Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi | rumahfiqih.com

Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi

Ahmad Sarwat, Lc., MA Tue 4 March 2014 05:19 | 3989 views

Bagikan via

Gelar ulama itu sangat agung, tinggi dan mulia. Allah SWT sendiri yang mendudukkan para ulama ini sebagai orang-orang yang berada di tempat yang amat tinggi, beberapa derajat di atas yang lain.

Coba kita simak firman-Nya berikut ini :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah : 11)

Di sisi lain, Allah juga menegaskan bahwa yang namanya ulama itu bukan orang sembarangan. Tegas sekali Allah membedakan antara ulama dan bukan ulama di dalam ayat berikut :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". (QS. Az-Zumar : 9)

Oleh karena itu gelar ulama bukan gelar sembarangan. Gelar itu bukan gelar yang bisa dibeli di pasar, juga bukan gelar yang bisa didapat cuma dengan ikut kuliah 8 semester di Fakultas Syariah pada sebuah Universitas Islam. Gelar ulama juga tidak bisa didapat hanya dengan menjadi pengurus sebuah badan yang tugasnya membuat fatwa.

Karena itu pula dalam kenyataannya, orang yang berhak disebut ulama hanya sedikit sekali. Sebab jalan untuk menjadi ulama itu tidak mudah. Hanya segelintir orang saja yang benar-benar boleh disebut ulama.

Kisah langkanya para ulama sudah dibicarakan oleh Rasulullah SAW sendiri, yaitu ketika beliau menyebutkan tentang krisis 'punahnya' para ulama di akhir zaman.

إِنّ الله لا يقْبِضُ العِلْم اِنْتِزاعًا ينْتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِنْ يقْبِضُ العِلْم بِقبْضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبْقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفْتوْا بِغيْرِ عِلْمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Kenapa Kedudukan Ulama Sedemikian Penting?

Ada beberapa alasan kenapa kedudukan ulama itu menjadi begitu tinggi dan penting. Jawaban yang paling utama adalah sabda Rasulullah SAW sendiri terkait dengan sosok para ulama. Beliau menegaskan bahwa ulama itu merupakan ahli waris para nabi.

وإِنّ العُلماء ورثةُ الأنْبِياءِ وإِنّ الأنْبِياء لمْ يُورِّثُوا دِيْناراً ولا دِرْهماً إِنّما ورّثُوا العِلْم فمنْ أخذ بِهِ أخذ بِحظٍّ واِفرٍ

Dan sesungguhnya para ulama adalah para ahli waris dari para nabi, dimana para Nabi memang tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Siapa yang menuntut ilmu maka dia telah mendapat warisan yang sangat besar nilainya. (HR. Muslim)

Ya, para ulama adalah ahli waris para nabi, khususnya dalam hal menyampaikan konten segala perintah dan larangan dari Allah SWT.

Bedanya, para nabi langsung meneriwa wahyu dari Allah secara instan, sedangkan para ulama itu tidak menerima wahyu langsung dari Allah SWT. Oleh karena itu untuk menjadi ulama ada proses panjang, dengan jalan menjadi para shahabat nabi dan juga orang-orang yang mengikuti semua yang telah diwariskan oleh nabi.

Maka tidak ada orang yang ketika lahir tiba-tiba jadi ulama. Semua ulama di dunia ini, termasuk para shahabat ridhwanullahi 'alaihim harus melewati proses pembelajaran yang teramat panjang.

Bahkan Ibnul Qayyim dengan tegas menyebutkan bahwa tidak semua shahabat nabi itu berstatus ulama. Hanya sebagian kecil saja, yaitu kurang lebih 130-an orang yang berkapasitas ulama.

Semua ilmu yang mereka warisi dari para nabi itu tidak datang lewat wahyu, melainkan lewat proses mulazamah dengan Rasulullah SAW. Lalu para shahabat yang ulama itu mewariskan ilmu-ilmu yang telah mereka dapat itu kepada generasi berikutnya dan berikutnya. Tetapi semua lewat proses belajar yang panjang.

Tanpa proses belajar lewat sanad dari para nabi, tentu tidak akan menghasilkan ulama ahli waris nabi. Kalau pun mengaku sebagai ahli waris, tentu sekedar menjadi ahli waris KW 5 alias ulama 'gadungan'.

Wakil Tuhan di Muka Bumi

Sepeninggal para nabi, maka para ulama menjadi semacam 'wakil tuhan' di muka bumi. Tentu sebutan 'wakil tuhan' cuma sekedar istilah saja. Sebutan seperti itu belum tentu 100% benar, tetapi kurang lebih seperti itu.

Dan sebagai 'wakil tuhan' di muka bumi, para ulama memang satu-satunya pihak yang dianggap paling tahu dan paling mengerti apa maunya tuhan terhadap hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya tuhan halalkan dan apa yang tuhan haramkan, kecuali hanya para ulama saja.

Dalam bahasa yang lebih vulgar, ulama itu tidak lain adalah representasi dari kehendak tuhan. Dan konsekuensinya, apa pun yang dikatakan ulama, maka itulah perkataan tuhan. Setidaknya seperti itulah orang-orang awam akan memahaminya. Apa yang diperintah para ulama, itulah perintah tuhan. Dan apa yang dilarang oleh para ulama, itulah larangan tuhan.

Oleh karena itu kedudukan ulama tidak boleh dijabat oleh orang sembarangan, apalagi oleh mereka yang bodoh, awam,  buta dan tidak belajar ilmu syariah.

Jelas merupakan kesalahan teramat fatal kalau jabatan ulama diduduki oleh mereka yang tidak pernah melewati proses untuk menjadi ulama sebagaimana seharusnya. Yang memilih tidak bijak dan yang dipilih tidak tahu diri.

Bukan Wakil Tuhan Tetapi Malah Jadi 'Pembajak' Tuhan

Sayangnya hari ini memang banyak sekali kita saksikan mereka yang mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah ulama. Bahkan merasa bangga dengan gelar itu. Sayang sekali memang.

Padahal seharusnya mereka harus tahu diri bahwa dengan mengaku sebagai ulama, sama saja mereka mengaku sebagai orang yang paling tahu tentang semua perintah dan larangan tuhan.

Seharusnya sebelum mengaku sebagai ulama, jangan lupa untuk berdiri di depan cermin yang agak lama, sambil memperhatikan diri mereka sendiri. Lalu tanyakan kepada diri sendiri, apa benar diri mereka  sudah pantas menjadi orang yang  paling tahu dan paling mengerti kehendak tuhan?

Atau jangan-jangan diri mereka tidak lebih hanya sekedar makhluk sombong dan pongah yang tidak tahu diri dan berlagak menjadi wakil tuhan?

Sikap mengaku-ngaku sebagai ulama alias wakil tuhan ini sangat gawat dan besar sekali resikonya. Apalagi bila orang-orang yang awam tertipu dan menganggapnya benar-benar ulama. Tentu berbahaya sekali.

Sejak dahulu sampai hari ini bangsa Eropa masih membenci agama dan para tokohnya. Semua itu terjadi karena munculnya para raja lalim dan bertindak sewenang-wenang, tapi mengaku-ngaku sebagai 'ulama' wakil tuhan di muka bumi.

Saking parahnya kelakukan para 'pembajak' tuhan itu, sampai-sampai mereka tega menjual surat pengesahan halal haram seenak selera mereka sendiri, bahkan memperjual-belikan surat (sertifikat) penebusan dosa.

Dan semua yang mereka kerjakan, kezaliman demi kezaliman itu selalu diatas-namakan tuhan.

Inna llillahi wa inna ilaihi rajiun.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.974 views
Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 6.896 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 4.313 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.755 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 February 2014, 06:00 | 5.086 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 1.729 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 8.114 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 8.121 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 11.202 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.565 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 7.295 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.824 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 10.057 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 7.117 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 9.092 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 6.028 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.693 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.780 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 5.335 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 8.501 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 16.082 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 4.305 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.739 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 9.176 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.446 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.989 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.755 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.949 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 8.223 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 20.218 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 7.019 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 11.554 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.712 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.550 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.748 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.533 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 5.398 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.577 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 5.206 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 7.330 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 7.072 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.955 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.538 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.730 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.714 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 6.358 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 8.390 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.509 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.785 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 4.446 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 6.249 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan