'mudah-mudahan' hanya berita yang ingin melemahkan kerja-kerja MUI. Kita semua berharap bahwa MUI bisa bekerja dengan profesional, sembari kita juga berdoa kepada Allah mudah-mudaha mereka istiqomah dalam aktivitas yang sangat bermanfaat ini.

Sudah banyak tulisan yang membahas masalah ini, ini hanya pendapat pribadi penulis terkait label halal sebuah produk. Semoga ada manfaatnya. Aamiin.

Wallahu A’lam Bisshawab.   

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 6.445 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 3.946 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.362 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.718 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.328 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 860 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.619 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.598 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 1.773 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.167 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.633 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.177 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 1.993 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.501 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.253 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.180 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 1.868 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.181 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.400 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 1.795 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.542 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 4.000 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 3.907 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.185 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 4.908 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.051 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 2.752 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 2.902 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.078 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 4.937 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.134 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.120 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 4.928 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.431 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.881 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.915 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.476 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.535 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.838 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 7.852 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.161 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.175 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.564 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.496 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.137 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 3.986 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.707 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 4.868 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 13.943 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.081 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.522 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.375 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.868 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.460 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.542 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.527 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.923 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.180 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.592 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.107 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.239 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.508 views