Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah | rumahfiqih.com

Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah

Isnan Ansory, Lc, MA Sun 16 March 2014 11:35 | 6786 views

Bagikan via

Jika selama ini, pembahasan tentang pemahaman/aqidah mu’tazilah, umumnya selalu terkait dengan masalah-masalah teologi; Kalamullah, taqdir, hakikat perbuatan manusia, dll. Akan tetapi kita akan dapati bahwa ulama-ulama mu’tazilah pun memiliki andil yang besar dalam perkembangan ilmu Ushul Fiqih yang merupakan salah satu dasar terpenting dalam proses menyimpulkan (istinbath) hukum fiqih dari nash-nash wahyu (Al Qur’an dan As Sunnah).

Bagi sebagian penggiat ilmu-ilmu Syariah pastilah sangat familiar dengan kitab Ushul Fiqih “Al Mu’tamad fi Ushul Al Fiqih” karya Abu Husain Al Bashri yang notabene bermazhab Mu’tazilah dalam aqidah namun syafi’iyyah dalam masalah fiqih.

Bahkan menurut guru kami di LIPIA, DR. Ahmad Muhammad Al ‘Azazy -seorang pakar Ushul Fiqih dari univ. Al Azhar Mesir- menyatakan bahwa kitab Al Mu’tamad merupakan salah satu dari empat kitab induk dalam literatur ilmu Ushul Fiqih, yaitu; Al Burhan fi Ushul Al Fiqh karya Abu Al Ma’ali Al Juwaini Imam Al Haramain, Al Mushtashfa fi Ushul Al Fiqh karya Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali, Al Mu’tamad fi Ushul Fiqh karya Abu Husain Al Bashri Al Mu’tazili, dan Al ‘Umdah karya Al Qadhi Abdul Jabbar Al Mu’tazili.

Lalu bagaimanakah pandangan mu’tazilah terkait dengan masalah taqlid yang umumnya dalam dunia fiqih kita pahami sebagai sebuah cara menelusuri dan usaha mengetahui hukum syar’i atas sebuah masalah tanpa didahului oleh proses ijtihad atas dalil, namun semata cukup bertanya atau membaca pendapat ulama yang notabene telah diakui strata ijtihadnya dan kualitas keilmuannya?.

Dalam masalah ini, Ibnu Qudamah dalam kitabnya Raudhah An Nadzir wa Junnah Al Munazhir dalam bab “At Taqlid” membahas secara mendalam terkait taqlid dari masalah-masalah yang telah disepakati atau telah menjadi ijma’ di kalangan ulama Ushul Fiqih ataupun masalah-masalah yang mereka perselisihkan.

Terkait pembagian taqlid, Ibnu Qudamah mengutip pendapat Abu Al Khattab Al Hanbali, membagi taqlid atau hal-hal yang terkait dengan taqlid menjadi dua;

Pertama, hal-hal yang tidak diperbolehkan setiap mukallaf untuk taqlid kepada orang lain, yaitu permasalahan-permasalahan yang terkait dengan dasar-dasar agama (ushuluddin) seperti pengetahuan tentang Allah (ma’rifatullah), keesaannya (wahdaniyatullah), kebenaran Risalah Muhammadiyyah dan semisalnya.

Kedua, taqlid yang dibolehkan yaitu taqlid kepada ulama dalam masalah-masalah furu’iyyah seperti detail-detail masalah ibadah mahdhah (shalat, puasa, haji dll), dan ibadah ghairu mahdhah (pernikahan, jual beli, politik, militer dll).

Lalu beliau menambahkan bahwa dasar dibolehkannya orang-orang awam bertaqlid kepada ulama adalah ijma’/kesepakatan yang berlaku sejak masa shahabat Nabi Ridhwanullah ‘alaihim, bahkan wajib atas mereka untuk taqlid kepada ulama mujtahid. (Ibnu Qudamah, Raudhah An Nadzir wa Junnah Al Munazhir, h. 382-383).

Posisi Kaum Mu’tazilah Qadariah

Lalu bagaimanakah posisi kalangan mu’tazilah qadariah terkait kewajiban orang-orang awam untuk taqlid kepada ulama dalam masalah furu’iyyah?

Ibnu Qudamah melanjutkan, “Adapun sebagian kalangan Qadariah (Mu’tazilah Baghdad) maka mereka berpendapat bahwa orang-orang awam diwajibkan atas mereka membaca dalil dalam masalah-masalah furu’iyyah (dilarang atas mereka untuk taqlid kepada ulama)”. (Ibnu Qudamah, Raudhah An Nadzir, h. 383, Abdul Karim Ali An Namlah, Ittihaf Dzawil Basha’ir, 8/179)

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa seruan sebagian orang pada masa ini kepada setiap individu umat Islam –secara khusus bagi awamnya- untuk langsung menyimpulkan sebuah hukum langsung dari sumbernya (Al Qur’an dan As Sunnah) tanpa bedasarkan ilmu, merupakan seruan sebagian kalangan mu’tazilah yang telah divonis sesat oleh ulama salaf ash shalih.

Khusus terkait masalah taqlid, Ibnu Qudamah Al Hanbali menegaskan bahwa pandangan mereka atas wajibnya setiap mukallaf untuk berijtihad dalam masalah agama secara mandiri adalah pemahaman yang batil, karena bertentangan dengan ijma’/kesepakatan yang berlaku sejak masa shahabat. (Ibnu Qudamah, Raudhah An Nadzir, h. 383)

Sebab, jika pengetahuan seseorang terhadap ilmu-ilmu syar’i dianalogikan layaknya ilmu pengetahuan lainnya, pantaskah bagi yang bukan ahli serta tidak memiliki kapabilitas dalam ilmu tersebut untuk berbicara, menyimpulkan sebuah teori, atau memfatwakan teori tersebut kepada orang lain. Tentu jawabannya adalah tidak pantas, bahkan bisa jadi orang tersebut layak dijatuhi ‘iqab atas perbuatannya (malpraktek).

Dengan demikian, apa bedanya dengan ilmu-ilmu syar’i, di mana semestinya, hanyalah mereka yang telah memiliki kemampuan berijtihad yang dibolehkan menyimpulkan sebuah hukum syar’i dari dalil-dalil yang ada. Sementara itu, bagi mereka yang tidak mampu/awam dalam ilmu-ilmu syar’i, seyogyanya mereka taqlid kepada para ulama yang telah diakui kredibilitasnya serta kehati-hatian mereka dalam menyimpulkan sebuah hukum.

Apalagi pertangunggjawaban yang akan dipikul seorang mukallaf dalam masalah agama meliputi tanggung jawab di dunia dan akhirat. Maka sepantasnya bagi setiap orang yang ditokohkan di sebuah masyarakat muslim dapat menyadari dirinya sendiri.

Sebatas manakah kemampuannya menyimpulkan sebuah hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah, jika memang tidak mampu melakukannya maka apa salahnya mengakui diri sebagai seorang muqallid. Mengutip perkataan Dr. Muhammad Ghazali seorang ulama karismatik asal Mesir dalam karya, “As Sunnah An Nabawiyyah Baina Ahl Al Fiqh wa Ahl Al Hadits”:

وأنا أكره التعصب المذهبي وأراه قصور فقه, وقد يكون سوء خلق...

لكن التقليد المذهبي أقل ضرر من الاجتهاد الصبياني في فهم الأدلة...

“Aku membenci fanatisme dalam bermazhab dan aku berpandangan bahwa itu tanda kedangkalan fiqih seseorang bahkan termasuk akhlaq yang tercela. Akan tetapi mengikuti sebuah mazhab tentu mudharatnya lebih ringan dibandingkan sebuah ijtihad yang kekanak-kanakan dalam memahami dalil-dalil agama.” (Muhammad Al Ghazali, As Sunnah An Nabawiyyah Baina Ahl Al Fiqh wa Ahl Al Hadits, h. 14).

Wallahua’lam bi Ash Shawab

Isnan Ansory, Lc. M.A

(Dosen dan Peneliti di Kampus Syariah, Rumah Fiqih Indonesia)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 March 2014, 06:14 | 4.710 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 March 2014, 07:59 | 5.215 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 12 March 2014, 06:55 | 5.819 views
Pendapat Awam Tidak Masuk Hitungan
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 March 2014, 05:51 | 4.319 views
Benarkah Imam Ahmad Seorang Ahli Fiqih?
| 8 March 2014, 16:52 | 4.786 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 1.411 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 3.144 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 3.106 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 4.156 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.637 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.764 views
Kembalilah Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.493 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 5.329 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 20.065 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.807 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.625 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.655 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 6.276 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 6.592 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.786 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 4.384 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.543 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 4.138 views
Tingkatan Fuqaha'
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 4.035 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 16.056 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 4.473 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 10.125 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 5.425 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 6.367 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 9.909 views
Fiqih Islami
Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 4.331 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan