Aqad dan Resepsi | rumahfiqih.com

Aqad dan Resepsi

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Thu 27 March 2014 11:19 | 5251 views

Bagikan via

Hampir disetiap undangan pernikahan  yang sampai dengan kita biasanya tertulis dua acara besar; akad dan resepsi, dua acara ini kadang kala diadakan pada hari yang sama, namun tidak sedikit kedua acara ini diadakan pada hari yang berbeda.

Namun secara pribadi penulis juga belum menemukan penjelasan yang tepat menegenai pemisahan dua acara ini, secara kasat ini dua acara yang berbeda, namun setelah diperhatikan sepertinya tidak ada perbedaan yang signifikan karena dua acara ini masuk dalam katagori walimah.

Acara resepsi yang dimaksud biasanya lebih ramai dari acara akad, dan lebih wah makanan serta dandanannya, apalagi jika diadakan di gedung, akan lebih wah lagi jika diadakan di hotel. Pernah sekaliwaktu penulis hadir pada acara resepsi pernikahan teman di seputaran TMII sana, tiga kata untuk acaranya;  makanannya buanyak banget!

Sebagian malah menilai bahwa istilah resepsi itu adalah nama lain dari istilah walimah yang sering diucap dalam bahasa agama (fiqih), sehingga keberadaannya seakan menjadi sangat penting karena ia memiliki posisi yang sama dengan walimah yang sangat dianjurka itu.

Sama-sama Makan

Jika aqad dan resepsi diadakan pada hari yang berbeda, maka pertanyaan yang akan muncul adalah; apakah pada hari aqad tidak ada makanan yang dimakan? Sehingga makananya baru ada nanti pada saat resepsi, dan kita yang hadir diundang lagi untuk makan-makan, karena pada waktu aqad tidak ada makanan yang disediakan.

Disinilah letak persamaannya, hampir disetiap acara aqad nikah pasti ada acara makan-makannya dengan varian yang beragam, baik warna, bentuk maupun rasa, belum lagi ditambah minum yang juga ragam rasa dan warna, hampir-hampir perut biasanya sulit menerima semua makanan yang disediakan.

Jika di hari aqad sudah ada walimah-nya, dengan sajian ragam makanan dan minuman, terus apa yang membedakannya dengan hari resepsi? Ini perlu ditanyakan hanya sekedar untuk memastikan bahwa sebenarnya resepsi itu adalah hal yang biasa-biasa saja, tidak ada ada perintah khusus dalam fiqih, yang ada adalah perintah walimah, dan walimah itu bukan resepsi.

 Jika mau jujur biasanya walimah yang sering diadakan oleh masyarakat kita lebih dari satu kali, minimal baisanya dua kali, dan bahkan sebagian ada yang lebih dari sana. Jika pada acara aqad ada walimah, dan pada acara resepsi ada walimah, berarti walimahnya ada dua kali.

Belum lagi biasanya setelah diadakan walimah di kediaman mempelai perempuan, keluarga dari mempelai laki-laki juga berniat mengadakan hal yang serupa dengan mengadakan walimah walaupun bahasanya adalah alakadanya.

Jika walimah lebih dari satu kali, sudah barang tentu membutuhkan uang yang lebih, ini kadang memberatkan untuk sebagian, apalagi bagi mereka yang mempunyai pendapatan yang pas-pasan (untuk tidak megatakan kurang), solusi satu-satunya biasanaya adalah berhutang.

Padahal walimah itu bukan ajang pamer, tapi ia adalah makanan yang disiapkan sebagai wujud syukur atas terlaksanya pernikahan. Makanya kadar walimah juga disesuaikan dengan kantong sendiri, bukan kantong orang lain.

Beban walimah yang kadang memberatkan ini biasanya akan diwujudkan dengan segala tenaga, hampir-hampir semua fokus bagaimana agar walimah ini sukses dan wah, sehingga lupa bahwa ada hari-hari yang panjang yang harus disiapkan dan dipikirkan yang justru hadir setelah hari walimah.

Terkadang fokus menjadi ratu dan raja sehari melebihi perhatian dan persiapan untuk mengarungi samudra kehidupan setelahnya. Begitu acara walimah selesai barulah tersadarkan bahwa pengantin sudah tidak menyimpan sejumlah rupiah pun. Mau ditarok dimana muka ini jika baru habis menikah sudah mau cari pinjeman.

 Rasulullah SAW sedari awal sudah mencohtohkan kepada kita selaku ummatnya, bagaimana sekali waktu ternyata Rasulullah SAW hanya mengadakan walimah dengan kurma, bahkan tidak ada daging yang dihidangkan kala itu.

Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa pernah sekali waktu ketika menikah dengan Shafiyah binti Huyay, walimah yang disediakan oleh Rasulullah SAW hanya berupa kurma, dan tidak ada roti maupun daging.

فعن أنس قال: أقام النبي صلى الله عليه و سلم بين خيبر والمدينة ثلاثا يبنى عليه بصفية بنت حيي فدعوت المسلمين إلى وليمته فما كان فيها من خبز ولا لحم أمر بالأنطاع فألقي فيها من التمر والأقط والسمن فكانت وليمته

Bahwa keberkahan itu bukanlah dilihat dari seberapa banyak makanan yang disediakan, bukan juga dinilai dari berapa kali dan berapa hari walimah itu diadakan, tapi ukuran kemampuan dan tidak memaksakan diri itu yang diperintahkan, sehingga tidak heran jika Rasulullah SAW pernah hanya dengan modal kurma beliau menyediakan walimah atas pernikahan beliau dengan Shafiyah.

Walimah itu Makan

Ibnu Manzhur (w. 711) dalam Lisan al-Arab menjelaskan bahwa kata walimah ini adalah pecahan kata dari al-Walam [الولم] yang sering diartikan dengan berkumpul [الجمع], namun ia juga sering diartikan dengan makanan yang dihadirkan karena ada pernikahan atau selainnya, atau ia adalah makanan yang dihadirkan karena adanya perkumpulan [هي كل طعام صنع لعرس وغيره أو كل طعام يتخذ لجمع]

Secara umum, ulama fiqih kita memberikan definisi bahwa walimah itu:

تقع الوليمة على كل طعام يتخذ لسرور حادث من عرس وإملاك وغيرهما، لكن استعمالها مطلقة في العرس أشهر وفي غيره بقيد

“Walimah itu adalah nama untuk setiap makanan karena adaanya kejadian yang menyenangkan, baik karena adanya pernikahan atau selainnya, namun ungkapan walimah secara mutlak hanya untuk pernikahan sedang selainya harus diikat dengan kata selanjutnya”.

Istilah ini lebih dikhususkan untuk hal pernikahan karena pada umumnya walimah itu diadakan setelah berkumpulnya suami dan istri melalui aqad nikah yang sah, dan karena pada umumnya pada saat itu semua sanak, keluarga, sahabat berkumpul untuk mendoakan dan makan-makan.

Jadi inti dari walimah itu sebenarnya adalah makan, dan makanan apa saja yang ada karenan adanya pernikahan, maka itu sudah disebut dengan walimah walaupun mungkin hanya sebatas kue dan teh anget, apalagi jika ditambah dengan nasi kotak yang dibungkusin buat dibawa pulang, maka sudah barang tentu yang demikian adalah walimah.

Jika dihari aqad sudah ada makanannya, maka itulah walimah. Agak keliru jika walimah itu dimaknai dengan resepsi, karena inti dari walimah itu adalah makanan yang ada karena adanya pernikahan.  

Walimah Lebih dari Dua Kali

 عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «طَعَامُ الْوَلِيمَةِ أَوَّلُ يَوْمٍ حَقٌّ، وَطَعَامُ يَوْمِ الثَّانِي سُنَّةٌ،، وَطَعَامُ يَوْمِ الثَّالِثِ سُمْعَةٌ، وَمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Ibnu Mas’ud berkata; Rasulullah SAW bersabda: “Makanan walimah dihari yang pertama itu haq (wajib), dan makanan walimah pada hari kedua adalah sunnah, dan makanan walimah pada hari ketiga adalah sum’ah (pamer)” (HR. Tirmudzi)

Menurut As-shon’ani (w. 1182 H) dalam kitabnya Subul as-Salam menjelaskan bahwa hadits ini dianggap asing (gharib), para ulama hadits tidak banyak mengetahui jalur periwayatan hadits ini kecuali dari sosok Ziyad bin Abdillah Al-Bakka’i yang dinilai sebagai sosok yang sering membuat asing sebuah hadits.

Namun hadits ini dikuatan dengan jalur yang dirwayatkan oleh Ibnu Majah melalui sahabat Anas, walaupun dalam jalur periwayatannya ada sosok Abdul Malik bin Husain yang disebut oleh banyak ulama sebagai perawi yang dhaif (lemah), tapi walau bagaimana pun pada akhirnya sebagian ulama masih menjalankan hadits ini walau dengan kondisi yang sudah kita jelaskan diatas.

Kata haqqun dalam hadits diatas pemaknaannnya berikisar antara wajib dan sunnah. Sebagian ulama Syafiyah berpendapat bahwa hukum walimah itu wajib, hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa Rasulullah SAW selalu mengadakan walimah pada setiap pernikahan beliau, baik dalam keadaan sempit maupun lapang, dan baik dalam keadaan mukim atau sedang dalam perjalanan.

Belum lagi ditambah dengan sabda Rasulullah SAW kepada Abdurrahman bin Auf:

أولم ولو بشاة

“Adakanlah walimah walau hanya dengan memotong seekor kambing” (HR. Bukhari).

Hal yang hampir senada juga pernah di lontarkan Rasulullah SAW kepada Ali bin Thalib ketika melamar Farthimah binti Muhammad SAW:

إنَّه لا بُدَّ للعَرُوس من وليمة

‘Harus ada walimah untuk pengantin” (HR. Ahmad)

Dan bahwa menghadiri undangan walimah itu hukumnya wajib, maka mengadakannya juga wajib, karena bagaimana mungkin menghadiri walimah itu wajib jika seandainya walimah itu sendiri tidak wajib adanya, seperti yang ditulis oleh Imam Al-Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir bahwa hal yang wajib ada karena adanya sebab maka keberadaan sebab itu sendiri dinilai wajib. [لأن وجوب المسبب دليل على وجوب السبب.]

Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa mengadakan walimah itu hukumnya sunnah, tidak wajib, walaupun sunnah tapi ia adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan pahalanya sangat besar.

Dalil yang gunakan oleh pendapat ini hampir sama dengan dalil yang digunakan oleh pendapat pertama, hanya saja mereka menambahkan bahwa ada satu hadits Rasulullah SAW yang menyatakan:

 

ليس في المال حق سوى الزكاة

“Tidak ada kewajiban atas harta kecuali zakat” (HR. Ibnu Majah)

Keberadaan walimah itu pada dasarnya karena adanya aqad nikah yang hukum dasarnya bukanlah sebuah kewajiban, jadi jika hukum dasar menikah bukanlah sebuah kewajiban, rasanya kurang pas jika kita menghukumi walimah sebagai sebuah kewajiban.

Jika memang wajib, semestinya kadar walimah itu ditentukan, seperti kewajiban kaffarah yang tidak membedakan antara mereka yang kaya maupun miskin, karena kafaarah itu punya ketentuan khusus, sekurang-kurangnya jika memang tidak mampu biasanyan akan diganti dengan puasa, tapi aturan seperti ini tidak ada dalam walimah.

Sedangkan kata sunnatun dalam redaksi hadits diatas menunjuk makna:

طريقة مستمرة يعتاد الناس فعلها لا يدخل صاحبها الرياء والتسميع

“Perkara terus menerus yang biasa dilakukan oleh masyarakat dan biasanya tidak ada unsur riya’ dan sum’ahnya”

Secara ringkas makna yang bisa kita ambil dari hadist diatas bahwa mengadakan walimah pada hari pertama adalah hal yang sangat dianjurkan, anjuran ini berkisar antara wajib dan sunnah, sesuai dengan khilaf para ulama yang sudah ada, dan menyediakan makanan walimah dihari kedua adalah sebuah hal yang biasa dialakukan oleh masyarakat, namun terkait menyediakan makan walimah dihari ketiga, maka dalam hal ini setidaknya ada dua pendapat dikalangan ulama:

1. Mayoritas Ulama

Masih menurut As-Shon’ani (w. 1182 H) bahwa mayoritas ulama menilai walimah dihari ketiga bukanlah sebuah hal yang disukai, bahkan sebagian menghukuminya sebagai sebuah perkara yang haram dilakukan, karena dikhawatirkan dari walimah dihari yang ketiga itu ada unsur pamer (riya’ dan sum’ah) dan niat pamer itulah sebenarnya yang sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Imam Nawawi menekankan bahwa menghadiri undangan walimah dihari ketiga bukanlah seperti kita memenuhi undangan dihari pertama, sehingga beliau dengan tegas menjelaskan bahwa makruh hukumnya menghadiri undangan walimah dihari ketiga, terlebih jika kita sudah menghadiri undangan walimah dihari pertama.

2. Sekelompok Ulama

Namun sebagian ulama tetap menilai bahwa boleh-boleh saja hukumnya mengadakan walimah pada hari ketiga dengan syarat jauh dari unsur pamer, bahkan imam Al-Bukhari berpendapat tidak mengapa juga mengadakan walimah hingga tujuh hari ketika memang diperlukan dan tidak ada unsur sombong serta pamernya.

Hal ini mungkin terjadi jika memang merasa sulit untuk mengumpulkan undangan hanya dalam satu hari, sehingga memungkinkan bagi mereka yang punya hajat untuk mengundang sanak keluarga lainnya pada hari yang berbeda, sehingga peserta makan dihari walimah yang berbeda itu juga berbeda, orangnya bukan itu-itu saja.

Kebolehan ini disandarkan kepada riwayat Ibnu Abi Syaibah dari jalur Hafshah binti Sirin yang menyatakan bahwa ketika ayahnya menikah, mereka mengundang para sahabat dalam walimah sampai tujuh atau bahkan delapan hari. Al-Qadhi bin Iyadh menambahkan bahwa tidak mengapa bagi mereka yang mempunyai kelapangan untuk mengadakan walimah walau satu minggu.

Sebenarnya ada titik tekan yang harus diperhatikan dalam perkara walimah ini, bahwa anjuran untuk mengadakan walimah dalam setiap acara pernikahan harus dijalankan secara proporsional, tidak pula terkesan pelit sehingga tidak ada walimah sama sekali, juga tidak ada kesan sombong dan pamer sehingga perayaannya hingga berkali-kali, padahal sebenarnya itu tidak terlalu dibutuhkan.

Wallahu A’lam Bisshawab    

Bagikan via


Baca Lainnya :

Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 6.994 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 3.809 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 9.097 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 March 2014, 06:31 | 4.512 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 4)
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 March 2014, 07:02 | 3.902 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 1.365 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 2.023 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 2.036 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 2.268 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.546 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 2.051 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.554 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 2.495 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 3.010 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.744 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.663 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 2.301 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.559 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.809 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 2.178 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.989 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 4.499 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 4.426 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.522 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 5.309 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.383 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 3.140 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 3.280 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.456 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 5.471 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.581 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.551 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 5.304 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.766 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 11.366 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 5.251 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.788 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.902 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 5.191 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 8.259 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.497 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.539 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.985 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.814 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.542 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 4.414 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 9.062 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 5.185 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 14.505 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.454 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.884 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.828 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 4.192 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.792 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.922 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.962 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 4.290 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.569 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.947 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.499 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.821 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.892 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Galih Maulana, Lc10 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan